
Terik matahari menyapa langkah pertamanya keluar dari rumah tahanan. Tak ada sambutan hangat dari orang tersayang, karena pada dasarnya ia telah kehilangan segalanya. Satu ancaman yang menuntun pada kehancuran. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui siapa dalangnya. Hanya ada satu nama yang menjadi tujuannya sejak ia berada dibalik jeruji.
Jeanno Alexander.
Wajah tampannya dihiasi seringai mengerikan. Arman tidak peduli jika ia akan kembali lagi masuk penjara. Ia juga tak ingin repot-repot menyusun rencana balas dendam yang epik. Yang dirinya inginkan hanya darah Jeanno, secepatnya. Tak akan ia berhenti sebelum ia mendapatkan tetesan darah terakhir dari tuan muda Alexander.
“Tunggu aku, Jeanno”
**
Denting jam yang merayap menembus malam, menemani sosok pria yang tengah duduk memandangi lekat-lekat gadis kecil yang telah terlelap. Tak terhitung sudah berapa lama Jeanno ada diposisi tersebut, memandangi Aera yang berkelana ke alam mimpi. Wajah cantiknya yang diwarisi dari mendiang ibunya, membuat siapapun betah memandangi si kecil.
Berita bahwa Judith telah bertunangan, tak hanya membuat hatinya hancur. Tapi juga ia merasa telah mengecewakan Aera untuk yang kesekian kali. Judith tak hanya telah mengambil keputusan bulat untuk tidak memilihnya, tapi juga memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius bersama pria lain. Satu fakta yang selamanya akan menyesakkan bagi sepasang ayah dan anak itu. Karena untuk selamanya, Aera tidak akan pernah bisa memiliki Judith sebagai ibunya.
“Maafkan papa..”
Tangan Jeanno terulur mengusap surat si kecil. Yang direspon dengan kerutan di dahinya yang bertahan beberapa sekon. Rasa bersalah itu masih ada dan kuat menghantam, membawanya ke jurang penyesalan terdalam. Andai saja ia tak gegabah, pasti Judith sekarang ada bersama mereka. Bukan sedang merencanakan pernikahan dengan pria lain.
“Kita berdua harus bahagia. Aera janji sama papa, ya?”
Jika Aera sudah mengerti keadaan, ia pasti akan membenci perbuatan sang ayah yang membuatnya harus kehilangan sosok ibu untuk yang kedua kalinya. Jeanno, dalam hati kecilnya merasa pantas untuk dibenci, disalahkan karena telah menghancurkan angan si kecil. Tapi mau bagaimana lagi, semua telah terjadi. Dirinya kalah dan harus menghormati keputusan Judith, kan?
Jeanno meraih tangan mungil Aera, mengecup punggung tangannya lembut. “Papa sayang Aera. Selamanya”
**
Kepala Jeanno berdenyut nyeri akibat notifikasi ponselnya yang tak berhenti masuk. Tak tahu dari siapa, karena sebelumnya telah ia sampaikan kepada sang sekretaris untuk mengosongkan jadwalnya siang itu dan segala hal bersifat urgensi disampaikan melalui sekretarisnya. Satu-satunya yang ia curigai tengah membombardir ponselnya adalah Mark Sebastian. Siapa lagi?
“Ada apa Mark?” tak ingin kepalanya semakin pening, Jeanno memutuskan untuk mengangkat telpon. Namun belum sampai Mark bersuara, pintu ruangannya dibuka paksa. Menampakkan sosok sang ayah dengan ekspresi yang tidak bisa diterka.
“Jeanno Alexander”
Sontak saja Jeanno menurunkan ponselnya, melihat aura mengintimidasi sang ayah yang sepertinya dalam mood tidak baik, ia memilih bangkit dari kursi dan melangkah mendekat.
“Ada apa, papa?”
“Kau masih bertanya ada apa? Kau belum melihat berita?”
Tubuh Jeanno menegang, secara refleks dirinya membuka laman portal berita pada layar monitor komputernya. Berbagai artikel mengenai dirinya terpampang disana, kali ini bukanlah berita baik.
__ADS_1
“Pengusaha muda, Jeanno Alexander diketahui menutupi kematian istrinya, Nayara Alexander selama dua tahun. Lantas siapa wanita yang ia perkenalkan ke publik sebagai ‘Nayara Alexander’?”
“Memalsukan identitas seseorang, langkah gegabah Jeanno Alexander mampu berimbas pada nama baik dan perusahaannya yang tengah berkembang pesat”
“Kesalahan ‘kecil’ Jeanno Alexander menurunkan simpati publik, apakah ini akhir dari kesuksesan pengusaha muda itu?”
Jeanno menutup laman berita-berita tersebut. Ia tak lagi mampu membaca semuanya. Dirinya gamang, tidak tahu harus bereaksi apa dan bagaimana.
“Lelucon apa yang sedang kau mainkan, anakku?” Thomas berjalan mendekat, melayangkan tamparan pada sang putra yang berhasil membuat ujung bibirnya berdarah. Jeanno sama sekali tidak melawan, ia hanya menunduk. Dirinya sadar segala kekacauan ini adalah salahnya.
“Papa sungguh kecewa padamu, Jeanno. Secepatnya kau beresi semua kekacauan ini. Jangan minta bantuan papa untuk turun tangan. Kau sudah dewasa, kau berani mengambil keputusan untuk menikah secara sepihak, kau juga pasti bisa menyelesaikan masalah ini”
Final. Thomas Alexander membalikkan badannya untuk berjalan keluar tanpa menoleh sama sekali. Membiarkan Jeanno dalam keterpurukan.
**
Satu pihak yang paling diuntungkan dalam meledaknya berita mengenai Jeanno, yang tak lain adalah Arman Mahendera. Ya, dirinya memang dalang dibalik semuanya. Jangan disangka ia berleha-leha didalam penjara, selama ditahan, ia mengandalkan pengacaranya untuk mengumpulkan bukti-bukti mengenai penyakit Nayara dan kematian, serta kuburannya untuk diserahkan kepada wartawan.
Kejutan dari Arman sebagai hadiah kebebasannya. Kejatuhan Jeanno mungkin tidak seberapa dengan gulingnya bisnis keluarga Mahendera dan perceraian Arman. Namun setidaknya ia bisa memberikan Jeanno peringatan bahwa Arman bukanlah orang yang tepat untuk diajak bermain.
“Begitu menyenangkan melihat kau terpuruk. Tapi tidak akan lama, Jeanno. Karena sebentar lagi kau akan bertemu dengan Nayaramu”
**
“Siapa yang menyebarkan?”
“Kami masih mencari tahu. Belum ada titik terang untuk saat ini, maafkan aku, Jean”
Jeanno menghela nafas kasar. “Akulah yang seharusnya meminta maaf, Mark. Lalu bagaimana dengan kantor? Apa masih ada wartawan?”
“Tadi siang menjelang sore lumayan banyak. Tapi sekarang sudah tidak ada. Bagaimana keadaanmu disana? Aera tidak tahu, kan?”
Yang ditanya sekali lagi menghela kasar, mengusap wajahnya kaku. “Aku mungkin akan kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan masalah itu. Mengenai Aera… orangtuaku menjamin kalau dia tidak akan mengetahui masalah ini”
“Baguslah”
__ADS_1
“Mark, apa dari mereka sudah ada yang mengetahui identitas Judith?”
Hening beberapa sekon. “Belum. Tapi jika berita ini semakin panas, bukan tidak mungkin identitas Judith akan terbongkar secepatnya”
“Mark, bisakah aku minta tolong padamu?”
“Apapun itu selama aku mampu, Jean”
“Tolong tutupi identitas Judith. Tidak masalah jika aku yang terkena masalah, tapi jika sampai mereka membongkar identitas dan masa lalunya, aku.. tidak akan sanggup, Mark. Aku tidak akan bisa melihatnya terluka lagi”
“Akan kubantu semampuku, Jeanno. Jaga kesehatanmu, semoga masalahmu cepat selesai”
***
Bohong jika Judith tidak tahu apa yang terjadi pada Jeanno. Terimakasih kepada cuaca mendung dan hujan deras yang mengguyur kota sepanjang hari sehingga tokonya sepi, sehingga dirinya memiliki banyak waktu untuk berselancar ke internet. Dimana dirinya tak sengaja melihat artikel pada portal berita nasional yang cukup terkenal.
Ternyata tak hanya portal berita tersebut yang memberitakan Jeanno sebagai headlines, namun juga hampir semua portal berita bahkan laman internasional. Tak semua Judith baca, sebagian dari artikel bahkan menampilkan kuburan milik Nayara yang menurutnya sungguh sudah kelewat batas.
Bohong jika Judith tidak takut. Karena dirinya saat ini menjadi incaran banyak pencari berita, mengenai identitas wanita yang didandani dan tampil kehadapan publik sebagai Nayara Alexander. Tapi dibanding identitas dan masa lalunya terbongkar, Judith lebih takut jika terjadi sesuatu dengan Jeanno dan Aera. Bagaimanapun berita seperti ini tidak seharusnya terkuak. Perjanjian ibu pengganti yang sudah berlalu nyaris dua tahun, kini harus terbongkar dan sudah pasti merugikan Jeanno.
Entah berapa lama ia memandangi ponselnya. Diabaikannya panggilan dari Hannah maupun Mark. Ia ingin bertanya mengenai kondisi Jeanno dan Aera, tapi dirinya terlalu takut. Takut jika jawaban yang mereka berikan tidak sesuai dengan harapannya. Takut jika terjadi hal buruk pada mereka berdua. Tapi disisi lain Judith ingin sekali menelpon Jeanno. Ia ingin mendengar dari bibir pria itu bahwa semua baik-baik saja.
Bahwa Aera dan Jeanno baik-baik saja.
**
Writerblock is real.
Setiap udah didepan laptop ngeblank entah mau nulis apa, padahal waktu udah ada.
Aku minta maaf atas keterlambatannya.
Semoga bisa lebih produktif lagi
__ADS_1
Enjoy.