Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 123. When Things Get Complicated


__ADS_3

Mulut Nayara ternganga melihat apartemen yang ‘diberikan’ bosnya, ternyata bukan sekedar flat kecil yang mampu dijangkaunya. Tidak, melainkan apartemen cukup mewah –tidak semewah milik Jeanno memang- tapi mungkin dua tipe dibawahnya. Yang jelas Nayara tidak berani membayangkan harga sewanya. Bisa-bisa gajinya lima sampai sepuluh tahun jika harus disetarakan dengan biaya sewa pertahunnya. Belum lagi deposit.



*



Gadis itu menekan passcode yang diberikan oleh atasannya, kemudian menggantinya dengan yang baru sebelum masuk kedalam. Kondisi didalampun terlihat rapi, dengan furniture yang lengkap dan bersih. Nayara berjingkrak kegirangan. Tak hentinya ia berterimakasih kepada Sang Kuasa atas kebaikan-Nya.


“Terimakasih Tuhan, terimakasih…”



*



Nayara bertekad akan merawat tempat ini sebaik-baiknya, sampai pada waktunya kembali ke pemilik asli. Seperti sudah menjadi rutinitas, gadis itu meraih ponselnya. Siap untuk merekam voicemail seperti biasa, namun terhenti karena teringat bahwa dirinya masih merahasiakan perihal beasiswa, juga tempatnya tinggal dari Jeanno. Sebab itu Nayara kembali menyimpan ponselnya, memutuskan untuk tetap merahasiakan sampai mereka bertemu.



*



Walau entah kapan.


**


Judith telah selesai membalut luka di jemari Jeanno. Dalam jangka waktu itu, tak ada yang bicara. Jeanno menurut saja ketika perempuan itu menghelanya untuk duduk di ranjang sementara lukanya diobati. Sedangkan Judith, dirinya memilih diam tak berani bertanya. Biarkan saja Jeanno yang bercerita sendiri, jika memang itu kemauannya.


“Sudah bertahun-tahun. Mereka tetap tidak menerima Nayara..”


Judith mengangkat pandangannya, melihat Jeanno dengan tatapan kosongnya yang entah terfokus kemana. Selama hampir 6 bulan mengenal pria itu, ini adalah kali pertama Judith melihat sisi rapuh Jeanno.


“Kau tau? aku merasa gagal sebagai suaminya, karena hingga ia menghembuskan nafas terakhir, sampai putri kami sudah hampir berusia 7 tahun, dia tetap tidak mendapatkan kata ‘maaf’ dari orangtuaku”


“Aku tidak menyesal terlahir sebagai Alexander. Aku hanya menyayangkan mengapa Alexander harus memiliki arogansi yang tinggi. Kami sudah menikah, memiliki anak. Tidakkah mereka lebih menyayangi kami selaku keluarganya, dibanding ego yang tidak dibawa mati?”


“Aku masih ingat, bagaimana Nayara dipermalukan di hadapan banyak orang. Direndahkan harga dirinya, dicap sebagai perempuan yang hanya mengincar hartaku. Tapi dia.. dia masih mau tersenyum padaku, dia bilang dia sudah memaafkan semuanya”


“Jika memang seperti ini, aku lebih memilih tidak dianggap sebagai anak selamanya. Lebih baik tidak usah kembali dan menemuiku jika akhirannya selalu sama. Aku tidak ingin Aera tumbuh dan mengetahui bagaimana perlakuan keluarga papanya kepada mendiang mamanya dulu. Dia pasti… akan merasa sakit hati. Juga membenciku karena aku tidak mampu melindunginya”


“Ssh, Aera tidak mungkin membenci tuan”


Jeanno menunduk, untuk kali pertama dalam hidupnya, Judith melihat setitik airmata mengaliri hidung tingginya.


**


Judith terbangun dari tidurnya kala mendengar pintu kamar diketuk. Dengan perlahan ia menyingkirkan tangan Jeanno yang membalut pinggangnya. Dilihatnya sang tuan muda masih terlelap. Biarkan demikian, Jeanno butuh menenangkan pikirannya. Gadis itu melihat jam, sudah menunjukkan pukul 3 sore. Dengan segera ia membuka pintu sebelum ketukannya mengganggu Jeanno.


“Oh, Bibi Maria. Ada apa?”


Wanita anggun itu tersenyum, namun bisa Judith lihat kilah kecemasan dalam netranya. “Jeanno, apa dia baik-baik saja?”


Judith memundurkan tubuhnya, memberikan jalan seandainya Maria ingin masuk. Namun wanita itu diam di tempatnya. “Dia terlihat sedikit down tadi. Setelah selesai menuangkan emosinya, Jeanno terlelap. Sampai sekarang masih pulas”


Maria menghela nafas. “Seharusnya aku tidak perlu memberitahu adikku mengenai pernikahan Mark. Kupikir mereka tidak akan pulang, sayang. Ternyata mereka datang dan.. bukannya berdamai dengan masa lalu Jeanno, mereka justru semakin memperkeruh suasana. Untunglah mereka sudah dalam perjalanan ke bandara untuk kembali ke Australia”


Tangan Judith terulur, mengusap lengan Maria sebagai bentuk dukungan bahwa ini bukan kesalahan ibunda Mark. “Bukan salah Bibi. Aku yakin Jeanno juga tidak menyalahkan Bibi disini. Maaf jika ini harus terjadi dihari yang penting seperti sekarang”


“Bibi sangat berterimakasih padamu Judith. Kehadiranmu.. benar-benar seperti malaikat yang menyelamatkan keluarga Jeanno. Jika tidak ada kau, Bibi tidak tahu bagaimana nasib keponakan Bibi. Teruslah seperti ini, ya? Aera pantas mendapatkan kasih sayang ibunya yang belum lama ia dapatkan. Sementara Jeanno.. Jeanno butuh seseorang yang mau mendampinginya disaat dirinya jatuh”


Wajah ayu itu tersenyum sendu. Dirinya-pun menginginkan hal yang sama. Namun, apakah semesta mengijinkan?


**


“Judith?”


Mark melangkah sedikit tergopoh-gopoh kearahnya. Meninggalkan Hannah yang tengah menyapa beberapa tamu.


“Oh, hai kak”


“Apa dia baik-baik saja?”


Judith mengerti betul siapa yang Mark maksud. Pria itu pasti sudah mendengar pertemuan tak menyenangkan antara paman bibinya dengan Jeanno. Dan fakta bahwa Judith dan Aera turun berdua ke Ballroom resepsi tanpa adanya Jeanno, cukup menjadi bukti bahwa itu bukan pertemuan yang menyenangkan.


“Buruk. Dia terlihat terpukul sekali dan sempat melukai tangannya dengan memukul kaca kamar mandi hingga pecah” Judith sedikit berbisik, khawatir jika Aera mendengar percakapan mereka.


Mark membuang nafas kasar. “Seharusnya mereka tidak bertemu”

__ADS_1


“Maaf jika ini merusak hari bahagiamu, Kak” Mark dengan cepat menggeleng. “Tidak. Jangan bilang seperti itu. Lalu sekarang dimana Jeanno?”


“Masih di kamar. Tadi dia sempat tidur cukup lama sampai terbangun dan mengeluh kepalanya pusing. Lalu aku meminumkannya obat dan menyuruhnya istirahat. Dia mengatakan akan menyusul jika kepalanya sudah tidak pening”


Mark mengangguk mengerti. “Terimakasih, Judith”


“Apa seburuk itu, kak? perlakuan mereka terhadap Nayara.. Jeanno tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tak bisa melindungi Nayara”


Judith berharap Mark menggeleng, namun jawaban yang diterimanya justru berbanding terbalik. Pria itu mengangguk. “Ya, cukup buruk. Hingga membuatku bersyukur bahwa orangtuaku tidak seperti itu”


**


Waktu bergulir, membawa jam menjadi hari. Hari menjadi minggu. Minggu menjadi bulan. Tak terasa sudah menapaki bulan keempat. Nyaris setengah tahun tanpa adanya Jeanno disisinya. Berat, tentu saja. Namun terimakasih kepada Mark karena pria itu menemaninya, menjembataninya untuk ‘bertemu’ dengan Jeanno. Bertindak seolah-olah seperti stalker yang mengamati dari jauh. Tanpa ia sadari juga bahwa Jeanno melakukan hal yang sama padanya.



*



Dinding yang begitu tinggi, membuat keduanya sulit bersatu. Jeanno masih membutuhkan waktu, Nayara masih memberinya waktu. Satunya ingin kepastian, sementara lainnya masih bimbang. Takut jika ia melangkah melewati batas.



*



“Selamat datang di Daisy Floris, dengan saya Nayara ada yang bisa saya bantu?” Nayara menyambut pengujung dengan ramah. Yang merupakan seorang pria berstelan rapi dengan gestur penuh keangkuhan. Jika pengunjung kebanyakan berkeliling untuk melihat bunga seperti apa yang mereka cari, maka pria itu memilih menetapkan pandangannya pada Nayara.



*



“Tuan? Ada yang bisa saya bantu?” Nayara tentu saja merasa tidak enak hati ketika ditatap dengan tajam dan ekspresi datar. Namun profesionalitas mendorongnya untuk tetap bersikap ramah.



*




*



Suara pria itu begitu berat dan mengintimidasi. Pria itu sekilas mengingatkannya kepada seseorang. Tapi siapa..?



*



“Betul saya Nayara. Apa tuan mengenal saya?”



*



Lawan bicaranya tersenyum tipis. “Bagaimana bisa aku tidak tahu seperti apa kekasih putraku”



*



Seketika tubuh gadis itu membeku. Butuh beberapa detik hingga kesadarannya kembali dan ia menunduk, memberi salam dengan sopan kepada Ayah dari Jeanno. Pantas saja wajahnya mengingatkan pada seseorang. Ternyata ketegasan dan karisma yang ada pada Jeanno diturunkan langsung dari ayahnya.



*


__ADS_1


“Maaf tuan Alex, saya tidak mengenali anda. Maaf jika saya kurang sopan”



*



Thomas Alexander menggoyangkan tangannya. “Kau tidak perlu minta maaf. Aku kemari hanya ingin melihat secara langsung gadis yang dibanggakan oleh putraku”



*



Nayara mengangkat wajahnya. “Maksud.. tuan?”



*



“Jeanno terdengar sangat bahagia ketika bercerita tentangmu. Jadi aku ingin kemari untuk bertemu denganmu langsung”



*



Nayara tersenyum ramah. “Suatu kehormatan bagiku untuk bertemu dengan anda, tuan Alexander”



*



“Kebetulan minggu ini kami akan mengadakan pesta kecil untuk merayakan ulang tahun Jeanno. Aku ingin kau datang. Oh, tidak perlu memaksakan harus memakai apa. Pakailah yang kau miliki. Itu sudah lebih dari cukup”



*



Mendengar ijin dari Thomas, Nayara terperangah. “Benarkah? benarkah tuan.. memperbolehkan saya untuk datang ke acara Jeanno?”



*



“Tentu saja. Kau kekasihnya. Aku juga ingin menjadikan ini kejutan untuk putraku. Jadi.. aku minta tolong padamu untuk tidak mengatakan apapun dan pada siapapun sampai hari H. Mengerti?”


“Mengerti” Nayara menganggukan kepalanya cepat. “Mengerti. Terimakasih tuan, saya pasti akan datang”



*



Thomas Alexander mengangguk sekilas lalu pergi setelah memberikan selembar undangan tempat dimana acara ulang tahun Jeanno akan dilaksanakan. Nayara tak berhenti tersenyum sejak itu, membayangkan akan bertemu dengan Jeanno secara langsung setelah sekian lama. Pada akhirnya penantiannya terbayarkan.



*



**


Judith terbangun akibat gejolak yang menekan di perutnya. Dengan segera ia membuka pintu kamar mandi, memuntahkan yang mengganjal, walau pada akhirnya yang keluar hanyalah air. Namun itu tak serta merta menuntaskan mualnya. Perutnya seperti sedang dikoyak dari dalam. Membuatnya menghabiskan beberapa menit kedepan dengan kepala condong ke toilet.


Usai menekan flush, Judith bercermin. Melihat bayangannya yang pucat dan lesu. Acara pernikahan Mark dan Hannah dua hari yang lalu, kemudian mengurus Jeanno yang kesehatannya menurun, membuat Judith kelelahan dan berakhir dirinya ikut masuk angin.


Baru saja ia hendak melangkah keluar, perutnya kembali memberontak. Membuat Judith harus kembali menjadi ‘penyembah’ toilet.

__ADS_1


**


__ADS_2