
Mark menyerbu ruangan Jeanno tanpa tedeng aling-aling. Tidak peduli apa yang sedang sepupunya lakukan didalam, juga tak peduli pertanyaan Nora mengenai apa yang Mark lakukan. Satu yang ia perlu pastikan sekarang usai mendengar desas-desus yang diucapkan oleh ayahnya tadi pagi.
Jeanno mendongak, mengalihkan atensi dari pekerjaan yang tengah diselami. Sorot miliknya bertemu dengan manik mata sang sepupu yang airmukanya nampak tegang. Detik selanjutnya Jeanno kembali fokus, tak mengindahkan gundahnya Mark yang ia tahu apa sebabnya.
“Katakan itu tidak benar”
Mark menarik kursi dihadapan Jeanno, menghempaskan tubuhnya kasar. “Jeanno, katakan bahwa itu tidak benar!”
“Aku tidak menyangka beritanya cepat menyebar”
“Ck” yang lebih tua melengos ketika pertanyaan yang ia layangkan tak kunjung mendapat jawaban. Membawanya pada satu kesimpulan bahwa memang benar Jeanno telah mengambil keputusan besar.
“Selama ini aku berpikir apa yang akan kau lakukan dengan nama ayahmu untuk menggulingkan tuan Robert. Aku berpikir bagaimana bisa kau membujuk Paman Thomas untuk membantumu menghancurkan keluarga Mahendera sementara kalian membenci satu sama lain. Dan ternyata karena ini?”
Jeanno meletakkan berkas usai selesai ia tandatangani ke samping meja. Kini mengangkat wajahnya, memberikan atensi pada sepupunya untuk percakapan mereka. “Sudah lama papa menghubungiku, untuk memintaku kembali”
Satu tarikan bibir Mark terpampang pada wajah tampannya. Terlihat sinis. “Tidak hanya kembali, kurasa”
Hening. Jeanno terdiam dalam pikirannya. Ia meyakini bahwa keputusannya benar. Bahwa ini saat yang tepat untuk mengakhiri perang dingin dengan orangtuanya sendiri. Tanpa ada yang tahu, bahwa sang ayah beberapa kali menelponnya untuk meminta kembali, sekaligus melakukan penawaran menggiurkan yang menguntungkan dua pihak.
Yaitu merger. Antara perusahaan super milik Thomas Alexander, dan perusahaan yang dibangun Jeanno dari tangannya sendiri. Semesta tahu, bagaimana kuatnya jika kerajaan milik dua Alexander itu digabungkan. Tak akan ada yang bisa menandingi, bahkan bersaing saja takut.
Awalnya, Jeanno selalu menolak. Berbicara dengan ayahnya membuat kenangan menohok delapan tahun lalu kembali membayang. Arogansi Thomas yang melemparkan ‘kotoran’ ke wajah Nayara dan membuangnya sebagai anak kandung. Membuat Thomas Alexander menduduki peringkat pertama pada nama yang ia benci dalam hidupnya.
Hingga Arman masuk dan mengusik ketenangannya, bagai hama yang harus ia berantas sampai akar agar tidak menimbulkan kerusakan besar, Jeanno memilih untuk mengambil keputusan besar, dengan segala konsekuensinya.
__ADS_1
“Aku sendiri saja tidak akan bisa menghancurkan tuan Robert. Tapi papa bisa”
Mark membuang nafasnya kasar, kekesalan yang terpeta jelas tak perlu repot-repot disembunyikan. “Arman sudah menuju kehancuran. Begitupun dengan istri dan pernikahan mereka. Tidakkan itu cukup?”
Jeanno menggeleng. Tatapannya berubah setajam elang. “Tidak akan pernah cukup, sampai aku melihat mereka semua dibawah”
“Kau tentu sadar, kan? Jika kau mengambil keputusan ini.. tidak ada jalan kembali?” tuan muda Alexander itu mengangguk. “Aku sudah menimbang segala konsekuensinya, Mark. Lagipula mereka adalah orangtuaku sendiri”
“Dan kau menyerahkan perusahaan yang kau bangun dari 0? Dari darah, keringat dan airmatamu sendiri. Dengan semudah itu kau membiarkan ‘anak’mu diambil alih oleh oranglain?”
Jeanno terkekeh. Pundaknya turun, menandakan dirinya sudah tidak setegang tadi. “Pertama, mereka bukan orang lain, Mark. Thomas Alexander adalah ayah kandungku sendiri. Walaupun dia arogan dan haus akan kekuasaan, tapi aku yakin perusahaan ini akan semakin berkembang dengan inovasinya. Kedua, aku tetap memegang kendali penuh atas perusahaan ini, sebagai pemegang saham terbesar. Ketiga, jika bukan karena arogansi dari orangtuaku dulu, aku tidak akan pernah bisa membangun perusahaan sesukses sekarang”
“Lalu? usai kau berhasil menghancurkan Mahendera, apa yang kau lakukan setelah itu?”
Jeanno meraih pena, memutarnya disela jemari. “Aku akan membawa Aera untuk pindah ke Sidney. Menetap disana untuk… entah berapa lama”
“Tunggu dulu, aku tahu kau ingin menghubungkan kembali ikatan dengan orangtuamu, tapi bisakah kau tetap disini? Jarak antara Jakarta dan Sidney tidak begitu jauh. Kau bisa sering bolak balik”
“Tidak akan berhasil jika seperti itu” Jeanno meletakkan penanya. “Terlalu banyak memori buruk disini. Aku ingin membawa Aera menjauh, memulai semua dari awal hanya aku dan dia. Aera juga butuh waktu yang banyak untuk mendekatkan diri dengan kakek neneknya”
“Lalu bagaimana dengan Judith. Kau bilang kau mencintainya?”
Jeanno mengangguk lirih. “Ya. Aku memang mencintainya”
“Lalu? Kau tidak ingin memperjuangkannya? Seperti yang kau lakukan dulu dengan Nayara?”
__ADS_1
Terdiam. Jeanno membiarkan sekon berlalu dalam kebisuannya. Satu hela nafas terdengar sebelum ia merespon pertanyaan Mark. “Dia banyak terluka ketika berada didekatku. Aku mungkin akan berjuang, tapi tidak sekarang. Aku ingin memperbaiki diriku sendiri, merubah sisi negatif Jeanno Alexander yang selalu menyakitinya. Jika semesta menakdirkan kami bersama, aku ingin muncul dihadapannya sebagai versi terbaik seorang Jeanno Alexander”
“…. Untuk saat ini, biarlah dia menjemput bahagianya sendiri, tanpa aku”
**
Mikha buru-buru kembali pada kesibukannya mengelap etalase ketika Judith masuk. Tak ingin ketahuan bahwa sedari tadi ia memperhatikan bosnya yang tengah bercakap dengan pemilik coffe shop diseberang yang ia perhatikan lumayan dekat dengan Judith.
“Mikha, sini temani aku makan”
Gadis bernama asli Michelle itu lantas menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekat kearah Judith yang sedang sibuk menyiapkan makan siang berupa dua kotak bento yang nampak menggiurkan.
“Owen memberiku dua untuk makan malam, tapi lebih baik kita makan sekarang saja. Istirahatlah dulu, selagi belum ada pembeli”
Mikha mengangguk, turut membantu Judith menyiapkan minum untuk mereka sendiri. “Terimakasih, Kak. Aku belum pernah makan-makanan seperti ini” ucapnya dusta.
Keduanya menghabiskan siang gerimis yang syahdu dengan melahap makanan dari Owen. “Kakak sudah lama berpacaran dengan kak Owen?”
Pertanyaan itu sontak membuat Judith tersedak, membuat Mikha buru-buru mengulurkan gelas dan mengusap punggung atasannya. “Eh, maaf, kak”
“Tidak apa-apa” Judith menyesap air putihnya hingga tandas. “Kami hanya berteman, Mikha. Tidak ada hubungan selain itu”
“Woah, kukira kalian sepasang kekasih. Kak Owen terlihat sangat menyukai Kakak”
Judith hanya bisa tersenyum mendengar pernyataan Mikha. Dirinya tidak bodoh untuk menyadari bahwa adam pemilik coffe shop itu menyimpan rasa lebih padanya. Beberapa kali juga Owen mengajak Judith untuk pergi kencan, tapi dengan rasa bersalah Judith menolak. Karena ia enggan memberikan harapan kosong, yang nantinya hanya berujung salah satu pihak tersakiti.
__ADS_1
Satu minggu bekerja bersama Judith, Mikha melaporkan setiap hari apa-apa saja yang Judith lakukan kepada Jeanno, termasuk interaksinya dengan Owen. Mikha cukup peka melihat bahwa bos besarnya juga menaruh hati pada Judith, sekalipun ia memiliki istri. Terkadang Mikha berpikir, wajah nyonya Alexander dengan Judith begitu mirip, hanya beda pada gaya rambut dan cara berpakaian. Istri Jeanno jauh lebih feminin dan anggun, sementara Judith lebih terkesan tomboy. Entah hubungan seperti apa yang terjalin antara Jeanno dengan Judith, apakah itu bisa disebut ‘perselingkuhan’. Apapun itu, Mikha tidak ingin ikut campur. Ia hanya butuh menyelesaikan pekerjaannya dengan baik sesuai dengan tawaran promosi jabatan dari Jeanno.
**