
Judith tidak pernah segugup ini. Bahkan ketika awal menginjakkan kaki di kantor Jeanno untuk membicarakan kontrak kerja mereka. Namun kali ini berbeda, perasaannya mengatakan bahwa pertemuan itu bukanlah ajang perdamaian. Melainkan sebaliknya.
Judith menggeleng, mencoba abai akan pemikiran negatif yang mengganggu. Percakapannya bersama Nora di telpon juga tidak banyak membantu. Nora hanya mengatakan ada hal penting yang harus dibicarakan, dan tidak bisa disampaikan via telpon.
Ding!
Pintu elevator terbuka. Terakhir kali kemari, ada kotak makanan di tangannya untuk dimakan Jeanno. Sekarang, tangannya hampa. Semula ia ingin membuatkan makan siang, namun diurungkan karena takut jika mood tuan mudanya sedang dalam keadaan tidak baik.
“Tuan sudah menunggu di dalam”
Ada sesuatu yang berbeda dari Nora. Judith bisa melihatnya. Sekretaris cantik itu biasa menyambutnya dengan ramah dan hangat, sekalipun ditengah tekanan dalam pekerjaan. Namun kali ini, Nora membuang muka usai mengatakan hal demikian. Gadis itu kembali tenggelam dalam entah-laporan-apa. Seakan menyibukkan diri sehingga mencegah Judith untuk bertanya ada apa.
“Ya. Terimakasih, Nora”
Hanya itu yang bisa Judith sampaikan, sebelum menarik nafas beberapa kali. Mengumpulkan keberanian sekedar untuk mengetuk pintu ruangan Jeanno.
“Masuk”
Entah apa yang akan terjadi di dalam, Judith lebih memilih memasrahkan semuanya.
**
“Dimana Henry?”
Arjuna mengedikkan bahu. “Dia sedang di rumah sakit menemani omanya yang dirawat. Aku sudah mengajaknya bertemu tapi dia tidak ingin”*
“Baiklah, hanya kalian saja kurasa sudah cukup”*
Dua kawan kental Jeanno saling bertatapan. “Kau yakin dengan hal ini, Sharin? Apa yang mau kau lakukan, itu adalah tindakan serius. Bisa membawa kita semua ke ranah hukum”*
Sharin, yang sudah menceritakan rencananya kepada Andy hanya tertawa remeh mendengar peringatan lelaki itu. “Kalau begitu lakukan serapi mungkin. Lagipula jika sampai ketahuan, nama ayahku mampu membawa kita bebas dari hukuman apapun”*
“Sebegitu bencikah kau kepada Nayara? Well, aku bersedia membantu karena akupun sama sepertimu, sama-sama tidak menyukai gadis itu. Tapi jika kau ‘melenyapkan’ Nayara, apa yang membuatmu yakin Jeanno akan kembali padamu?”*
__ADS_1
Sharin memicingkan matanya kearah Arjuna. “Dia saingan terberatku. Jika tidak ada Nayara, akulah perempuan paling dekat dengan Jeanno dan keluarganya. Akulah pilihan pertama kedua orangtuanya untuk dijadikan menantu”*
“Jadi intinya, kalian mau bantu atau tidak?”*
“Apa imbalannnya?”*
Gadis cantik itu menyandarkan punggungnya, kemudian melipat tangannya dengan angkuh. “Unit apartemenku di kawasan E, kalian boleh memilikinya. Terserah akan kalian jual lalu dibagi dua atau bagaimana, kuserahkan sepenuhnya”*
Semua orang tahu gedung apartemen di kawasan E adalah tempat paling strategis dan bonafit, serta memiliki harga jual yang luar biasa tinggi bahkan untuk tipe terkecil sekalipun. Sementara yang Sharin miliki adalah unit paling besar nomor dua.*
Tanpa pikir panjang, dua lelaki berinisial A itu tersenyum sumringah. “Deal”*
*
“Masuk”
“Duduk”
Judith tak membalas apapun selain melakukan apa yang diperintahkan Jeanno. Pria itu hanya mengucap satu kata, namun aura mengintimidasi begitu kuat menguar. Membuat lawannya tak berkutik.
“Tujuanku kemari adalah untuk menyampaikan beberapa hal padamu”
Judith membenci perlakuan Jeanno. Bagaimana pria itu memperlakukannya bak wanita murahan pemuas hasrat belaka. Memang benar dulu dirinya bergelung dalam dunia malam, tapi Jeanno tidak ada hak untuk memperlakukanya sekasar kemarin.
Judith membenci fakta lain bahwa ia juga merindukan Jeanno. Rindu wajahnya, rindu suaranya, rindu aroma tubuhnya. Setiap bagian dari Jeanno telah menjadi candu baginya. Perasaannya bertambah hangat karena bawaan dari janinnya mungkin?
“Pertama. Aku mau membatalkan perjanjian kita”
Tak butuh dua kali Jeanno mengatakan hal serupa untuk membuat mata Judith terbelalak sempurna. “A-apa?”
“Kau telah melanggar salah satu poin perjanjian. Untuk tidak jatuh cinta pada padaku. Bukankah sudah kuberitahu sejak awal?”
Andai Jeanno tahu bahwa Judith juga telah melanggar satu lagi poin disana.
__ADS_1
“Terlihat sangat jelas, Judith. Bagaimana kau bersikap. Bagaimana kau memandangku. Kau pasti sedang membayangkan jika sandiwara kita berubah menjadi kenyataan, hm?”
Jeanno bangkit dari duduknya, melangkah mengitari mejanya, untuk berhenti di belakang kursi Judith yang tubuhnya menegang seperti kawat yang nyaris putus. “Kau.. pernah bermimpi menjadi Nayara, bukan?”
Pria itu, masih dengan intonasi rendah penuh intimidasi dan seringai mengerikan, merendahkan tubuhnya sejajar dengan kepala Judith. “Perlukah aku menyadarkan ‘tempat’mu, Aleta?”
Satu nama yang sukses membangunkan reaksi lawan bicaranya. Refleks Judith langsung menoleh.
“Kenapa? Terkejut ya kau dipanggil oleh nama yang sudah lama tidak kau dengar?”
“Kau tau, Aleta? Aku sangat membenci kebohongan. Aku tidak tahu apa yang kau katakan kepada Mark hingga ia berani menutupi fakta-fakta lain tentangmu. Membuatku seperti orang bodoh disini”
Berusaha menyamarkan gugupnya, Judith lantas merespon. “Maksud tuan? Aku tidak mengerti mengapa kita membawa nama Kak Mark disini”
Jeanno kembali melangkah ke mejanya, meraih map biru untuk dilemparkan ke pangkuan Judith. “Baca”
“Ironis hm? Nayaraku dituduh sebagai perempuan murahan karena orang tua kandungnya memiliki pekerjaan yang kotor. Nayaraku dianggap menggunakan tubuhnya untuk merayuku. Dia dianggap sebagai wanita rendahan selama hidupnya”
Jeanno tak mengindahkan respon tubuh Judith yang tangannya bergetar membaca satu demi satu kata yang terpampang disana.
“Ironis ketika selama ini ternyata ‘orangtua’ yang dianggap sebagai ayah dan ibunya, dengan latar belakang sampah, ternyata adalah ceritamu! Kau dan keluargamu sudah menempatkan kami dalam kesulitan bahkan sebelum aku mengenalmu”
Jika tadi Judith menahan keras supaya tidak menangis, maka untuk kali ini airmatanya sudah tak bisa lagi dibendung. Telinganya panas, bibirnya memucat dan tangannya tak bisa berhenti gemetar.
“Dan kau masih memiliki nyali untuk bermimpi menjadi pengganti Nayara?” Jeanno terkekeh remeh. “Seujung jaripun kau tidak pantas, Aleta. Kau.. tidak akan pernah sebanding dengan Nayara”
Sebut Jeanno sudah mati empatinya, karena jangankan iba. Pria itu justru menyernyitkan dahinya penuh benci ketika sang lawan bicara hanya diam mematung.
“Kau sudah sepantasnya kembali ke asalmu dulu, sebagai seorang pelacur”
**
Hannah mendengus entah kesekian kalinya ketika panggilan itu berujung kepada voicemail. Tak biasanya Judith sulit dihubungi. Biasanya sekalipun lama membalas, ponsel kawannya selalu aktif. Hal itu membuat perasaannya semakin tidak enak.
“Sudah bisa dihubungi?”
Hannah menoleh sekilas kearah sang suami, kemudian memberinya jawaban berupa gelengan kepala. “Bagaimana dengan Jeanno?”
“Aku juga tidak bisa menghubunginya. Panggilanku selalu ditolak. Sesuatu yang tidak pernah Jeanno lakukan”
Hannah menarik nafasnya panjang. Bukan tanpa alasan pasangan pengantin baru itu mencoba menghubungi kerabatnya. Pagi tadi Nora menelpon Mark, mengatakan bahwa Jeanno akan mengadakan rapat direksi untuk menggantikan posisi Mark dengan orang lain. Yang mana itu tidak seharusnya terjadi tanpa sepengetahuan Mark. Jika memang harus diganti, pria Sebastian itu tidak keberatan. Hanya saja bukankah terlalu mendadak dan aneh? Tempo hari semua baik-baik saja. Tak ada yang mengusik Jeanno selain pria itu dongkol harus mengambil berkas ke ruangan Mark sendirian. Tapi apa karena itu maka Jeanno memutuskan untuk menggantikan posisi Mark?
Jika memang iya, Mark tidak mengira sepupunya sekekanakan ini.
“Kita pulang besok”
**
__ADS_1