
Judith tak pernah merasa segelisah ini melihat jarum jam. Ketika waktu menunjukkan pukul dua siang lebih sepuluh menit, disitulah puncak kegundahan hatinya terjadi.
Jam keberangkatan pesawat Jeanno.
Jika ditanya dimana posisi Judith sekarang, maka jawabannya adalah di tokonya sendiri. Ya, perempuan itu tidak mengikuti arah hatinya untuk menyusul Jeanno dan memilihnya. Bukan, bukan karena Judith tidak mencintainya. Lebih kepada… untuk saat ini, logika yang memenangkan pikirannya.
Usai berdamai dengan Owen dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan ibunda kekasihnya, Judith semakin berpikir bahwa mungkin memilih Owen bukan hal buruk. Justru suatu anugerah ketika pria itu menerimanya dengan lapang dada disamping latar belakangnya yang kelam. Justru suatu hadiah ketika ibunda Owen memperlakukannya dengan baik selayaknya anak sendiri.
Mungkin menikah dengan Owen, akan merealisasikan impian Judith akan keluarga yang manis dan ‘normal’. Tanpa ada drama rumit orang kaya yang memusingkan.
Sejak semalam, Judith telah memantapkan hati untuk memilih Owen. Berulang kali dirinya mensugestikan bahwa Owen yang terbaik. Semalampun ia tidur ditemani panggilan video bersama sang kekasih, berbagi cerita mengenai apa saja yang menarik hari itu. Hingga tanpa sadar Judith terlelap dengan damai, tanpa bermimpi tentang Jeanno.
Judith mengira dengan begitu ia telah rela melepas Jeanno dan kebimbangan hatinya. Tapi dirinya salah, karena hari itu ia lalui dengan berat, akibat fokus yang tidak pada tempatnya. Membuat Alya berdiri disamping kasir untuk memastikan bosnya menghitung kue-kue yang dibeli dengan benar. Remaja itu menyernyit, berpikir apakah Judith sedang bertengkar dengan Owen lagi? Karena semalam setau Alya keduanya mesra.
“Kalau kakak lelah istirahat dulu saja. Aku kasihan melihat kakak kena omel pembeli karena salah menghitung belanjaan mereka”
Judith memijit pelipisnya. “Ya, aku sedikit pusing. Maafkan aku, Alya”
“Kakak tidak perlu minta maaf. Sana istirahat”
Tanpa berkilah lagi, Judith undur diri menuju kamar kecil yang berada diruang belakang. Kepalanya berdenyut nyeri. Seharusnya ia tidur, tapi hati kecilnya justru mengarahkannya untuk mendial satu nomor yang tidak seharusnya.
“Hallo?”
“………”
“Judith?”
“Kak….”
Helaan nafas terdengar dari seberang. Seperti tahu maksud gadis itu menelponnya. “Jeanno sudah berangkat. Jika kau mau menyusul, aku akan memberikan alamatnya di Jepang”
“Tidak” selanya cepat. “Aku tidak berniat menyusul”
“Dia nampak kecewa ketika kau tidak muncul. Jeanno sangat mengharapkan kau memilihnya, Judith. Tapi aku mengerti jika kau tidak kemari, untuk apapu alasannya. Jeanno menghormati keputusanmu”
__ADS_1
*
Judith menggigit bibirnya seiring dengan genggaman ponselnya yang mengerat. “Kak Mark.. aku sudah membuat keputusan, tapi mengapa aku tidak bahagia dengan keputusanku? Seperti ada yang mengganjal. Apa aku salah?”
“Judith…” Mark terdiam beberapa sekon. “Yang terjadi antara kalian adalah percintaan yang pelik. Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum memutuskan untuk bersama. Jika kau memang memilih untuk melepaskan Jeanno, maka kembalilah kepada rutinitasmu yang normal. Gundah itu pasti ada, tapi pasti akan memudar seiring dengan berjalannya waktu. Kalian bisa tetap menjadi teman baik. Kau tetap dianggap ibu oleh Aera. Jeanno juga bilang dia tidak akan membatasi komunikasi kalian lagi”
“Kau benar kak, mungkin tidak bersama memang yang terbaik. Rasa gundah ini… hanya sementara, kan?”
“Ya…. biarkan waktu yang menghapusnya, ya?”
Judith mengangguk sekalipun Mark tidak dapat melihatnya. “Ya. Terimakasih kak. Aku harap Jeanno menemukan perempuan yang setara dengannya, supaya dia tidak lagi harus melalui hubungan yang rumit. Kuharap Jeanno dan Aera sehat selalu..”
“Kau juga, Judith. Buatlah bahagiamu sendiri, sekalipun itu bukan bersama Jeanno dan Aera”
Usai mengucap salam, Judith memutus sambungan. Berulang kali ia meneguhkan hati. Mengatakan bahwa yang ia pilih adalah benar. Tidak memilih Jeanno adalah hal yang benar, karena ia tak akan mengalami masalah-masalah berat lagi. Hidupnya akan kembali normal. Rutinitas normal yang telah lama ia impikan. Bekerja tanpa harus memperlihatkan kulitnya. Memiliki kekasih yang baik dan calon mertua yang menyayanginya.
Bukankah itu sempurna, Judith?
**
Mereka bilang waktu yang akan menyembuhkan.
Pernah pada suatu hari, Jeanno tanpa sengaja melihat wajah Judith yang sedang melakukan panggilan video dengan Aera. Sepanjang hari Jeanno lalui tanpa bisa fokus, mengakibatkan dirinya harus berakhir di kantor polisi akibat kecerobohannya berkendara sehingga menyerempet mobil lain didepannya.
Mereka bilang waktu yang akan menyembuhkan. Sudah dua bulan sejak dirinya resmi kalah, tapi ia masih belum rela. Judith membawa sebagian ruang hatinya pergi, menyisakan kosong dan hampa. Jeanno tetaplah seorang Alexander yang profesional dalam bekerja, tanpa orang lain ketahui bahwa ia melalui harinya setengah hati.
“Ada apa, Mark?”
Pria itu sudah tak bisa lagi mengabaikan ponselnya yang berkedip, menampakkan nama sang sepupu disana. Ia telah membiarkan panggilan Mark untuk yang kelima kalinya malam itu, berpikir ingin menenangkan pikirannya dulu. Tapi suami Hannah nampaknya tidak menyerah dan memiliki tujuan kuat sampai Jeanno mengangkat telpon darinya.
“Kau kemana saja? aku menelpon bibi katanya kau masih di kantor”
Jeanno memutarbola mata jengah. “Ya, memang. Dan kau menggangguku”
“Aku hanya ingin memberimu informasi”
__ADS_1
“Cepat katakan, kalau tidak penting kututup”
Hening. Hingga Jeanno menjauhkan ponselnya dari telinga untuk memastikan telpon keduanya masih terhubung. “Mark? Kenapa diam?”
“Aku tahu ini sudah bukan urusanmu lagi, Jeanno. Tapi kurasa kau harus tau”
“….. ini mengenai Judith”
Deg.
Degup jantungnya serasa merosot begitu nama tersebut diucapkan oleh Mark. Kabar penting apakah? Judith baik-baik saja, kan? Rasanya lama sekali menunggu Mark bersuara, hingga otak Jeanno memproduksi berbagai kemungkinan mengenai kabar gadis itu.
“Jeanno… Judith bertunangan dengan Owen”
**
Sepasang netra bulat itu nampak belum letih memandangi cincin perak bertahta berlian mungil indah yang melingkari jemari manisnya. Baru berlalu delapan jam sejak Owen ‘mengikatnya’, menunjukkan keseriusannya untuk bertunangan ketika mereka makan malam. Judith mengangguk, menyerahkan jemarinya untuk dipasangi cincin indah nan sederhana itu. Diakhiri dengan pelukan serta tepuk tangan meriah pada pengunjung restoran.
Dua bulan sejak Judith memutuskan untuk melepas Jeanno dan memilih Owen. Bukankah ini yang Judith harapkan? Owen telah menunjukkan keseriusannya menjalin hubungan yang lebih jauh. Semakin dekat akan impian yang menjadi nyata. Keluarga kecil yang manis dan utuh. Seharusnya Judith bahagia, kan?
Perlakuan ibunda Owen tidak berubah. Bahkan semakin hangat padanya. Sudah beberapa kali Judith menginap di rumah Owen, berbeda kamar, tentu saja. Dan selama itu ia merasa ‘hidup’ kembali. Selayaknya anak perempuan yang dekat dengan ibunya, Judith dibanjiri oleh kasih sayang tak terhingga oleh sepasang ibu dan anak lelakinya. Seandainya saja kepingan hatinya tidak berada di genggaman Jeanno, pastilah Judith menjadi perempuan paling bahagia di dunia saat ini.
Hannah adalah orang pertama yang ia beritahu mengenai pertunangannya. Respon sahabatnya tentu saja heboh dan turut bahagia. Judith sudah menyangka Hannah akan bercerita dengan Mark. Entah apakah Mark akan meneruskannya kepada Jeanno, walau Judith berharap demikian.
Tapi memangnya apa yang Judith harapkan, jika Jeanno tahu dirinya sudah bertunangan? Malah bagus kan, berarti Jeanno harus move on, seperti dirinya.
“Kau hanya gundah. Dulu aku juga begitu menjelang hari pernikahan. Selalu beranggapan apakah ini yang terbaik?”
*
Begitu kata Hannah setiap Judith mengungkapkan kekosongan hatinya. Apa yang Hannah dan Judith alami tentu saja berbeda. Hannah gundah takut dengan pilihannya apakah tepat tidak, sementara Judith gundah karena ia masih mencintai pria lain yang bukan pasangannya.
“Rasanya ingin kabur saja” gumam Judith.
__ADS_1