Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 51. He’s Back


__ADS_3

Judith terbangun dua jam kemudian. Perempuan itu terkejut bukan main melihat ia sudah tak lagi berada di mobil, melainkan berbaring di kamar asri dengan tubuh terbalut selimut hangat. Bagaimana caranya ia bisa kemari? Apa Jeanno yang membawanya?


Judith menggelengkan kepala. Tidak mungkin. Tuan muda menyebalkan itu pasti tidak sudi menggendongnya sampai ke kamar. Pasti Jeanno menyuruh penjaga villa yang menggendongnya kemari. Ya, lebih baik begitu daripada timbul perasaan aneh jika memang Jeanno yang membawanya. Tapi ia mencium bau parfum pria itu dipakaiannya.


“Tidak, tidak. Ini hanya kebetulan. Jeanno tidak mungkin menggendongku, kan? Lagipula mengapa kau bodoh sekali sampai ketiduran selama ini, Judith”


Judith menghabiskan waktu sekitar 10 menit untuk mengumpulkan kesadaran, sekaligus memaki dirinya sendiri. Sebelum ia ke kamar mandi untuk mencuci muka, dan turun menemui Aera dan Jeanno.


“Mama!”


Gadis kecil yang sudah berganti pakaian itu berlari memeluk pinggangnya. Ia menunjuk kearah dapur yang asapnya mengepul kemana-mana.


“Mama harus selamatkan dapur. Aera dan papa sedang membuat makan malam tapi papa mengacau, jadilah masakannya gosong dan beberapa piring pecah!”


“Astaga, benarkah?” seakan melupakan pertanyaan akan siapa yang menggendong Judith ke kamar, perempuan itu segera membawa kakinya menuju sumber kekacauan. Benar saja, dapur yang indah itu berubah kacau dengan jarak pandang terbatas karena asap yang mengepul kemana-mana. Disana, oknum pembuat onar sedang terbatuk-batuk sambil mengibaskan tangannya. Berusaha mengusir tebalnya asap.


“Apa yang tuan lakukan?” Judith mengecilkan bagian kata ‘tuan’. Perempuan itu memandang horor kearah teflon yang diatasnya sedang terdapat daging berwarna hitam pekat yang tak layak makan.


“Aku ingin membuat makan malam, tapi aku lupa kalau aku sedang menggoreng daging. Jadilah sedikit gosong”


“Sedikit? Ini bukan sedikit, Jeanno. Tapi sudah gosong. Sepenuhnya gosong. Astaga, bagaimana jika aku tidak bangun, sudah pasti kau merusak kesempurnaan dapur ini”


Jeanno meringis melihat Judith mengomel. Sementara Aera, sebagai pihak yang mengadu, hanya bisa memandang prihatin kearah ayahnya.


“Minggir, biar aku yang melanjutkan. Lepas apronnya”


Jeanno tak memiliki pilihan lain selain menurut. Dilepasnya apron merah yang membebat tubuh kekarnya, kemudian ia membantu memakainnya ke leher Judith yang mulutnya masih sibuk mengomel. Tangannya juga sibuk membereskan kekacauan yang Jeanno buat sehingga ia nampaknya lupa atau tidak sempat mengaitkan tali apron. Jeanno, secara alami mengikuti instingnya untuk membantu mengikatkan tali apron. Membuatnya sekilas seperti seorang suami yang tengah membantu istrinya menyiapkan masakan.


“Sudah, lebih baik kau keluar bersama Aera. Tidak baik disini lama-lama ketika asap masih mengepul. Nanti kalau makanan sudah siap, akan kupanggil”


“Benar tidak butuh bantuan?”

__ADS_1


Judith memberikan tatapan membunuh. “Bantuan yang kau tawarkan sama saja seperti malapetaka. Lebih baik aku bekerja sendiri. Sana pergi, hush hush”


Jeanno menggendong Aera usai membisikkan kata ‘maaf’ sekali lagi sebelum keluar dapur. Judith menarik nafas panjang, antara menyesal sudah memarahi Jeanno sekaligus ingin menangis melihat betapa berantakannya dapur ini.


Perempuan itu hanya bisa berdoa semoga masakannya tetap enak karena dirinya memasak dalam keadaan mood yang tidak enak.


**


Judith.


Berani-beraninya wanita itu menghilang bak ditelan bumi. Nomornya tidak bisa dihubungi, ia tidak pernah muncul di show manapun di Victoire. Johnny juga enggan memberikan informasi apapun mengenai dimana Judith berada. Apartemennya juga lebih sering kosong. ****** itu mempunyai nyali besar untuk mengabaikannya setelah apa yang ia berikan selama ini.


Arman Mahendra meremat ponselnya erat. Saking eratnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tak sudi dicampakkan seperti ini oleh wanita murahan yang biasa ia panggil sesuka hati untuk memuaskannya. Ia tak pantas diperlakukan seperti ini setelah memberikan limpahan materi kepada ****** itu. Tidak, Judith tidak pantas dan tidak boleh memperlakukannya seperti ini ketika ialah yang harusnya diperlakukan sesuka hati.


Usai menghabiskan waktu hampir dua bulan menemani Winona sekaligus mengurus anak perusahaan di negeri orang, Arman kembali dengan kekecewaan ketika mengetahui bahwa Judith sudah menghilang layaknya ditelan bumi. Tanpa kabar, tanpa jejak, tanpa informasi apapun.


Arman pernah mengatakan bahwa ia tak akan pernah melepaskan Judith. Dan sekarang saatnya ia membuktikan ucapannya.


**


Dapur yang beberapa saat lalu kacau, kini sudah berganti seperti sediakala. Seperti tidak tersentuh oleh tangan ajaib Jeanno. Menjadi lebih indah karena sajian makan malam yang menggugah selera bahkan hanya dengan mencium aromanya.


“Wah kelihatannya enak”


Jeanno dan Aera kembali dari halaman depan, mereka berdua sedang dibantu pak Yudi tengah menyiapkan peralatan untuk membakar jagung. Usai selesai, penjaga villa yang merupakan warga sekitar itupun pulang ke rumah dan berjanji akan datang esok pagi untuk bersih-bersih, seperti rutinitas normalnya.


“Mama memaang hebat!”


Judith tertawa kecil. “Cicipi dulu, baru memberikan pujian. Kalau rasanya tidak enak, bagaimana?”


“Sudah pasti enak. Memangnya kami tidak pernah mencicipi masakanmu? Ayo makan, aku lapar sekali. Aera juga lapar kan sayang?”

__ADS_1


Gadis kecil itu mengangguk. Ia menaiki kursi di samping Jeanno dan tampak kesulitan meraih piring. Judith secara spontan mendekat, meraih piring yang diisinya dengan makanan untuk diberikan kepada Aera.


“Aera harus makan yang banyak. Nanti kalau kurang, bilang mama, oke? Jangan lupa berdoa dulu sayang”


Judith mengambil tempat di samping Aera dengan maksud memudahkan dirinya jika Aera butuh sesuatu. Namun ketika melihat Jeanno belum mengisi piringnya, secara spontan seperti tadi, Judith setengah berdiri, meraih piring Jeanno dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk.


“Segini cukup?”


Jeanno mengangguk. “Cukup. Terimakasih”


Begitulah, makan malam mereka bertiga diisi dengan pujian disela-sela lahapnya suapan. Siapapun yang melihat pasti antara iri dan kagum. Bagaimana keluarga kecil itu terlihat sempurna. Saling melempar tawa dan canda. Bahkan ketika menu yang sederhana terasa mewah tanpa kurang suatu apapun, jika dimasak dan dinikmati bersama-sama bersama orang terkasih.


Orang terkasih. Benarkah?


“Setelah ini kami mau keluar untuk membakar jagung. Kau ikut?”


Judith yang baru saja menandaskan gelas air putihnya, mengangguk. “Ya, kalian duluan saja. Aku menyusul setelah mencuci piring”


“Aku bantu. Ayo”


Judith ingin menolak, tapi pria itu keburu bangkit seraya membawa peralatan makan yang kotor menuju tempat cuci piring. Judith tak memiliki pilihan lain selain membawa sisanya dan mulai mencuci piring. Jeanno bagian membilasnya.


“Tuan, bilasnya lagi. Itu masih ada sisa sabunnya”


“Mana? Sudah bersih begini. Dengar, aku memang payah dalam memasak. Tapi aku lihai perkara mencuci peralatan makan”


Judith memutar bola matanya jengah. Kemudian Jeanno menunjukkan hasil ‘karya’nya. “Lihat? Bersih kan? Kurasa kau terlalu meremehkanku”


“Baiklah tuan pencuci piring. Lanjutkan saja membilasnya”


Dibelakang mereka, Aera terkikik melihat ‘orangtuanya’ berdebat entah akan apa. Maklum, bunyi kran yang mengalir sedikit membenamkan suara mereka. Namun dari raut wajahnya, terlihat mereka sedang meributkan sesuatu yang tidak serius.

__ADS_1


Pemandangan itu seperti itu tentu saja tak pernah Aera jumpai sebelumnya. Karena sejauh yang ia ingat, sebelum sang ‘mama’ kembali sehat, Aera hanya ingat wajah sayu Papa yang kurang tidur karena menemani mamanya di rumah sakit, sementara wajah pucat dan kurus mamanya yang berbalut selang entah apa. Cukup melegakan baginya melihat ibundanya kembali segar seperti tak pernah melawan sakit.


__ADS_2