Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 131. Unfaithful


__ADS_3

“Bagaimana dokter? Apa bayiku baik-baik saja?”


Judith menunggu cemas jawaban dari dokter Kiran. Wanita cantik itu beberapa kali menghela nafas ketika memeriksanya. Membuat Judith semakin khawatir.


“Maaf jika ini terlalu sensitif, tapi apa pasangan anda melakukannnya dengan kasar?”


Judith menggigit bibir bawahnya. “D-dia.. hanya lepas kontrol, dokter”


“Mungkin boleh nyonya sampaikan kepada pasangannya untuk jangan dulu melakukan hubungan, karena diperiode ini masih sangat rawan. Beruntung, janin nyonya kuat. Tapi saya tidak menjamin jika kejadian seperti itu terulang kembali”


Sepasang tangan Judith ditaruh diatas rahim, seakan memeluk sang janin. “Syukurlah, terimakasih banyak dokter”


Judith keluar dari ruangan Kiran usai proses pemeriksaan selesai. Hati kecilnya bersyukur bukan main bahwa kandungannya baik-baik saja.


“Mama tau kau kuat. Tetaplah seperti ini, temani mama”


**


Bohong jika perlakuan keluarga Jeanno kala itu tidak menyakitinya. Bohong jika ia tak menahan diri untuk tidak berteriak keras untuk memohon mereka supaya berhenti tidak mempermalukannnya. Bohong jika Nayara mengatakan dirinya tidak ingin menangis.




Nayara tidak pernah malu dengan pekerjaan orangtua kandungnya, jika memang yang dikatakan orangtua Jeanno benar adanya. Namun ia kecewa, mengapa harus mengetahui dari orang lain. Mengapa mereka tidak mempunyai usaha untuk menemuinya langsung, apa kedua orangtuanya begitu tidak menginginkannya?*



“Sayang…”*



Pundak itu tersentak kala sepasang tangan mengalung di pinggangnya. Jeanno menumpukkan dagunya di pundak Nayara, bergelayut manja.




“Sedang memikirkan apa?”*



Nayara bersyukur, memiliki Jeanno yang tanpa ragu mengambil keputusan serius untuk hubungan mereka kedepannya. Sekalipun dengan resiko besar dimana ia ‘dibuang’ oleh keluarganya. Akan tetapi disisi lain, terkadang Nayara mempertanyakan, apakah dirinya seberharga itu sehingga pantas dipilih oleh Jeanno?*



“Nana..?”*



Dalam hitungan detik, tubuh gadis itu berbalik berhadapan dengan sang terkasih. Jeanno bisa melihat tatapan penuh kecemasan itu. “Apa yang kau pikirkan, hm?”*



“Tidak ada” Nayara mengulas senyum. Yang tentu saja bisa Jeanno terka bahwa itu senyum kepalsuan. “Jangan berbohong padaku”*



Nayara mengulurkan tangannya untuk mengalung di tengkuk Jeanno. Disatukannya dahi keduanya. “Aku hanya berpikir bagaimana hidupku bisa berubah drastis seperti drama sejak mengenalmu”*



Kedua alis pria itu menyatu. “Kau tidak ingin menjadi peran utama, ya?”*

__ADS_1



“Bukan tidak ingin. Tapi tidak menyangka. Kupikir calon suamiku adalah lelaki yang sepadan denganku. Tapi kau.. kau jauh diatasku, Jeanno. Jadi aku berpikir apa aku cukup pantas untuk membuatmu rela dibuang oleh keluargamu sendiri? Kita bicara Alexander disini, Jeanno. Kau Alexander, kau bisa melakukan apapun didunia ini”*



“Tapi kau memilihku. Gadis sederhana yang tidak memiliki apa-apa. Lulusan SMA, asal-usul tidak jelas. Kau masih ada waktu jika ingin berhenti”*



Nayara memejamkan matanya, menikmati deru nafas Jeanno yang menyapa wajahnya. “Aku melepaskanmu. Aku melepaskanmu jika kau ingin berhenti”*



“Kau mengira keputusanku malam itu hanyalah emosi belaka?”*



Nayara terdiam. Diamnya cukup lama hingga ia bisa mendengar dentang jarum jam di ruangan itu. “Kau melepaskan banyak hal ketika kau memilihku. Aku mencintaimu, Jean. Sangat mencintaimu. Tapi aku tau bagaimana rasanya hidup tanpa kedua orangtua, aku tau seperti apa pahitnya. Aku tidak mau kau menyesal dikemudian hari”*



“Kau bilang keluargamu menyulitkanku. Aku tidak ingin kau menikahiku karena dorongan rasa bersalahmu, salah satunya”*



Jeanno menangkup pipi gadisnya, membuat dagu itu sedikit terangkat untuk bertukar tatap dengannya. “Kau tidak memiliki hak untuk menyuruhku berubah pikiran. Aku memintamu menikah denganku bukan karena rasa bersalah, tapi karena aku mencintaimu. Aku tidak peduli jika tidak diakui oleh keluargaku. Jika harus memiliki istri lulusan SMA, atau asal-usul tidak jelas. Aku tidak peduli, Na. Jika aku tidak serius dengan ucapanku, saat ini aku tidak ada di hadapanmu. Tapi pada kenyataannya, aku sangat tidak sabar untuk menikah. Aku tidak sabar untuk menjadi ayah dari anak-anakmu. Aku tidak sabar untuk menjalani hari tua bersamamu”*



“Kau juga tidak berhak untuk menilaiku lebih tinggi diatasmu. Kita sama, aku sekarang tidak memiliki apa-apa. Jika kau pikir aku akan mengalami pahitnya hidup tanpa orangtua, kau pikir apa aku bahagia jika hidup bersama orangtua yang mengatur hidupku dengan skenario mereka?”*




Nayara tidak bisa menahan haru mendengar kesungguhan Jeanno, tanpa menyadari setitik airmata luruh begitu saja. Benar, saat ini mereka hanya memiliki satu sama lain.*



“Ya, ayo kita mulai dari awal, Jeanno”*



**


Belum genap dua hari.


Judith memandang ponselnya dengan gamang. Jeanno tak mencoba menghubunginya. Padahal jika pria itu meminta maaf, atau minimal menyadari kesalahannya, Judith akan berbesar hati memaafkannya. Sekalipun perih itu masih terasa, namun sekali lagi, ia memaafkan karena ia mencintai.


Aera, bagaimana kabar anak cantik itu? perayaan hari Ibu kurang dari enam hari lagi. Seharusnya Judith sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan fisik dan mental bocah itu supaya bisa memberikan yang terbaik. Seharusnya Judith menemaninya selama proses latihan sepulang sekolah, seperti yang sudah-sudah.


Apa Aera tidak menanyakan keberadaannya yang menghilang selama dua hari?


Baru saja asik dengan pikirannya, benda pipih itu bergetar. Bukan Jeanno, melainkan nomor kantornya yang ia yakini Nora sebagai seseorang yang tengah menunggu diseberang sambungan.


“Ya?”


“Nona Judith, apa bisa ke kantor? Tuan ingin bertemu”



__ADS_1


**


Penolakan.*



Satu kata yang paling tidak disukai oleh Sharin Widjaja. Seumur hidup ia tak pernah menerima penolakan dalam bentuk apapun. Hal itu memicu amarah ketika dengan lancang Jeanno menjadi orang pertama yang memberinya perlakuan seperti itu. Menolaknya mentah-mentah, seperti sampah yang tak berharga. Terlebih fakta bahwa pria tampan itu jauh lebih memilih gadis yang notabene tidak memiliki apa-apa.*



Sharin pikir, dengan dirinya yang sukses mengantongi perhatian dari Thomas dan Yvone Alexander, semua akan berjalan mulus. Terlebih ia mendengar hampir enam bulan Jeanno tidak berhubungan lagi dengan Nayara. Dipikirnya jalan kedepannya akan lancar, menjadikan ia dan Jeanno terikat akan cincin pertunangan.*



Satu hal yang Sharin tidak sangka-sangka adalah keseriusan Jeanno terhadap perasaannya kepada Nayara. Ia tahu Jeanno mencintai gadis itu, tapi tidak mengira bahwa akan seberani itu meninggalkan portofolio keluarganya yang luar biasa demi bersama Nayara.*



Gadis yang notabene bukan siapa-siapa. Tidak memiliki apa-apa.




Tak habis Sharin berpikir, apa sebenarnya keistimewaan dari Nayara? Nayara memang manis. Tapi dari ujung rambut hingga ujung kaki, tak ada satupun sapuan benda mahal yang melekat. Memang ia pintar, tapi dengan beasiswa yang dicabut, jenjang pendidikan maksimal gadis itu hanyalah tingkat menenngah atas. Jauh dari kata sepadan jika ingin bersanding dengan Jeanno. Apa Nayara seksi? Tidak. Menurut pandangan Sharin, jika dibanding tubuhnya yang memang seorang model yang tak hanya tinggi dan semampai, Nayara lebih pendek dan tubuhnya kurus. Ringkih seperti orang sakit. Lalu apa kesitimewaan yang Jeanno lihat? hingga membuatnya bertekuk lutut di hadapannya. Gadis itu seperti menaruh seluruh hidup Jeanno di telapak tangannya.*



Kekalahan.*



Sharin tidak pernah menerima kenyataan bahwa ia akan kalah. Terutama karena rivalnya adalah seseorang seperti Nayara. Belum lagi posisi tertolak dihadapan banyak orang. Sharin yakin wajahnya merah padam akibat malu akan kejadian tempo hari. Bahkan berita penolakan itu sudah sampai ke telinga beberapa mahasiswa dan mahasiswi termasuk kawan-kawan dekatnya. Alih-alih menenangkan, mereka justru meledeknya. Mengatakan ia sudah kalah pamor dengan si gadis sederhana. Mengatakan bahwa kecantikan dan kemolekannya tidak cukup untuk memikat Jeanno Alexander.*



Sharin tidak suka itu. Ia benci setiap kata yang mereka lontarkan padanya. Sharin kalah. Sharin ditolak. Sharin tidak cukup cantik. Sharin dibuang. Sharin diabaikan.*



Ia tidak menerima itu.*



Sang ayah sudah memberinya wejangan untuk melupakan Jeanno. Sang Ibu sudah menyiapkan daftar nama pria yang sekiranya akan membuatnya move on. Tapi Sharin tetap tidak bisa. Ia telah memilih Jeanno. Itu artinya mau sampai kapanpun, ia akan berusaha supaya Jeanno menjadi miliknya.*



Jika kedua orangtuanya tidak bisa membantu, maka biarlah ia mencari cara lain.*



Teringat akan beberapa nama, jemari Sharin meraih ponsel. Mendial satu nomor yang ia yakin akan membantunya.*



“Andy? Ya, ini aku.. Sharin. Bisa kita bertemu? Oh, bawa Arjuna dan Henry”



***


__ADS_1


__ADS_2