
Nora berjalan tergopoh-gopoh usai mendengar namanya dipanggil dengan nada yang biasa Jeanno ucap jika sedang dalam kondisi tidak mood. Itulah sebabnya ia langsung meninggalkan pekerjaannya untuk segera menuju ruangan sang bos sebelum mood pria itu bertambah buruk.
“Anda memanggil saya?”
“Perwakilan dari Dharma Group, bernama Sharin Widjaja?”
Nora mengangguk canggung. Hal itu membawa reaksi yang menurut Nora berlebihan. Jeanno menaruh, atau lebih tepatnya membanting map hasil negosiasi kerja samanya dengan Dharma Group tiga hari lalu yang diwakilkan oleh Nora karena ia tak bisa datang.
“Kenapa kau tidak bilang padaku?”
Nora hendak menjawab, namun Jeanno sudah lebih dulu memotong. “Sharin. Ada hubungan apa dia dengan Dharma Group?”
“Dia istri dari Bryan Dharma, tuan. Karena tuan Dharma sedang berada di Singapore, jadi Nyonya Sharin-lah yang menggantikan segala aktifitasnya selama di Jakarta”
Jeanno membuang nafas kasar. Selama ini ia menghindari segala bentuk kerjasama dengan perusahaan ayah Sharin. Mengenai usaha menantu lelakinya, Jeanno sama sekali tidak tahu jika Dharma Group ada sangkut paut dengan Sharin. Jika saja ia tahu dari awal, sudah pasti tak akan sudi dirinya mengikat kerjasama. Namun semua sudah terjadi, Jeanno juga tidak bisa menyalahkan Nora atas masalah pribadinya yang sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu.
“Kau boleh pergi”
Nora menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan menuju pintu. Dalam benaknya bertanya-tanya apakah tindakannya salah? mengapa bosnya begitu marah ketika mendengar nama Sharin Widjaja? Nora mengedikkan bahunya. Memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya dibanding mengurusi urusan pribadi sang atasan.
**
Dahi Judith berkerut ketika melihat Jeanno datang ke kamarnya dengan wajah masam. Khas seperti Jeanno yang sedang menahan amarah. Pria itu tidak berkata apapun, hanya masuk dan merebahkan tubuhnya disisi ranjang yang biasa ia tempati. Judith tak melarang, ia memilih menyelesaikan rutinitasnya mengolesi skincare. Mungkin mood Jeanno sedang buruk dan ia tak ingin bertanya banyak yang malah memperburuk suasana hatinya.
Usai selesai dengan perawatan kulit, Judith melangkah menuju ranjangnya, menarik selimut ketika melihat tatapan Jeanno nyalang ke atap-atap kamarnya. “Tuan?”
“Hari ini aku baru menyadari bahwa telah mengikat kerjasama dengan orang yang paling kuhindari”
Judith tidak mengerti siapa yang Jeanno maksud. Dibanding bertanya siapa, ia justru bingung bagaimana Jeanno bekerjasama dengan perusahaan yang mana ia tak tahu siapa pemiliknya?
“Kau ingat wanita yang kita temui di pesta Tuan Jagad?” Judith mengangguk. “Dari semua manusia di bumi ini, mengapa aku harus bertemu lagi dengan Sharin”
Ah, wanita psycho itu rupanya, batin Judith. Memberikan julukan yang menurutnya pas untuk Sharin walau ia tak tahu secara spesifik apa yang dilakukan Sharin sehingga menimbulkan reaksi sekuat itu dari Jeanno.
“Bisakah tuan mengirim oranglain ketika bertemu dengan perusahaannya?”
“Satu waktu, ya, bisa. Tapi ada kalanya pertemuan harus dihadiri oleh diriku sendiri. Sementara aku harus profesional, tapi aku tidak bisa memandangnya begitu lama. Bagaimana aku bisa bertemu dengan wanita yang mencoba menghancurkan hidup Nayara?”
Judith terkadang membenci spontanitasnya yang terkadang keluar disaat tidak tepat. Seperti hal yang baru ia ucapkan tiga detik yang lalu.
“Memang apa yang Sharin lakukan pada mendiang Nayara dulu?”
Jeanno tidak menjawab. Membiarkan sunyi membekap kamar Judith sementara pemilik kamar itu sibuk mengutuki kelancangannya bertanya. Yang tentu saja pertanyaan bodohnya membawa Jeanno kepada kenangan buruk entah apa.
“Sudah, tuan. Lupakan saja pertanyaa—“
__ADS_1
“Dia mencoba menjual Nayara”
**
“Jeanno”
Pemilik nama itu mengangkat wajahnya, memandang wanita anggun yang berjalan kearahnya dan duduk di kursi makan seperti biasa. “Ya, Ma?”*
“Mama dengar dari Sharin kau mengabaikan telpon dan pesannya. Apa kalian baik-baik saja?”*
Jeanno membuang nafas. Hal ini yang sebenarnya membuatnya malas pulang ke rumah. Orangtuanya, begitu menyayangi Sharin dan menganggap gadis itu akan menjadi istrinya. Padahal sudah berkali-kali Jeanno jelaskan bahwa hubungannya dengan Sharin sudah kandas hampir satu tahun yang lalu. Ia sendiri bahkan tak yakin membawa hati kedalam hubungan mereka, keduanya resmi bersama karena andil dari Mamanya dan Mama Sharin. Sialnya, sang ayah juga memberikan lampu hijau pada hubungannya dengan Sharin.*
“Aku sudah putus, Ma. Hampir satu tahun yang lalu. Sharin juga sudah tahu”*
“Tidakkah kau mau memikirkan kembali keputusan itu, nak? Sharin terlihat sangat mencintaimu. Tante Shanty juga mengatakan Sharin tidak bisa tidur dan makan teratur sejak jauh darimu”
Jeanno meremat peralatan makannya. Ia ingin membantah, tapi ketika sudah menggunakan nada tinggi dan ada ayahnya disana, sudah pasti tak akan berakhir baik. Itulah mengapa ia memilih diam.*
“Lagipula apa kurangnya Sharin. Dia cantik, karirnya sebagai model juga sedang naik. Dia berasal dari keluarga yang jelas dan terpelajar. Setara dengan keluarga Alexander”*
‘Setara dengan keluarga Alexander’. Satu kalimat yang terasa menggelikan bagi Jeanno. Seakan-akan Alexander keluarga kerajaan yang harus dihormati oleh setiap manusia di muka bumi. Padahal menurut Jeanno, keluarga Iris, Keluarga Sebastian, Keluarga Jagad jauh lebih diatas Alexander. Tapi seperti biasa, sang ayah tidak mau merendah. Menurutnya jika bisa terus naik keatas, untuk apa kita mundur satu langkah?*
__ADS_1
“Aku tidak mencintainya”*
“Cinta bisa datang kapan saja. Papa pikir kau sudah mencintainya ketika kau memacarinya. Jangan bilang selama ini kau hanya main-main?”*
Jeanno meletakkan alat makannya. Nafsu makan serasa menyusut entah kemana. Kudapan yang terasa lezat sekarang nampak hambar. “Justru aku memutuskannya setelah menyadari aku tidak pernah mencintainya. Dibanding harus melanjutkan, bukankah lebih baik dia mencari pria lain yang mencintainya?”*
“Tapi dia mencintaimu”*
“Lalu? Apa aku harus mengkorbankan diriku untuk bersanding dengan perempuan yang sama sekali tidak kucintai?”*
Wajah Thomas Alexander memerah, berusaha menahan emosinya ketika sang putra mulai membantah perkataan baik darinya maupun dari sang istri.*
“Lagipula aku sudah memiliki kekasih”*
Berbeda dengan ekspresi Thomas, Yvone terlihat jauh lebih baik dalam memaksakan senyuman. “Oh ya? siapa dia, nak? Dari keluarga mana?”*
Terkadang Jeanno menyalahkan takdir mengapa ia terlahir sebagai Alexander. Memang ia mendapatkan nama baik, materi berlimpah. Namun ketika menyadari bahwa materi hanya membawa kesombongan, Jeanno sama sekali tidak bangga akan hal itu. Pertanyaan Yvone mungkin sederhana dan tidak bermaksud merendahkan, tapi akan terdengar begitu menyakitkan ketika didengar oleh Nayara yang notabene bukan berasal dari keluarga yang diharapkan orangtuanya untuk dijadikan menantu.*
“Teman kampusku. Mungkin aku akan membawanya untuk diperkenalkan dengan Papa dan Mama, jika kalian sudah siap”*
Jeanno sengaja menekankan jika orangtuanya siap, bukan jika Nayara siap. Ketika kedua orangtuanya siap, itu artinya Jeanno memiliki sedikit harapan jikalau sang Papa dan Mama mau menerima Nayara dengan segala yang ada pada dirinya.*
“Jika yang kau pilih tidak sepadan, jangan repot-repot menjadikannya sebagai nyonya Alexander”*
__ADS_1
*