Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 102. What Friends Are For?


__ADS_3

Ketukan jemari Jeanno di stir kemudi menjadi latar suara yang menemani kemacetan malam itu. Rumornya ada rombongan presiden atau tokoh pemerintah yang hendak melintasi jalanan itu, sehingga menimbulkan kemacetan sekalipun sudah lewat dari jam pulang sekolah dan pulang kerja.


Pria itu berhenti mengetukkan jarinya, ia menoleh kesamping, mendapati Judith yang sedari tadi termenung sembari memandang keluar jendela. “Judith?”


Yang dipanggil menoleh. “Ya?”


“Kau baik-baik saja?” Judith memandang bingung, kemudian mengangguk kaku. “Ya. Kenapa tuan bertanya seperti itu?”


“Sepanjang jalan kau hanya diam, melamun sambil menatap luar jendela. Kupikir kau sakit, atau lapar”


“Ah itu..” kepala perempuan itu manggut-manggut. “Aku hanya memikirkan Hannah”


“Kenapa dengan Hannah? bukankah dia sudah mendapatkan akhir yang indah?”


Judith mengangguk. Bibirnya mengulas senyum cantik. “Ya, karena itulah aku ikut bahagia. Walaupun dalam hati ada rasa sedih juga karena itu artinya aku sudah bukan lagi menjadi tempat sandaran baginya”


“Kau bicara seolah-olah sepupuku akan membawa Hannah pergi menjauh. Hannah tidak akan kemana-mana, Judith. Dia akan tetap menjadi sahabatmu sampai kapanpun”


Satu helaan nafas panjang diiringi anggukan. “Ya, tuan benar. Kalau tuan sendiri.. apa tuan punya sahabat-sahabat? Selain kak Mark ya. Karena jujur saja, aku tidak pernah melihat tuan memiliki teman selain kak Mark”


Pertanyaan Judith tidak langsung dijawab oleh Jeanno. Pria itu memandang lurus kearah mobil depan. Seakan menimbang apakah ia harus menjawab atau tidak mengenai pertanyaan yang bahkan bukan pertanyaan sulit.


“Ya, aku memiliki sahabat. Dulu”


“Dulu?”


Jeanno mengangguk. “Henry, Andy dan Arjuna. Kami berempat bersahabat dekat. Jauh sebelum aku bertemu dengan Nayara. Tapi satu kejadian yang membuat kami renggang, dan aku memutuskan untuk tidak menjalin komunikasi dalam bentuk apapun lagi kepada Andy dan Arjuna”


Judith ingin bertanya mengapa, namun ia urungkan. Seakan bukan ranahnya untuk menyelami masa lalu Jeanno. Jadi selama pria itu tidak membukanya sendiri, selama itulah Judith akan menjadi pendengar saja.


“Andy dan Arjuna melakukan hal yang… sungguh membuatku marah dan kecewa. Butuh waktu lama bagiku untuk mempercayai bahwa mereka berdua terlibat dalam hal itu. Disisi lain aku berterimakasih kepada Henry, karena jika tidak ada Henry, mungkin ceritanya akan berbeda dari yang sekarang kujalani”


Cerita Jeanno terhenti ketika mobil di hadapan mereka bergerak maju. Jeanno melakukan hal yang sama.


“Sakitnya dikhianti sahabat itu, menurutku jauh lebih sakit dibanding dibuang oleh orangtua sendiri. Aku sudah mengetahui bahwa mereka, terutama ayahku tidak setuju dengan hubunganku dan Nayara. Tapi sahabat-sahabatku, mereka bertingkah supportif dihadapanku. Mendoakanku yang baik-baik. Mendukungku atas segala keputusan yang membuatku bahagia. Tapi ternyata… mereka merencanakan hal picik di belakangku”


Judith tak berani membayangkan apa yang dilakukan oleh dua mantan sahabat Jeanno sehingga membuat pria itu memutuskan tali pertemanan mereka. Pastilah sesuatu yang sangat serius, bukan?


Bukan tanpa alasan Jeanno mengajak Nayara ke kafetaria siang itu. Sudah berjalan dua bulan sejak mereka resmi bersama, Jeanno belum pernah mengenalkan kekasihnya kepada tiga sahabatnya secara langsung. Respon ketiganya baik dan mendukung hubungannya. Itu yang membuat Jeanno bersyukur memiliki sahabat seperti Andy, Henry dan Arjuna.


“Ck, Ayahku menelpon. Kau tidak apa-apa jika aku tinggal sebentar?”



*



Jeanno menunjukkan layar ponselnya untuk memperlihatkan panggilan dari sang ayah. Nayara sontak saja mengangguk. “Tidak apa-apa”



*



Sepeninggal Jeanno, Nayara tidak tahu harus bercakap apa dengan tiga kawan kekasihnya. Suasana mendadak canggung dan gadis itu berharap Jeanno segera kembali.



*

__ADS_1



“Nay, kau tau sebentar lagi Jeanno ulang tahun?”



*



Gadis itu memandang Andy, pemuda yang paling muda diantara mereka kembali menyambung usai menyesap orange jusnya. “Dia akan menggelar pesta di klub malam, seperti tahun-tahun sebelumnya”



*



“Kau sudah menyiapkan kado untuk Jeanno?” kali ini Arjuna yang bertanya. Nayara berdehem sekilas, kemudian menggeleng. “Aku.. belum tahu”



*



“Belum tahu ulang tahun Jeanno atau belum tahu mau memberi kado apa? Kuberi sedikit bocoran, Jeanno sangat menyukai sepatu bermerk. Tapi ya kupikir itu terlalu sulit untukmu, maksudku, harga sepatu itu saja bisa berpuluh kali lipat gajimu ketika bekerja di kafe”



*




*



Arjuna menarik bibirnya kesamping, membentuk senyum sinis. “Ya, kecuali kalau Nayara mau memberinya kado selain barang”



*



Andy menimpali dengan tawa meledek. “Benar, kau bisa memberikan sesuatu yang spesial di hari spesial Jeanno. Kuberitahu, dia tidak pernah bercinta dengan perawan sebelumnya”



*



Wajah Nayara memerah padam, ia malu bukan main. Tak peduli intensi dua pemuda itu sekedar candaan belaka, tapi Nayara tidak menemukan letak lucunya dimana. Yang ada dirinya merasa direndahkan. Tapi entah mengapa amarahnya tak mampu ia keluarkan. Dirinya takut jika emosinya berdampak pada hubungan pertemanan Jeanno dan kawan-kawannya. Sementara Nayara memilih menunduk, Henry yang baru saja hendak membuka mulut untuk menegur, harus terputus ketika Jeanno datang dan duduk di tempatnya yang semula.



*

__ADS_1



“Hey, apa aku tertinggal sesuatu?”



*



Andy menggeleng. “Tidak. Kami hanya bicara mengenai rencana ulang tahunmu. Kau ingin kado apa? Biar aku memiliki waktu untuk mencarinya”



*



Jeanno memekik, seperti baru teringat bahwa tidak lama lagi dirinya bertambah usia. Tangannya ia kalungkan di pinggang Nayara. “Aku sudah mendapatkan hadiahku”



*



Jika dalam situasi normal, Nayara pasti sudah memukul lengan Jeanno karena membuat pipinya merona. Tapi saat ini, merah di wajahnya bukan karena rona hasil dari debaran dadanya. Melainkan padam amarah akibat direndahkan oleh pemuda-pemuda yang dianggap Jeanno sebagai sahabat baik.



*



**


“Mama”


Judith berhenti menyisir rambut Aera. “Ya sayang?”


“Apa paman Mark dan aunty Hannah akan menikah?”


Judith tersenyum, kemudian melanjutkan kegiatannya menyisir rambut si kecil. “Aera tahu dari mana?”


“Dari grandma dan grandpa. Mereka bilang paman akan menikah. Aera bahagia sekali kalau punya aunty baik seperti aunty Hannah”


Judith masih tersenyum, kemudian membalikkan tubuh Aera berhadapan dengannya. Dipakaikannya si kecil piyama tidur bergambar Belle favoritnya. Satu fakta menyakitkan yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. Hannah akan menjadi bagian keluarga Mark, yang artinya akan menjadi bagian keluarga Jeanno juga. Dan itu bersifat nyata, tanpa adanya perjanjian kontrak kerja. Satu-satunya perjanjian yang mengikat mereka adalah perjanjian dengan Tuhan, di altar nanti. Sementara Judith, dalam dua bulan kedepan sudah bukan siapa-siapa lagi. Ia akan kembali ke hidup lamanya, yang kosong dan dingin. Tak ada lagi yang bisa ia bacakan dongeng sebelum tidur. Tak ada rutinitas memasak untuk keluarga. Tak ada lagi mengantar jemput Aera ke sekolah. Tak lagi ia dapat rasakan hangatnya keluarga yang membuatnya nyaman.


Bisakah Jeanno memperpanjang masa kontrak mereka? Bisakah Jeanno memberinya sedikit waktu lebih supaya ia bisa merasakan kesempurnaan memiliki ‘keluarga’?


“Mama.. Aera ingin tidur dengan Papa di kamar Papa”


Judith tersadar dari lamunannya. Dikecupnya kening gadis kecil itu lembut. “Kalau begitu mama antarkan”


“Bukankah mama juga akan tidur disana?”


Oh, Judith lupa akan perannya sebagai ibu pengganti yang tentu saja membuat Aera berpikir ia adalah istri papanya. Yang tentu saja pula harus tidur satu kamar dengan Jeanno. Kenapa Judith bisa lupa mengenai perannya?


Tapi masalahnya, memang Jeanno berkenan jika ranjang yang ia bagi dengan mendiang Nayara, ditiduri olehnya yang notabene bukan siapa-siapa?


“Mama, ayo.. Aera mengantuk”

__ADS_1


Judith mengangguk canggung. Ia takut jika harus menghadapi penolakan Jeanno setelah sekian lama. Ia takut sikap dingin Jeanno kembali. Judith takut jika ia harus menerima kenyataan bahwa Jeanno masih hanya mencintai Nayara seorang.


**


__ADS_2