Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 49. Three of Us


__ADS_3

“Boleh tolong fotokan kami bertiga?”


Jeanno menyerahkan ponselnya kepada salah satu pegawai. Kemudian menggendong Aera yang nampak terkikik melihat sang ayah yang biasanya berkarisma sekarang menggemaskan dengan bando lucu.


“Eum, maaf, mungkin anda bisa bergeser sedikit supaya semua masuk frame”


Pegawai itu memberikan arahan supaya Judith berdiri tidak terlalu jauh. Perempuan itu berdehem lagi, kemudian menempatkan diri disamping Jeanno. Namun agaknya itu masih kurang, karena posisi Judith yang memang bersebelahan namun diam mematung, itu tidak ada bedanya seperti orang asing yang diajak foto bersama. Alias tidak ada chemistry.


Jeanno yang sepertinya mengerti jika sang fotografer amatir tengah frustasi, lantas mengulurkan tangannya ke pinggang Judith, membawanya lebih dekat. Barulah setelah itu si pegawai tersenyum dengan memberikan jempol, lalu mengabadikan momen tersebut melalui foto.


Ada beberapa jepretan dengan berbagai pose, diantaranya mereka bertiga, Aera yang sudah tak lagi digendong Jeanno, Aera dan Judith berdua, lalu Aera yang meminta orangtuanya untuk foto bersama tanpa dirinya.


Dan tentu saja masih sama seperti tadi, tangan besar itu bertengger pas di pinggang ramping Judith, membawanya mendekat hingga perempuan itu bisa mencium wangi parfum Jeanno. Terdengar lisan berupa pujian dari sang pegawai akan betapa indahnya keluarga mereka. Orang tua yang tampan dan cantik sementara anak mereka yang lucu. Tak lupa mengucapkan terimakasih serta membayar bando ditambah tip, ketiganya keluar dari toko. Lanjut ke permainan lain sesuai dengan keinginan Aera.


Well, terimakasih kepada bando sialan yang membuat Judith tidak fokus.


**


Ketika sore mulai menyapa, Jeanno memutuskan untuk menyudahi kegiatan mereka di taman bermain. Aera dengan berat hati, pada akhirnya menuruti perintah Jeanno dikarenakan dirinya juga sudah lelah sekaligus mengantuk.


“Aera mengantuk? Sini Mama gendong”


Baru saja Judith mau membungkuk, Jeanno sudah lebih dulu meraih tubuh Aera kedalam gendongannya. “Jarak dari sini sampai parkiran lumayan jauh. Kau bisa kelelahan jika menggendong Aera”


Tak ada yang bisa Judith lakukan selain mengangguk. Mengikuti Jeanno dari belakang sebelum pria itu menoleh dan menyuruhnya untuk berjalan di sampingnya dengan dalih supaya mereka tidak terpisah. Mengingat betapa ramainya tempat itu menjelang sore hari.


Hampir enam jam mereka habiskan di taman bermain, bohong jika Judith tidak merasa senang. Terakhir dirinya kemari sekitar tiga tahun yang lalu. Kali pertama kemari bersama Hannah dan Renatta. Kemudian tak pernah ia bayangkan akan datang hari dimana dirinya kembali kesini dengan orang yang berbeda, sekaligus situasi yang berbeda.


Dan mungkin, perasaan yang berbeda pula.


**


Perjalanan ke puncak kala itu lancar sekalipun beberapa titik mereka sempat terjebak macet, namun beruntung tidak terlalu lama. Aera terlelap di pangkuan Judith yang duduk di kursi samping kemudi. Jeanno sebenarnya merasa bersalah karena mengajak putrinya bermain hingga kelelahan seperti itu.


“Kalau kau pegal, pindahkan saja Aera ke kursi belakang”

__ADS_1


Judith yang atensinya sedang fokus kepada keadaan diluar jendela, kemudian menoleh kerah Jeanno. “Tidak kok. Nanti kalau dipindah takutnya Aera malah terbangun dalam keadaan kaget. Dan jika begitu nanti moodnya akan jelek”


“Sepertinya kau sudah sangat mengenal Aera ya”


“Eh, tuan jangan salah paham”


Jeanno tersenyum. “Aku tidak salah paham, justru aku berterimakasih jika kau benar-benar mengenali putriku. Karena itu artinya kau memang sudah dekat dengannya”


“Omong-omong, maaf untuk kejadian di toko tadi”


Dahi Judith mengerut. “Kejadian yang mana?”


“Itu.. ketika aku memeluk pinggangmu. Aku minta maaf jika membuatmu terkejut dan kurang nyaman”


“Ah itu..” Judith manggut-manggut, menyesal mengapa harus diingatkan kembali. Akibatnya jantungnya tidak bisa diajak kompromi untuk sekedar menormalkan detaknya. “Tidak masalah, Tuan. Aku memang terkejut, sedikit. Tapi tidak apa-apa. Aku bisa memahami”


Hening kembali. Jeanno memberikan fokus sepenuhnya pada jalanan sementara Judith sebenarnya ingin sekali tidur, tapi dirinya tak enak hati jika harus meninggalkan Jeanno sendirian yang tengah mengemudi.


“Tidurlah, nanti akan kubangunkan jika sudah sampai”


Jeanno tertawa kecil. “Aku pria dewasa, memang kenapa kalau sendirian menyetir? Toh aku tau jalan, aku juga tidak sedang mengantuk. Kita masih memiliki satu setengah jam lagi, kurasa itu lumayan untukmu tidur dulu supaya sampai villa nanti lebih segar”


“Tapi-“


“Ini perintah, Judith”


Judith menghela nafas, mengangguk pelan. Kemudian mengeratkan pelukannya kepada Aera sebelum turut terpejam bersama gadis kecil itu.


**


Bangunan megah berlantai 3 yang terletak di puncak itu memiliki pemandangan yang bagus. Halaman depannya tanah lapang yang luas dan dikelilingi pepohonan rindang yang berselimut kabut tiap paginya. Menjamin siapapun yang tinggal disana tak ingin segera pulang.


Jeanno memiliki villa itu sebagai hadiah pernikahannya bersama Nayara pada tahun ketiga. Tempat ini hanya pernah mereka kunjungi dua kali, karena setelah itu dirinya disibukkan oleh pekerjaan dan tahun-tahun berikutnya ia harus menemani Nayara di rumah sakit. Tahun yang berat, jangankan memikirkan liburan, bisa makan saja sudah syukur. Saking lamanya tidak pernah bertandang kemari, pria itu bahkan sampai lupa ia memiliki villa ini. Jika bukan Nora yang mengingatkan. Untunglah Nora selalu memastikan bahwa penjaga villa merawat bangunan ini dengan baik dengan cara menelpon setiap bulan. Jadilah villa ini tidak seperti rumah hantu sekalipun lama tidak dikunjungi tuannya.


“Hey, bangun.. kita sudah sampai”

__ADS_1


Sebenarnya membangunkan Judith dan Aera adalah hal berat baginya melihat betapa damainya wajah tidur mereka. Seakan enggan dibangunkan, tapi mau bagaimana lagi? Daripada tubuh mereka pegal karena tidur dalam posisi duduk terlalu lama.


“Aera sayang, kita sudah sampai”


Jeanno melepas seatbeltnya, menyentuh pipi gembul putrinya lembut. “Ayo bangun”


Kelopak mata itu bergerak, sebelum bertemu dengan sabit milik Jeanno. Aera mengangkat wajahnya sembari mengucek mata dan menguap. “Kita sudah sampai, Papa?”


Jeanno tersenyum, mengangguk. “Iya, sudah sampai sayang. Ayo turun, kasihan Mama pasti pegal”


Pria itu keluar dari kursi kemudi mengitari badan depan mobil untuk membuka pintu penumpang, membantu putrinya keluar. Sementara Judith nampak masih bergelut dalam mimpinya karena ia sama sekali tak bergeming ketika pintu mobil dibuka dan Aera sudah berpindah dari pangkuannya.


“Sayang? Bangun, kita sudah sampai”


Nyaris saja Jeanno menyebut nama Judith di ujung lidahnya jika saja ia tidak sadar kalau Aera sedang berdiri di belakangnya. Bisa panjang urusannya jika Jeanno sampai terceplos menyebut ‘Mamanya’ dengan nama perempuan lain.


“Nayara..”


“Sepertinya Mama pulas sekali” celetuk Aera. Jeanno melepas sabuk pengamannya dan dengan hati-hati menggendong tubuh ramping itu menuju villa.


“Aera sayang, ayo”


Tak berapa lama mendekati pintu villa, terlihat seorang pria paruh baya yang merupakan orang kepercayaan Jeanno untuk menjaga dan merawat bangunan ini.


“Tuan? Maaf, saya pikir tuan akan sampai setengah jam lagi”


“Tidak apa-apa. Bisa tolong bawakan barang-barang kami di mobil?”


Pria bernama Pak Yudi itu lantas mengangguk dan menerima kunci mobil Jeanno untuk kemudian mengangkut tas dan barang yang tertinggal. Sementara Jeanno dan Aera masuk terlebih dahulu. Mengedarkan pandangan, Jeanno takjub akan hasil kerja pak Yudi yang sebegitu telatennya menjaga villa miliknya hingga tetap terlihat rapi dan terawat.


“Papa mau mengantar Mama ke kamar dulu, Aera tunggu disini, oke?” Si kecil mengangguk, kaki kecilnya menaiki sofa putih di ruang tamu. Membiarkan Jeanno menaiki lantai tiga tempat kamar utama berada.


Kamar tersebut merupakan ruangan paling besar di villa ini yang memiliki balkon pribadi menghadap langsung kearah kota yang jika malam seperti melihat taburan bintang. Jeanno meletakkan Judith di ranjang, sedikit heran bagaimana bisa tidur perempuan ini lelap sekali setelah banyak mendengar suara di sekelilingnya. Apa dia lelah sekali?


Ketika meletakkannya di kasur, dress terusan yang dikenakan Judith sedikit terangkat dibagian pahanya, membuat kaki mulusnya terpampang sempurna di depan mata Jeanno. Untuk sesaat, sebagai pria dewasa yang normal, sulit sekali mengabaikan momen itu. Namun detik berikutnya kesadaran menampar Jeanno, membuat pria itu membuang muka dan meraih selimut untuk menutupi tubuh Judith hingga sebatas perut. Kemudian pria itu meninggalkan kamar utama, untuk turun menemui si kecil dan pak Yudi.

__ADS_1


**


__ADS_2