Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 118. When You Believe


__ADS_3

“Hai Jeanno.. kau sudah makan? Perbanyak makan sayur, ya? dan minumlah air putih. Hari ini aku mendapatkan shift pagi. Kau tau? tadi ada seorang kakek yang datang ke toko untuk membeli buket bunga lily untuk istrinya, katanya ini hari pernikahan mereka yang ke-60. Kakek itu menuliskan pesan walaupun terbata-bata, mengatakan betapa ia mencintai istrinya setiap hari. Semakin lama mereka bersama, semakin ia mencintai istrinya. Romantis sekali, bukan? Tapi kemudian sang kakek mengatakan bahwa istrinya sedang dirawat di rumah sakit karena penyakit komplikasi. Aku tau ini konyol, tapi aku menangis untuknya. Aku tidak bisa membayangkan jika kemungkinan terburuk terjadi..”




“Aku ingin seperti nenek itu, bersama dengan pria yang dicintainya bahkan sampai lebih dari setengah abad. Pasti menyenangkan ya, menghabiskan tua bersama. Berbagi cerita, melihat anak cucu tumbuh. Anganku seperti itu, tapi tidak tau apa takdir mengijinkanku atau tidak”*



“Jeanno, aku masih disini… menunggumu. Kalau urusanmu sudah selesai, temui aku di toko ya?”*



Nayara menyimpan ponselnya. Ia menghela nafas panjang, memandang keluar jendela dimana kondisi lumayan sepi akibat hujan besar. Oh, mengenai tempat tinggal, dirinya diijinkan untuk tinggal di toko, karena kebetulan ada ruang kecil yang ia fungsikan sebagai kamar. Dengan alas kasur tipis dan dingin, tapi tak apa, itu sudah lebih dari cukup. Nayara berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada sang pemilik, dan berjanji akan pindah jika tabungannya sudah terkumpul untuk membayar deposit sewa flat.*



Ponsel gadis itu berbunyi, yang sontak saja membuat pemiliknya nyaris berteriak karena kegirangan. Menyangka bahwa si penelpon adalah Jeanno, namun nyatanya nama yang terpampang bukan seperti yang ia harapkan.*



“Hallo?”*



“Nayara, ini aku, Mark”*



Nayara tersenyum tipis. Beberapa minggu tidak hanya Jeanno yang menghilang, namun juga Mark. Baru hari ini sepupu kekasihnya menelpon. “Bagaimana kabarmu, Kak?”*



“Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Maaf, Na. Belakangan ini aku sibuk sekali, jadi belum bisa menghubungimu”*



Ironis, ketika pria lain lebih peduli padanya dibanding kekasihnya sendiri.*



“Tidak apa-apa, aku mengerti. Lagipula aku bukan tanggungjawabmu, Kak”*

__ADS_1



Terdengar Mark menghela nafas diseberang. “Jeanno belum menghubungimu?”*



Gadis itu menggeleng, sepersekian detik ia menyadari bahwa Mark tidak bisa melihat gelengan kepalanya. “Belum. Telponnya mengarah ke voicemail. Jeanno.. baik-baik saja, kan?”*



“Ya, dia baik-baik saja. Hanya kesibukannya bertambah berkali-kali lipat”*



“Tolong sampaikan pada Jeanno.. untuk menjaga kesehatannya”*



“Ya, akan kusampaikan”*



“Terimakasih banyak, Kak”*





Mark memutus sambungan telponnya. Sedikit merasa bersalah karena telah berbohong pada Nayara. Secara teknis ia memang sibuk dengan pekerjaan, tapi kesibukannya tidak seberapa. Ia masih bisa mencuri waktu untuk menemui Nayara. Hanya saja ia masih sedikit kesal dengan pertengkarannya tempo hari dengan Jeanno. Dipikirnya dengan ia berhenti menemui Nayara, Jeanno akan bertindak sendiri. Menemui gadisnya dan menjelaskan mengapa ia bertingkah layaknya pria bajingan. Tapi nyatanya, Jeanno justru tutup telinga. Lelaki itu seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, mengikuti segala perintah dari ayahnya. Mark mencoba menceritakannya kepada ayah dan ibunya, setidaknya meminta mereka untuk membujuk paman Thomas untuk sedikit memberi kelonggaran untuk Jeanno, setidaknya membiarkan Jeanno menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu. Namun bahkan ibunya, yang merupakan kakak dari paman Thomas, menyerah sebelum mencoba. Mengatakan bahwa Thomas Alexander adalah manusia paling keras kepala yang pernah ia temui. Disetujui oleh ayahnya, Jose Sebastian.*



Jeanno sudah mengambil hati Nayara, membawanya pergi hanya untuk dihancurkan. Mark tidak terima akan hal itu. Benar ia hanyalah orang luar, tapi Nayara tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu.*



“Jeanno brengsek”*



*

__ADS_1



“Nayara?”


Judith nyaris terjengkang dari duduknya ketika melihat siapa yang menyapa. Sharin Widjaja, tengah tersenyum manis di depannya. Wanita itu menggumam, untuk apa Sharin datang ke sekolah Aera sementara dirinya tidak memiliki anak yang bersekolah disini?


“Aku menjemput keponakanku. Celine tidak bisa datang karena sedang sakit”


Judith hanya mengangguk sekilas. Berharap sikap dinginnya mampu menghalau Sharin untuk pergi. Ia malas berinteraksi dengan wanita itu. Namun realita tak sesuai harapannya, Sharin justru duduk disampingnya.


“Bagaimana kabarmu, Nay? Kau terlihat… berbeda”


Diam-diam Judith takjub, bagaimana bisa Sharin bersikap biasa saja atas apa yang telah ia lakukan pada Nayara beberapa tahun silam? Jeanno benar, Sharin Widjaja memang bukan wanita sembarangan. Ia harus berhati-hati.


“Ya, aku menjalani hidup sempurnaku sebagai istri Jeanno Alexander. Kau mau tau rasanya? Aku bangun dalam perasaan berbunga-bunga. Tidur nyenyak dalam dekapan Jeanno, pria yang tidak pernah bisa kau miliki, Sharin”


Senyuman itu berubah menjadi senyum kikuk. Judith bersorak dalam hati ketika melihat jemari Sharin meremas ujung tasnya.


“Walaupun begitu akulah menantu yang diinginkan oleh paman Thomas dan Bibi Yvone. Yang setara dengan keluarga Alexander. Bukan kau, gadis yang tidak jelas asal-usulnya”


Judith mengangkat bahu. “Tapi Jeanno rela meninggalkan kemewahan yang ia dapat sebagai Alexander, demi bersama gadis yang tidak jelas asal-usulnya ini”


“Terimalah kekalahanmu, Sharin. Tidakkah kau lelah mengejar pria yang tidak mencintaimu?”


Sharin menggeram. “Sharin Widjaja tidak mengenal kekalahan”


“Lalu? Kau mau menggunakan ‘jika tidak aku tidak bisa memiliki Jeanno, maka tidak ada seorangpun yang boleh memilikinya’? Jika iya, maka kau adalah wanita paling tidak tahu malu yang pernah kukenal”


“A-apa katamu?”


Judith menoleh, memberikan senyuman paling manis untuk musuh Nayara. “Aku selalu berpikir bahwa sungguh sempurna. Memiliki wajah yang cantik, keluarga terpandang, model ternama. Sejujurnya kau bisa mendapatkan pria lain yang setara dengan Jeanno, atau bahkan diatasnya. Tapi kau justru mengejar Jeanno, yang sekarang sudah berstatus sebagai suami orang dan ayah dari seorang gadis kecil. Setelah bertahun-tahun, bukankah kau seharusnya move on? Tapi nyatanya kau kembali, dengan tidak tahu malu mencoba berhubungan lagi dengan Jeanno berkedok kerjasama bisnis. Apa tidak ada cara yang lebih cerdas? Jangan bilang kau akan menjebak suamiku dengan mencampuri minumannya obat tidur, lalu bertingkah seolah-olah kalian bercinta, lalu mengirimiku foto telanjang?”


“Aku percaya suamiku, Sharin. Jadi sebelum kau lebih jauh mempermalukan dan merendahkan harga dirimu sendiri, kusarankan kau untuk berhenti”


Lawan bicaranya masih ternganga. Judith bisa melihat amarah yang bergejolak pada gestur tubuh Sharin. Wajah wanita itu memerah dan nafasnya memberat.


“Berhenti sebelum suamimu tau betapa murahannya dirimu”


Satu detik, hempasan itu terjadi begitu cepat. Judith tidak sempat menghindar, yang sekarang ia hanya bisa merasakan perih akibat tamparan Sharin yang cepat dan kuat. Brengsek, ia yakin pipinya memerah sekarang.


“Aku akan mencari cara untuk menghancurkanmu, Nayara”


Itulah yang Judith dengar sebelum wanita gila itu pergi. Jika bukan berada di lingkup sekolah Aera, sudah dipastikan sisi Judith sebagai Ananta Judith akan keluar dan balik menampar Sharin.

__ADS_1


“Aku akan membalaskan perlakuan mereka terhadapmu, Nayara”


**


__ADS_2