
Mark membungkam mulutnya, entah untuk seberapa lama. Sekon terus bergulir dimulai dari dirinya yang baru kembali mengisi bahan bakar, dan menemukan Jeanno terduduk sendirian diruang tamunya dengan ekspresi keras. Tidak sempat satu untai pertanyaan terucap mengenai sebab, pria Alexander itu sudah lebih dulu melemparkan surat keterangan mengenai kehamilan Judith keatas meja.
“Kau tau?”
Hening yang canggung itupun pada akhirnya pecah ketika Mark memutuskan untuk merespon. “Ya, aku tau”
Kekecewaan tak bisa terpungkiri dari air muka Jeanno. “Kau tau tapi kau tidak memberitahuku? Ada seorang perempuan yang sedang mengandung anakku dan aku satu-satunya orang yang tidak tahu?”
Terakhir kali ia melihat Judith, tak ada tanda-tanda perempuan itu sedang mengandung. Membuat dadanya bergemuruh dan wajahnya memucat akan kemungkinan buruk yang terjadi. “Mark.. apa saja yang tidak kuketahui selama ini? Selain Judith rutin datang ke pemakaman Nayara setiap bulan?”
Tak dipungkiri bahwa ada setitik belas kasih dalam diri Mark ketika melihat nada bergetar sepupunya. Terakhir kali ia melihat Jeanno yang lemah seperti ini adalah ketika ia mengira Arman membawa Judith. Bodohnya Mark, mengira bahwa kehamilan Judith akan menjadi rahasia selamanya. Rahasia yang pada akhirnya terkuak secara tidak terduga dan melukai hati Jeanno. Karena bagaimanapun bukan hal baik menutupi berita kehamilan, terutama dari ayahnya sendiri.
“Well..” dalam hati Mark terus-menerus meminta maaf pada istrinya, karena mengingkari kesepakatan mereka untuk tidak memberitahu Jeanno perkara kehamilan Judith dulu.
“Judith memang sempat hamil, anakmu. Ketika kalian masih terikat perjanjian. Yang kutahu dia sangat bahagia dengan kehamilannya, dan menjaga kandungannya dengan sangat baik. Sampai…”
Helaan nafas panjang menjadi penghubung diamnya Mark setelah itu. Tak yakin apakah ia harus meneruskan detailnya atau tidak.
“Teruskan, Mark. Aku ingin tahu seberapa brengseknya aku dulu..”
__ADS_1
Sang sepupu mengangguk pada akhirnya. “Sampai kau menyetubuhinya dengan kasar. Setelahnya kandungannya baik-baik saja, untungnya. Tapi yang terjadi setelah itu.. jauh lebih buruk. Judith terlalu stress dengan gugatanmu, yang mana itu membawa pengaruh buruh pada janinnya”
Jeanno menundukkan kepala, kedua telapak tangannya meremas surainya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mark tidak berniat berhenti, ia hanya akan berhenti ketika Jeanno meminta.
“Aku dan Hannah menemukannya tidak sadarkan diri di lantai apartemennya, dengan darah yang mengaliri kakinya”
“Judith keguguran, Jeanno”
Satu kalimat yang menjadi pukulan telak bagi Jeanno Alexander, pria itu memejamkan matanya usai meloloskan sebulir airmata.
“Kehilangan janinnya menjadi pukulan luar biasa bagi Judith. Dia tidak berhenti menangis, tidak berhenti meminta maaf karena tidak bisa menjaga anugrah itu. Dua hari setelahnya dia tidak bicara. Makanpun hanya sedikit. Persis seperti seseorang yang tidak punya gairah hidup. Aku dan Hannah terus memutar otak bagaimana cara memancing Judith untuk kembali seperti Judith yang kita kenal, atau setidaknya.. dia bisa menjalani hidupnya dengan normal lagi”
“Satu minggu, Jeanno. Satu minggu yang berat karena kami mengira akan kehilangan Judith selamanya. Tapi suatu hari, dia merespon apa yang dikatakan Hannah. Dan kau tau apa yang membuat Judith kembali pada kewarasannya?”
“Putrimu, Aera”
“Judith menyayangi Aera lebih dari yang kau kira, Jean. Dia menjalani perannya sebagai ibu pengganti bukan sekedar untuk uang. Ketika kau memutus hubungannya dengan Aera, dia selalu menanyakan kabar putrimu melalui Hannah, setiap hari. Bagaimana harinya, bagaimana sekolahnya. Aku tidak tahu apa kau akan menemukan perempuan yang akan menyanyangi Aera sebesar Judith”
Mark berpindah pada posisinya, untuk duduk lebih dekat dengan Jeanno. Ditepuknya pundak sang sepupu lembut. “Aku harap setelah mendengar semua ini, kau bisa lebih menurunkan egomu, Jean. Kau mencintainya, Aera menyayanginya, Judithpun telah menganggap Aera sebagai putrinya. Lalu apa yang kurang? Kejarlah Judith, dapatkan dia kembali sebelum pria lain meminangnya”
__ADS_1
“Jangan hukum dirimu dengan menganggap kau tidak pantas bahagia”
**
Hawa ruang gym itu terasa panas akibat aura marah yang menguar dari pria tampan yang sedang sibuk melayangkan tinjunya pada samsak yang tak bersalah. Sudah dua jam lamanya, terhitung Jeanno menghabiskan waktu untuk melampiaskan amarahnya pada diri sendiri. Tangannya yang telah kebas dan lecet, tak juga ia hentikan untuk memukuli samsak itu. Membayangkan benda lonjong tersebut adalah wujud dirinya yang dulu, yang telah tega membunuh darah dagingnya sendiri, walau secara tidak langsung.
Jeanno membenci dirinya sendiri. Terutama ketika nuraninya tak mampu mengalahkan egonya yang membabi buta. Bagaimana bisa ia begitu keras menindas perempuan yang telah memperlakukan anaknya dengan sangat baik? bagaimana bisa ia memeras seorang yang tidak berdaya, hanya demi rupiah yang sebenernya tidak berarti banyak untuknya?
Pengecut.
Karena Jeanno hanya bisa melampiaskan ‘dendam’ tak berdasar itu dengan bantuan kekuasaan yang berada dibelakangnya. Menghujani Judith dengan kata-kata tak pantas yang merendahkan harga dirinya selaku perempuan. Sekali lagi, ia mengucapkan kata pelacur pada perempuan yang saat itu sedang mengandung anaknya.
Ia kecewa pada dirinya sendiri. Mengira bahwa sudah cukup rasa bersalahnya akan perbuatannya silam. Siapa sangka Jeanno akan menemukan fakta baru, rahasia yang semakin menyudutkannya dalam jurang rasa bersalah. Membuatnya semakin mencela dirinya yang dulu.
Mark mengatakan sudah cukup Jeanno kabur dalam pelarian, kini saatnya ia perjuangkan Judith sekeras ia perjuangkan Nayara dulu. Tapi.. apakah bisa? apakah ia masih punya nyali untuk bertemu dengan Judith?
Terlebih sekarang Judith sudah memiliki kekasih. Pria lain yang memperlakukannya dengan sangat baik bak ratu. Tidak menyia-nyiakan apalagi menyakitinya dari segala sisi.
Atau.. haruskah Jeanno melepaskan Judith? Tapi hatinya tidak rela. Bagaimana bisa ia melepaskan begitu saja perempuan yang menjadi figur ibu yang sempurna bagi Aera? Bagamana bisa ia merelakan perempuan yang pernah mengandung anaknya, untuk menikah dengan pria lain?
__ADS_1
Tidak, Jeanno akan menyusul Judith. Jeanno akan pastikan Judith kembali padanya.
**