
Mark mengerjapkan matanya, masih belum bisa memproses dengan benar ucapan kekasihnya beberapa detik lalu. “Apa?”
“Ayo bercinta, Mark. Miliki aku semaumu, aku ingin kau yang menghancurkanku”
Kalimat itu dituturkan dengan nada bergetar namun penuh keyakinan. Mark yang seluruh akal sehatnya sudah terkumpul, lantas melirik kearah pintu masuk Victoire, yang mana dapat ia lihat sekilas bayangan Johnny dari balik kaca, tengah memandangnya datar sebelum pergi dari tempatnya.
“Mark..”
Pria itu menggeleng. “Tidak, Hannah. Kau sedang dalam keadaan yang tidak bisa membuatmu berpikir jernih”
“Tapi ini mauku! Ini keinginanku!”
“Ssh, kita bicarakan di rumah ya? jangan disini. Ayo..”
**
“Kau hampir membuatku pingsan ketika mendengarmu pendarahan, sayang”
Renatta yang berada di pelukannya, membetulkan dan menyamankan posisinya. “Tapi aku benar kan, aku juga panik bukan main. Aku takut kehilangan anak kita. Untunglah kau membawaku ke rumah sakit”
Jeffrey menghela nafas, ia juga lega mendapati kenyataan baik janin maupun Renatta baik-baik saja. Karena usai sampai ke apartemen kekasihnya yang tengah duduk dengan bercak darah di celana pendeknya, Jeffrey tanpa pikir panjang langsung menggendongnya untuk pergi ke rumah sakit. Bukan rumah sakit Pelita, tentu saja. Namun rumah sakit lain yang juga di pusat kota. Beruntung dokter mengatakan tidak ada hal serius dan calon bayi mereka masih sehat.
“Aku harus pulang. Kau tidak apa-apa kutinggal?”
Renatta cemberut, ingin sekali rasanya ia terlelap di pelukan Jeffrey seperti kemarin. Prianya melihat reaksi Rena, lantas mengecup ujung hidungnya lembut. “Semalam aku sudah tidak pulang. Inipun aku hanya membawa jaket dan kunci mobil. Ponselku bahkan kutinggal karena pergi dalam kondisi buru-buru. Aku takut jika istriku melihat isi ponselku”
“Ya, pulang saja. Aku tidak apa-apa” sekuat apapun keinginan menahan Jeffrey, Renatta tetap ingat akan dimana tempatnya berada.
“Aku akan mencoba mengatur waktu supaya bisa menemanimu lebih sering. Maafkan aku”
Satu kecupan terakhir di dahi sebelum Jeffrey bangkit, mengenakan jaketnya. Renatta yang semula mengantuk, kemudian mengubah posisinya duduk.
“Apa kau meminta maaf kepada istrimu juga?”
“Ya, tentu”
“Jeff, boleh aku menanyakan sesuatu?”
__ADS_1
Lawan bicaranya mengangguk. Renatta menyambung. “Apa kau memiliki anak dari istrimu?”
Gerakan tangan Jeffrey yang sedang mengancingkan jaketnya terhenti. “Apa?”
“Apa kau memiliki anak? Selama ini aku hanya tau kau suami orang. Kau tidak pernah berbagi cerita tentang anakmu”
Jeffrey diam, tak menggeleng namun juga tak mengangguk.
“Jeff..”
“Aku.. kami belum dikaruniai anak”
Renatta belum sempat merespon karena lelaki itu langsung pamit dan pergi terburu-buru. Meninggalkannya kembali dalam kesendirian.
**
Mark dan Hannah baru saja memasuki apartemen milik Mark yang telah menjadi tempat pulang Hannah akhir-akhir ini. Selama perjalanan pulang, tak ada yang bicara, mengakibatkan kesunyian mengepung suasana mobil Mark. Hannah yang memandang keluar jendela sementara Mark yang masih menyimpan tanda tanya besar.
“Kau lapar? Mau kupesankan sesuatu?”
Hannah mengangkat matanya yang sedari tadi menunduk memandang ubin. “Aku tidak lapar”
“Kau bilang kau mencintaiku..”
Bibir pria itu menyungging senyum tipis. Tubuhnya yang memang berjalan lebih dulu di depan Hannah, kini berbalik berhadapan dengan kekasihnya. “Aku mencintaimu, ya memang benar. Tapi bukan berarti aku mau menuruti permintaanmu yang tidak rasional. Bukankah kau sendiri yang mengatakan kegadisanmu hanya untuk suamimu kelak?”
“Jadi kau tidak mau menjadi suamiku?”
Bibir Mark mendecak, kepalanya ikut pening ketika Hannah, yang untuk pertama kali membuat kesabarannya serasa diuji. “Hannah, sayang, aku mencintaimu, aku menghormatimu sebagai perempuan yang kusayangi. Selama ini skinship kita hanya sebatas berpelukan dan berciuman, tidak pernah lebih dari itu, karena aku tau itu batas nyamanmu. Aku tidak mau melewatinya, dan jangan samakan aku dengan pria di Victoire yang bermimpi membawamu ke ranjang”
“Kau hanya mencintaiku, tapi tidak menginginkanku..”
Mark tertawa kosong, tak percaya dengan bagaimana keras kepalanya Hannah hanya untuk sekedar menerima pendapatnya.
“Aku menginginkanmu, sangat. Tapi sekali lagi, aku menghargaimu. Aku menikmati kebersamaan kita, dan itu tidak melulu tentang ****, sayang. Justru akulah yang seharusnya bertanya padamu, apa yang memicumu untuk mengajakku bercinta? Keputusanmu seperti terburu-buru, jika memang harus melakukannya, aku mau ketika kita sama-sama sedang dalam pikiran yang jernih. Bukan seperti sekarang”
Hannah baru mau membuka mulut, namun Mark lebih cepat menyambung.
__ADS_1
“Jangan kau pikir aku tidak tau adanya kejanggalan dalam Victoire. Mulai dari namaku yang seperti diblaclist dari sana, kemudian kau yang bertingkah aneh setiap pulang bekerja, lalu aroma parfum maskulin yang menempel di tubuhmu. Mau kutambahkan? Kemarin kau mengindariku seperti orang asing. Kau menjauh ketika aku memelukmu sehabis kau mandi. Hannah, apa yang kau sembunyikan?”
Mark tak lagi bersuara. Ia memilih untuk menunggu Hannah bicara, namun seiring dengan denting jam di ruang tengah, kekasihnya tak kunjung buka mulut. Gadis itu hanya menunduk, memandang lantai yang sepertinya lebih menarik dibanding prianya.
“Baiklah jika kau tidak ingin menjawabnya sekarang. Aku tidak akan memaksamu lagi. Sekarang, tidurlah. Kau dan aku sama-sama lelah”
Ketika tubuh Mark menghilang dari balik pintu, Hannah menyembunyikan wajahnya, seakan itu bisa menahan airmata untuk tidak mengalir. Tangisnya yang sedari tadi ia tahan. Hannah frustasi, sedih, marah, dan kecewa.. pada dirinya sendiri. Dalam kekalutannya ia sudah membulatkan tekad untuk memilih Mark sebagai pria pertamanya. Karena dirinya takut, takut jika ia akan kehilangan kontrol seperti tadi dibawah tangan Louis. Hannah takut Louis akan menghancurkan impian yang perlahan ia bangun bersama Mark. Impian akan kesempatannya hidup normal seperti perempuan lain, yaitu membangun rumah tangga dengan kekasih dan hidup bahagia.
**
“Dokter Tyona?”
Judith menghentikan trollynya ketika melihat sosok cantik berbalut blouse biru tua berdiri tak jauh di hadapannnya, tengah meraih beberapa apel kedalam kantong plastik. Yang dipanggil lantas menoleh, kemudian tersenyum ramah. Judith menghampirinya.
“Nay—astaga, Judith maksudku. Wajah kalian benar-benar semirip itu sampai aku refleks memanggilmu Nayara”
Judith tertawa kecil. “Dokter libur?”
“Ya, hari ini hari liburku. Dan karena isi kulkasku kosong, jadi aku memutuskan untuk belanja bahan makanan. Kau?”
Judith menunjuk trollynya. “Aera minta untuk dibuatkan pie buah. Karena bahan di rumah tidak ada jadi aku belanja dulu, sambil menunggu jam pulang sekolah. Jadi setelah dari sini aku bisa langsung menjemputnya”
“Ah, Jeanno mengatakan kau pintar memasak. Boleh lain waktu ajari aku? aku payah sekali dalam urusan dapur”
Satu alis Tyona terangkat heran melihat Judith yang memandangnya takjub. “Kenapa?”
Yang ditanya menggeleng sambil tersenyum. “Ternyata wanita sesempurna dokter ada kekurangannya juga, yaitu tidak bisa memasak”
Tyona tertawa. “Sempurna apanya, aku tidak sebagus itu, Judith”
“Tapi jujur saja dokter, pertama kali aku melihatmu aku sungguh, sungguh takjub. Dokter sangat cantik, elegan, dan berwibawa. Apalagi begitu tau latar belakang karir dokter. Wah rasanya dokter menjalani hari-hari impian semua perempuan”
‘Impian perempuan ya’ seulas senyum tipis terukir, mendapati bahwa kehidupannya tak seindah yang ada dalam bayangan Judith.
“Kau berlebihan Judith. Sudah, jangan memujaku seperti itu, nanti kepalaku besar”
Keduanya berbagi tawa.
__ADS_1
“Oia, bagaimana Jeanno?”
“Jeanno?” Judith balik bertanya, tak mengetahui maksud pertanyaan Tyona yang bukannya menanyakan perihal Aera namun justru ayahnya.