
Diajak kencan oleh Aleta adalah hal yang tak pernah Owen berani impikan. Karena sebelumnya ialah pihak yang selalu mengajak, walau jawabannya selalu sama, yaitu penolakan. Maka ketika siang itu ponselnya menunjukkan notifikasi pada layarnya, Owen langsung menjawab tanpa membuang waktu. Sembari bertanya ada apakah gerangan yang membuat gadis pujaannya menelpon. Dari sekian banyak bayangan mengenai alasan Aleta menghubunginya, tercetuslah satu kalimat yang terdengar indah menyapa telinganya.
“Hei, Owen. Nanti malam.. kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu untuk mencoba restoran baru yang ada diujung jalan. Apa kau keberatan?”
Memang, Aleta tidak mengatakan secara gamblang bahwa ajakannya masuk dalam hitungan kencan. Bisa saja ini hanyalah ajakan makan malam biasa sesama teman. Istilah kencan hanya ada dalam bayangan indah Owen. Tapi tak apa, yang penting ia memiliki kesempatan untuk pergi berdua dengan si manis.
Acara makan malam mereka berlangsung lancar. Owen yang mengutarakan lelucon dan direspon oleh tawa renyah dari lawan bicaranya yang malam itu tampil mempesona dengan dress terusan berwarna biru langit. Untunglah hari ini dirinya membawa mobil, sehingga tidak menyulitkan Aleta jika harus membonceng miring menggunakan motor.
Usai makan, keduanya memilih menuju alun-alun kota yang masih ramai muda-mudi dan para keluarga. Hujan yang mengguyur kota selama seharian agaknya membuat malam ini dihujani bintang-bintang.
“Mau jagung bakar?”
Aleta terkekeh. “Kita baru selesai makan, Owen”
“Ya, barangkali kau masih lapar” Aleta tersenyum sembari menggeleng, menolak halus. Keduanya memilih duduk di salah satu bangku kosong, tepat didepan alun-alun.
“Owen..”
“Ya?”
“Kau tau alasanku mengajakmu keluar?”
Owen menggeleng. Hatinya bergemuruh tak karuan, tak ada firasat mengenai apa tujuan Aleta. Wajah cantiknya yang diterpa lampu taman, terlihat sendu. “Sebelumnya aku berterimakasih untuk semua kebaikanmu. Maaf jika ada ucapan atau perilakuku yang menyakitimu”
“Kau tidak pernah menyakitiku. Aku yang memilih untuk tidak menyerah sampai kau mau membuka hati”
Seulas senyum sedih terpampang, membuat Owen merasa dadanya sesak akan nyeri. “Jika kau masih belum mau menerimaku, jangan dipaksakan. Kita bisa tetap menjadi teman baik, Aleta”
“Kau tau, Owen? Aku memiliki dua nama. Aleta Maharani Johan, dan Ananta Judith”
Dahi Owen mengerut. “Apa? Pantas saja aku pernah mendengar Mikha memanggilmu Judith. Kupikir aku salah mendengar”
__ADS_1
“Tidak” Judith menggelengkan kepala. “Aleta adalah nama lahirku. Sementara Judith adalah nama yang kuubah secara resmi ketika aku menginjak usia 20 tahun”
“Kau.. tidak ingin bertanya mengapa aku mengubah nama?”
Owen terdiam sesaat sebelum tersenyum tipis. “Jika kau berkenan untuk bercerita, maka aku akan mendengarkan”
“Jika aku bercerita, apa kau mau berjanji untuk tidak menghakimi kisahku?”
Tanpa ragu, Owen mengangguk. Entah sekelam apa kisah yang dimaksud Judith, namun ini kali pertama gadis itu bicara mengenai hidupnya, yang sebelumnya selalu ia tutup rapat-rapat. Owen tak pernah mendengar apapun mengenai keluarga Judith, selain putri dari kakaknya yang waktu itu sakit. Dan kini, ketika gadis itu membuka obrolan lebih dulu, bukankah itu awal yang baik?
**
“Mereka sedang kencan malam ini. Saya tidak tahu kemana perginya, tapi nona Judith pulang lebih awal. Katanya mau bersiap”
*
Seharusnya Jeanno senang, karena itu artinya Judith sudah berhasil move on usai satu tahun pergi dari hidupnya. Seharusnya Jeanno bahagia, karena Judith sudah bisa membuka hati untuk menerima pria lain yang mungkin lebih baik darinya.
Seharusnya…
Tapi mengapa ada yang mengganjal? Rasanya sungguh tidak rela, membayangkan ada tangan lain yang mengisi jemari ranting perempuan itu. Tidak bisa merelakan ketika ada lengan lain yang merengkuh tubuh ramping Judith. Selama ini hanya dirinyalah yang sejauh itu, hanya Jeanno satu-satunya.
Satu tahun. Dipikirnya satu tahun waktu yang cukup untuk menata kembali hati dan ego. Jeanno bekerja keras berkali-kali lipat, bukan hanya sebagai ajang pembuktian kepada ayahnya, tapi juga sebagai pengalihan. Berharap semakin dirinya sibuk, semakin cepat ia melupakan Judith.
Nyatanya tidak juga, karena ia masih meminta Michelle untuk tetap melaporkan apapun yang terjadi diakhir hari. Membuat Jeanno seringkali diam karena memerangi egonya untuk tidak memesan tiket pulang ke Indonesia guna menemui sang pemilik hati.
Seperti hari itu, empat jam dari waktu kencan dimulai, Jeanno terlihat sangat gundah, hilang fokusnya. Walau sisi itu tak ia tunjukkan didepan orang lain. Jeanno risau, tak sabar menunggu kabar selanjutnya. Apakah kencan Judith berjalan lancar, apakah setelah ini mereka menjadi sepasang kekasih?
__ADS_1
Resmi atau tidaknya dengan Owen, sesungguhnya sudah bukan lagi urusan Jeanno. Ia teringat akan janjinya yang diucapkan didepan Mark. Ia ingin pergi sejenak, dan kembali menjadi versi terbaik dirinya. Untuk saat ini, Jeanno masih merasa ia jauh dari kata baik. Egonya memang tidak sekeras dulu, tapi rasanya sangat sulit untuk belajar mengikhlaskan.
“Lepaskan dia, Jean. Lepaskan Judith..” ucapan yang selalu terlontar ketika dirinya sedang gundah. Hari itu, sudah tak terhitung berapa kali lisannya meloloskan kalimat tersebut.
Ketika ponselnya berkedip, tanpa membuang waktu Jeanno langsung mengangkat panggilan telpon dari Michelle. “Bagaimana, Michelle?”
“Mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih, tuan”
**
Butuh waktu sekitar tiga jam bagi Judith untuk menyelesaikan ceritanya. Tentu saja ia meminuskan bagian kerjasama ibu pengganti dengan Jeanno. Ia hanya mengatakan dirinya tinggal di rumah sang kakak ipar untuk membantu Jeanno mengurus putrinya yang baru ditinggal ibu kandungnya. Menyelipkan pria itu disela-sela ceritanya membuat Judith meringis menahan perih akan rindu. Nama Jeanno masih membawa dampak bagi tubuhnya, hatinya berdesir dan sesak disaat yang bersamaan. Meyakini bahwa memang Jeanno Alexander masih menjadi yang tertinggi dalam hatinya.
Cerita kelam kisah Judith, membawa reaksi yang tak bisa diterka dari Owen. Pria itu pendengar yang baik. Tak memotong cerita Judith, mengusap punggung tangannya ketika Judith mulai terisak. Owen menepati janjinya untuk mendengarkan dan tidak menghakimi.
Diakhir cerita, pria itu tidak langsung merespon. Karena dirinya yakin bahwa yang Judith butuhkan hanyalah pendengar. Ia akan merespon, jika Judith bertanya.
“Setelah kau mendengar ceritaku, apa kau tetap pada keputusanmu?”
Judith menyeka airmatanya dengan tissue yang ia bawa dari tas. Dirinya sudah siap jika Owen memilih untuk pergi. Lagipula siapa yang mau memiliki kekasih mantan perempuan malam?
“Kisahmu sangat berliku. Kau pernah terjerumus dalam dunia malam, namun ada yang melatarbelakangi keputusanmu hingga kau mengambil jalan pintas sebagai penari erotis. Pekerjaan itu memang bukan pekerjaan yang baik dimata banyak orang. Tapi satu yang kutau, kau adalah wanita yang kuat, Aleta. Kau mampu bangkit, berdiri, dan berjalan walau sudah terjatuh berkali-kali. Aku saja yang pria, tidak bisa membayangkan jika berada diposisimu. Atas segala keterpurukan yang menimpamu, kau masih bisa bangkit, tersenyum, tertawa”
Owen meraih kedua tangan Judith, melingkupinya lembut. “Aku ingin berterimakasih karena kau sudah bertahan. Kau tidak mengambil nyawamu, kewarasanmu masih terjaga. Kau masih memiliki cinta dan kasih yang membuat orang-orang disekitarmu nyaman. Kau hebat, Aleta”
Pujian yang terkesan tulus, sontak saja membuat tangis Judith pecah. Baru kali ini ia mendengar seseorang menyanjungnya. Berterimakasih padanya yang sudah bertahan. Judith tidak pernah merasakan betapa bahagianya mendengar untaian kata-kata indah itu.
“Terimakasih.. Owen. Terimakasih..”
Owen menggeleng. “Tidak. Satu-satunya yang pantas kau ucapkan terimakasih, adalah dirimu sendiri. Sudahkah kau ucapkan hal itu?”
Judith menggeleng. Ia tak pernah mengapresiasi dirinya sendiri selama ini.
__ADS_1
“Ketika aku mengalami hari yang buruk. Aku selalu berkata pada diriku sendiri ‘Kau hebat, Owen. Terimakasih sudah bertahan hari ini. Besok, lakukan hal yang jauh lebih baik dari hari ini’. Dan itu berdampak luar biasa. Kuharap kau juga mengatakan hal demikian, sekedar mengetahui betapa berharganya dirimu, Aleta. Kau pantas mendapat apresiasi”