Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Ikhlas


__ADS_3

"yah, ibu nggak tega kasih tau Alya kondisinya, ayah tau kan Alayya begitu menanti kehamilannya"


"iya Bu, ayah juga nggak tega, tapi ini juga sudah takdir anak kita, mungkin Tuhan akan menggantikan dengan sesuatu yang lebih baik lagi" Farah mengelap air mata di pipi, orang tua mana yang tidak terpukul melihat kondisi anaknya yang baru saja berbagi cerita dengan nya, berbagai kebahagiaan, bahkan senyuman alayya masih tergambar jelas di bayangan, saat wanita itu memberitahukan orang tuanya jika ia hamil, tapi sekarang sudah terbujur kamu di ranjang, ia juga kehilangan calon cucunya. Farah tidak sama sekali melepaskan tangan sang putri, malam hari sudah berganti pagi, mereka tidak ada istirahat sedikitpun semenjak sampai tadi malam, berulang kali mereka menghubungi Nathan, tapi pria itu sama sekali tidak mengangkat panggilan nya, Ali sudah tersulut emosi, ia ingin menemui Nathan, bisa - bisanya pria itu tidak ada di saat istrinya sedang tidak baik-baik saja, mereka juga kehilangan anak di kandungan Alayya.


sedangkan Azha pamit pulang sebentar untuk membersihkan diri.


"Nathan sudah ada kabar, yah?"


"belum Bu, ponselnya bahkan nggak aktif ayah hubungi, dia Kemana sih, istri lagi sakit kaya gini, bukannya nemenin, malah ngilang, awas aja kalo sampai keadaan Alayya gara-gara anak itu, ayah nggak akan maafin dia"


"jangan berburuk sangka dulu yah, siapa tau Nathan lagi pergi "


"masalahnya Raisa juga nggak ada Bu, pikiran ayah sudah Kemana - mana, pasti anak kita kaya gini gara-gara Nathan "


"iya yah, ibu ngerti, tapi sekarang kita fokus sama kesembuhan Alayya dulu " Ali yang sempat tersulit emosi kini kembali tenang setelah melihat putri semata wayangnya terbaring dengan wajah pucat nya.


"anak ayah Kenapa bisa kaya gini m, nak" ali mengusap kepala sang putri.


sedangkan di rumah orang tuanya, Nathan sedang menikmati sarapan buatan sang ibu dengan Raisa di gendongn.


"nak, kamu nggak pulang nemuin istri kamu"


Nathan menggeleng, ia enggan membicarakan tentang Alayya yang bisa membuat mood nya rusak saja di pagi hari, Nathan masih kecewa dengan sikap Alayya.


"nggak baik kamu pergi kaya gini tanpa menyelesaikan masalahmu, nak. harusnya kamu dengar dulu penjelasan Alayya, kalian sudah sama - sama dewasa, ibu yakin kalian bisa menyelesaikan masalah kalian sendiri, Nathan acuh


" Nathan " Dewi sedikit mengeraskan panggilan nya


"kenapa, mah?" Nathan tidak mengangkat wajahnya, ia memilih abai dengan ucapan Dewi.


"Pulang, temui Istrimu, nak"


"iya, nanti Nathan mampir kerumah dulu"

__ADS_1


"bicarakan masalah kalian dengan kepala dingin, bicarakan baik-baik, jangan libatkan emosi, terkadang ucapan yang keluar di saat emosi memuncak bisa membuat kita menyesal"


....


di rumah sakit, Alayya perlahan membuka Matanya, tidak ada yang sadar akan hal itu, karena Farah sedang duduk di ruang tunggu, sedangkan Ali berada di luar.


"ii--ibuu " mendengar panggilan kecil dari Alayya, Farah langsung kembali duduk di samping putri nya


"anak ibu, yang mana sakit nak, bilang sama ibu nak? di genggam nya erat tangan sang putri, Ali yang baru saja datang membeli sarapan juga duduk di samping sang istri


"Alayya, anak ayah, bilang sama ayah nak, apa yang sakit, bilang nak"


"ayah, ibu, anak Al nggak papa kan? luluh sudah air mata yang tertahan, tak ada satupun dari mereka yang mampu menjelaskan jika alayya kehilangan janinnya.


"ibu, jangan diam aja, bilang kalo anak Al nggak papa" tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan, Alayya beralih pada sang ayah.


"ayah, please, kalo dia baik-baik aja, Al Mohon yah" Ali pun memberikan respon yang sama.


"sayang, kamu istirahat dulu ya nak, kondisi kamu belum pulih, tunggu sebentar ya nak, ibu panggilkan dokter dulu" Farah mencoba mengalihkan perhatian sang anak, ia benarkan letak selimut untuk menutupi tubuh anaknya


"sayang, anak ibu,kamu nggak papa kan, nak. Maafin ibu, kamu harus ngerasain sakit, ibu ceroboh jaga kamu nak, sekarang kamu tenang yaa, ibu nggak akan biarin siapapun nyakitin kamu, termasuk ayah" Farah dan Ali saling pandang, sepertinya firasat mereka benar, semua yang terjadi pada sang anak karena ulah menantunya.


"sayang, Al, dengerin ibu nak, tuhan lebih sayang dia nak, sekarang anak kamu nggak ngerasain sakit lagi, dia sudah berada di tempat terbaik di sisi Tuhan " Alayya menggeleng, kini bening air mata sudah turun mengalir


"ibu jangan ngomong kaya gitu, al nggak suka, anak Al baik-baik aja, dia sehat "


"sayaaang, ikhlasin dia, nak"


"IBUUUU, AL NGGAK SUKA YAA"


"AAAAA, anak ku nggak papa, anakkuuu" teriak Alayya histeris


"ALAYYA, sadar nak, anak kamu sudah nggak ada, kamu kehilangan dia" dada kian sesak Alayya rasakan, udara Seakan menghilang di sekitar, ia tidak bisa percaya anak yang sudah ia tunggu kini di ambil kembali.

__ADS_1


"ayaaah, jangan bohong yah, anak Al masih adaaa" hati orang tuanya semakin sakit mendengar isakan dari putri tercinta, Alayya yang lemah hanya bisa menangis histeris menerima kenyataan, ruangan bernuansa putih gading itu, di isi suara tangisan ketiganya, Farah memeluk Alayya.


"ikhlaskan dia nak, ikhlaskan dia"


"ii--ibuu, anak Alayya Bu, anak Alayya, ayaaah" lirih Alayya begitu menyayat hati orang tuanya


"anak kuuu, maafin ibu nak, ibu nggak bisa jaga kamu, maafin Ibuuu"


....


Alayya mulai tenang, tapi justru sebaliknya membuat Farah dan Ali semakin kawatir, pasalnya putri nya itu hanya diam dengan tatapan kosong ke depan, air mata masih mengalir membasahi pipi, tapi sedikitpun tidak ada isakan yang terdengar, Matanya bahkan tidak berkedip sedikitpun.


"sayang, jangan buat ibu sama ayah kawatir nak, jangan menyiksa diri kamu sendiri kaya gini, sayang"


"Ibuuu" Alayya menoleh bergantian ia tatap wajah kedua orang tuanya.


"apa sesakit ini waktu Alesha pergi untuk selamanya, apa ini yang kalian rasain waktu Alesha menutup mata?


Farah dan Ali tidak menjawab, ia biarkan Alayya berbicara.


"ternyata sakit nah ya, Bu, kehilangan sesuatu yang berasal dari diri kita, apa ini semua karena dosa Al, sampai tuhan mengambil kembali kebahagiaan Al?"


"sayang, jangan ngomong gitu nak, nggak ada yang salah sama kamu nak, semua nya sudah menjadi takdir, mungkin memang belum waktunya aja, sayang, terkadang sesuatu yang hadir di hidup kita bertujuan untuk menguji kita sebagai hamba, seberapa kuat mereka mampu melewati ujian nya maka semakin tinggi derajatnya di mata tuhan"


"nak, ingat pesan ibu?, pesan yang selalu ibu ingetin ke kamu dan Alesha!"


"nggak semua yang kita inginkan harus kita miliki, nggak semua yang kita dapatkan harus sesuai dengan apa yang kita inginkan, tuhan tidak akan pernah menyegarkan sesuatu jika tidak ada manfaat di dalamnya begitu juga sebaliknya " ucap Alesha lancar,


"masyaallah, anak ibu, jadi tau kan apa yang harus kamu lakukan sekarang "


"ikhlas, mengikhlaskan anak alayya kembali di sisi Tuhan" Farah mengangguk, ia cium telapak tangan sang anak, setelahnya ia usap pucuk kepalanya.


"ya sabar ya nak, yang tabah, setiap yang bernyawa pasti akan kembali pada tuhan, sekarang kamu harus ikhlaskan kepergian dia, berdoalah semoga kelak anak kamu akan menjadi penolong untuk kamu di akhirat kelak" Alayya mengangguk, air mata kembali mengalir, ia angkat tangan nya minta di peluk.

__ADS_1


"yang kuat ya nak, ayah sama ibu, akan selalu ada buat kamu"


__ADS_2