
“Apa? Memutus kerjasama? Tapi kau sudah menandatangani semuanya, Jeanno. Kau menempatkan perusahaamu dalam kerugian yang besar jika tidak melanjutkan proyek ini”
Jeanno mengusap telinganya akibat pengang dengan pekikan nyaring Sharin. Baru saja Sharin berjingkrak kegirangan ketika Jeanno menelponnya secara personal dan menginginkan untuk bertemu di kantornya. Pikirannya sudah dihiasi dengan imajinasi indah mengenai Jeanno yang kembali menginginkannya dibanding Nayara yang rendahan itu.
Namun apa daya, begitu sampai di ruangan pria itu, Jeanno tanpa basa basi langsung mengatakan pemutusan hubungan kerjasama. Bahkan tanpa mempersilakan dirinya duduk. Mendengar hal itu tentu saja menghancurkan segala bayangan indah sepanjang perjalanan tadi.
“Kau tidak perlu menceramahiku perihal hal seperti itu, Sharin. Aku cukup tahu posisiku, aku sudah menghitung kerugianku. Karena itulah aku mengajakmu bertemu secara langsung. Sebenarnya bisa saja aku memutus lewat telpon” Jeanno menegakkan duduknya, membawa dagunya bersandar di punggung tangan. “Tapi kurasa itu akan sangat tidak profesional”
“Tapi kenapa, Jeanno? Kupikir kita sudah baik-baik saja”
Jeanno tertawa. “Baik-baik saja? kau menampar istriku, Sharin. Aku tidak akan pernah baik-baik saja dengan hal itu”
Sharin melipat tangannya. “Oh, jadi dia mengadu padamu?”
“Tidak”
“Lalu? Kau tau darimana?”
“Aku pulang dalam keadaan pipi istriku yang membengkak dan ujung bibirnya terluka. Kau pikir apa yang harus aku lakukan selain bertanya apa yang terjadi padanya”
Sharin memutar bola matanya dengan malas. “Itu sama saja dia mengadu”
“Awalnya dia bilang sedang sakit gigi. Lagipula jika dia jujur, apa salahnya? Tetap tidak mengubah kenyataan bahwa kau telah menyakiti Nayara”
Wanita di hadapannya nampak kesal. Ia membanting tubuhnya di kursi hadapan Jeanno sekalipun belum dipersilakan oleh sang pemilik. “Kau rela kehilangan miliaran akibat batalnya kerjasama kita, demi wanita itu? Yang benar saja Jeanno”
“Aku bahkan rela kehilangan tahtaku sebagai pewaris bisnis Alexander dulu. Kuharap kau ingat. Dan ‘wanita itu’ adalah istriku, Nayara. Yang tetap kucintai sampai kapanpun. Kerugian yang harus kubayar akibat batalnya perjanjian kita tidak seberapa dibanding aku harus meneruskan proyek dengan orang yang sudah menyakiti istriku secara fisik”
“Dengarkan aku, Sharin. Aku sudah cukup bermurah hati untuk tidak menyeretmu ke polisi untuk kasus yang terdahulu”
Sharin berdehem. Merasa gugup ketika Jeanno sudah membuka masa lalunya. “Lalu? Kau mau memasukkanku ke penjara juga kali ini hanya karena menampar istrimu? Kau harus tau, Jean. Mulut Nayara yang dengan kurangajar mengataiku. Jika tidak begitu aku pasti tidak menamparnya”
“Dia seperti itu karena sudah lelah dengan sikapmu, Sharin. Sudah bertahun-tahun dan kau masih belum menyerah. Awalnya aku memang ingin melaporkanmu ke polisi, tapi Nayara mencegahnya”
“Lalu? Kau ingin aku berterimakasih padanya karena telah mengurungkan niatmu melaporkanku ke polisi?”
Jeanno memandang lurus kearah Sharin. “Aku ingin kau berhenti. Tidakkah kau lelah, Sharin? Sudah bertahun-tahun berlalu. Aku sudah berkeluarga, kaupun sudah memiliki suami”
“Tapi aku mencintaimu, Jeanno!”
“Tidak” Jeanno menggeleng. “Kau tidak mencintaiku. Aku hanyalah obsesimu semasa kuliah. Kau tidak pernah gagal mendapatkan pria manapun sepanjang hidupmu. Aku pria pertama yang menolakmu. Itu sebabnya kau merasa kalah. Aku mengenalmu, Sharin”
__ADS_1
“Mau sekeras apapun kau berusaha, aku tetaplah Jeanno yang hanya mencintai Nayara. Kau membuang waktu dan tenagamu untuk pria yang sama sekali tidak akan melirikmu. Kau memiliki segalanya, Sharin.Pulang dan mulailah berbakti pada suamimu. Aku mengenal Bryan Dharma. Dia sosok yang baik. Jika kau melupakan obsesimu padaku dan mulai belajar mencintai Bryan, aku yakin kau akan mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti yang selama ini kurasakan terhadap Nayara”
Sharin memilih untuk bungkam. Jujur saja ia sudah mempersiapkan diri jika Jeanno akan membentaknya keras karena telah menampar Nayara. Tapi sebaliknya, pria itu justru menyerangnya dengan intonasi lembut.
“Kita berteman baik sebelumnya. Tumbuh bersama di lingkungan yang familiar. Aku tahu kau masih memiliki hati nurani. Sampai SMA aku mengenalmu sebagai Sharin yang baik dan pribadi yang hangat. Lalu apa yang terjadi ketika kuliah, hm? Apa dunia modelling mengubahmu menjadi sosok congkak dan arogan? Yang kemauannya harus dituruti hanya karena merasa dirimu superior?”
“Aku tahu aku memiliki andil dalam kacaunya hidupmu beberapa tahun belakangan ini. Tapi hubungan kita berakhir jauh sebelum aku mengenal Nayara. Itu kulakukan bukan karena kau tidak menarik, tapi karena aku memang menyadari bahwa kita kurang cocok. Bukankah hal yang dipaksakan tidak akan berujung baik? berhentilah membenci Nayara, Sharin. Dia tidak seburuk yang kau kira. Dia tidak mengambil milikmu”
Sharin mengangkat wajah, memberanikan membalas tatapan Jeanno. “Kau cinta pertamaku”
“Oh, aku tidak tahu jika kau menganggapku demikian. Tapi itu tetap tidak berpengaruh pada apapun sekarang”
Sharin mengangguk lirih. “Aku tahu”
“Jadi.. bisakah kau berhenti?”
Wanita itu terdiam sekian menit. Hingga Jeanno merasa bosan sekaligus lapar, namun mengingat Sharin yang masih bungkam, ia akan menunggu.
“Akan kucoba”
Jeanno tersenyum puas. “Kau bisa memulainya dengan meminta maaf pada Nayara. Tapi jika kau belum siap, tidak apa. Aku akan menunggu sampai kau siap”
**
“Aku bertemu dengan Sharin tadi”
Jeanno menyelesaikan suapan terakhir dari kotak bekal yang dibawa Judith. Selang beberapa menit setelah Sharin keluar dari ruangannya, Judith datang membawakan makan siang. Memang seperti itu sejak Nora mengambil cuti selama 3 hari.
“Dia memang habis dari sini”
Judith memicingkan mata. “Mau apa? Menggoda tuan lagi?”
Yang ditanya terkekeh. Untung saja ia tidak tersedak disela-sela minumnya. “Tidak. Aku memang memintanya datang, tapi untuk memutus kontrak kerjasama kami”
“Apa? Tapi.. bukankah tuan sudah tandatangan?” Jeanno mengangguk.
“Aku memang bodoh, tapi setauku jika perjanjian sudah disepakati, kemudian dibatalkan secara sepihak bukankah itu akan menimbulkan kerugian dari pihak yang membatalkan itu?”
Jeanno mengangguk. “Kau benar, dan kau tidak bodoh”
“Tapi alasannya kenapa? Kalau hanya karena dia yang kegenitan, kurasa tuan tidak masalah dengan hal itu”
__ADS_1
“Aku hanya ingin memberinya pelajaran karena telah menamparmu. Dan satu lagi, aku ‘masalah’ dengan dia yang kegenitan”
Jeanno ingat bagaimana risihnya ia ketika beberapa waktu lalu mereka mengadakan rapat di kafe dan kaki Sharin dengan nakal menggoda kakinya dibawah meja.
“Woaah.. hanya karena menamparku? Tuan.. pikirkan kerugian yang tuan hadapi”
“Uang bukan masalah untukku, Judith. Aku hanya ingin memberinya pelajaran. Dan kurasa dia akan mundur setelah tadi kami sempat bicara”
“Oh ya?”
Jeanno mengangguk lagi. “Aku memintanya untuk minta maaf denganmu, well dengan Nayara. Tapi kurasa dia belum siap”
“Pantas saja tadi ketika berpapasan dia hanya memandangku datar. Padahal aku sudah siap melawannya, atau memukulnya dengan kotak bekal jika dia mau menamparku lagi”
Jeanno terkekeh. “Tidak perlu. Kita beri waktu untuk Sharin memikirkan segala kesalahan yang telah ia perbuat. Lagipula batalnya kerjasama ini bukan hanya aku yang mengalami kerugian finansial, pihaknya juga. Hanya porsiku lebih besar”
“Maafkan aku, tuan”
“Untuk?”
“Karena tuan harus kehilangan uang yang banyak. Aku sangat puas jika tuan berhasil membuat perempuan itu kapok. Tapi dari sisi tuan kan tuan juga rugi”
“Astaga kau masih memikirkan itu? tidak apa-apa. Aku lebih baik kehilangan miliaran daripada harus bertemu terus-menerus dengan wanita yang memiliki intensi buruk kepadaku dan keluargaku”
Judith melongo. ‘Lebih baik kehilangan miliran’ katanya? Sebegitu tidak berhargakah uang dimata seorang Jeanno Alexander?
“Omong-omong, terimakasih bekalnya. Aku sangat suka. Kalau bisa kau lanjutkan saja sekalipun Nora sudah selesai cuti”
“Melanjutkan mengirim makan siang maksudnya?” Jeanno mengangguk. “Kau keberatan?”
Judith menggeleng, tentu saja ia tidak keberatan. “Tidak tuan. Tidak sama sekali”
“Kau sudah makan?” Judith mengangguk. Bohong. Ia hanya memakan puding dari pagi. Satu-satunya makanan yang bisa ia makan tanpa keluar lagi.
“Kau terlihat pucat. Apa kau baik-baik saja?”
“Eh? Ya.. aku baik-baik saja”
Jeanno berdehem. “Mengenai perjanjian kita… aku berpikir ingin memperpanjangnya. Apa kau keberatan?”
**
__ADS_1