Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 63. Hutang


__ADS_3

Tak pernah Hannah pikirkan akan ada kecanggungan yang ia rasakan ketika bersama Mark. Bahkan saat pertama mereka berkenalan, aura hangat pemuda itu mampu menihilkan rasa tak nyaman yang biasanya Hannah rasakan ketika berada di dekat lelaki. Namun hari itu, sejak bangun tidur hawa yang mengepung apartemen Mark serasa aneh. Keduanya memang tidur satu ranjang, berbagi selimut, mengambil lelap bersama. Tapi seperti ada jarak tak kasat mata yang membentang. Pagipun, Mark hanya bertanya apakah tidurnya nyenyak, sebelum menghilang kedalam kamar mandi.


Hannah merasa malu jika teringat permintaannya semalam. Mengajak Mark untuk bercinta, terdengar seperti perempuan nakal yang memohon belaian. Tapi ia tak menyesalinya. Permintaan itu keluar dari hasil pergolakan batinnya, hingga pada akhirnya memecah prinsipnya sejak awal. Dari yang semula diperuntukan untuk suaminya, berubah menjadi diperuntukkan untuk lelaki yang ia cintai.


Dan Mark-lah orangnya.


Tapi ternyata pria itu berpendirian lebih kokoh darinya. Tidak semudah itu Mark tergiur dan membawanya menjemput putih bersama. Hannah, antara sedih permintaanya ditolak, namun sisi lain kagum, membuat cinta di hatinya semakin tumbuh tak terkendali untuk sang kekasih.


Hannah tau Mark kecewa padanya. Kecewa karena masih belum terbuka. Hannah ingin, sungguh. Sangat ingin jujur perihal semua yang terjadi padanya. Tapi ia belum siap. Terlebih jika respon Mark tidak seperti yang diharapkan. Tapi mungkin keadaan akan berbeda jika dirinya jujur. Pasalnya, tak ada yang bisa ia mintai pendapat. Bisa saja Hannah menelpon Judith, tapi wanita itu nampaknya sedang sibuk mengurusi ‘keluarganya’ dan ia tak ingin merecoki Judith dengan masalah pribadinya.


Getar ponsel membuyarkan lamunan Hannah. Menilik terdapat ID sang ibu yang terpampang pada benda pipih itu.


“Ada apa, ibu?”


“Tidak, aku sedang libur. Aku sudah makan, Bu. Ibu dan adik-adik sehat, kan?”


“Syukurlah”


“Astaga, aku terkadang lupa kalau Haikal sudah mendekati ujian. Nanti kukirim uangnya, Bu. Sekalian untuk membeli keperluan Ibu dan Helga”


Hannah menyebut dua adiknya yang sama-sama duduk di bangku SMA, hanya selisih dua tahun. Ia menunggu respon sang ibu, namun lawan bicaranya hanya diam sembari menghela nafas beberapa kali. Mengetahui itu, Hannah yakin pasti ada yang tidak beres.


“Ibu?”


“Hannah, sebenarnya alasan Ibu menelponmu adalah…. “


**


Arman melempar hasil laporan yang diberikan oleh sekretarisnya kasar. Membuat perempuan malang itu pamit dan buru-buru meninggalkan bosnya yang nampak sedang dalam mood tidak baik. Well, ia tak salah. Sepanjang hari, bukan, sepanjang minggu ini mood Arman memang sedang kacau. Dan alasan utama yang menjadi penyebabnya adalah Judith.


Satu nama yang mengusik pikirannya. Kemana perginya penari sialan itu?

__ADS_1


Sudah tak terhitung berapa kali Arman mencoba menelpon, mengirim pesan, namun nomor Judith tak aktif. Hannah yang ia kira bisa membantu, malah tak pernah ia lihat batang hidungnya di Victoire, seolah turut menghilang. Oh, jangan dikira Arman tidak menyambangi apartemen Judith. Sudah, beberapa kali. Namun tak kunjung dibukakan pintu. Terakhir kali Renatta yang membukanya dengan wajah pucat dan tatapan datar. Mengatakan bahwa ia sendiri tak tau kemana perginya Judith, karena begitu dirinya pulang dari rumah kekasihnya, kamar Judith sudah kosong dan nomornya tidak bisa dihubungi.


Arman percaya dengan Renatta, karena ia tau penari itu memang jarang pulang ke apartemen sejak memiliki kekasih. Juga ia mengijinkan Arman untuk masuk dan lihat sendiri kamar Judith, atau perlu menggeledah apartemen, untuk membuktikan bahwa ucapannya benar. Dan memang benar, kamar itu rapi seperti sudah lama tak disambangi pemiliknya.


Apa Judith melarikan diri darinya? tapi memang siapa dia, sejauh yang ia tau, hubungannya dengan Judith menguntungkan dua belah pihak. Perempuan itu dengan sukarela membuka kakinya dengan bayaran yang mahal. Tak ada istilah Arman memaksa, atau bahkan menyiksa Judith hanya demi sebagai pemuas gairah. Jadi, sedikit tidak masuk akal jika alasan Judith menghilang adalah untuk menghindari Arman.


Apa perempuan itu memutuskan untuk rehat dari dunia malam, dan memulai hidup baru? Tapi sepertinya tidak. Karena dari yang Arman dengar ketika ia mengobrol dengan Judith, dirinya memiliki rencana ‘pensiun’ ketika usianya menginjak 30-an, dimana tabungannya sudah banyak untuk memulai hidup yang ‘lurus’.


Lalu dimana ia sekarang? Mungkin Arman harus mencaritahu siapa orang yang terakhir ditemui Judith, mungkin orang tersebut turut andil dalam hilangnya penari itu.


Arman menggeram, ia harus menemukan Judith!


**


Judith yang tengah mengiris wortel untuk membuat sup makan malam, terkejut melihat penampakan Jeanno yang sudah pulang. Sontak saja ia melihat jam, pukul lima sore. Bukan tanpa alasan ia terkejut, karena sangat mustahil melihat Jeanno pulang secepat ini.


“Tuan sudah pulang?”


Melihat raut dan gestur pria lawan bicaranya, Judith mulai mengerti. “Tuan sakit?”


“Sepertinya flu. Kepalaku pusing dan tubuhku juga menggigil. Jadi daripada aku harus lembur dan nantinya malah jadi lebih parah, lebih baik aku pulang cepat dan istirahat supaya besok lebih baik”


Judith meletakkan pisau potongnya dan berjalan menghampiri Jeanno. Dari jarak dekat, wajah pria itu memang pucat.


“Mau ke dokter?”


Jeanno menggeleng. “Tidak usah. Minum parasetamol juga nanti sembuh”


“Aku sedang memasak sup, tuan mau makan di meja makan atau mau kuantar ke kamar? Jadi nanti tuan bisa langsung tidur setelah makan dan minum obat”


Jeanno tersenyum. Senyuman sama yang tetap membuat jantung Judith berlompatan. “Aku makan di meja makan seperti biasa. Aera mana?”

__ADS_1


“Oh, tuan belum membuka pesanku ya? Tadi aku bertemu dengan dokter Tyona di supermarket. Karena dia sedang libur jadi dia mengajak Aera untuk main ke rumahnya. Katanya nanti setelah makan malam akan diantarkan kemari. Dokter Tyona juga bilang akan menghubungi tuan, tapi sepertinya belum, ya?”


Jeanno membuka ponselnya untuk mengecek pesan masuk. Ada beberapa pesan, dua diantaranya dari Judith dan Tyona yang berisi inti yang sama, yaitu Aera yang berada di rumah Tyona sampai habis makan malam. Pria itu menunjukkan pesan Tyona kepada Judith.


“Sudah masuk. Tapi belum kubaca. Terimakasih sudah memberitahuku”


Judith mengangguk kecil. “Ya sudah kalau begitu aku mau melanjutkan masak. Nanti kalau sudah siap aku panggil tuan”


Jeanno mengangguk, kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.


**


“Kemarin malam ada rentenir yang datang ke rumah, mengatakan bahwa Ayah meminjam uang 120 juta dengan jaminan sertifikat rumah kita. Ayah menjanjikannya untuk kembali dalam satu minggu, tapi Ayahmu pergi sejak dua hari lalu, tidak bisa dihubungi. Sementara pinjamannya sudah tenggat, Hannah. Rentenir itu meminta uang beserta bunganya kembali dalam jangka waktu 1x24 jam, atau rumah kita akan diambil paksa sebagai bentuk dari ingkarnya perjanjian Ayah”




“Totalnya… berapa, Ibu?”*



“120 juta untuk pinjamannya, sementara bersama dengan bunga, totalnya…. “*



“Berapa, Ibu? Katakan kepadaku”*



“Kau tau sendiri Hannah, bagaimana bunga pinjaman lintah darat yang sangat tinggi. Bunganya dihitung perhari dan totalnya pokok bersama bunga… 600 juta”*

__ADS_1



__ADS_2