Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 140. Support System


__ADS_3

Devon, lelaki dengan gestur feminin itu terlihat begitu puas dengan sapuan make up sederhana pada wajah Nayara. Terlalu muluk-muluk memimpikan pernikahan mewah seperti yang biasa banyak wanita impikan. Nyatanya hari itu jauh dari kata mewah. Hanya terusan berwarna putih sederhana tanpa aksen berlebihan, make up yang ringan, rambut yang dicepol asal namun tetap terkesan anggun. Tapi bagi Devon, ia tak pernah melihat calon pengantin sebahagia Jeanno dan Nayara.



*



“Aku tidak akan bosan mengatakan ini, sayang. Tapi kau sangat sangat cantik”



*



Nayara tersenyum. “Terimakasih Dave”



*



Sebagai make up artist yang sepak terjangnya sudah terkenal dimana-mana dan mematut harga tinggi, Devon merasa sangat terhormat ketika kawan lamanya, Jeanno memintanya untuk datang merias calon pengantinnya. Dave kira pernikahan Jeanno Alexander akan menjadi perhelatan akbar mengingat latar belakang keluarganya. Ternyata pemuda itu harus menganga lebar ketika venue yang dipilih jauh dari kata mewah. Tak ada keluarga dari pihak wanita. Hanya ada Mark, keluarga Mark dan Devon sendiri. Devon tidak tahu secara pasti apa yang terjadi, namun bisa dipastikan terjadinya pernikahan ini tanpa restu dari orangtua Jeanno.



*



“Ayo, sayang. Aku tidak sabar melihat reaksi Jeanno ketika melihat pengantin wanitanya”



*



Jemari Nayara menyambut tangan Devon, menggamit lengan pemuda itu untuk berjalan bersisian menuju altar.



*



Pernikahan seperti ini memang bukan pernikahan yang Nayara impikan. Sebagai perempuan normal, wajar jika ia pernah berandai-andai akan menjadi ratu sehari. Ditemani oleh keluarganya, teman-temannya, serta restu dari keluarga kedua belah pihak. Walau pada kenyataannya hari ini jauh dari kata demikian. Seharusnya sang ayah kandung yang menemaninya melangkah di altar.



*



Ketika impian dan harapan tidak seindah realita, Nayara dan Jeanno menyadari bahwa mereka hanya memiliki satu sama lain. Bahwa pernikahan ini adalah awal dari titik lembaran baru yang akan mereka hadapi. Lembaran hidup yang panjang, jauh lebih menantang dan keras.



*



“…. Saya bersedia”



*

__ADS_1



Janji pernikahan itu diucapkan secara lantang tanpa adanya halangan berarti. Seakan kedua insan itu telah menantikan hari ini sepanjang umur mereka. Ketika sang pendeta mempersilakan pengantin untuk berciuman, Jeanno tidak bisa menahan senyumnya, berbanding terbalik dengan Nayara yang menitikkan airmata.



*



Pada hari yang khidmat itu, semesta telah mempersatukan dua anak manusia berbeda latar belakang pada garis perkawinan.



*



**


“Bisakah kita membawa Aera kesini? Sebentar saja, Mark. Aku sudah beberapa kali membawa topik obrolan yang sekiranya akan menarik perhatian Judith. Tapi hanya Aera yang mampu membangunkan responnya”


Mark menggigit bibirnya, bimbang. Disatu sisi mereka senang karena ada hal yang mampu menjadi support system untuk Judith, namun disisi lain terlalu riskan untuk mempertemukan Aera dengannya.


“Entahlah, sayang. Terlalu beresiko. Jika Jeanno tahu…”


“Kalau begitu jangan biarkan Jeanno tahu. Toh Aera sedang ada di rumah Ibu. Akses untuk bertemu dengannya jauh lebih mudah”


Mark menimbang kalimat istrinya barusan. “Kau benar, kita bisa membawa Judith untuk tinggal sementara di rumahku setelah dia pulih. Barangkali alasan untuk bertemu Aera bisa mempercepat kesembuhannya juga”


Hannah melompat memeluk suaminya erat. “Terimakasih, sayang. Aku akan membantu Judith untuk mempercepat pemulihannya”


**


“Mark bilang kau bisa bertemu dengan Aera”


“Ya. Kebetulan dia sedang dititipkan ke rumah Ibu. Jadi kau memiliki banyak waktu luang untuk bersamanya. Kau tidak keberatan kan kalau tinggal disana sementara waktu? Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Ibu juga tidak keberatan, begitu pula dengan ayah”


Sebisa mungkin Hannah tidak menyelipkan nama Jeanno diantara percakapan mereka. Terlalu beresiko, takut jika itu menjadi trigger bagi kondisi mental Judith yang belum stabil.


“Aku ingin bertemu Aera. Aku ingin meminta maaf padanya”


Hannah tersenyum, diusapnya rambut Judith lembut. “Nah maka dari itu kau harus makan dan minum obat yang teratur. Semakin cepat kau sembuh dan diijinkan pulang, semakin cepat pula kau bertemu dengan Aera”


Sejenak perasaan Judith menghangat, membayangkan bisa merengkuh bocah manis itu lagi kedalam dekapannya. Mendengar celotehannya yang seru, senyumnya yang menggemaskan juga segala perilaku yang membuat Judith bertambah sayang padanya setiap harinya.


Ah, membayangkannya saja sudah membuatnya tersenyum-senyum sendiri.


“Makan ya? aku suapi”


Tak perlu menanyakan kedua kali, Judith mengangguk. Membuat Hannah berteriak kegirangan dalam hati.


“Kau benar-benar membuatku takut selama beberapa hari belakangan ini”


Judith yang tengah mengunyah, bisa melihat sisa kesenduan di mata Hannah. “Maafkan aku”


“Ragamu ada disini, tapi aku merasa sulit sekali menjangkaumu, sayang. Aku seperti kehilangan sahabat untuk yang kedua kalinya. Aku tidak mau lagi”


Lawan bicaranya mengusap airmata Hannah kala genangan itu pada akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia merasa bersalah karena bersikap egois. Ia terlalu berduka dalam waktu yang terlampau lama sehingga menyeret orang lain, terutama Hannah dalam kesusahan juga.


“Janji tidak akan seperti ini lagi? Janji kau akan membagi lukamu padaku apapun yang terjadi?”


Judith mengulas senyum, bersyukur karena disaat dunia mencemoohnya, takdir mempermainkannya, dan semesta membuangnya, Tuhan masih mengirimkan Hannah yang berhati putih sebagai sahabatnya.


“Janji”


Sesi makan siang yang seharusnya selesai kurang dari setengah jam, terpaksa harus selesai dua kali lipat akibat dua sahabat yang saling berbagi tangis.


**

__ADS_1


Judith harus sembuh, bukan hanya demi Aera tapi juga demi membayar pinalty yang diminta Jeanno. Berada di rumah sakit hampir satu minggu berakhir waktunya menyusut. Ia hanya memiliki sisa waktu sembilan hari lagi sampai jatuh tempo yang ditetapkan oleh pihak Jeanno. Jika tidak, ia harus menghabiskan tidur di hotel prodeo yang tentu saja bukan impiannya.


Hari ini Judith sudah diperbolehkan pulang. Kondisinya jauh lebih baik walau tubuhnya masih kurus dan bibirnya pucat. Namun setidaknya rona di pipinya telah kembali.


“Hannah, wajah kak Mark kenapa?”


Judith sebetulnya sudah ingin sekali menanyakan perihal wajah tampan pria Sebastian yang diwarnai leba dan lecet sana-sini. Tapi baru sempat bertanya sekarang sambil memperhatikan Mark yang tengah mengurus administrasi rumah sakit.


“Ah itu.. kecelakaan kecil” Hannah meringis. Merasa berdosa telah membohongi Judith. Lagipula ia juga tidak bisa kan mengatakan hal yang sebenarnya kalau penyebab Mark babak belur adalah karena berkelahi dengan Jeanno. Jika Judith tahu, maka akan menambah lagi perasaan bersalahnya.


“Sudah selesai, ayo pulang”


**


Jemari Mark mengetukkan stir kemudi sembari menunggu lampu lalu lintas berubah hijau. Dalam kurun waktu itu ia menoleh ke belakang, memastikan kondisi Judith apakah baik-baik saja atau tidak.


“Kau oke?”


Judith mengangguk ragu. “Ya, hanya gugup. Aku takut Aera marah padaku karena tidak datang ke acara, yang padahal dia sudah mempersiapkannya dari jauh-jauh hari”


“Aera memang kecewa padamu. Tapi rasa kecewa itu terkalahkan dengan rindu”


Judith memilin ujung sweaternya. “Kalau Aera bertanya aku pergi kemana, apa yang harus kujawab ya?”


“Hmm.. mungkin jawaban yang paling aman adalah katakan saja kau sakit. Pertama, dia tidak beranggapan kalau kau sedang bertengkar dengan papanya. Lalu kedua, secara teknis memang benar kan kau sakit? jadi kau tidak perlu berbohong”


Lawan bicaranya mengangguk menimpali saran Mark. Benar juga, batinnya.


“Oh iya, aku juga mau memberitahumu sesuatu”


Kelegaan yang semula menguar, kini menciut kembali. Takut jika kalimat yang akan Mark sampaikan bukanlah kabar baik. “Ya?”


“Aera… entah bagaimana, tapi.. gadis kecil itu tahu bahwa kau bukan Nayara”


Mata Judith sontak membulat. “Apa?”


“Kita, orang dewasa terkadang terlalu meremehkan anak-anak. Aera ternyata terlalu peka untuk membedakan Nayara dengan kau sekalipun wajah kalian sama persis. Ditambah beberapa kesempatan, dia sempat mencuri dengar kami menyebut namamu sebagai Judith, bukan Nayara”


“Tapi kau tidak usah khawatir, dia tetap menyayangimu sebagai mamanya”


Mark meraih ponsel di dashboard, kemudian memutar voice notes yang dikirimkan ibunya.


“Mama Judith dulu suka membacakan dongeng pangeran kodok. Tapi Aera selalu ketiduran lebih awal jadi Aera tidak tahu akhirnya. Grandma mau bacakan untuk Aera?”



*



“Tuhan, lindungilah Papa, Mama Nayara, Mama Judith. Berikanlah kesehatan untuk mereka yang Aera sayangi”



*



“Aera dulu suka membantu mama Judith memasak. Masakan mama Judith enak sekali, grandma”



*



“Aera rinduuu sekali dengan mama Judith”


Memang hanya voice notes berdurasi singkat, namun agaknya itu mampu memecah airmata Judith kembali. Kali ini bukan airmata kesedihan maupun duka. Namun airmata haru dan bahagia. Membuatnya tak sabar untuk menginjakkan kaki di rumah Mark dan merengkuh anak itu ke pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2