
setelah ibu memanggil, segera aku turun untuk membantu ibu. tapi aku melihat makan malam sudah tersusun rapi di meja makan.
"ibu, maaf. aku gak bantui ibu masak".
"gak apa sayang, lagian kamu pasti lelah karena perjalanan jauh".
"ahhh ibu, I Love You". aku memeluk ibu.
"ihh kamu, masih manja aja sama ibu".
"kan cuma aku yang bisa manja sama ibu".
"iya.. iya.. oh iya, alisya udah bangun, dia lagi main di taman belakang".
"ya ampun ibu, aku lupa sama alisya". dengan cepat kilat aku berlari ke arah taman.
"ck dasar anak itu". ibu tersenyum melihat tingkah ku.
ku melihat alisya sedang duduk di ayunan sambil memegang bonekanya.
"sayang". panggilku dengan pelan.
"bunda". alisya langsung memelukku.
"kok sendirian di sini". aku ikut duduk di ayunan.
"alisya suka di sini bunda". alisya mengayunkan tangannya.
taman ini merupakan, taman favorit ku kalau di rumah. secara langsung taman ini menghadap ke persawahan warga setempat, sehingga banyak angin di sini.
"bunda dulu juga suka duduk di sini, setiap bunda lagi bosan, bunda langsung duduk di sini".
"bunda duduk sendiri". tanya alisya.
"gak, bunda duduk sama nenek dan kakek". jawab ku.
"ohh iyaa... alisya belum makan kan. ayo kita makan, nenek udah masak yang enak buat kita".
"ayo bunda".
ibu begitu sibuk menyiapkan semuanya sendirian, seperti ibu akan menyambut presiden saja.
"ibu, sudah cukup. kenapa ibu harus repot-repot". ucap mas bram.
"gak nak, ibu senang kalian datang. jadi ibu masak yang enak khsusus kalian". ibu sedang menyiapkan buah-buahan.
"alisya duduk di sini ya". ucapku.
"ayah kok belom pulang bu".
"sudah di jalan tadi ibu telpon, bentar lagi di juga sampai".
beberapa saat kemudian terdengar suara mobil di depan rumah.
"itu pasti ayah kamu".
benar saja, sedari tadi di tunggu akhirnya ayah pulang juga.
"ayah" teriakku saat melihat ayah masuk ke dalam rumah.
"karin". ucap ayah bahagia dan memelukku.
"apa kabar ayah". mas bram menghampiri ayah dan mengalaminya.
"kabar baik bram. kapan kalian datang".
"siang tadi yah". jawabku.
"alisya sayang, sini salam kakek dulu".
"kakek". alisya Juga menyalami ayah.
"cucu kakek, apa kabar sayang. kakek rindu sama alisya". ayah langsung menggendong alisya.
"kakek itu". alisya menunjukkan boneka yang di berikan oleh ayah.
"wahh alisya masih simpan boneka dari kakek".
alisya hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"karna ayah udah pulang, ayo kita makan malam bersama"ucap ibu.
kami semua segera duduk di kursi masing-masing dan melanjutkan makan malam bersama.
"makan yang banyak bram". ucap ayah.
"iya yah, ini juga masih ada". jawab mas bram.
"ayah kenapa lama banget pulangnya". tanyaku.
"inikan akhir bulan, jadi banyak yang harus ayah kerjakan. kalian kenapa gak kasih kabar ayah kalau datang. ayahkan bisa pulang cepat tadi".
"karin itu yah, dia gak mau kasih kabar ibu atau ayah, mau kasih kejutan katanya". ucap mas bram.
"iyaa, bener-bener buat ibu terkejut lihat kalian datang tadi".
semua tertawa mendengar ucapan ibu dengan ekspresi wajahnya yang lucu.
"maaf ibu,kalau aku kasih tahu ibu, aku takut merepotkan ibu".
"kamu ini ada-ada saja karin, gak ada anak ngerepotin orang tua. yang ada malah bangga bisa megelakuin hal untuk anaknya". jawab ibu.
"benar kata ibu kamu".
"iyaa ayah maaf". jawab ku sedikit merasa bersalah.
"udah-udah, buruan di makan lagi. masih banyak makanannya. bram, coba ini ayam semurnya. cuma masakkan ibu yang paling enak". puji ayah.
"ihh ayah apaan sih, buat ibu malu aja". ibu terlihat tersipu.
"iya yah, ini lagi coba semurnya ibu". mas bram terlihat lahap makan malamnya.
"alisya lagi makannya". aku melihat alisya terdiam di sampingku.
"gak bunda, alisya udah kenyang". alisya menggelengkan kepalanya.
"nanti main sama kakek ya". ucap ayah pada alisya.
"iya kakek". alisya tersenyum.
setelah makan malam selesai, mas bram dan ayah duduk di ruang tamu bersama alisya yang sibuk dengan bonekanya.
sedangkan aku membantu ibu membereskan piring-piring kotor yang ada di dapur.
"udah, biarin ibu aja".
"gak apa bu, karin mau bantu ibu". aku mengumpulkan semua piring kotor.
"karin, kamu kapan lagi?". tiba-tiba ibu bertanya sesuatu padaku.
"apanya bu?" tanyaku kebingungan.
__ADS_1
"kok apanya sih. ya kapan lagi kamu punya anak sendiri".
pertanyaan ibu yang sangat mengejutkan aku, dan membuatku bingung menjawabnya.
"sudah lama kalian menikah tapi kenapa belum hamil juga".
"ibu, kok gitu sih. belum rezeki aku punya anak bu, sabar bu".
"yaa bukannya ibu gak sabar, ibu kan pengen punya cucu sendiri".
"sssttt ibu, jangan bicara seperti itu. kalau mas bram denger gimana? uda ah jangan bahas itu lagi". aku sedikit memasamkan wajahku.
"iyaa iyaa... nih bawakan kopi dan kue nya untuk ayah dan bram".
mau gimana pun, apa yang di ucapkan oleh ibu benar. ibu juga butuh cucu yang lahir dari rahimku.
tapi itu semua butuh waktu dan proses tidak bisa instan dalam sekejab saja.
"wah, sepertinya asik ya ngobrolnya". sembari aku meletakkan kopi dan teh.
"biasa, kalau laki-laki yang di bahas gak jauh-jauh dari kerjaan". ucap ayah
"ihh ayah, mas bram kemarikan untuk liburan, kok malah di ajak ngobrol masalah kerjaan". jawab ku.
"gak semuanya tentang kerjaan karin, iyaakan yah". sambung mas bram.
terakhir kami semua berkumpul di ruang tamu, kali ini sedikit rame karna ada tambahan mas bram dan alisya.
kami ngobrol satu sama lain, bahkan lebih banyak bercandanya. aku bahagia memiliki keluarga yang bisa membuatku jauh dari kata bahagia.
"bunda.. bunda". alisya mendatangiku dengan wajah lelah.
"kenapa sayang, udah ngantuk".
"ayo tidur". alisya menyenderkan kepalanya di dadaku.
"aihh anak bunda udah ngantuk dia. ayoo kita tidur" aku menggendong alisya.
"ayah, ibu aku menemani alisya tidur ya".
"iyaa, kasihan dia udah ngantuk banget". jawab ayah.
"udah ibu bereskan kamar di sebelah kamu untuk alisya".
"iyaa bu".
aku langsung pergi naik ke lantai atas untuk menidurkan alisya yang sudah ngantuk berat.
"tidur ya anak bunda". aku mencium keningnya.
"bunda jangan pergi". alisya memegang erat tanganku.
"mau bunda temani, y uda sini bunda peluk".
alisya memejamkan matanya dan memeluk ku.
aku menepuk-nepuk pundaknya agar dia tidur dengan nyenyak.
creakkk... terdengar suara pintu terbuka.
"sayang" bisik mas bram.
aku menoleh dan melihat mas bram berdiri di pintu kamar.
"ada apa mas".
mas bram melambaikan tangannya.
"ayo kita ke kamar, aku udah ngantuk".
sekali lagi aku memastikan alisya tidur dengan baik dan mematikan lampunya.
"mas kan bisa tidur duluan".
"gak bisa sayang, aku ingin tidur sambil meluk kamu".
"apaan sih mas, itu kan ada bantal guling". ucapku sambil tertawa.
"tega kamu nyuruh aku meluk bantal guling".
"jadi mas mau apa?".
"mau itu.... ".
"apa mas?".
"mau buat anak sama kamu".
aku melempar bantal ke wajah mas bram.
"aduh... sayang teganya kamu ya". mas bram menarik tanganku dan menghempaskan ku ke kasur.
malam pertama kami tidur bersama di rumah ibu dengan suasana baru. ada mas bram yang tidur di samping ku dan membuatku merasa lebih nyaman.
****
pagi hari....
aku bangun lebih awal karna harus membantu ibu menyiapkan sarapan pagi.
"pagi ibu".
ibu yang sudah berada di dapur dengan segala sayur mayur yang akan dia masak.
"pagi sayang, kok udah bangun".
"udah terbiasa bangun pagi ma".aku langsung merapikan piring.
"dulu kamu itu anak paling manja, bangun pagi jam 10,mau makan harus di panggil dulu. pokoknya kamu dulu seperti Ratu deh. tapi ibu gak nyangka, semenjak sudah punya suami kamu berubah, pintar masak, pintar ngatur kebutuhan rumah tangga. ibu bangga sama kamu".
" iya bu, aku juga ngerasa hal yang sama. sekarang aku sudah mengerti gimana beratnya jadi ibu rumah tangga".
"jadi ibu rumah tangga itu jangan di jadikan beban sayang, nikmati saja alurnya. ingat setiap hari kita melayani orang-orang terpenting dalam hidup kita, maka semua rasa lelah itu akan hilang".
"aku bangga punya ibu seperti ibu, aku makin sayang sama ibu" aku langsung peluk ibu.
"udah-udah jangan manja terus, kita belum selesai masak loh".
"hehehehe iyaa bu".
rasa bangga ku terhadap ibu tidak pernah berubah.beliau selalu memberikan ku nasehat-nasehat yang baik dan selalu aku terapkan dalam hidupku.
ibu menjadi pegangan dalam hidupku,kata-katanya selalu membuatku tenang dan nyaman.
"karin, cepetan banguni bram dan alisya. kita sarapan bareng".
"iyaa bu".
seperti biasa, setiap weekend mas bram selalu telat bangun. karna weekend hari penting baginya untuk males-malesan.
"ya ampun mas bram" aku melihat mas bram masih tidur di bawah selimutnya.
__ADS_1
langsung aku menarik selimutnya.
"ayoo mas, ibu sudah masakkan sarapan buat kita"
mas bram meregangkan tubuhnya
"aaghhh sayang, aku masih ngantuk".
"jadi mas mau ayah dan ibu nunggui kita".
mas bram langsung bangun dan duduk di kasur.
"sejak kapan sih istriku berubah jadi sangat bawel".
aku membalas perkataan mas bram hanya dengan memanyunkan bibirku ke arahnya .
mas bram segera berdiri dan mengejarku
"oohhh itu bibir yaa... manyun-manyun minta di cium".
segera aku keluar kamar dan pergi ke kamar alisya.
"pagi anak bunda".
"bunda". alisya merentangkan tangannya.
"ooowwhh anak bunda udah bangun. ayo kita sarapan".
alisya menggelengkan kepalanya di pelukanku.
"loh kenapa? alisya gak mau makan".
"mau". jawabnya.
"ayo kita turun".
ku gendong alisya untuk segera turun ke ruang makan.
"wahh cucu kakek udah bangun, sini duduk sebelah kakek". ucap ayah.
kami menikmati sarapan pagi ini dengan nikmat. awalnya aku sempat khawatir kalau mas bram gak bakalan betah di rumah ibu. tapi aku bersyukur ternyata mas bram sangat menikmati liburannya.
"ibu, ayah. nanti siang kami akan pulang".
"loh kok cepet banget sih". jawab ibu.
"besok mas bram ada urusan di kantor bu".
"iya bu, maaf kalau kami gak bisa lama-lama nginap di sini". sambung mas bram.
"ya sudah gak apa. ayah udah seneng kalian bisa nginap di sini walaupun cuma semalam. nanti kalau ayah ada waktu libur, giliran ayah dan ibu yang akan kesana". ucap ayah.
"padahal ibu masih kangen loh". ibu memasang wajah sedih.
"sudah toh bu, mereka kan punya kerjaan yang harus di kerjakan, jangan sedih gitu ah. malu di lihati anak-anak".
"iya bu, kalau mas bram ada waktu lagi pasti kami datang kemari lagi".
setelah selasai sarapan pagi, lagi-lagi aku membantu ibu untuk membereskan dapur dan bersih-bersih rumah.
akhirnya kami harus segera pulang agar tidak kemalaman di jalan. mas bram tengah memasukan koper ke dalam bagasi mobil.
"karin, kamu beneran gak mau bawa apa-apa dari sini". ucap ibu.
"gak usah bu. udah tidak apa-apa". jawabku.
"hati-hati di jalan ya, kalau udah sampai segera kabari ibu". ibu memelukku.
"iyaa bu".
"ayah, kami pamit pulang dulu ya". mas bram mencium tangan ayah dan ibu.
"alisya, salam dulu sama kakek dan nenek". ucapku pada alisya.
"kakek, alisya pulang ya". alisya mengulurkan tangannya.
"iya sayang, kapan-kapan main kemari lagi ya". ayah mengelus kepala alisya.
"nenek, alisya pulang ya". ucap alisya.
"iyaa sayang". ibu mencium kening alisya.
"kami pamit ya bu. dadahh... ". aku melambaikan tanganku ke arah ibu dan ayah.
"hati-hati nak, kalau capek istirahat ya, jangan di paksakan". ucap ayah.
"iya yah". sahut mas bram.
bahkan sudah di dalam mobil pun, alisya masih saja melambaikan tangannya pada ayah dan ibu.
"dadahh....kakek, nenek". ucap alisya.
"dadahh... sayang".sahut ayah.
mataku berkaca-kaca karna harus meninggalkan ayah dan ibu, rasanya aku tidak ingin pergi dan ingin terus bersama mereka.
tapi status ku telah berubah, kini aku telah memiliki suami dan anak. aku tidak bisa sesuka hatiku untuk melakukan sesuatu hal.
"kamu kenapa sayang". mas bram memperhatikan ku yang terlihat sedih.
aku langsung menyeka air mataku
"gak apa mas, aku hanya sedih aja".
mas bram langsung menggenggam tanganku dengan hangat.
"udah sayang, lain kali kita akan kemari lagi. udah ya jangan sedih".
"iya mas, terima kasih".
"terima kasih kenapa?". tanya mas bram.
"terima kasih udah sempatkan waktu untuk mengunjungi ayah dan ibu". air mataku menetes.
"sudah jadi kewajibanku sebagi suami sayang, gak perlu terima kasih".
"tetep aja mas aku harus berterima kasih".
"iya iya sayang, udah dong jangan nangis lagi". mas bram menghapus air mata ku.
awalnya aku mengira pernikahan ini adalah suatu masalah tapi semakin aku jalani, aku semakin bersyukur telah memiliki suami seperti mas bram.
rasa pengertian dan perhatiannya benar-benar membuatku semakin jatuh Cinta padanya.
"tetap terus seperti ini ya mas, tetap menjadi mas bram yang aku kenal dan aku sayang".
"sayang, kenapa melamun".
aku menatap mata mas bram
"mas I LOVE YOU".
__ADS_1
" a.. apa?" mata mas bram melotot terkejut.
"I LOVE 3000 mas". ucapku dengan tersenyum.