
Malam berlalu dengan cepat. Tak ada kepastian akan apa yang terjadi kedepannya. Jeanno dan Judith masih di Rumah Sakit, menanti kabar gembira akan sadarnya Mark. Entah kapan masa indah itu akan datang, karena dokter sendiri tidak berani menjaminkan apa-apa. Maria sudah lebih tegar walau terkadang masih menangis jika mengunjungi Mark secara langsung.
“Ayo kuantar kau pulang”
Judith memandang Jeanno heran. “Tuan bagaimana?”
“Aku akan bermalam disini menemani Paman dan Ibu”
“Tapi..”
“Sebelum itu kita harus menjemput Aera di rumah Nora. Tidak enak jika membiarkannya berlama-lama hingga larut seperti ini”
Judith tak memiliki alasan untuk menolak. Tapi disisi lain juga mencemaskan kesehatan Jeanno. “Tuan kelihatan lelah”
“Aku baik-baik saja” Jeanno tersenyum. Menyadari memang ia merasa baik-baik saja. Tidak ada respon negatif dari tubuhnya seperti sebelumnya. Tak ia rasakan aliran keringat dingin atau tubuh yang gemetar. Seakan ketakutannya akan rumah sakit hilang begitu saja. Jeanno yang baru menyadarinya, mengerjap heran. Kenapa bisa tiba-tiba ia tak merasakan apapun? Apa penyebabnya?
“Tuan sudah memberitahu Nora kan kalau kita mau kesana?”
Jeanno mengangguk. Usai berpamitan sebentar dengan Maria dan Jose, keduanya berjalan bersama menuju loby Rumah Sakit. Judith yang merasa ponselnya berbunyi, merogoh benda dalam ponselnya.
“Johnny”
“Angkat saja”
Judith mengangguk. “Halo?”
“Mereka akan menikah dua minggu lagi. Dan setelah menikah… Louis akan membawa Hannah dan keluarganya pindah ke London”
**
“Ibu tidak pernah bermimpi akan tinggal di rumah semegah ini. Memiliki calon menantu yang perhatian dan bertanggungjawab. Kau sangat beruntung, Hannah”
__ADS_1
‘Beruntung’ Hannah membatin. Berpikir apakah dirinya benar-benar terlihat beruntung jika dilihat dari sudut pandang orang lain? Karena ia yang merasakan, memiliki pendapat sebaliknya.
“Dan lagi Louis bersedia membantu Helga untuk bersekolah di Inggris. Yang mana itu impian adikmu, bukankah ini seperti mimpi, Hannah?”
Baru beberapa jam lalu Louis menceritakan rencananya untuk menikahi Hannah dua minggu lagi, kemudian memboyongnya beserta Ibu dan Helga untuk tinggal di London. Berita yang membuat Ibu dan Helga terkejut, Hannah juga sama terkejutnya. Tapi ia sudah terlalu lelah untuk mendebat. Diam hanyalah respon yang bisa ia berikan kala itu. Sementara Haikal lebih memilih untuk tinggal dan bersekolah di tempatnya sekarang. Seluruh biaya hidup yang sudah dijanjikan Louis akan ia tanggung baik kehidupan baru mereka di London, maupun sekolah Haikal di Indonesia.
“Ibu memikirkan impian Helga, tapi apa Ibu pernah memikirkan perasaanku?”
Euforia yang dirasakan Ibu berhenti sejenak. “Kenapa kau berkata seperti itu, Hannah?”
“Ibu, aku tidak mencintainya. Aku mencintai pria lain. Sebelum Louis datang, aku sudah memiliki kekasih yang kucintai sepenuh hati dan mencintaiku setulus hati. Aku menerima lamaran Louis dan menyakiti Mark. Apa menurut Ibu itu awal yang baik?”
“Di mata Ibu, Louis memang baik. Tapi perlu Ibu ingat, di mataku Mark juga baik. Jauh lebih baik. Dia menghormatiku, Bu. Dia tidak pernah menyentuhku diluar batas kenyamananku. Lelaki yang Ibu terima lamarannya, adalah lelaki yang melecehkan putri Ibu. Lelaki yang Ibu sanjung sebagai calon menantu, adalah lelaki yang baru Ibu kenal kurang dari dua hari. Louis tidak pernah mencintaiku, dia hanya terobesi memiliki tubuhku, Bu”
Senyum Ibu surut, bukan karena Ia menyadari bahwa tindakannya salah. Melainkan karena tidak suka jika putrinya membangkang. “Dengar, sayang. Aku melewati puluhan tahun dengan perasaan tersiksa karena telah salah memilih lelaki. Sekarang cinta tidaklah penting, Hannah. Materi jauh memenangkan segalanya. Jika kau melepaskan Louis, kau juga melepaskan kesempatan adik-adikmu memiliki masa depan yang lebih baik. Kau tentu mau kan adikmu sukses dalam karir? Kau tentu ingin melihat Ibu hidup enak?”
Airmata Hannah luruh. “Aku ingin, tapi kenapa harus aku yang berkorban?”
Hannah menarik selimut, berbaring menyamping membelakangi Ibu. Menandakan ia sudah selesai dengan percakapan ini. Mau didebatkan seperti apa, ujungnya akan sama. Ibu tetap memilih Louis dibanding kebahagiaan Hannah sendiri.
**
Jeffrey melepas tuxnya dan meraih pakaian tidur di lemari. “Kau ingin aku membantah Mama dan membuatnya semakin terpojok? Kau tau sendiri migrain Mama akan kambuh jika banyak pikiran”
“Ya, kurasa akan sering kambuh begitu mendengar anaknya telah menghamili perempuan lain”
Jeffrey yang baru saja membuka kemejanya, membalikkan tubuh kearah Tyona yang sedang menghapus riasan di depan cermin. “Apa katamu?”
“Aku yakin pendengaranmu masih normal untuk menangkap kata-kataku barusan. Sudah kubilang, Jeff. Aku tau semuanya”
Jeffrey menggeleng. “Kau salah paham”
__ADS_1
“Jadi perselingkuhanmu hanya salah paham? Kau menghamili perempuan itu juga salah paham? Waw, Renatta akan sangat sakit hati jika mendengar ucapanmu, Jeff”
Ekspresi Jeffrey semakin mengeras begitu Tyona menyebut nama Renatta. Ia melangkah, membalikkan tubuh Tyona menghadapnya. “Darimana kau tau nama itu?”
“Apa itu penting? Kau marah karena aku tau rahasiamu, atau kau marah karena sudah tidak bisa lagi membodohiku, Jeffrey?” Tyona bangkit, menyentakkan tangan Jeffrey.
“Aku lelah dengan semua ini Jeff. Kau menodai pernikahan kita. Kau mempermainkan janji yang kau ucapkan di hadapan Tuhan dan banyak saksi, di hadapanku. Kau melanggar janji setiamu untukku sampai mati”
Tyona hendak melangkah pergi, namun tangan Jeffrey lebih dulu mencegatnya. Agaknya mungkin terlalu kasar hingga pinggiran gaun Tyona sobek. “Lalu apa maumu? Aku tidak ingin kita berpisah!”
Anna membelalakkan mata, tak percaya dengan kemauan Jeffrey barusan. “Kau tidak ingin kita berpisah? Jeff, diluar sana ada perempuan yang tengah mengandung darah dagingmu. Apa kau cukup tega untuk membuat bayi tak berdosa lahir dan tumbuh tanpa ayahnya?”
“Dimana otakmu, Jeffrey!”
Jeffrey masih keukeh dengan pendiriannya. Dicengkramnya dua lengan Tyona erat. “Aku mencintaimu Anna. Akan seterusnya seperti itu”
“Kau masih memiliki kepercayaan diri untuk berkata demikian? Dua hari lalu aku menanyakan hal yang sama dan kau bungkam! Menurutmu aku akan percaya dengan mulut seorang pengkhianat?”
Jeffrey mengguncang tubuh Tyona dengan cengkeramannya di lengan. Membuat Tyona takut karena ia tak pernah melihat Jeffrey sekacau ini. “Sakit, lepaskan!”
“Aku tidak bisa melepaskanmu dan meninggalkan Renatta. Aku mencintai kalian berdua”
Tyona terkekeh, mendadak kepalanya pening. “Maaf, tapi aku masih memiliki pikiran yang jernih untuk tidak tinggal di dalam ‘rumah’ yang pondasinya sudah rusak. Aku masih menyayangi diriku sendiri, Jeff. Aku ingin bahagia. Dan ketika aku sadar bahwa bahagiaku bukan lagi bersamamu, lebih baik aku yang pergi. Renatta dan bayinya jauh lebih membutuhkanmu”
“Tidak! Aku bersumpah tidak akan pernah melepaskanmu, Anna”
Mendadak segala keberanian Tyona yang semula membara, kini surut. Jeffrey bicara dengan nada rendah namun mengerikan. Membuat kuduknya berdiri. Detik berikutnya Jeffrey menciumnya kasar, penuh tekanan dan luapan frustasi. Tyona sempat mendorong dan menamparnya, namun tenaganya yang tak seberapa kalah jauh dibanding tenaga Jeffrey. Ia menyadari jika akhir dari pertengkaran mereka malam ini tidak akan berjalan baik.
Jeffrey mendorongnya ke ranjang mereka, melucuti setiap kain yang menempel di tubuh mereka. Ranjang yang dingin, tempat mereka jarang berbagi gairah akibat kesibukan dan pengkhianatan yang terjadi. Jeff mencumbunya tergesa, seperti tidak ada hari esok. Tyona merintih kesakitan, namun satu waktu Jeff yang sudah begitu mengenalnya, mengetahui dengan cermat titik sensitif tubuh istrinya. Membuat Tyona memekik, melemahkan segala perlawanan dan hanya bisa pasrah.
“Jika kau merasa Renatta lebih membutuhkanku karena dia sedang hamil, maka aku akan melakukan hal yang sama padamu”
__ADS_1
Airmata itu luruh. Bukan karena terharu akan ucapan Jeffrey disela-sela percintaan panas mereka. Namun karena Tyona merasa harga dirinya dilecehkan. Jeffrey memaksanya bercinta bukan karena rasa rindu. Namun karena ‘pembalasan’, ingin menjadikannya tawanan dalam pernikahan mereka sendiri.
**