Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Episode 25


__ADS_3

aku sudah merasakan kebas dan pegal pada kakiku. aku terus menggerakkan kakiku perlahan-lahan agar sedikit nyaman.


"mas, ini udah penuh dari 5 menit loh.  kaki ku sudah kebas dan pegal-pegal ini mas". ucapku.


"sebentar lagi sayang".


aku terus menggoyangkan kakiku, sehingga mas bram bangun dan melihatku meringis menahan rasa kebas.


"maafin aku sayang". mas bram memijat kakiku.


"pijit sampai kebasnya hilang". ucapku sambil tersenyum.


"siap tuan Putri". mas bram mengangkat tangannya seakan-akan memberikan hormat padaku.


"kapan jadwal kamu ke rumah sakit lagi untuk check up sayang".


"kemungkinan besok mas, karena aku harus  USG kehamilan". jawabku.


"aku temeni ya".


mendengar ucapannya aku mengerutkan keningku dan menatapanya.


"kamu yakin mas?  emang ada waktu?".


akhir-akhir ini setiap kali aku memeriksakan kehamilan, mas bram selalu saja tidak bisa karena pekerjaannya yang tidak bisa di tinggal.


"bisa dong sayang, hitung-hitung sebagai penebus rasa bersalah aku karena tidak pernah menemani kamu lagi saat check up". jawab mas bram


"oke, baiklah. kamu harus tepati itu mas". aku mengajukan jari kelingkingku padanya.


"iya sayang". mas bram juga menautkan jari kelingkingnya di jariku.


"gimana?  udah enakkan kakinya".


"udah mas, terima kasih suamiku atas pijatannya".


"sama-sama sayangku,tapi ini semua gak gratis ya,harus ada bayarannya". ucap mas bram mencoba menggodaku.


"mau bayar pakai apa mas?  kalau uang kamu sudah banyak. kalau barang-barang semua juga udah punya". aku menjawab ucapan mas bram dengan polosnya.


mas bram mendekatiku dan berbisik ditelingaku dengan pelan.


"kamu harus bayar nanti malam di atas ranjang".


spontan aku langsung memukul bahu mas bram.


"aaauwwwhh sakit sayang".


"yaaaaa kamu ya mas, kalau ada yang dengar gimana?  malu tau mas". aku menutupi telingaku dengan menggunakan tanganku.


mas bram melihat kiri dan kanan.


"gak ada orang sayang".


"sssttt udah ah jangan di bahas lagi".


"gimana sayang?  tapi mau kan?". mas bram benar-benar menggodaku.


aku melototin mas bram"gak mas".


aku beranjak dari sofa ruang keluarga dan berjalan ke lantai atas.


"sayang mau kemana?  ke kamar ya?  aku ikut". mas bram memelukku dari belakang.


****


Keesokan harinya...


"pagi sayang". aku membangunkan alisya di kamarnya.


alisya membuka matanya perlahan dan menatapku yang tepat duduk di sampingnya.


"hmmmm".alisya merenggangkan badannya.


"ayo bangun sayang,nanti telat sekolahnya". aku menarik selimut yang menutupi tubuh mungilnya.


alisya terbangun dan langsung memelukku manja.


"ehh ada apa ini,kenapa anak bunda pagi-pagi udah manja banget".


alisya tidak menjawabnya dan masih memelukku dengan erat.


"ayo sayang mandi". aku berusaha melepaskan pelukannya.


alisya sangat mirip dengan mas bram, susah untuk bangun pagi. sehingga tiap pagi aku harus membujuk mereka untuk bangun lebih cepat.


tapi itu semua tidak membuatku bosan ataupun capek melakukannya, tapi malah sebaliknya membuatku senang karena itu sudah menjadi bagian dari tanggung jawabku sebagai istri ataupun ibu.


"udahan sayang peluk bundanya, gak kasihan sama adik bayinya di dalam perut bunda yang tertimpa sama alisya".


alisya langsung melepaskan pelukannya


"maaf bunda".


"iya sayang, ayo mandi. nanti terlambat masuk sekolahnya,  bunda sudah siapkan bekal makan siangnya.mau bunda mandikan? ".


"gak bunda, alisya mandi sendiri aja". alisya langsung beranjak pergi ke kamar mandi.


"bajunya bunda letakkan di ranjang ya sayang. selesai ganti baju segera turun kita sarapan bareng". teriakku pada alisya di kamar mandi.


"iya bunda". terdengar menggema suara alisya di kamar mandi.


"sudah selesai alisya, Sekarang giliran mas bram harus di bangunkan". aku beranjak pergi ke kamarku.


saat aku membuka pintu, aku melihat gulungan selimut yang tebal di atas ranjang.


aku menghela nafas melihat mas bram yang tidak mau bangun, padahal sudah satu jam yang lalu aku bangunkan dia tapi tidak bangun juga. inilah alasan kenapa para istri tidak berhenti mengomel ataupun marah.


"mas!! ayo bangun. kenapa sih setiap pagi itu susah banget bangunnya".aku membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


"sayang, hari ini kan aku libur gak ke kantor". ucap mas bram dengan setengah tertidur.


"terus kamu akan tetap seperti itu tidak ingin sarapan bersama istri dan anak". aku menatap wajah mas bram.


mas bram membuang selimutnya dan terduduk dengan wajah sembab.


"kenapa kamu semakin bawel sih sayang".

__ADS_1


"baiklah, karena kamu bilang aku bawel dan mulai sekarang aku tidak akan berkata apapun lagi". aku membalikkan badan dan pergi keluar.


"sayang, bukan begitu.... ". mas bram berlari mengejarku.


melihat mas bram mengejarku, aku menghentikan langkahku dan membalikan tubuhku kearahnya.


"mau kemana kamu mas?".


"mau sarapan". jawab mas bram sedikit bingung.


"dengan keadaan mas seperti itu ingin sarapan?". aku mengacak-acak rambutnya.


"aku aneh ya?". mas bram memeriksa kondisinya saat bangun tidur.


"ya setidaknya cuci wajah kamu dong mas". aku menertawakannya.


"hehehehe iya aku belum cuci wajahku". mas bram menutupi wajahnya.


"tunggu sebentar ya sayang, aku cuci wajah dulu". mas bram kembali ke kamar.


"cepetan mas". teriakku.


selagi menunggu mas bram, aku berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanannya.


"udah selesai bi". aku melihat bi nina telah selesai menyiapkan sarapan pagi.


"sudah non". jawan bi nina sambil menuangkan susu ke gelas.


"terima kasih bi". ucapku sambil menarik kursi.


"bunda". teriak alisya.


"udah selesai anak bunda, waahh cantik banget anak bunda". hari ini alisya mengikat rambutnya dan memakai poni depan.


alisya hanya tersenyum malu mendengar pujian dari ku.


"belajar dari mana kamu sayang bisa ikat rambut seperti itu".


"belajar lewat youtube  bunda, kan banyak macam-macam cara ikat rambut di youtube". jawab alisya.


"huuu.... udah pintar banget anak bunda. gitu dong sayang ,kalau punya smartphone itu bukan hanya ponselnya aja yang smart tapi kita juga harus smart bisa manfaatkan ponsel dengan baik". aku mengelus-elus kepala alisya.


"jangan bunda, nanti rusak rambut alisya". alisya merapikan lagi rambutnya.


"hahaha maaf sayang. ya udah sini duduk dekat bunda, mau sarapan apa alisya? nasi atau roti?".


"roti aja bun".


"oke sayang,bunda buatkan ya". aku mengoleskan selainya.


"selamat pagi istriku tersayang". mas bram mengecup keningku.


"kenapa lama banget turunnya mas?". tanyaku.


"kan aku sekalian mandi sayang.selamat pagi anak papa". mas bram juga mencium kening alisya.


"tapi tadi kamu bilang hari ini libur mas,gak ke kantor".


"hari ini aku mau antar alisya ke sekolah". ucap mas bram.


"beneran dong sayang".


"hore....". alisya kegirangan mendengar ucapan mas bram.


bagaimana tidak, dari awal alisya masuk sekolah mas bram tidak pernah mengantarkan alisya karena pekerjaannya. ini pertama kalinya mas bram memiliki waktu untuk anaknya tersayang.


"makan dulu sayang rotinya". aku meletakkan roti di atas piring alisya.


"buat aku mana sayang? ". mas bram mengangkat piringnya ke hadapanku.


"iya mas sebentar".


"kamu jadi pergi ke dokter hari ini?". tanya mas bram.


"jadi dong mas". jawabku sambil makan roti.


"jam berapa?".


"sekitar jam 10 gitu, kamu jadi antar aku mas?".


"jadi sayang, pulang dari rumah sakit kita belanja ya".


"buat apa mas?". aku menatap heran mas bram.


"dimana-mana kalau perempuan di ajak belanja itu seneng, kamu malah tanya kenapa? belanja untuk bayi kita dong sayang". jawab mas bram.


"hahahahaha". aku merasa geli dengan ucapan mas bram.


"loh kok malah ketawa". mas bran heran melihatku tertawa.


"kamu tau gak mas?  udah 3 tahun kita nikah, baru kali ini kamu ngajak aku belanja mas". aku tertawa semakin besar.


mas bram memikirkan apa yang aku ucapkan dan tersadar, lalu ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"ssttt udah sayang, kenapa kamu bicaranya keras-keras sih. kan malu didengar sama bi nina dan alisya". ucap mas bram bisik-bisik.


bi nina yang mendengar ucapanku, ia pun ikut tertawa kecil di dapur. itulah kebiasaan mas bram, dia selalu bicara tanpa mengetahui bahwa itu akan menjadi senjata untuk menertawakannya.


"udah ketawanya". mas bram menatapku dengan mengerutkan dahinya.


"iya iya mas udah, oke nanti kita belanja".jawabku dengan masih sedikit tertawa.


"bunda, apa adik bayinya mau keluar ya. bunda kok pergi ke rumah sakit?". tanya alisya dengan polosnya.


"gak sayang, bunda cuma mau periksa aja. apakah adik bayinya baik-baik aja di dalam perut bunda". jawabku.


"terus adik bayinya kapan keluar?".


"sabar ya sayang, gak lama lagi adik bayinya keluar kok". ucapku sambil tersenyum pada alisya.


"ayo sayang kita berangkat, nanti telat loh". ucap mas bram.


"iya pa. bunda, alisya pergi sekolah dulu ya". alisya mencium tanganku.


"hati-hati ya sayang, belajar yang rajin ya".


"iya bunda, bye". alisya melambaikan tangannya.

__ADS_1


"aku antar alisya dulu ya sayang".


"iya mas, hati-hati ya mas di jalan". aku menatap alisya dan mas bram yang berada di dalam mobil.


"bye bye bunda". ucap alisya yang duduk di samping mas bram.


"bye sayang". jawabku dengan menatap alisya dan mas bram.


setelah mengantarkan alisya berangkat sekolah, aku kembali ke dapur untuk membereskan meja makan yang berantakan.


"non, biar bibi aja". ucap bi nina yang melihatku menumpukkan piring-piring kotor.


"gak apa bi, aku masih sanggup kok".


"non istirahat saja, nanti kalau tuan tahu pasti marah lihat no capek-capek di dapur". bi nina mengambil piring di tanganku.


sebenarnya aku tidak tega melihat bi nina harus mengerjakan semuanya sendiri, inilah alasanku kenapa aku selalu ikut sibuk di dapur atau pun kerjaan lainnya.


meskipun banyak orang bilang, pembantu itu di bayar ngapain juga kita harus ikut-ikutan repot. bagi ku itu tidak mencerminkan kepribadian seseorang yang baik, meskipun kita membayarnya tapi kita juga harus memperlakukannya seperti layaknya manusia yang di hargai dan di perhatikan.


karena orang tuaku mengajariku pentingnya menghargai orang lain, sekalipun dia buruk. dan itulah sekarang yang aku terapkan di kehidupanku.


"ya sudah bi, biar aku bersihkan mejanya saja ya". aku langsung mengelap meja dengan air pembersih.


setelah selesai membantu bi nina di dapur, mas bram pulang dari mengantar alisya sekolah.


"sayang". ucap mas bram.


"kenapa mas". aku menghampirinya.


"loh,kok belum ganti pakaian,kan kita mau ke dokter". mas bram terkejut melihatku masih memakai baju rumahan.


"sebentar mas,baru selesai beresi dapur". jawab ku.


mas bram menghela nafasnya setelah mendengar ucapanku.


"kenapa mas?". tanyaku.


"sudah di bilang kamu jangan capek-capek,masih juga ngerjain entah apa-apa".


"mas,aku itu udah terbiasa ngerjain kerjaan rumah. kalau tiba-tiba harus duduk gak ngapa-ngapain rasanya aneh aja". jawabku.


"untuk sementara kan bisa bi nina semua yang ngerjain sayan".


"ihh tega banget sih kamu mas,kamu lihat ini rumah besar banget dan nyuruh bi nina ngurus semua sendiri".


mas bram terdiam sejenak


"ya sudah, gimana kalau kita cari asisten rumah tangga satu lagi?".


aku memikirkan apa yang mas bram katakan, seharusnya kami mencari satu lagi asisten rumah tangga agar bi nina tidak terlalu capek, apa lagi di usia bi nina yang sudah tidak muda.


"boleh juga mas".


"tapi kamu harus janji,harus istirahat selama kehamilan kamu". ucap mas bram.


ya aku tau maksud mas bram,dia tidak membolehkan ku kerja terlalu capek buka. karena ingin memanjakanku tapi karena demi kesehatanku dan juga kehamilanku.


"iya mas,aku janji". jawabku dengan lega.


"ya sudah,kamu siap-siap ganti pakaian.sekarang kita akan pergi kerumah sakit". mas bram mendorong badanku agar cepat pergi ke kamar.


"iyaa iya mas".


30 menit kemudian...


selesai aku mandi dan mengganti pakaian. aku langsung turun untuk menemui mas bram. tpi aku melihat mas bram tertidur di sofa ruang keluarga.


"mas, ayo kita pergi". aku membangunkan mas bram.


mas bram terbangun dan mengusap-usap matanya.


"sudah selesai sayang".


"udah mas, ayo". ajakku.


"nunggui kamu ganti pakaian, aku sampai bisa tiduran, bangun, makan, tiduran lagi".canda maa bram.


"ihhh lebay kamu mas, baru juga 5 menit". jawabku sambil tertawa kecil.


"iyaa iya sayang, cuma 5 menit kok, gak lama kan. emang kayak gitu perempuan ya selalu benar". ucap mas bram sambil merapatkan giginya.


"hahahhaa udah ah, ayo kita berangkat nanti terlambat. pasien dokter jeff banyak mas, bukan hanya kita saja". aku menarik tangan mas bram agar cepat jalannya.


"loh kok aku yang di salahkan. huhh sabar sabar, untung istri lagi hamil". mas bram mengelus dadanya.


lalu aku membalikan badan dan menatap mas bram.


"kalu gak mas?".


mas bram terkejut karena aku tiba-tiba menatapnya


"hehehe yaa harus tetap sabar juga sayang".


"Bagus". aku mengacungkan jempol ke arah mas bram sambil tersenyum.


"bi, kami pergi dulu ya". aku berpamitan kepada bi nina.


"iya non, hati-hati di jalan non". jawab ni nina.


mas bram melajukan mobilnya perlahan


"ayo kita berangkat". ucapnya.


"aku deg-degan mas". aku mengepal tanganku.


"kenapa sayang?".


"ini pertama kalinya aku melakukan USG mas, dan kata orang kita bisa tahu jenis kelamin anak kita". jawabku.


"jangan terlalu gugup sayang, rileks saja kan ada aku yang nemani kamu". mas bram menggenggam tanganku.


"iya mas".


sebenarnya bukan hanya itu yang membuatku gugup, aku terlalu berpikir Buruk takut keadaan bayiku tidak baik.


"semoga semuanya baik-baik saja".

__ADS_1


__ADS_2