Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
ending


__ADS_3

Nathan mendengus kesal karena sejak tadi ia sudah membujuk Alayya untuk Tidur ke kamar, tapi wanita beranak dua itu masih saja ingin berlama-lama menemani anak-anaknya.


"Sabar sayang, sebentar lagi Arya tidur, tadi kebangun"


Alayya tertawa karena suaminya itu begitu lucu, walaupun Alayya membelakangi Nathan, Alayya tau betul pria itu sedang marah, terdengar hentakan kaki saat Nathan keluar dari kamar anaknya.


"lucu banget sih, nggak mau kalah sama anak-anaknya" monolog Alayya.


setelah memastikan anak-anaknya sudah tertidur pulas, barulah Alayya tinggal kan kamar dan menemui bayi besarnya yang lain.


Nathan langsung membalikkan badannya saat mendengar pintu dibuka, ia kesal, sedikit cemburu dengan anaknya sendiri.


"cie cie ada yang marah kah nih" ejek Alayya, wanita itu duduk di kursi rias, ia lakukan perawatan wajah sebelum tidur.


"yakin mau marah terus, Hem" Nathan abai


"ya udah... terserah" Alayya ikut membaringkan tubuhnya di samping Nathan, ia masuk juga ke dalam selimut, sekarang Hanya lampu tidur yang menjadi penerangan.


Alayya melingkarkan tangan di pinggang Nathan. Alayya sedikit mendidih tubuh suaminya, kepalanya berada di antara leher, Alayya bisa Melihat sisi wajah murung suaminya.


Alayya menggoda dengan sesekali mencium bibir Manyun Nathan.


"lucu banget sih, cemburu sama anak sendiri"


"ih, Siyapa juga yang cemburu" Nathan membuka matanya.


"masa sih?"


"terserah" kesal Nathan


"gemas banget sih bapak dua anak ini"Alayya mencubit gemas pipi sang suami.


Alayya kembali menggoda dengan mencium leher sang suami, jelas hal itu membuat suasana berubah, Alayya membangunkan harimau yang sedang tidur.


"jangan menggoda ku, alayya"


Alayya tidak peduli, ia tetap menghirup dalam leher Nathan.


Nathan yang terus di pancing tidak bisa lagi menahan sesuatu di dalam tubuhnya, ia dengan mudah membuat tubuh sang istri yang tadi berada di atas tubuh suaminya... Sekarang sudah berada di depan Nathan, wanita itu tersenyum jahil, Nathan menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.


"malam ini aku buat kamu nggak bisa tidur"


"yakin mampu, nggak encok pinggang nya" ejek Alayya, Nathan menggelitik pinggang alayya sampai wanita itu tertawa terbahak-bahak.


"ngejek aku kamu yaa, Hem"


"ampun Nat, ampun" Nathan mengentikan gelitikannnya, ia peluk erat wanita nya, Nathan mencium ubun-ubun Alayya.


"Aku sayang banget sama kamu Al"


"aku juga Nat"


....


"sayang, dasi ku yang warna navi mana" teriak Nathan di dalam kamar

__ADS_1


"ada di tempat dasi kamu, Nat" Alayya sedang merapikan kamar anak-anaknya


"nggak ada Loh, sayang"


"cari semua nathan"


"nggak ada, aku sudah cari semua"


Alayya berdecak kesal, ia hentikan aktivitas sesaat, bukan hanya memiliki dua anak, tapi Alayya seperti memiliki bayi besar juga.


Alayya berkacak pinggang di depan pintu, pria di dalam sana belum selesai juga dengan pakaiannya.


" minggir" Alayya berjongkok agar lebih mudah mencari dasi di dalam laci.


"nah" langsung benda kecil itu berhasil Alayya temukan


"makanya kalo cari itu pakai mata, bukan mulut"kesal Alayya.


"aku Makai pakai tangan sayang"


"terserah, sekarang pakai pakaian mu, dan turun, anak-anak sudah menunggu"


"siap bos"


cup


sempat sempat nya Nathan mencium pipi kiri Alayya


.....


keluarga kecil itu sedang menghabiskan waktu di salah satu pusat perbelanjaan, Alayya yang sedang menggendong Arya terus mengabadikan momen ayah dan anak yang sekarang sedang bermain salah satu wahana permainan, mobil-mobilan.


" pelan-pelan Nat" teriak Alayya memperingati, karena sudah berapa kali Nathan Hampir menabrak mobil lain .


dari satu wahana ke wahana lain, sampai kedua orang itu lelah sendiri, mereka sedang duduk menikmati eskrim di tangan, sedangkan Alayya sedang mengasihi Arya.


"ayah nanti naik kincir angin ya"


"iya sayang, tapi di sini nggak ada kincir angin, kincir angin ada di pasar malam " Raisa mengangguk, Alayya membersihkan sudut bibir Nathan dengan ibu jarinya.


"makan ko cemong, kalah sama anaknya "


"Raisa tertawa, lebih tepatnya menertawakan ayahnya yang terkena Omelan ibunya.


"Raisa juga tuh mulai cemong Al" Nathan tidak terima di marahi sendiri.


"mana ada, nih Mulut Raisa bersih" langsung saja Nathan menoel eskrim nya dan ia tempelkan di wajah raisa.


"AYAAAAH" kesal Raisa tidak terima.


"sini-sini ibu bersihin"


"weeey, kotor juga" ejek Nathan.


"sudah ah"

__ADS_1


"habiskan eskrim kalian, kesian adeknya, ketiduran"


"Arya tidur Al?"


"iyaa, kan Emang sudah jamnya"


....


anak-anak mereka lagi-lagi di jemput kakek dan neneknya, dan sekarang tinggal lah Alayya dan Nathan berdua dirumah, Nathan turun dari lantai atas menuju dapur, ia letakkan laptop dan beberapa berkas di meja makan, Alayya masih membelakangi Nathan, karena Alayya masih sibuk menata isi kulkas yang mereka beli tadi.


"sayang, masih lama?"


"dikit lagi, kenapa turun?"


"pusing banget, banyak laporan yang masuk" keluh Nathan, Alayya yang sudah selesai dengan pekerjaannya mencuci tangan, kemudian ia lingkarkan tangannya di leher sang suami.


pelukan Alayya seperti obat penenang pusing untuk Alayya, perasaannya langsung hangat seketika, Nathan melepaskan kacamata nya, dan mengusap-usap punggung tangan Alayya.


Nathan menarik dan menuntun Alayya untuk berpindah kesapingnya, Nathan sedikit memundurkan kursi yang ia duduki, kemudian mengangkat tubuh Alayya untuk duduk di atas pangkuannya.


pandangan mereka bertemu, Nathan merapikan anakan rambut Alayya ke belakang telinganya.


"jadi ingat masalalu, wanita yang ada di hadapan ku pernah memiliki dendam yang begitu besar dengan ku" ucap nathan menyunggingkan senyum.


"aku sering marah nggak jelas kalo mau main kerumah, atau mampir buat jemput Alesha" Nathan Mengangguk.


"iya... kamu benci kesal, atau cemburu karena aku jemput Alayya"


"kesal lah, ya kali cemburu, aku tuh benci banget liat kamu, dengar suara kamu aja baut darahku mendidih, tau nggak" Nathan tertawa, memang benar apa yang Alayya ucapkan, Nathan akui itu.


"tapi sekarang... kalo nggak Denger suara ku ada yang rindu, kayaknya?" Nathan menggoda.


"kepedean"


"yakin, ya udah... besok aku setujui untuk jadi wakil papah dan mungkin balik satu bulan kedepan "


"yaaaaa, Nathan... jangan Bercanda " jerit Alayya, Nathan kembali tertawa.


"tuh kan... baru aja bilang kepedean"


"tau ah, males" Alayya ingin beranjak tapi Nathan tahan tubuhnya. Nathan memeluk erat Alayya yang masih ada di atas pangkuannya, Nathan letakkan kepalanya di ubun-ubun Alayya, Alayya pun sama, ia lingkar kan tangannya di pinggang sang suami, begitu erat.


"aku nggak bisa bayangin... andai waktu itu kamu lanjutin perceraiannya, mungkin aku akan memilih hidup sendiri dan menyesali perbuatan ku seumur hidup dalam keterpurukan sampai aku di jemput tuhan" Alayya langsung melepas pelukannya, ia tutup mulut nathan dan menggeleng.


"aku sudah bilang ke kamu, jangan ngomong kaya gitu, aku nggak suka" Nathan mengangguk, Alayya kembali memeluk Nathan.


"janji akan terus bersama Hingga mau memisahkan"


"janji" Alayya menjawab dengan anggukan.


selesai


akhirnya tamat juga, aku mau ngucapin makasih banyak buat kalian yang dukung cerita ini,yang komen yang like, yang vote... walaupun vote nya cuman dua hehehehe, aku juga mau bilang makasih buat kalian yang masih baca yang setia nunggu up nya, padahal aku ngerti banget kalo up, tapi kalian masih aja mau nunggu dan baca,makasih banyak yaa, maaf jika banyak terdapat kekurangannya dari tulisannya, saya, saya akan terus belajar lagi, mungkin ini akhir dari cerita " ibu pengganti" tapi bukan dari Akhir dari kehaluan-kehaluan saya wkwkwkwkwmwmwmwk, saya akan lanjutkan cerita pernikahan Aksa dan Haura, tapi dengan judul yang berbeda, mau di gabung di sini tapi konflik beda, jadi aku bikin judul yang baru, tapi belum di up, kalo nggak ada halangan bakal di up bulan puasa nanti, masih nabung bab,ya udah itu aja yang mau aku sampaikan.


makasih sekali lagi, aku berharap semoga cerita cerita yang aku tulis juga bisa sukses, Aamiin hehehe.

__ADS_1


love sekebon salam dari ku, Daisha


__ADS_2