Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 144. Hell Hole


__ADS_3

Judith tahu kalau mencari pekerjaan adalah hal yang sangat sulit. Setelah memborong beberapa surat kabar untuk mencari lowongan kerja yang diminta, tak ada dari mereka yang memberikan penawaran gaji yang cukup. Judith tahu dirinya salah jika mencari satu miliar dalam pekerjaan yang ‘normal’. Mau mencari sampai ribuan koran pun juga tak akan ada orang gila yang menggaji satu miliar untuk seorang wanita lulusan SMP sepertinya.


Judith mengusap wajahnya kasar. Bagaimana ini, ia tak mungkin membuang lebih banyak hari untuk mencari pekerjaan mustahil itu. Seketika benaknya teringat akan Johnny dan tawarannya. Bisa saja ia menyerah dan kembali ke dunianya yang dulu, tapi apakah ia nyaman? Bagaimanapun ia adalah perempuan yang dipandang sebagai ‘ibu’ oleh seorang gadis kecil. Gadis kecil yang menyayanginya dengan tulus dan melihatnya sebagai figur bak malaikat tanpa sayap. Judith tidak ingin mengecewakan Aera lagi dengan mematahkan bayangan indah itu. Dan lagi ia juga pernah menjadi calon ibu, ia pernah ketakutan setengah mati jika nantinya jabang bayi lahir dan tumbuh mengetahui dirinya bekas wanita malam.


Akan sangat ironis jika ia memutuskan untuk kembali ke dunia yang penuh dosa.


“Sayang? kau sedang apa?”


Judith menoleh, tersenyum melihat Hannah yang datang dengan nampan berisi kue dan kopi. “Apa yang sedang kau pikirkan?”


Judith tidak menjawab, melainkan menunjuk tumpukan koran itu dengan dagunya. Hannah terkekeh. “Sudah ketemu?”


“Tentu saja belum. Menurutmu apa ada orang waras yang memberi imbalan satu miliar sebulannya?”


“Kau tau..” Hannah mengusap pundak Judith. “Kita bisa menjual apartemen itu”


“Tidak, Hannah. Kau memang sudah memberi persetujuan. Tapi Renatta belum. Aku tidak memiliki hak untuk menjualnya tanpa suara dari kalian berdua. Lagipula jika dia setujupun, berat rasanya. Apartemen itu adalah saksi jatuh bangun kita, suka duka kita”


“Tapi kau membutuhkannya”


Judith tersenyum tipis. “Aku.. mungkin sudah mulai pasrah. Anggap saja ini karmaku”


“Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, sayang. Kau mungkin pernah membuat kesalahan di masa lalu. Tapi kau sudah cukup mendapatkan hukumanmu”


“Tadi Johnny menelponku”


Mata Hannah membulat. “Oh ya? untuk?”


“Dia mengajakku bertemu. Kupikir itu hanya pertemuan antar teman lama. Tapi dia menawariku untuk kembali bergabung bersamanya… di Victoire yang baru”


“Victoire yang baru?”


Judith mengangguk. “Dia bilang ada yang membeli Victoire dan merubah keseluruhan sistem di dalamnya”


“Lalu? Kau mau bergabung?”


“Tentu saja tidak” Judith menyandarkan punggungnya. “Aku tidak bisa kembali kesana lagi”


“Aku mendukungmu. Tapi sayang, apa kau tau pemilik baru Victoire?”


Judith menggeleng. “Tidak. Johnny tidak memberitahuku, dan aku juga tidak ingin tahu. Aku tidak mau tau apapun lagi mengenai Victoire”


Hannah mengangguk mengerti akan kalimat Judith. Memang benar Victoire adalah tempat yang memberi mereka kemewahan, tapi Victoire juga tempat yang menghancurkan mereka pelan-pelan.


**


Tubuh Arjuna terhuyung ke belakang tepat ketika Jeanno melayangkan tendangan ke wajahnya. Pemuda itu menghajarnya dengan cepat tanpa memberinya waktu untuk melawan. Di belakang Jeanno, Henry berdiri dengan tangan dilipat di depan dada. Memandang Arjuna yang babak belur dengan prihatin.




“Kutanya sekali lagi, siapa yang terlibat disini?”*



Belum selesai Arjuna mengatur nafas, Jeanno sudah kembali menyerangnya. Tanpa memberinya jeda sama sekali. Pemuda itu nampaknya tidak kasihan ketika kawannya terbatuk-batuk darah.*

__ADS_1



“Jeanno, dengarkan aku dulu”*



“Aku tidak tau apa masalahmu denganku ataupun Nayara. Tapi perbuatanmu, benar-benar tidak termaafkan!”*



Satu tendangan lagi.*



“Jeanno, hentikan. Kau bisa membunuhnya”*



Jeanno menyeringai, mengabaikan peringatan Henry. “Kau bahkan pantas untuk mati, setelah beraninya kau mengkhianati sahabatmu sendiri”*



Jeanno membawa tubuhnya membungkuk, sejajar dengan Arjuna yang wajahnya sudah tak beraturan. “Aku memang sudah tidak memiliki apa-apa. Tapi aku punya kartu Asmu. Bagaimana jika bos ayahmu tahu kalau bawahannya memakan uang perusahaan hampir setengah triliun selama 10 tahun terakhir? Perlukah kau kuingatkan siapa bos ayahmu?”*



Arjuna tercekat, keberaniannya yang semula ada, kini menguap entah kemana. Ayahnya memang bekerja pada perusahaan yang kebetulan pemiliknya adalah saudara dari keluarga Alexander. Jeanno mengetahui kepicikan ayah Arjuna, namun memutuskan untuk menyimpannya sendiri demi nama ‘persahabatan’. Tapi ketika Arjuna mulai bertingkah, maka sudah tidak ada lagi alasan bagi Jeanno untuk menyimpan rahasia busuk keluarga Arjuna.*




Jeanno lantas mengeluarkan ponselnya, menampakkan nama kontak bos ayahnya disana. “Ck! Brengsek”*



Pria Alexander itu terkekeh. Begitu mudahnya melumpuhkan pertahanan Arjuna karena detik berikutnya dua nama lain lolos dari bibir pemuda itu.*



“Andy dan Sharin. Mereka yang mengatur balapan dengan Ethan*”



**


Judith sudah berada di bangunan yang tak asing baginya. Bangunan yang pernah menjadi istana baginya, yang menjadi tempat untuknya mengumpulkan pundi-pundi uang. Tempat itu masih sama megahnya seperti dulu, walau Judith tidak tahu bagaimana dalamnya setelah berpindah kepemilikan.


Benar, Judith berdiri di depan pintu masuk Victoire.


Jangan tanyakan mengapa, jangan salahkan pendiriannya. Otaknya sudah mencapai kebuntuan sehingga hanya menemukan satu-satunya cara untuk mendapatkan banyak uang dalam waktu singkat.


Yaitu kembali menari.


Ya, hanya menari. Setidaknya ia bisa menggunakan waktu satu bulan full untuk menari, dibanding harus menjual apartemen kenangan ia bersama dua sahabatnya.


Pintu terbuka, menampakkan Johnny dengan pakaian serba hitamnya. Terkadang Judith heran mengapa ada manusia sedatar Johnny. Apa dia tidak memiliki emosi lain? Apa Johnny tidak pernah tertawa terbahak-bahak?

__ADS_1


“Selamat datang di Victoire”


Johnny menggeser tubuhnya, mempersilakan Judith masuk. Dengan langkah ragu, ia maju. Menilik bagian dalam bar itu yang sudah diganti sepenuhnya, terkesan jauh lebih mewah, elegan dan berkelas. Judith yakin Victoire yang sekarang akan lebih mampu menggaet banyak pengunjung elite dibanding sebelumnya.


Ia mengikuti langkah Johnny menuju ruangannya. Pria itu mempersilakan duduk dan menyuguhkannya sekaleng soda dingin dari kulkas mini disana.


“Kupikir aku mendengar bahwa kau tidak akan menghubungiku”


Wajah Judith memerah, malu karena pada akhirnya ia merangkak untuk meminta bantuan Johnny. “Aku terpaksa”


“Sulit ya, hidup dengan moral yang lurus?”


“Dengar Johnny, aku memang sedang butuh uang dalam jumlah besar. Itulah mengapa aku terpaksa kemari. Tapi aku mau mengajukan ketentuanku selama aku bergabung disini”


Johnny menyandarkan punggungnya di kursi, merasa tertarik dengan ucapan Judith. “Apa itu?”


“Aku hanya akan bergabung selama satu bulan. Bukan sebagai penari regulermu. Dan aku disini hanya untuk menari, tidak lebih. Jadi kau bisa menolak siapapun pria yang akan mengajakku tidur”


“Berapa yang kau butuhkan?”


Judith membuang nafas kasar. “Satu miliar”


“Kau tau kan uang itu bisa kau dapatkan dengan cepat jika kau melakukan lebih dari menari?”


Judith menggeleng. “Aku hanya menari, selama satu bulan disini, Johnny”


Johnny tersenyum tipis. “Baiklah. Sementara akan kuterima, tapi jika kau berubah pikiran… aku dengan senang hati menyambutmu”


“Jadi.. bisa dimulai nanti malam?”


**


Judith tahu dirinya salah, harus terperosok kembali dalam dunia malam yang menyesatkan. Tapi ia bertekad dari awal tak melakukan hal lebih selain menari. Ia bersumpah hanya menari, setelah itu, setelah uang Jeanno terkumpul ia akan pergi dan tidak menoleh kembali.


Johnny memberinya ruang pribadi sebagai penari ‘kelas atas’. Ia tak tahu siapa rekan sesama penarinya, mungkin beberapa dari Victoire dulu. Judith membuang nafasnya berat. Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, ia merasa sangat tidak nyaman dengan pakaian minim ini. Padahal dulu ia melangkah dengan penuh percaya diri. Tapi sekarang.. jangankan meliukkan tubuhnya di depan mata-mata lapar itu, untuk sekedar membuka jubahpun ia enggan.


“Judith”


Johnny melongokkan kepalanya ke ruangan Judith. Bertukar pandang dengan sang penari melalui cermin. “Sebelum kau turun, pemilik Victoire yang baru ingin menemuimu dulu”


Judith mengangguk. Ia tak tahu siapa pemilik Victoire sekarang. Yang pasti ia berjalan dengan semakin merapatkan jubahnya. Sebisa mungkin menutupi akses kulitnya untuk seminimal mungkin terlihat. Karena bukan menutup kemungkinan pemilik yang baru adalah pria paruh baya mesum.


Keduanya berhenti di pintu jati hitam. Johnny menunjuk dengan dagunya, mengisyaratkan Judith untuk masuk sendiri. Judith belum sempat menolak karena Johnny telah berlalu begitu saja, meninggalkan dirinya sendiri.


Satu kali ketukan, terdengar suara ‘masuk’ dari dalam sebagai ijin. Judith lantas membuka kenop pintu itu untuk memasuki ruangan serba hitam disana.


Kursi itu membelakanginya, membuatnya tidak tahu siapa figur dibalik sana.


“Selamat malam, tuan. Saya Judith.. penari baru disini”


Ruangan itu temaram, bercat serba hitam dengan jendela kaca lebar yang menunjukkan pemandangan malam Ibu kota yang tak pernah tidur. Kursi itu berputar, menampakkan sosok yang berkedudukan sebagai pemilik Victoire yang baru.


“Selamat datang kembali, Judith”


Jeanno Alexander menyapanya dengan senyuman yang tak bisa diterka.


**

__ADS_1


__ADS_2