Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 173. Don’t Cry Anymore


__ADS_3

Menyematkan kata ‘kita’ rupa-rupanya membawa dampak dahsyat bagi Judith. Pertahanan yang selama ini ia bangun kurang lebih 15 bulan, perlahan runtuh. Menyisakan nama Jeanno yang masih dan tetap aka menjadi satu-satunya yang tersimpan dalam hati. Tangisnya semakin deras, seakan tengah bersaing dengan derasnya hujan diluar sana. Jeanno yang tidak mengerti mengapa isak Judith semakin parah, memilih menggeser kursinya supaya lebih dekat dengan sang pujaan.


“Kalau begitu… kenapa.. kenapa tuan menjauhkan Aera dariku? Kenapa tuan memilih pergi tanpa berpamitan?”


Dari semua pertanyaan, tak pernah Jeanno sangka bahwa pertanyaan itu yang akan terlontar dari bibir lawan bicaranya. Lidahnya mendadak kelu, segala kepercayaan diri yang biasa terpatri disana, menguap entah kemana.


“Tuan membuatku bingung. Terakhir tuan mengucapkan selamat tinggal, tuan tidak ijinkan aku untuk berkomunikasi dengan Aera. Lalu tuan pergi keluar negeri, menjauh tanpa kabar. Tuan tinggalkan aku disini, memberikan kesempatan untukku menata kembali hidup dan hatiku. Kemudian sekarang tuan kembali, seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Apa maksud tuan?”


Judith menyeka airmatanya kasar. “Jika tuan pikir aku adalah perempuan naif yang bisa tuan permainkan dengan mudah, maka aku mohon dengan segenap kerendahan hati, berhentilah, tuan. Kumohon, berhenti.. cari perempuan lain yang bersedia memenuhi kebutuhan tuan, aku yakin mereka rela berbaris untuk menyenangkan hati seorang Jeanno Alexander”


“Bukan aku, bukan Ananta Judith”


Judith berdiri dari duduknya, tak bisa ia kendalikan amarah bercampur kecewa dan bimbang yang tercampur menjadi satu. Ia bingung apa mau Jeanno, apa maksud Jeanno. Apa yang Jeanno harapkan darinya.


“Menurutmu aku akan melepaskanmu semudah itu?”


Jeanno turut beranjak dari duduk, tak langsung berbalik melainkan melangkah mendekati pintu masuk. Menarik turun tirainya hingga tertutup sempurna.


“Menurutmu aku akan melepaskan perempuan yang pernah mengandung anakku?”


Jantung Judith rasanya turun kebawah. Bibirnya bergetar dan wajahnya memucat. Dinginnya aura dan rendahnya intonasi bicara Jeanno, membawanya akan ingatan kelam akan malam dimana ia nyaris kehilangan sang buah hati akibat persetubuhan kasar.


Jeanno berbalik. Berbanding dengan auranya yang dingin, wajahnya justru sendu. Ia tetap berdiri ditempatnya, tak ingin membuat Judith semakin takut jika harus maju mendekat.

__ADS_1


“Aku bodoh sekali ya? baru mengetahui kau pernah mengandung. Bahkan parahnya lagi, akulah yang menjadi penyebab keguguranmu. Akulah yang membunuh anak kandungku sendiri”


Judith menggelengkan kepala, airmata yang semula kering kini membanjiri pipinya lagi. “Tidak, hentikan”


“Aku terlambat sekali untuk sebuah kata maaf, ya?”


Jeanno berlutut, kepalanya menunduk. “Maafkan aku, Judith. Maafkan aku. Kau bisa menghukumku dengan caramu, kau bisa memukulku sekeras yang kau mau. Tapi kumohon jangan dorong aku menjauh. Aku membutuhkanmu, putri kita membutuhkanmu”


“Aku mencintaimu”


**


Malam terus merangkak naik. Hujan nampak belum lelah mengguyur kota, bahkan bertambah deras seiring dengan berjalannya malam. Jeanno masih dalam posisinya, berlutut dan kepala menunduk. Sementara Judith juga masih bersembunyi dari balik meja kasir. Menyelesaikan isaknya hingga ia perlahan tenang dan akal sehatnya kembali.


Pernyataan cinta yang tak terduga, membuat Judith pening dibuatnya. Segalanya terlalu mendadak. Kedatangan Jeanno, pernyataan cinta pria itu. Menghancurkan pelarian yang susah payah ia bangun. Percuma menata hidupnya dari masa lalu ketika penyebabnya justru datang dan tanpa tedeng aling-aling mengatakan cinta padanya.


Tapi nyatanya, tidak sesederhana itu.


Judith banyak terluka akan hubungan mereka. Bukan hanya Judith, karena ada korban lain dalam keegoisan dua jiwa yang memiliki ikatan rumit. Jeanno juga sama tersiksanya. Harus menghabiskan hari dalam penyesalan dan rasa bersalah yang tak kunjung habis. Tidak ada yang menjamin akhir bahagia jika keduanya bersama, akan tetapi akan lebih sakit jika keduanya tidak bersama.


Judith, menanggalkan akal sehatnya, mulai melangkah perlahan mendekati Jeanno. Langkahnya berhenti tepat dihadapan pria itu. Diusapnya lembut surai gelap Jeanno. Sang lawan masih menunduk, terlalu takut jika Judith mundur ketika ia memberikan reaksi. Dibiarkannya Judith lakukan apapun yang ia inginkan. Sekalipun setelah ini kepalanya akan dihantam kursi.


Tapi tidak, alih-alih menghantam, Judith justru memeluk kepala Jeanno. Membuat pria itu secara spontan memeluk pinggangnya. Bisa dirasakan tubuh ramping itu bergetar, Judith kembali menangis.

__ADS_1


“Seharusnya sekarang dia masih bersamaku. Seharusnya sekarang aku mendekap bayiku”


Sering Judith berandai-andai, jika dirinya tidak mengalami keguguran, saat ini sang jabang bayi pasti sudah menginjak usia satu tahun. Usia yang katanya sedang lucu-lucunya. Jika si anak lahir, sudah pasti akan lebih mudah bagi Judith untuk melalui segala hantaman dalam hari-harinya.


“Luka itu masih menganga, tuan. Aku tidak akan pernah bisa memaafkanku karena lalai menjaganya”


Tak tahan, Jeanno bangkit, membawa Judith kedalam pelukannya. Membiarkan isaknya memenuhi dada. Sesekali ia mengecup puncak kepala Judith. “Kita lalai. Bukan hanya kau, tapi aku juga”


Judith terus meracau kalimat serupa. Mengenai penyesalan, rasa bersalah, berakhir perumpamaan andai sang bayi masih ada. Seakan melawan takdir. Tapi Jeanno tidak peduli, ia biarkan Judith menumpahkan segalanya sekarang. Tak peduli kemejanya yang sudah basah akan airmata sang terkasih. Tidak peduli kakinya yang pegal karena sedari tadi berdiri.


Kata orang, berada dalam dekapan orang tersayang mampu menenangkan batin. Itulah yang dirasakan dua insan tanpa ikatan. Judith yang agaknya lelah menangis, memilih memejamkan matanya. Tidak, ia tidak tertidur. Hanya menikmati hangatnya dekapan Jeanno yang telah lama tak dirasa. Aroma tubuh maskulin khas sang pria yang menenangkan syaraf. Berada dalam posisi ini membuat Judith merasa terlindungi. Maka dari itu tanpa ragu tangannya balas mengalungi tubuh tegap itu.


“Come stop your crying it will be alright, just take my hand hold it tight” Jeanno menyenandungkan lagu kesukaan Aera yang sering mereka nyanyikan bersama hampir setiap saat dulu. Tubuhnya ia goyangkan kekanan-kiri.


“I will protect your from all around you. I will be here, don’t you cry. For one so small, you seem so strong, my arms will hold you keep you safe and warm. This bond between us, can’t be broken. I will be here, don’t you cry”


Judith tersenyum kecil. Seperti teringat kebiasaan lama, iapun ikut bersenandung.


“You’ll be in my heart. Yes, you’ll be in my heart. From this day on now and forever more”


Sunyi yang berbalut rintikan hujan, membawa dua anak manusia itu larut dalam campuran rasa yang selama ini membekap. Menanggalkan ego, melupakan ikatan dengan sosok lain di kota sana, Judith sekali lagi.. jatuh kedalam pesona Jeanno Alexander.


“I’ll be with you. I’ll be there for you always”

__ADS_1


“Kembalilah padaku, sayang”


**


__ADS_2