Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
baju pesta


__ADS_3

Nathan sudah gelisah menunggu Alayya yang belum juga keluar dari kamar mandi, sudah dua puluh menit wanita itu mengurung diri di dalam kamar, Nathan jadi takut Alayya berbuat yang tidak-tidak


"Al... sayang... jangan buat aku takut, keluarlah, apapun hasilnya, kita sudah janji akan menerima semuanya, kamu jangan kaya gini dong"


"Al"


"Alayya"


"sayang"


"Al..." ketukan Nathan terhenti, karena Alayya sudah membuka pintu kamar mandi.


"Al kamu nggak papa"


"apaan sih kamu, berisik banget" Alayya nampak kesal, ia duduk di pinggiran ranjang menatap lurus ke depan, Nathan ikut duduk di sampingnya, Nathan memeluk Alayya, memberikan ketenangan, ia usap punggung wanita itu yang mulai bergetar.


"nggak papa"


"Nat"


"iya sayang, aku di sini'


mata Nathan membulat tidak percaya, mulutnya menganga, benda panjang di hadapan menunjukan garis dua, dengan tangan gemetar Nathan mengambil benda itu dari tangan Alayya


"ka--kamu hamil, sayang?"


"iyaa, hasilnya positif" Nathan langsung bersujud, merendahkan diri, mengucap syukur yang teramat banyak pada sang kuasa.


Alayya kembali meneteskan air matanya, ia ikut mendudukkan diri di lantai kamar, Alayya mengusap punggung suaminya.


"Nathan...." panggil Alayya, Nathan bangkit dan memeluk erat sang istri.


"Terimakasih ya Allah, terima kasih" pria itu menangis di pelukan Alayya, tangis kebahagiaan setelah semua rasa sakit yang di terima


kehadiran malaikat kecil di rahim Alayya membuat nathan over protektif, Nathan menjadi suami dan ayah yang lebih siaga, terkadang Alayya kesal juga karena menurutnya Nathan berlebihan, seperti sekarang, entah jam berapa mereka akan sampai jika Nathan mengendarai mobilnya sepelan ini, jika ada polusi tidur... Nathan semakin memperlambat laju mobilnya, Nathan tidak ingin perut sang istri terguncang.


"Nathan, cepat sedikit"


"sayang, Kita harus hati-hati, aku nggak mau kalian Kenapa-kenapa lagi" ucap nathan


"ya Allah Nathan, tapi nggak selambat ini juga, Nat, kapan sampainya, yang ada semua toko bakalan tutup" Alayya yang mulai frustasi menyandarkan tubuhnya, ia memalingkan wajahnya ke arah jalan.

__ADS_1


Nathan tidak peduli, ia sama Sekali tidak menambah laju kendaraannya, hari ini mereka ingin ke mall, Alayya ingin mencari baju untuk menghadiri acara pernikahan Aksa, sekaligus mencari hadiah pernikahan, sebenarnya Alayya ingin pergi sendiri, tapi tentu saja Nathan tidak memberi izin, Nathan pulang dari kantor di tengah-tengah rapatnya saat Alayya mengabari akan keluar sebentar, nathan memang tidak pernah lagi mengijinkan Alayya untuk membawa mobil sendiri, Nathan rela meninggalkan pekerjaannya demi menemani sang istri mencari baju.


Alayya menggaruk kepalanya prustasi. Alayya hanya bisa pasrah dengan kelakukan Nathan, ia tau niat suaminya itu, tapi tidak berlebihan seperti ini juga Dong.


butuh waktu hampir satu jam mereka tiba juga di mall, tempat biasa mereka kunjungi,biasanya hanya perlu waktu 20 menit perjalanan di tambah macet sedikit, tapi sekarang... ah sudahlah.


Alayya turun lebih dulu sudah sangat kesal dengan Nathan.


"sayang tunggu, hati-hati" teriak Nathan sambil berlari mengejar sang istri, Alayya memutar matanya jengah. Nathan mengarahkan Alayya untuk berpegangan di lengannya.


mereka menyusuri setiap toko yang ada di sana, dan akhirnya mereka memilih mencari di salah satu toko yang menyediakan berbagai macam pakaian muslimah.


Alayya mencoba satu dress berwarna putih tulang, ia meminta saran dari Nathan, Alayya sangat suka dengan model baju itu, sederhana tapi elegan.


"sayang, gimana? Bagus nggak?"


"sayaaang, jangan yang ini perut kamu ke gencet... sayang" kandungan Alayya sudah memasukinya usia 5 bulan, dengan pakaian seperti itu memang membuat perutnya semakin menonjol, tapi Alayya tidak sedikitpun merasakan begah atau sesak


"enggak... sayang, ini nggak ke gencet ko, aku nyaman ko Makainya, ini aja ya please, aku suka banget sama modelnya, warnanya bagus, ini aja ya" Alayya mencoba merayu Nathan dengan menunjukan wajah menggemaskan, tapi sayang, tidak berhasil membuat Nathan luluh, pria itu justru mencari sendiri, baju pesta yang menurutnya lebih nyaman di gunakan Alayya, Alayya lebih memilih duduk membiarkan nathan memilih sesuka hatinya.


ada sekitar setengah jam mereka mencari satu baju saja, mereka berpindah dari satu toko ke toko yang lain, sungguh Alayya lelah sekarang.


"Sayang, yang ini kayanya bagus deh"


"sayang"


melihat nathan mendekat, Alayya melipat tangannya di atas meja, ia letakkan kepala di atas tangan.


"sayang, kenapa? kamu capek" tidak ada respon dari Alayya, yang terdengar justru isakan, Nathan jadi panik.


"sayang, hey... sayang kenapa, Alya" Alya menepis tangan Nathan di pundaknya.


"sayang kenapa? kamu marah sama aku"


"pakai nanya lagi" kesal Alayya dengan suara parau


"aku mau pulang" lanjut Alayya dan sudah berdiri dari duduknya.


"sayang..."


"Alayya menghapus air matanya kasar, semenjak hamil Wanita itu jadi lebih perasa terhadap sesuatu, ia jadi lebih mudah menangis dengan hal hal yang menyentuh hatinya, ia juga jadi mudah kesal, dan marah, perubahan hormon yang biasa di alami setiap wanita yang sedang mengandung.

__ADS_1


Alayya mengabaikan panggilan nathan, ia juga tidak ingin peduli untuk saat ini, Alayya takut tidak bisa mengontrol emosinya, mereka sekarang berada di tempat yang Ramai, Alayya benci menjadi tontonan banyak orang.


Di dalam mobil, Alayya lebih memilih duduk kursi belakang, ia tidak mau duduk bersebelahan dengan Nathan, Alayya sungguh kesal dengan sikap Nathan yang berlebihan.


"Sayang, ko duduk di situ?"


Alayya membuang wajahnya ke arah yang berlawanan.


"aku mau pulang, sekarang"


"iya-iya kita pulang... yaa"


Dari cermin di depannya, nathan bisa melihat Alayya yang memandang kearah luar dengan tatapan kosongnya, wanita itu sesekali terisak, Nathan jadi merasa bersalah, ia tau dan paham betul kekesalan sang istri, semua itu karena ulahnya yang terlalu berlebihan, Nathan hanya takut, takut kejadian yang lalu terjadi lagi, Nathan hanya ingin yang terbaik untuk sang istri, tapi tanpa ia sadari, tingkahnya itu justru membuat sang istri semakin Marasa tertekan.


Alayya turun dari mobil tanpa sepatah katapun.


Brakk!!!


pintu kamar di tutup kasar.


"Sayang, buka pintunya dong, jangan kaya gini, jangan bikin aku kawatir... sayang"


"Alya"


"sayang, aku Minta maaf, kamu pasti kesal yaa, aku minta maaf, sayang..."


"AKU NGGAK TAU SEBENARNYA KAMU ITU SAYANG SAMA AKU, ATAU TAKUT KEHILANGAN ANAK KITA"


"aku sayang dan takut kehilangan dia, aku sayang kalian" lirih nathan


"Tapi sikap kamu yang kaya gini itu nunjukin... kalo kamu takut kehilangan dia, dan mengabaikan apa yang aku inginkan, kamu over protektif..


tau nggak, aku tertekan sama sikap kamu yang kaya gini, butuh waktu berjam-jam buat nyari satu baju aja , aku capek Nathan, kamu ngerti nggak sih" jerit Alayya dengan suara serak.


"Iya... aku minta maaf, aku salah, aku ngga bisa ngertiin kamu, maaf "


"aku mau istirahat, aku cepak, kamu mending kerumah sakit aja, aku nggak mau di ganggu dulu "


helaan nafas Nathan hembuskan.


"ya udah, kamu hati-hati di rumah ya, aku kerja dulu, assalamualaikum "

__ADS_1


"waalaikumsallam "


__ADS_2