
Sayang...sudah yaa. ibu minta maaf, jika pertanyaan ibu kembali melukai perasaan kamu nak, ibu minta maaf, sayang" Farah menatap sendu anaknya, ia tidak bermaksud membuat putrinya kembali mengeluarkan air mata, sebagai orang tua, sebagai ibu, ia tidak pernah mengharapkan keluarga anaknya hancur, ia tidak ingin terjadi perpisahan dan kembali mengorbankan Raisa, tapi nyatanya kekecewaan yang Alayya rasakan begitu besar di hatinya, tidak pernah ia inginkan kehidupan putrinya sehancur ini, jika perpisahan adalah yang terbaik untuk mereka, Farah ikhlas.
"Al juga nggak mau kaya gini Bu, al juga nggak mau berkahir menyedihkan kaya gini, tapi Al bisa apa Bu, semakin Al bertahan, semakin banyak lagi luka yang Al... atupun Nathan dapatkan Bu, Al juga capek, Al lelah hidup di atas bayang-bayang Alesha, karena sampai kapanpun, di hati nathan hanya ada Alesha"
Farah menghapus air mata Alayya, ia usap pucuk kepala Putrinya dengan lembut.
"iya nak, iyaa"
"ibu mau tau seperti apa Al sampai bisa kehilangan janin Al? Farah hanya diam, jujur ia penasaran kenapa dan apa penyebab Alayya sampai mengalami pendarahan hebat.
"semuanya karena rasa cinta Nathan pada Alesha Bu..." Alayya menarik nafas sesak, sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Al nggak sengaja jatuhin bingkai foto Alesha, bingkai foto kesayangan Nathan, yang Nathan simpan dengan rapi di ruang kerjanya, di saat tidak ada satupun bingkai foto Alayya ada di sana, Al nggak cemburu Bu, Al cuman ngerasa... kenapa Nathan harus menyembunyikan bingkai foto itu, Al nggak akan ngelarang dia, atau marah jika bingkai itu ada di atas meja kerjanya, tapi nathan dengan marahnya masuk ke ruang kerjanya karena Alayya masuk ke sana tanpa ijin darinya, bingkai foto itu jatuh dan pecah, Nathan dengan teganya narik Alayya... Al kesulitan melanjutkan ceritanya, sungguh sakit mengingat semuanya lagi
"Nathan narik tangan Al, sampai Al jatuh, di mana posisi Al waktu itu lagi nahan sakit, sakit banget perut Al Bu, Al Sudah menunggu kepulangan Nathan, Al mau Nathan elus perut Al, bukan elusan yang al dapat, bukan pelukan yang Nathan berikan, hanya bentakan juga amarah yang Al lihat, Al terhempas jatuh ke lantai, sakiit banget Bu, sakit perut Al"
"sudah sayang, jangan di lanjutan, ibu mohon nak, sudah yaa" lirih Farah berharap anaknya mengentikan cerita menyakitkan itu.
"andai waktu bisa di ulang, ibu nggak akan pernah menyetujui pernikahan kalian, maafkan ibu nak, ini semua juga karena ibu yang terus memaksa, tanpa tau akhirnya akan menyakiti kamu, sayang"
"semuanya juga sudah terjadi, nggak ada yang perlu di sesali lagi, Al cuman mau lepas, Al mau pisah, Al mau memulai hidup baru setelah ini, Al juga ingin bahagia"
"iya nak, iyaa, kamu pasti bahagia, kamu pasti dapatkan seseorang yang bisa menerima kamu apa adanya, nak" Farah memeluk putrinya, mereka berdua menangis bersama.
....
"cari siapa, mas"
"oh ini Bu, Alayya sama orang tuanya ada ?"
"oh Alayya, kalo Alayya sih ibu nggak pernah liat, tapi kemarin ayahnya pulang, di bilang mau ambil beberapa baju anaknya, soalnya anaknya sakit"
"jadi Alayya masih di rumah sakit Bu?"
"sepertinya... iya mas"
"rumah sakit yang mana ya Bu?"
__ADS_1
"aduh, kalo itu ibu nggak tau mas"
"oh, iya Bu, makasih ya Bu" nathan memandangi anaknya yang tertidur pulas, ia ingin berkeliling mencari keberadaan sang istri, tapi ia sendiri juga tidak bisa egois, ada Raisa, akhirnya Nathan memilih mencari hotel terdekat untuk mengistirahatkan diri dan anaknya.
sesampainya di hotel, Nathan menepuk - nepuk bokong Raisa, sama seperti yang sering di lakukan Alayya untuk menenangkan putrinya
"Al kamu di mana, Al. Kamu nggak kangen Raisa, Al. kesian Raisa Al, di kangen kamu, aku yang salah Al, jangan hukum Raisa juga, Raisa butuh kamu, Raisa butuh ibunya..." Nathan menengadah, ia tahan sekuat mungkin agar air matanya tidak tumpah lagi.
"aku minta maaf Al, aku minta maaf"
kembali ke rumah sakit, Aska dan Ali baru saja pulang dari kantor pengadilan agama, Meraka mengajukan gugatan perceraian untuk Nathan, semua itu keinginan Alayya.
"makasih ya, yah"
"iya nak, ayah nggak akan pernah biarin kamu sakit lagi karena laki-laki brengsek itu"
"makasih ya sa"
Aksa mengulas senyum, ia mengangguk, dan mengusap kepala sahabatnya.
"iya sa, gue percaya, gue percaya Lo tulus sama gue, Lo sahabat dan Teman terbaik untuk gue"
"tapi gue mau bahagiain Lo... lebih dari sekedar Sabahat" Alayya mengerutkan keningnya bingung, begitu juga dengan kedua orang tuanya.
"gue mau selalu ada di setiap Suka dan duka Lo, lebih dari sekedar teman atau sahabat, gue sayang sama Lo, gue cinta sama Lo Alayya" Tiba tiba ruangan yang tadi riuh berubah hening, Alayya menatap Aksa penuh tanda tanya, sedangkan tatapan Aksa penuh keyakinan.
"kayanya kita harus keluar deh Bu" Ali merangkul bahu istrinya untuk keluar dari ruang rawat Alayya, mereka akan memberikan mereka waktu untuk Alayya dan Aksa saling bicara.
"Aksa, jangan bercanda... gue nggak suka "
"gue nggak Bercanda Al,gue serius, gue suka sama Lo,gue cinta sama Lo, gue mau Lo jadi istri gue Al " mendengar hal itu membuat alayya tersedak air liurnya sendiri, Aksa dengan gesit membantu Alayya minum.
"mungkin ini bukan waktu yang tepat Al, tapi gue nggak mau mengulangi kesalahan yang sama, gue nggak mau gara-gara gue simpan rasa ini sendiri,gue jadi kehilangan Lo, gue rasa sudah cukup gue simpan sendiri"
Alayya tidak tau harus bersikap seperti apa, ia menoleh ke kanan ke kiri
"sa, gue mau tidur,tolong bantu gue turunin ranjangnya" Aksa melakukan apa yang Alayya minta, Aksa juga membantu Alayya tidur.
__ADS_1
"gue tau semuanya pasti mengagetkan buat Lo, semuanya mungkin terlalu cepat buat lo, tapi bagi gue... ini semua bukan lah waktu yang cepat, gue bertahan -tahun menahan semuanya, dan gue nggak akan sia-siakan kesempatan ini lagi"
"tapi, sa---"
"hust, gue nggak butuh jawaban Lo sekarang, gue nggak minta Lo terima gue sekarang, yang gue mau Lo sembuh dulu, Lo sehat, itu yang paling penting sekarang, bagi gue cukup mengungkapkan perasaan gue saja sudah buat hati gue lega Al"
"sekarang Lo tidur, Lo istirahat " Aksa membenarkan letak selimut sahabatnya, ia tidak melepas genggamannya dari tangan Alayya. mata mereka saling pandang, keduanya menyorotkan hal yang berbeda.
"Makasih sa, makasih sudah sayang sama gue" Aksa tersenyum hangat.
....
Kembali Nathan di buat kawatir karena Raisa terus menangis, meraung - Raung mencari ibunya, Nathan sudah membawa raisa kembali kerumah Alayya, tapi tidak ada siapapun di sana.
"sayang, huust, udah ya nangisnya, ayah jadi takut dengar kamu nangis kaya gini nak"
"ibuu, ibuu, huaaaaaaa, ibuuuuuh, ibuuuu"
"iya sayang, iya, ini ayah juga masih cari ibu nak, cup cup cup"
"udah dong nangisnya nak, jangan bikin ayah Tambah bingung"
"arggghh, ibuuuu, ibuuuuuu, Ibuuu, huaaaaaaa, aaaaaaa"
"ya Allah nak, ayah harus apa sayang, bukan cuman kamu yang ingin ketemu ibu, ayah juga sayang, sudah ya nak, cup, cup cup anak ayah"
tangisan gadis kecil itu tersengal-sengal, ia kesulitan mengatur nafasnya, Nathan mengusap-usap punggung putrinya.
"nanti kita cari ibu lagi yaa,tapi raisa diam dulu" Nathan terus berputar-putar di Kamar hotelnya, dengan Raisa di gendongan.
"ii--ibuu, hua--huaa, ii--ibu, ibuuuu"
begitu terus sampai tidak terdengar lagi suara tangisan sang putri, setelah di periksa ternyata Raisa sudah kembali terlelap, mungkin bayi berumur dua tahun itu kelelahan.
Nathan kembali meletakkan bayinya di atas kasur, ia lap wajah Raisa yang basah karena keringat bercampur air mata, sungguh ia tidak tega melihat kondisi putrinya, raisa sangat merindukan ibunya.
"Kamu di mana Al, Raisa nyariin kamu Al " gumam Nathan seorang diri.
__ADS_1