Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
positif


__ADS_3

Setelah mengantar Raisa ke sekolah, Alayya langsung saja membelokkan setir ke klinik, ia juga sudah membuat janji sebelumya.


tidak lama menunggu namanya di panggil juga, ruangan yang dengan nuansa pink muda dan putih , peralatan pemeriksaan ke hamil an tersusun rapi, Alya di arahkan untuk berbaring di atas brankar, dokter kandungan mengoleskan jel ke atas perut yang masih rata, benda kecil kini sudah berputar di atas perut, mata Alya tak henti menatap layar di samping, meskipun ia tidak mengerti sebesar apa janinnya sudah tumbuh, hanya terlihat seperti buah ceri, kecil sekali.


"baru tingga Minggu, ukurannya baru sebesar buah ceri" dokter menunjuk letak janinnya


"gimana keadaan anak saya dok"


"anaknya sehat, ia tumbuh dengan baik, hanya saja ibu perlu hati-hati karena di kehamilan ini rentan, jangan kelelahan, banyak istirahat " Alayya mengangguk, dokter meresepkan vitamin untuk ia konsumsi di kehamilan trisemester pertama.


ia juga sudah mendengar keluhan Alayya tentang pusing,kram juga muntah yang berlebihan


"makasih dok"


"iya, sama- sama "Alayya tidak henti hentinya mengucap syukur atas nikmat Allah yang begitu besar pada keluarga nya, Janin kecil di dalam kandungan menjadi penyempurna kehidupan keluarga kecilnya, hadirnya akan menjadi penyejuk di tengah- tengah keharmonisan rumah tangganya bersama Nathan.


Alayya masih tidak menyangka, ia bisa hamil dengan pria yang dulu begitu di bencinya, mendengar namanya saja Alayya terbakar amarah, tapi siapa sangka takdir justru mempersatukan mereka dengan cara yang tidak pernah di sangka- sangka, tidak mudah baginya dan Nathan berada di titik sekarang, sempat berkali-kali timbul keraguan akan ketulusan Natan padanya, Hingga alayya memutuskan mencari ketenangan dengan mendatangi tanah suci untuk beribadah, ia Minta jawaban atas keraguannya selama ini, dan ini lah jawabannya, kehamilan yang ia dan Nathan tunggu, tidak ada alasan lagi untuk berpikir mengakhiri hubungan, ada malaikat kecil yang sekarang menjadi sumber kebahagiaan.


Alayya ingin segera memberikan kabar gembira ini untuk suami tercinta, ia tidak tahan lagi ingin segera melihat respon apa yang akan Nathan berikan.


"anak ibu, sehat-sehat didalam ya nak, jadilah penyejuk hati untuk ayah dan ibu, jadilah anak yang Sholeh, yang kelak memberikan sapa at untuk ayah dan ibu " Alayya menyusuri lorong klinik dengan hati berbunga.


....


ueek


uekk


Alayya berlari kecil menuju wastafel yang ada di tempat pencucian, ia muntah kan kembali semua makanan yang tadi pagi di masukkan, kepalanya masih menunduk, tangannya memegang erat kran air.


kembali alayya rasakan lonjakan sesuatu yang ingin keluar dari dalam perutnya, keluar lagi cairan putih yang tersisa karena semua makanan sudah keluar di muntah yang pertama, kram di area perut membuatnya kwartir, selalu saja seperti ini, selesai muntah pasti di akhiri dengan kram yang menyiksa, belum lagi pening di kepala.


Alayya ambil air untuk menghilangkan rasa pahit di kerongkongan.


ia atur nafas yang tadi juga sempat sesak.


"Nathan, cepat lah pulang" lirih Alayya dengan kepala di telungkup kan di atas tangan.


....

__ADS_1


Nathan di kantor berdecak kesal, lagi-lagi guru di sekolah sang anak menelpon karena Alayya tak kunjung datang menjemput, berulang kali ia hubungi ponsel sang istri tapi hanya operator yang menjawab.


Nathan sudah meminta tolong seseorang menjemput anaknya, tapi gadis kecil itu menolak, ia meronta-ronta di gendongan orang asing , ia hanya ingin di jemput ayah atau ibunya saja.


Nathan meraup Wajah nya kasar, belum selesai masalah berkas yang hilang failnya entah Kemana, kini ia harus di suguhkan lagi dengan masalah rumah.


mau tidak mau ia lagi yang harus menjemput putrinya ke sekolah.


"Ya Allah Alayya, kamu kemana sih" gumam Nathan sambil berjalan dengan emosi yang memuncak.


Alayya lagi-lagi ketiduran setelah tenaganya di kuras habis saat selesai mengeluarkan isi perutnya, kepalanya semakin terasa pening, Tidur dengan posisi tidak nyaman membuat persendiannya kaku.


Alayya lirik jam di tangan, ia baru sadar akan gadis kecil yang menunggu di sekolah.


"astaghfirullah, Raisa" dengan pakaian yang masih sama, Alayya bergegas menuju sekolah sang putri, tapi tak ia dapati seorang pun lagi di sana, ia hubungi nomor sang suami berulang kali, tapi tak sekalipun panggilan nya di angkat, ia telpon salah satu guru di sekolah sang putri


"sudah di jemput ayahnya?"


"iya Bu, baru aja, belum setengah jam"


" makasih mis, maaf mengganggu " Alayya kembali merasa bersalah, ia kembali mengganggu Nathan di tengah kesibukannya.


kepalanya masih pusing, kram di perut juga belum sepenuhnya reda, Alayya memesan martabak telor spesial.


"Alayya " wanita itu menoleh mendengar nama nya di panggil seseorang yang suaranya begitu familiar di pendengaran.


Alayya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya melihat sahabat lama yang selalu ada untuk nya.


"azha" entah apa yang sudah merasuki keduanya, mereka sepertinya lupa dengan keadaan yang tak lagi sama, keduanya melepas kerinduan dengan saling berpelukan, tanpa mereka sadari ada seorang pria yang dari jauh memperhatikan, tangannya terkepal begitu erat, ingin rasanya memberikan pukulan pada Azha yang lancang memeluk istri tercinta.


ya, pria itu Nathan, entah magnet apa, ia sepertinya juga merasakan apa yang Alayya rasakan, ia sedang menikmati martabak telor yang sudah di pesan nya beberapa menit lalu, ia sadar dengan kehadiran Alaya di sana, tapi karena masih kesal, Nathan putuskan memerhatikan dari jauh saja, sedangkan Raisa tidur di kursi penumpang.


"aku kecewa sama kamu Al, aku kira kamu sudah berubah, tapi nyatanya enggak, kamu memang berbeda dari Alesha, sampai kapanpun kalian nggak akan pernah sama" gumam Nathan, ia nyalakan mobil untuk pergi dari sana, terlalu panas melihat pemandangan di depan.


"jadi kapan nih, gue dapat undangan"


"secepatnya" jawab Azha seadaanya.


"makasih pak" Alayya berterima kasih pada penjual martabak.

__ADS_1


"muka Lo pucat banget Al, Lo sakit" Alayya menggeleng


"tapi muka Lo pucat, Al. Jangan bohong, Lo sakit kan Al?"


"nggak zha, udah ah, gue duluan ya, takut suami sama anak gue sudah ada di rumah" Alayya melambai sebelum masuk ke dalam mobil.


"gue duluan ya, titip salam buat calon bini Lo" teriak Alayya dari dalam mobil.


"Al, anda Lo tau, sampai detik ini, hati gue cuman untuk lu, Al "


....


keadaan rumah masih sepi, itu tandanya Nathan belum pulang, jika di perkirakan Nathan sudah sampai lebih dulu, tapi nyatanya pria itu tidak ada, ponselnya juga tidak bisa di hubungi, Alayya berpikir mungkin Nathan sibuk dan membawa raisa ikut dengannya.


akhirnya alayya memilih membersikan diri sebelum menyiapkan sesuatu untuk di makan bersama nanti.


Alayya sudah persiapkan kotak kecil berisi hasil USG juga testpack bergaris dua didalamnya, ia juga menulis surat sebagai pelengkapnya.


tidak sabar rasanya ia menunggu kepulangan sang suami, ia ingin memeluk Nathan dengan erat, kemudian memberikan kotak di tangannya, Alayya seharian membayangkan momen itu, tapi sudah seharusnya Nathan pulang, Kemana pria itu, rasa kawatir kini menghantui.


tapi Alayya tetap berpikir positif, ia masuk ke ruang kerja Nathan, duduk di kursi yang membuat suaminya betah berlama-lama, tidak bermaksud lancang, hanya ingin lihat lihat saja, Alayya membuka laci yang penuh dengan berkas di dalamnya.


"hiis, jadi orang pintar serumit ini ya, gue bego nggak ngerti ini kertas isinya apa aja"


satu hal yang membuatnya tercengang, sekaligus cemburu, bingkai di antara tumpukan kertas, bingkai kecil berisikan foto sang kembaran menggunakan pakaian seragam SMA


ternyata suaminya tidak benar-benar melupakan mendiang istrinya, ia masih menyimpan foto berharga di ruang kerjanya.


"ternyata kamu masih sering ingat Alesha ya, Nat"


BRAAK!!!!


pintu yang awalnya memang tidak tertutup terhempas begitu kuat, Alayya kaget sampai bingkai di tangan jatuh membentur lantai.


"ALAYYA" bentak Nathan tak tertahan.


"na--nathan" Alayya gugup setengah mati, baru kali ini ia lihat sorot mata dari pria yang selalu memberi kehangatan padanya, tatapan tajam, dingin begitu dapat Alayya rasakan, kilat amarah tergambar jelas dari pria yang penampilannya sudah acak-acakan.


note : hayoo kenapa nih, ngantuk lanjut besok love sekebon, jangan lupa beri dukungan jangan jadi silent reader yaa, aku mau fokus sama cerita ini dulu, karena sudah mau ending, jangan lupa mampir di cerita ku yang lain.

__ADS_1


__ADS_2