Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 103. Can’t See Clear No More


__ADS_3

Jeanno tidak menolaknya. Walaupun pria itu terdiam selama beberapa saat ketika ia dan Aera berdiri di depan kamarnya, mengatakan keinginan si kecil untuk tidur bersama di kamar utama. Butuh waktu sekitar tiga menit hingga pria itu menggeser tubuhnya, mempersilakan Judith dan putrinya masuk.


“Mama kenapa hanya berdiri?”


Well, tidak heran Aera bertanya demikian. Karena setelah setengah jam masuk di kamar Jeanno, yang dilakukan Judith hanya mondar-mandir seperti orang bingung. Seakan ruang kosong di ranjang sebelah Aera adalah ranjang paku yang sakit jika ditiduri.


Jeanno yang tadinya masih fokus dengan ponsel, lantas turut memberi atensi pada Judith ketika sang putri bertanya. “Tidurlah disamping Aera, sayang. Apa kau tidak lelah hanya berdiri saja?”


Bolehkah?


Judith mengangguk kaku. Ia bawa langkahnya untuk menaiki ranjang itu, mengambil tempat di samping Aera. Jujur saja, rasanya aneh. Ini kali pertama ia meniduri ranjang Nayara. Tempat ‘sakral’ yang selalu Jeanno larang siapapun untuk mengambil tempat itu. Jika ruang kosong tersebut sudah Judith tempati, itu artinya aroma tubuh Nayara akan hilang? Apa Jeanno benar-benar tidak keberatan? Judith fokus memperhatikan pria yang masih mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Ekspresi Jeanno terlihat seperti biasa, tak ada gestur yang mengindikasikan dirinya terganggu atau risih. Hal itu membuat Judith menghela nafas lega.


Untuk sejenak.


Karena ponselnya bergetar, menunjukkan pesan dari Jeanno. Hanya kalimat singkat, namun cukup untuk menamparnya kembali kepada fakta yang menyakitkan. Bahwa ia memang tak akan pernah bisa menggantikan Nayara.


J.A – busy


Setelah Aera tertidur pulas, bisakah kau keluar dari kamarku?


J.A – busy


Baik, tuan.


Beruntung cahaya lampu di kamar itu temaram, sehingga Jeanno tidak bisa menangkap ekspresi sendu di wajah Judith. Judith, sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya pada boneka besar yang dibawa Aera. Setidaknya boneka itu membantunya menyamarkan bulir airmata yang tak bisa ia cegah keluar begitu saja. Menghapuskan segala bayangan indah akan kehidupan bersama Jeanno dan Aera.


Sadarlah Judith, kau hanya Ibu pengganti. Kau hanya perempuan yang dipekerjakan untuk menggantikan figur seorang Ibu. Kau hanya perempuan yang dikontrak dengan imbalan satu miliar oleh pria kaya yang patah hati akibat kehilangan yang luar biasa menyakitkan.


Kau bukan Nayara. Dan tidak akan pernah menggantikan Nayara.


Pemikiran-pemikiran itu bermunculan tak terkendali, membawa tangisnya semakin deras. Judith harus membekap mulutnya supaya isakan tak lolos dari sana.


**


Nayara tidak pernah merasa minder dengan penampilannya. Benar ia tidak memiliki barang-barang branded yang melekat pada tubuhnya. Benar ia tidak memiliki banyak sepatu yang bisa dipakai secara bergantian. Faktanya, ia hanya memiliki dua sepatu. Yang ia pakai bergantian setiap hari. Benar ia tak memiliki pakaian yang dirancang oleh desainer ternama. Yang dimilikinya hanya beberapa potong baju sederhana tanpa merk, namun tetap nyaman dipakai. Nayara memang tidak memiliki tas mahal yang dibandrol dengan harga ratusan juta bahkan miliaran. Yang ia punya hanya satu totebag dan satu ransel lusuh yang dipakainya sejak masih SMA. Rambutnya bukanlah karya dari stylist ternama, melainkan sentuhan shampo lokal yang dibelinya di minimarket. Tak ada klinik kecantikan yang menyentuh wajahnya. Oh, jangan lupakan ia hanya mahasiswi penerima beasiswa. Yang setiap harinya berdesakan di kendaraan umum, bergumul dengan polusi dan keringat. Semua yang ada pada Nayara adalah kesederhanaan, karena pada nyatanya gadis itu nyaris tak memiliki apapun.


__ADS_1



Sementara Jeanno, Jeanno memiliki segalanya. Ia dengan segala kesempurnaan yang membuat para gadis jatuh hati padanya. Jeanno tampan, sangat tampan malah. Tak kalah dengan aktor papan atas atau model ternama. Postur tubuhnya tinggi tegap, dengan bahu lebar dan kaki jenjang. Mata, hidung, dan bibirnya berkesinambungan, membentuk sempurna wajah bak dewa itu. Intinya, semua yang ada pada Jeanno luar biasa. Dan pria itu bersanding dengan dirinya yang biasa-biasa saja.*



“Apa yang kau pikirkan?”*



Nayara menggenggam tangan Jeanno di pipinya. Memperhatikan wajah Jeanno yang tengan berbaring di pahanya, adalah satu dari sekian pemandangan indah yang membuat hati Nayara berdesir. Gadis itu menggeleng sembari membingkai wajah kekasihnya dengan sapuan jemari.*



“Kenapa aku baru menyadari bahwa kau setampan itu?”*



Jeanno terkekeh. Matanya terpejam. Membiarkan jemari Nayara menyusuri wajahnya. “Bukankah kau jatuh cinta padaku karena wajah tampan ini?”*




“Eum…” dengan mata masih terpejam, Jeanno mengangkat tangannya. Membuat gestur seakan tengah menghitung. “Lima, atau mungkin tujuh. Aku lupa”*



“Atau dua belas”*



“Eh bukan, sepertinya dua puluh dua”*



Nayara mencubit hidung Jeanno keras hingga pemuda itu mengerang. “Kau marah karena menjadi yang keduapuluh tiga?”*

__ADS_1



Gadis itu melepaskan cubitannya, membuat sang kekasih megap-megap dan hidungnya memerah. “Aku tidak masalah menjadi yang keduapuluh tiga, atau yang keseribupun, aku tidak masalah. Selama aku menjadi yang terakhir untuk Jeanno Alexander”*



Jeanno tersenyum, diangkatnya kepalanya untuk mencuri kecupan pada ranum merah muda itu. “Itu sudah pasti. Aku jamin kau akan menjadi nyonya Alexander”*



Pria itu menegakkan tubuhnya untuk kembali menyambung benang saliva. Semakin dalam pagutannya, menyesap manis satu sama lain. Mengecap manis yang selalu menjadi candu. Nayara tidak pandai dalam berciuman, namun sejak mengenal Jeanno yang lihai, dirinya mau tak mau membiasakan diri. Begitu lihainya hingga terkadang membuat Nayara hampir lupa daratan. Tapi sebelum semua melewati batas, Jeanno berhenti. Berakhir dirinya memberikan kecupan sayang di dahi Nayara.*



“Aku suka setiap kali kau mencium dahiku”*



Jeanno terkekeh. “Aku tidak pernah mencium perempuan di dahi. Hanya kau, hanya kau Nana..”*



*



Terkadang Judith merasa ada baiknya jika ia mendengarkan saran Hannah dan Renatta dulu. Tak mengambil perjanjian ini hanya karena iming-iming uang satu miliar. Apalah artinya uang sebesar itu jika ia harus jatuh bangun akan perasaannya sendiri? Satu waktu ia merasa istimewa, tapi pada detik berikutnya ia seperti didorong ke jurang, gelap dan dalam. Tak ada tangan yang meraihnya untuk membantu dirinya naik.


Ia ada di dasar. Sendirian dalam dingin, gelap dan sunyi.


Usai Aera pulas, Judith benar menepati janjinya untuk keluar dari kamar Jeanno sekalipun pria itu sudah ikut terlelap. Ia tak ingin menghadapi murkanya Jeanno di pagi hari ketika pria itu mendapatinya masih tertidur di ranjang istrinya.


Jadi disinilah Judith, pantry yang sunyi. Hanya ditemani denting jarum jam yang angkanya merayap menuju dini hari. Ditemani sekaleng jus apel dari kulkas, Judith menarik nafas untuk entah yang keberapa kali. Seakan hal itu mampu membuang kegundahan yang mengganggu. Ia benci galau, ia tak pernah galau, apalagi perihal lelaki.


Tapi Jeanno Alexander adalah sebuah pengecualian. Dunianya dijungkir balik sejak ia mengenal pria itu. Terkadang Judith berharap waktu bisa ia putar, kembali menjadi Judith yang tak mengenal cinta. Kembali menjadi Judith yang melihat pria tak lebih sebagai sumber uang.


Jeanno Alexander, satu-satunya pria yang memberinya manis, sekaligus pahit secara bersamaan. Tapi ia tak bisa membenci pria itu.

__ADS_1


**


__ADS_2