
“Duduk”
Begitu sampai rumah, Jeanno membawa Judith ke ruang tengah. Pria itu lantas pergi meraih kotak obat didalam lemari. Sementara Judith masih tersengguk. Peristiwa tadi lumayan membuatnya syok hingga tubuhnya masih belum berhenti gemetar.
“Arman menyentuhmu dimana tadi?”
Jeanno melepas jasnya dari pundak Judith, melihat ada bekas kebiruan dan luka lecet disana. Dengan cekatan diobatinya luka itu perlahan.
“Arman Mahendra. Apa dia mengenalimu?”
Judith mengangguk tipis. “Maafkan aku, tuan. Aku mengacaukan semuanya..”
“Ssh, jangan dipikirkan. Aku kan sudah bilang akan melindungimu, justru aku yang minta maaf karena lengah. Aku baru teringat Arman Mahendra adalah salah satu pria yang sering membayarmu. Aku baru teringat ketika kau berada di toilet, karena kau tak kunjung kembali walaupun sudah mengirimku pesan. Kupikir ada yang salah, makanya aku menyusulmu”
“Tuan.. tau Arman Mahendra mengenalku?”
Jeanno mengangguk. “Aku menyelidikimu sebelum memulai perjanjian kita. Maaf”
“Lalu sekarang.. bagaimana tuan? Arman pasti tidak akan menyerah begitu saja…”
Selesai mengobati luka, Jeanno mengangkat dagu Judith. Ibu jarinya menyeka airmata yang terus meluruh membasahi pipinya.
“Kalau dia tidak mau menyerah, akupun juga demikian. Aku akan melindungimu, melindungi keluargaku seperti yang seharusnya kepala keluarga lakukan. Jangan takut.. ada aku disini”
Jeanno membawa tubuh ringkih itu kedalam pelukannya. Judith membalas dengan sama eratnya. Menyesap aroma tubuh Jeanno yang menenangkan sarafnya. Kekalutan dan ketakutan yang dirasakan, berkurang sedikit demi sedikit.
Judith teringat akan peringatan Renatta dan Hannah dulu sebelum memutuskan untuk menerima tawaran Jeanno. Dirinya, dengan congkak mengatakan percaya diri akan menyelesaikan kontrak ini dengan mudah. Hanya enam bulan. Waktu yang singkat, bukan?
Namun sekarang, ia terjebak dalam kobaran api yang ia mainkan. Dirinya sudah jatuh, jatuh kedalam pesona Jeanno Alexander. Terlambat baginya untuk menyelamatkan diri, karena pada dasarnya, Judith tak pernah keberatan ia jatuh cinta pada Jeanno.
Ya, ia telah jatuh cinta kepada Jeanno Alexander.
**
__ADS_1
Mark mengetukkan jemarinya diatas stir kemudi. Menimbang apakah yang akan ia lakukan sudah benar atau belum. Mencari tau sendiri perihal keabsenan Hannah di Victoire. Mark menghela nafas panjang, memutuskan untuk turun sejenak sekedar bertanya satu pertanyaan sederhana. Jika sudah tau jawabannya, ia akan pulang. Jika jawabannya membutuhkan pengakuan Hannah, ia akan mengajak kekasihnya bicara empat mata dengan baik-baik. Semua akan selesai secara baik-baik. Ya, begitu.
Mark keluar dari mobil. Menginjakkan kakinya di Victoire. Ia memang selalu ditolak untuk akses panggung penari erotis. Tapi ternyata dirinya masih diterima masuk hanya untuk sekedar menikmati alunan musik DJ atau memesan minuman.
Pria itu mendongak kearah lantai 2 tempat pertunjukkan penari erotis itu berlangsung. Cahaya keunguan terpancar dari sana, menandakan bahwa pertunjukkan sedang berlangsung. Mark membuang muka. Memutuskan untuk lebih baik ia pulang saja, daripada harus memupuk kecurigaan kepada kekasihnya sendiri.
Tepat ketika ia hendak berbalik, pintu lift terbuka. Menampakkan seorang gadis cantik berbalut jubah satin yang tengah sibuk berbincang dengan ponselnya. Mark mengenalinya sebagai salah satu penari, terlihat dari dandanan dan jubah penutup khas Victoire. Tanpa membuang waktu, Mark mengekorinya.
“Ya, aku akan menemuimu nanti usai jam kerjaku. Ya, sampai bertemu”
Gadis itu nyaris menjatuhkan ponselnya ketika ia mendapati pria asing mengikutinya ke area toilet tempat ia menerima telpon tadi. “Sialan, kau mengagetkanku”
“Maaf. Apa kau salah satu penari?” Mark bertanya tanpa basa-basi. Gadis itu mengangguk. “Ya”
“Aku ingin membeli tiket untuk menonton, tapi aku ingin tau apakah Renatta, Judith atau Hannah akan pentas hari ini?”
Gadis itu melipat tangannya di depan dada. “Jika kau ingin mencari mereka bertiga, kuberitahu kalau mereka sudah tak lagi menari. Renatta, perempuan itu sudah mangkir dari Victoire satu bulan terakhir. Judith, si congkak yang tiba-tiba menghilang begitu saja. Dan Hannah, minggu lalu dia masih tampil di panggung, tapi setelah itu dia menghilang”
“Menghilang?”
“Kau tau.. untuk siapa dia menari?”
Gadis itu mengangkat bahunya. “Tidak. Tapi sepertinya bukan orang sembarangan. Karena setiap malam sebelum menari, dia selalu mendapatkan bingkisan berupa set pakaian yang harus ia kenakan khusus untuk tamu itu. Yang diantarkan sendiri oleh manajer kami”
“Omong-omong, kau lumayan tampan. Kenapa tidak membeli tiket saja? ada banyak penari cantik lain selain mereka bertiga. Kau tidak akan menyesal”
Mark mundur, tersenyum sungkan. “Mungkin lain waktu. Terimakasih informasinya”
**
Usai mendung dan kilat yang menyambar tanpa diiringi turunnya hujan, tengah malam itu, pada akhirnya awan kelabu itu menurunkan hujannya membasahi kota. Beruntung rintik air itu turun tengah malam disaat sebagian besar orang-orang sudah berada di rumah dan telah selesai merampungkan pekerjaan mereka diluar.
Jeanno mengendurkan pelukannya kepada Judith yang sedari tadi nampak enggan menjauh darinya. Tubuh gadis itu sudah tak lagi gemetar, tangisnya juga sudah reda sejak setengah jam yang lalu. Keduanya berpelukan tanpa kata, namun Jeanno paham mungkin terkadang satu dua patah kata yang menenangkan tak ada gunanya jika yang dibutuhkan hanya pelukan hangat.
__ADS_1
Judith menarik tubuhnya, sedikit malu mengingat bagaimana ia begitu agresif membalas pelukan Jeanno. “Maaf”
“Sudah lebih baik?”
Judith mengangguk. Bersamaan dengan itu kilat menyambar lumayan keras. Membuat daya listrik mati, untunglah cadangan listrik menyala, namun bukan lampu putih, melainkan lampu dengan cahaya keemasan temaram dengan daya lebih rendah.
“Kenapa lampunya seperti ini. Aku cek dulu ya”
Ketika Jeanno bangkit dari duduknya, Judith menahan lengan pria itu. “Jangan. Tetaplah disini, Jeanno”
Kali pertama ia mendengar Judith memanggil namanya tanpa embel-embel tuan ketika mereka sedang berdua saja. Telinganya memerah dan dadanya menghangat.
‘Tetaplah disini, disisiku, Jeanno’
Jeanno mendudukkan kembali tubuhnya. Telinganya bergaungan suara hujan bersamaan dengan suara Nayara yang tiba-tiba muncul.
“Kau mau aku apa?”
Judith mengangkat wajah, memberanikan diri memandang netra Jeanno lebih dalam. “Tetaplah disini, disisiku, Jeanno”
‘Aku lebih suka kau disini. Rasanya aku merasa terlindungi’
“Kenapa?”
“Aku lebih suka kau disini. Rasanya aku merasa terlindungi”
Jeanno menggeleng sekilas, gamang melanda dirinya. Ketika suara Nayara berkejaran dengan suara Judith dengan kalimat yang sama persis, diucapkan oleh orang berparas sama persis, juga suara yang identik. Pria itu menoleh, memandang lawan bicara yang tatapannya masih terpaku padanya. Binar cantik itu, memandangnya dalam dan penuh puja. Entah pikirannya sedang jernih atau tidak. Entah Judith atau Nayara yang berada di hadapannya. Ketika jemari ranting itu terangkat dan menyentuh pipinya perlahan, Jeanno memejamkan mata. Ada kerinduan luar biasa yang menyeruak dan mengikis kewarasannya. Kemudian ketika jemari itu menyentuh tulang hidungnya yang tinggi, jantungnya berdetak diluar ambang kenormalan.
Jeanno membuka mata ketika tak ada lagi sentuhan itu pada wajahnya. Judith menarik tangannya, yang kemudian dicegah oleh Jeanno. Ia ingin, masih ingin merasakan sentuhan itu pada kulitnya.
Bak adegan klise dimana dua lakon saling bertukar tatap, Jeanno dan Judith tak ubahnya seperti peran utama pada suatu drama yang tengah menelisik apa yang satu sama lain rasakan melalui sepasang binar. Satu sisi telah menyerah akan cinta yang serasa sulit digabai, sisi lainnya masih terkurung dalam bimbang akan perasaannya sendiri.
Kebimbangan itu dikalahkan oleh kerinduan yang berhasil menyengahkan akal sehatnya. Jeanno, dengan perlahan mendekatkan wajahnya, menargetkan bibir merah muda yang terbuka dan siap menerimanya. Judith, dengan detak jantung yang berlompatan, menunggu. Menunggu ranumnya bertemu dengan milik sang tuan muda.
__ADS_1
Sedikit lagi. Hidung mereka sudah bersentuhan. Nafas satu sama lain saling bersautan. Ketika Judith memutuskan untuk memejamkan mata, disitu Jeanno tak membuang waktu. Untuk kali pertama, ranum mereka bertemu dalam satu pagutan. Hasil dari kacaunya suasana, kebimbangan hati, dan kekalutan pikiran.