
Hari pagi sudah berganti malam, Nathan masih bersimpuh di depan pagar, Alayya yang baru saja menidurkan anaknya, berdiri didepan jendela, ia bisa melihat nathan yang masih berada di tempat nya, sebentar lagi sepertinya akan turun hujan, tapi pria itu sama-sekali tidak ada niat beranjak dari sana. Alayya dengan cepat menutup gorden saat ia liat Nathan yang mendongak menatap ke arah jendela kamarnya.
Alayya duduk di pinggir ranjang, wanita itu duduk termenung, ia tidak ingin melihat wajah Nathan, ia tidak ingin iba melihat wajah itu, ia tidak ingin timbul rasa kasihan pada suami dan berkahir memberi kesempatan, Alayya tidak ingin lagi terjebak di kehidupan beracun dengan Nathan.
"nggak, gue nggak mau, cukup sudah semua nya" Alayya memilih ikut bergabung dengan Raisa, ia peluk putri kecil itu di dalam dekapannya, Alayya begitu merindukan Raisa, wangi tubuh bayi Raisa memberikan ketengan ternyaman untuk nya
"maafin ibu nak, ibu nggak bisa sama ayah kamu lagi, tapi ibu janji, ibu nggak akan pergi dari kamu, sampai kapanpun ibu akan tetap menjadi ibu kamu, ibu akan terus menyayangi mu, meskipun tidak lagi bersama ayah"
"tidur yang nyenyak nak"
Benar saja hujan deras mulai turun, langit malam yang gelap semakin terlihat menyeramkan, petir petir kecil juga ikut berkeliaran, menambah suasana mencekam.
Nathan tidak bergeser sedikitpun dari tempat nya, ia menunduk dengan kaki terlipat, guyuran hujan di tubuh tidak menjadi penghalang mendapatkan kesempatan.
"maaf, maaf Alya, maaf nak" Nathan terus mengucapkan kalimat itu, berulang kali, tatapannya kosong. di atas... Alayya tidak bisa juga tertidur, ia kembali berdiri di depan jendela, Alayya berdecak karena pria itu masih ada di sana
"dasar keras kepala" gumam Alayya
sekitar tiga puluh menit hujan turun, untung tidak lama, sekarang hanya tersisa gerimis saja, Alayya bisa sedikit merasa lega, setidaknya Nathan tidak terlalu kehujanan lagi, jujur Alayya kawatir, Alayya takut pria itu sakit, tapi Alayya juga tidak ingin kalah dengan egonya, Alayya memilih acuh, dan kembali Tidur setelah memastikan Langit tidak lagi menurunkan airnya.
tetangga yang sudah memperhatikan Nathan akhir akhir ini merasa iba padanya, wanita berumur sekitar hampir 50 tahun itu menghampiri nathan, ia tidak tau apa yang terjadi sampai keluarga Alayya begitu tega padanya.
"mas, pulang dulu mas, besok pagi kesini lagi, nanti sakit Lo"
"nggak Bu, saya nggak bisa pulang, sebelum bertemu istri saya, saya nggak bisa tenang sebelum mendapatkan Maaf darinya"
"mas, bisa datang lagi besok, wajah mas pucat, kalo sakit yang ada mas nggak bisa ketemu Alayya lagi" Nathan menggeleng, ibu itu menghela nafas, ai juga menyampirkan selimut yang ia bawa di bahu nathan
"ya sudah kalo kamu tetap nggak mau, ibu masuk dulu, ibu doakan semoga masalah kalian cepat selesai" Nathan mengangguk.
__ADS_1
....
Besok paginya Alayya sedang menikmati sarapan dengan keluarganya, tidak tenang sebenarnya perasaan Alayya, ia tau dan terus memantau Nathan dari atas kamar nya.
"Nathan sudah pulang,yah?" tanya Farah sambil menuangkan air ke gelas
"belum Bu, masih ada di luar, dasar keras kepala"
"kesian anak itu yah, kita suruh masuk aja ya? mau bagaimana pun Farah tetap lah seorang ibu, ia memiliki jiwa keibuan yang besar, dan Nathan adalah menantunya, bukan orang lain, jadi jelas saja ia merasa kawatir
Ali menggeleng
"jangan bu, biarkan saja, nanti juga capek sendiri, Aska di makan"
"iya paman" Alayya tidak mengeluarkan suara apapun, ia makan sambil menyuapi Raisa.
Nathan di luar terbangun dari tidur nya yang melelahkan, matahari pagi menyinari wajah nya.
"makan dulu nak, mukanya sudah pucat, dari kemarin nggak ada makan kan"
"makasih Bu"
"ibu tinggal masuk dulu ya, kamu habiskan, nanti ibu turun ambil piring sama gelas nya" Nathan Mengangguk
Pria itu berjalan hampir limbung, jika tidak berpegang pada pagar.
Tubuhnya lelah, mulai dari kemarin sore Nathan belum memakan apapun, ai makan sendikit rakus makanan yang di berikan ibu tetangga tadi.
Nathan sedikit ada tenaga sekarang, ia sendiri yang berjalan mengembalikan piring dan gelas bekasnya ke rumah tetangga itu.
__ADS_1
Nathan mempercepat laju langkah nya karena mendengar suara pagar yang di buka, ada Aksa ternyata.
"aksaaa" Nathan menghampiri Aksa, ia memohon agar Aksa mengijinkannya bertemu sang istri, tanpa ia sadari kehadiran Alayya di dalam mobil milik Aksa, terjadi perdebatan di luar, Alayya menoleh ke lawan arah, ia enggan menatap nathan, takut timbul rasa kasihan.
tapi rasa penasarannya membuat Alayya menoleh, bersamaan dengan bogeman Aksa kembali menghantam wajah nathan, Alayya kaget bukan kepalang, ia turun dari mobil melepaskan cengkraman tangan Aksa di kerah baju lusuh sang suami
"Aksa cukup,lo amu bunuh dia, Lo mau buat anaknya kehilangan ayah,lo mau buat Raisa menjadi yatim piatu, Lo nggak lihat keadaannya" nafas pria itu memburu, Nathan yang tersungkur dengan susah payah berdiri, ia ingin meraih tangan istrinya, tapi Alayya dengan cepat memundurkan langkah
"Al, sa--sayang, aku mohon dengerin aku dulu, kita bicara dan selesaikan semuanya" pinta Nathan memohon, ia abaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"ayo kita pergi, sa" Alayya menarik tangan Aksa masuk ke dalam mobil.
"Alayya, aku mohon Alayya" kembali Nathan tersungkur saat berusaha mengejar mobil yang di kendarai Aksa.
bulir bening kembali turun, isakan pilu menyesakan dada.
pria berwibawa itu semakin rapuh.
Di dalam mobil Alayya masih terbayang-bayang dengan wajah nathan, wajah yang tidak kalah lusuh dengan pakaiannya, sebenarnya hatinya sakit juga melihat kondisi Nathan, tapi lagi-lagi, keputusan nya sudah bulat, ia ingin mengakhiri semuanya.
mereka akan kerumah sakit untuk mengecek keadaan Alayya.
Nathan yang benar - benar mengabaikan kondisinya, cairan kental merah keluar dari rongga hidungnya, ia hapus dengan punggung tangan, ia tidak peduli dengan apapun, ia hanya ingin Alayyanya kembali, denyut di kepala semakin terasa pula, tapi Nathan tetap dengan pendirian nya, ia akan menunggu sang istri kembali pulang.
di dalam rumah, Ali dan Farah bermain dengan Raisa, mereka kejar - kejaran di ruang tamu, pintu rumah terbuka, jadi Nathan bisa sedikit melihat anaknya yang tertawa riang Di dalam sana, itu sudah cukup sedikit menjadi penyemangat untuknya, senyuman Raisa dan Alayya adalah kekuatannya.
"Anak ku" nathan merogoh sakunya, ia ambil hasil USG di dalam sana, Nathan terus menatap kertas lusuh itu, untung saja tidak robek, karena sebelumnya Nathan sudah melapisinya dengan plastik pembungkus.
Nathan bersandar di Tembok, matahari kian menyingsing, ia sedikit berlindung dari panas matahari, di tatapannya nanar kertas kecil itu.
__ADS_1
"anak ayah, buah hati ayah, kesayangan ibu dan ayah" nathan berkali kali menciumi hasil USG itu.
note, gess cerita ini belum di revisi, kalo misalnya kalian baca dari awal , Nana orang tua Alayya atau orang tua Nathan berubah rubah, aku. kadang lupa nama karakternya, nanti kalo sudah tamat akan aku revisi.