
“Jeanno Alexander”
Pria yang disebut namanya balas memandang tanpa gentar kearah sang ayah, yang dari gesturnya nampak sedang menahan amarah akibat kelakuan putranya yang pergi begitu saja, lalu kembali dengan menggandeng tangan gadis lain. Menurut Thomas, jika Jeanno ingin pergi, lebih baik pergi saja. Tidak usah kembali dengan gadis miskin itu terlebih ditengah acara seperti ini yang kebanyakan tamu penting dan rekan pers.*
Demi menjaga image, Yvone yang sudah mengetahui suaminya menahan amarah, lebih memilih maju dan menggamit lengan Jeanno yang lainnya. “Ayo sayang, kita lanjutkan proses tukar cincinnya”*
Jeanno beringsut mundur, menolak ajakan sang ibunda. “Tidak”*
“Apa maksudmu sayang? tunanganmu ada diatas sana, Sharin. Kita harus melanjutkannya”*
Jeanno menoleh sejenak kearah Nayara, seakan ingin mendapatkan kekuatan dari wajah ayu itu. “Aku bahkan tidak tahu bahwa hari ini adalah hari ‘pertunanganku’. Papa dan Mama tidak memberitahuku apapun semalam, huh?”*
“Jeanno”*
Jeanno melirik kearah Sharin, kemudian kedua orangtua Sharin yang berdiri tak jauh dari Thomas dan Yvone. “Maafkan saya, paman dan Bibi Widjaja. Saya tidak pernah bermaksud untuk mempermainkan Sharin. Hubungan kami sudah selesai cukup lama. Saya sudah mempertegasnya berulang kali kepada putri paman yang entah mengapa terlalu keras kepala untuk sekedar menerma kenyataan. Dia bahkan sudah melewati batas, mengganggu perempuan yang berstatus sebagai kekasih saya saat ini. Mengiriminya catatan kebencian, menyerangnya baik secara fisik maupun verbal ketika di kampus. Juga mengajak anak-anak yang lain untuk ikut menyerangnya hanya karena saya lebih memilih bersamanya dibanding dengan putri anda”*
Mulut Sharin menganga lebar, begitu juga Nayara yang mengerjapkan mata tak percaya. Jadi selama ini Jeanno tahu dirinya dirundung?*
Tak hanya Sharin dan Nayara, namun para tamu juga terkesiap. Tak menyangka putri konglomerat yang seharusnya anggun dan berkelas justru melakukan hal rendahan hanya demi pria. Sementara suami istri Alexander dan Widjaja nampak menahan malu.*
“Lalu untuk papa dan mama” Jeanno memandang lurus kearah orang tuanya. “Aku sudah berulang kali mengatakan bahwa aku tidak mencintai Sharin. Perempuan yang aku cintai, dan kuinginkan untuk menjadi pendamping hidupku hanyalah Nayara. Aku sudah menuruti kemauan papa selama empat bulan terakhir ini. Sudah cukup, aku tidak ingin menjadi boneka papa lagi. Biarkan aku menentukan jalan untuk kebahagiaanku sendiri”*
Thomas Alexander merubah ekspresinya yang semula marah, menjadi terkekeh. Yang membuat tamu lain terheran-heran. Apa yang lucu?*
“Baiklah jika itu maumu. Tapi perlukah papa memberitahu siapa gadis pilihanmu di depan banyak orang?”*
Jeanno merasakan jemari Nayara mengerat. Meremas tangannya gugup.*
“Selagi ada rekan pers, baiklah. Perempuan yang anak saya pacari belakangan ini, adalah anak dari pria yang berstatus sebagai mucikari sebuah klub murahan di pinggiran kota. Dia juga penjudi, peminum berat. Dia pria dengan status sosial terendah yang menjijikkan”*
__ADS_1
“Lalu ibunya? Ibunya adalah salah satu dari anak buahnya. Yang dihamili dan dinikahi secara siri. Mereka pasangan yang serasi, bukan? Mucikari dan pelacurnya. Membuahkan anak perempuan yang sifatnya tidak jauh berbeda dengan orangtuanya, pengincar harta orang lain”*
Nayara memucat. Terkejut bukan main akan fakta yang dipaparkan bak bola panas yang dilempar langsung ke wajahnya. Sungguh, selama ia hidup tak pernah sedikitpun ia mengetahui siapa orangtuanya. Benarkah yang dikatakan ayah Jeanno? Benarkah ia terlahir dari seorang wanita malam?*
Suasana ballroom yang semula hening kini sedikit ricuh akibat jepretan kamera pers dan beberapa pertanyaan. Jangan lupakan bisikan dan cibiran yang mulai jelas ditujukan oleh para tamu kepada Nayara.*
“Nayara tidak seperti itu. Papa tidak berhak membuka masa lalu dan menilai orang lain seperti itu”*
“Gadis ini juga hanya lulusan SMA. Dia memang sempat mendapatkan beasiswa di kampus yang sama dengan putraku. Tapi belum lama ini beasiswanya dicabut, mungkin karena tidak kompeten, atau dia terlalu sibuk menggoda putraku?”*
“Papa, hentikan” rahang Jeanno mengeras. Menahan amarah untuk tidak maju dan melayangkan pukulan kepada ayahnya sendiri.*
“Oh, perlu papa beberkan ke semua orang bahwa pacarmu ini meminta apartemen sebagai tempat tinggalnya?”*
Kali ini bukan hanya Nayara yang terkejut, namun juga Jeanno. Kemudian pada layar proyektor dibelakang podium, menampilkan foto Nayara yang keluar dari apartemen mewah yang selama ini ia yakini sebagai milik adik bosnya. Kemudian surat jual beli unit yang mengatasnamakan nama Nayara, dengan pembayaran yang berasal dari account bank atas nama Jeanno Alexander.*
“Tidak, ini salah paham” Nayara melangkah maju. Mulai menyadari bahwa skenario adik Martha hanyalah kepalsuan belaka. “Saya memang tinggal di unit itu. Tapi saya sama sekali tidak tahu bahwa itu berasal dari Jeanno. Jika saya tahu hal itu dari awal saya pasti akan menolaknya”*
“Munafik sekali” kali ini Yvone yang bersuara. Memandang Nayara dengan tatapan merendahkan. “Jaman sekarang siapa wanita yang tidak menyukai materi? Kau berpenampilan sederhana untuk memikat putraku, berlaku sebagai gadis sok polos yang tidak tertarik pada harta. Tapi itu adalah trik lawas. Menolak diawal, sampai kau mampu mengendalikan putraku sepenuhnya, barulah kau menguasai harta kami. Bukan begitu?”*
Airmata Nayara jatuh. Seumur hidup ia tak pernah dipermalukan dan direndahkan sampai seperti ini di hadapan banyak orang. Yang ia lakukan hanya jatuh cinta, namun kenapa itu terkesan sangat salah dimata orang-orang kaya seperti mereka?*
Nayara tersenyum, ia menghapus airmatanya sebelum menetes lebih banyak. “Saya mencintai Jeanno. Saya tidak peduli dia berasal darimana, saya tidak peduli dia anak siapa. Saya hanya ingin bersamanya selama yang saya bisa”*
Sementara Jeanno, masih tercengang dengan fakta-fakta yang dibeberkan papanya mengenai apartemen. Pasalnya, ia tak merasa membeli unit itu. Memang ada rencana untuk membawa Nayara keluar dari toko supaya tidak menginap dengan kasur tipis disana, tapi ia masih mencari tempat yang sekiranya pas dan bisa Nayara terima. Melihat tadi ada pembelian unit cukup mewah dengan pembayaran atas namanya, Jeanno mulai menyadari betapa licik Thomas yang menyusun rencana seolah-olah ia yang membelikannya untuk Nayara. Sebegitu inginnya Thomas memisahkan Jeanno dan Nayara, hingga ia harus turun mengotori tangannya sendiri?*
“Tidak peduli anak siapa? Baiklah.. jika seperti itu, kita berikan pilihan untuk Jeanno” Thomas melangkah maju, sejajar dengan putranya. “Jeanno Alexander. Papa memberimu pilihan…”*
Jeanno memejamkan matanya. Tahu kemana arah pembicaraan ini.*
__ADS_1
“Pilih menjadi penerus bisnis papa, atau gadis ini”*
Yvone turut melangkah maju, tak menyangka suaminya akan memberikan pilihan seperti itu. Sebelumnya memang beberapa kali Thomas sering kelepasan ketika emosi. Tapi jika sudah diucapkan dihadapan banyak orang, itu artinya Thomas serius dengan perkataannya. Sebagai seorang ibu, tentu saja ia tak ingin kehilangan putra satu-satunya. Jadi Yvone mendekati Jeanno, mengusap lengan lelaki itu. “Sayang, jika kau memilih papa, kau akan terjamin hidupnya. Semua orang akan menghormatimu, kau tidak akan pernah kesulitan hidupnya. Jika kau memilih gadis itu.. kau tau sendiri resikonya”*
Yvone membisiki lirih, bermaksud memberikan opini sebagai bahan pertimbangan. “Pikiran itu sayang. Jika kau memilih papa, kau tidak akan kehilangan mama dan keluargamu”*
Keluarga. Sejak kapan tiga orang berlabel Alexander itu layak disebut keluarga? Jeanno tersenyum geli.*
“Jika kau memilih gadis itu, kau tidak perlu repot-repot kembali ke rumah. Karena mulai detik itu juga, aku tidak akan menganggapmu sebagai anak”*
Nayara melepaskan gengggaman tangan Jeanno. Merasa ini semua sudah cukup baginya. “Tuan tidak perlu memberikan pilihan tersebut kepada Jeanno. Biar saya yang mundur. Saya tidak ingin Jeanno kehilangan orangtuanya seperti yang saya alami sejak kecil. Saya mungkin hanya gadis miskin yang tidak berharga, tapi saya tidak akan mengambil Jeanno dari orangtuanya. Saya sadar bahwa eksistensi saya tidak sebegitu berharga dibanding dengan bisnis keluarga tuan”*
“Tidak!”*
Jeanno kembali meraih jemari Nayara. Empat bulan hampir gila karena tidak bertemu dengan Nayara secara langsung, Jeanno tidak bisa membayangkan jika ia harus kehilangan gadis itu selamanya.*
“Aku tidak akan pernah melepaskan Nayara untuk yang kedua kalinya. Jika papa memberiku pilihan seperti itu, baiklah. Aku jawab sekarang juga” Jeanno menoleh kearah Nayara sebentar sebelum mengembalikan atensinya kepada sang ayah.*
“Aku, Jeanno Alexander… memilih Nayara, gadis yang aku cintai sepenuh hatiku. Aku tidak peduli jika pilihanku akan membuatku kehilangan kedudukan sebagai pewaris bisnis keluarga. Aku akan membuktikan sendiri kepada papa, mama, dan semua orang disini, bahwa aku akan membangun bisnisku sendiri”*
Jeanno kemudian beralih kepada Yvone. “Maafkan aku, ma. Tapi apa yang mama katakan kepada Nayara tadi cukup membuatku kecewa”*
Jeanno berbalik, tanpa mengindahkan teriakan emosi Thomas dari belakang. “Kau akan menyesalinya, Jeanno!”*
Jeanno melangkah, membawa Nayara pergi dari ballroom yang berisi orang-orang gila hormat. Keduanya pergi tanpa menoleh lagi.
Dari kejauhan, Mark hanya bisa menggelengkan kepala melihat drama keluarga yang disuguhkan secara live oleh keluarga sepupunya sendiri. Dalam hati ia bangga akan keputusan yang Jeanno ambil. Mengikuti Jeanno, ia melangkah pergi meninggalkan ballroom.*
***
__ADS_1