
Satu minggu terakhir benar-benar padat bagi Jeanno. Ditinggal Mark berbulan madu dua minggu, disusul Nora yang diijinkannya cuti satu minggu. Seharusnya tiga hari, namun karena tahun lalu sekretarisnya tidak cuti, jadilah Jeanno memutuskan untuk memberinya satu minggu.
Dalam jangka waktu itu pula, pulang malam menjadi rutinitasnya. Bahkan pernah dua malam Jeanno menginap di kantor. Membuat dirinya harus mendengarkan omelan Judith yang menyuruhnya untuk istirahat demi kebaikan. Wanita itu juga tidak pernah absen membawakan makanan saban hari dan menungguinya menghabiskan makanan.
“Mark? Laporanmu yang kuminta terakhir, apa sudah kau berikan padaku?”
“Ck, pantas saja kucari tidak ada. Dimana? Biar kuambil”
Jeanno memutus sambungan telponnya sepihak setelah Mark memberitahu lokasi file yang ia cari. Sembari menggerutu, dibawa langkahnya menuju ruangan Mark yang berada satu lantai dibawahnya.
**
Mereka bilang, jangan jatuh cinta terlalu dalam. Mereka bilang, jangan menaruh harapan kepada manusia. Mereka bilang, jika kau kecewa maka jangan salahkan dirinya. Karena kau sendiri yang memiliki harapan tinggi padanya.
Jeanno terlelap. Wajah bak dewa itu terlelap damai, seakan tak pernah melakukan kesalahan apapun. Seakan tak pernah menyakiti hati Judith. Jeanno tertidur usai persenggamaan secara paksa, yang jauh dari kata lembut. Sedikit beruntung ribut-ribut di kamar Judith tidak sampai membangunkan Aera yang tertidur di kamar sebelah.
Dibanding Jeanno, Judith tentu saja berbeda. Jangankan pulas, karena sekali ingin terlelap, kejadian pahit beberapa menit lalu membayang. Membawa perih luka yang baru terbentuk. Airmata Judith sudah mengering, keadaannya menyedihkan. Baik tubuh maupun hatinya terluka. Ia tak tahu apa yang terjadi pada Jeanno, apa yang melatarbelakangi pria itu sehingga berubah tingkah lakunya. Siang tadi ketika ia mengantar makanan, semua masih baik-baik saja.
Apa karena mabuk? Tidak. Judith pernah bersama pria itu ketika sedang minum, dan mabuknya Jeanno tidak semengerikan tadi.
Sebelumnya, usai mereka bercinta, Jeanno selalu memperlakukannya dengan lembut. Menarik selimut untuknya, menawarinya untuk membantu membersihkan tubuhnya, berakhir bergelung dalam dekapan untuk menjemput lelap. Judith pernah mendapat perlakuan kasar ketika bercinta dengan kliennya dulu, tapi mereka hanya memberinya luka pada tubuh yang bisa ia sembuhkan dalam jangka waktu beberapa hari. Berbeda dengan Jeanno. Pria itu memberinya luka yang menganga, yang sudah pasti akan sulit disembuhkan.
“Pelacur harus diperlakukan seperti pelacur”
Kalimat itu terngiang bak ribuan jarum yang menusuk gendang telinganya. Jika saja Jeanno mengatakannya lebih lirih, karena lebih baik Judith tidak mendengar kalimat itu keluar dari bibir pria yang dicintainya.
Setelah apa yang mereka lalui bersama hampir enam bulan terakhir, benarkah dimata Jeanno, Judith hanyalah perempuan malam yang tidak sebanding dengan mendiang istrinya? Benarkah selama ini pria itu hanya memanfaatkan tubuhnya untuk kepuasan batin akibat kehilangan Nayara terlalu dini?
Netra sendu itu kembali menggenang akan airmata. Judith mengulurkan tangan, menyentuh samar wajah Jeanno. Ia mencintai pria itu, demi Tuhan Judith ingin menghabiskan waktu selama yang ia mampu bersama Jeanno dan Aera. Namun jika Jeanno tidak menghargai keberadaannya sebagai dirinya sendiri, maka disitulah Judith menyadari bahwa tempatnya bukan disini.
Perempuan itu meringis menahan perih kala ia bangun dari tidurnya. Dengan gerakan pelan, ia meraih pakaian dari lemari dan memakainya. Sedikit lega karena tak melihat ada aliran darah mengaliri pahanya, ia berniat memeriksakan kandungannya esok hari.
‘Tuan, ijinkan aku untuk memiliki waktu sendiri selama dua sampai tiga hari. Tuan tenang saja, aku akan menyelesaikan perjanjian kerja kita’ – Judith-
Judith memilih pergi usai berdiri cukup lama, memandangi Jeanno yang masih khusyuk dalam tidurnya. Perempuan itu kemudian beralih ke kamar Aera, mengecup kening gadis kecil itu cukup lama.
“Maafkan mama. Mama pergi sebentar ya? mama janji akan datang ke acara hari Ibu. Mama menyayangi Aera”
**
“Papamu marah besar. Dia meminta pers yang datang untuk tidak memberitakan apapun mengenai acara malam itu. Sebagai gantinya, media mengganti judul headline dengan acara amal”
Jeanno mencibir. “Pencitraan”*
__ADS_1
Mark menghela nafas sebelum kembali menyambung. “Kau yakin dengan ini? Maksudku, kita sama-sama tahu watak dari papamu. Aku yakin beliau serius dengan kata-katanya. Terlebih banyak sekali orang-orang yang menyaksikan”*
“Ya..” Jeanno memandang sang kakak sepupu serius. “Aku serius, Mark. Aku tahu papa tidak main-main. Karena akupun baru mengetahui tadi pagi kalau semua kartuku sudah dibekukan. Yang kumiliki hanya apartemen ini karena unit ini diberikan untukku, atas namaku sebagai hadiah ulang tahun ke-tujuh belas”*
“Lalu? Apa rencanamu?”*
“Aku akan menikahinya”*
“Kau bergurau”*
Jeanno menggeleng pelan. “Aku yakin dengan keputusanku. Aku memilih Nayara. Aku menginginkannya diatas keluargaku sendiri”*
“Tapi kehidupan setelah menikah tidaklah mudah, terlebih keadaanmu yang sekarang”*
“Berhentilah memandangku dengan tatapan menggelikan seperti itu, Jeanno”*
Yang dilempar bantal hanya terkekeh.*
“Bagaimana dengan Nayara? Maksudku setelah semalam dipermalukan, apa dia baik-baik saja?”*
Jeanno meraih bantal dari Mark, untuk disandarkan di pahanya. “Dia hanya tidak percaya dengan upaya papaku untuk memisahkan kami. Sampai sebegitunya, katanya”*
“Mengenai asal usul orangtuanya… bagaimana?”*
__ADS_1
“Itu..” Jeanno memandang kearah lantai. “Entahlah, Mark. Nayara sendiri mengatakan tidak tahu sama sekali mengenai informasi kedua orangtua kandungnya. Tapi dia bilang, jika memang yang dikatakan di pesta semalam benar adanya, dia tidak apa-apa. Lahir dari rahim perempuan malam bukanlah keinginannya, yang terpenting ia menjalani hidup yang jauh lebih baik dari ayah dan ibunya. Nayara juga mendoakan semoga keadaan mereka baik-baik saja”*
“Wow… kekasihmu, benar-benar berhati besar”*
Jeanno tersenyum sedih. “Ya, kau tahu yang lebih mengejutkan?”*
“Apa?”*
“Dia bilang sudah memaafkan papa dan mamaku atas segala ucapan dan perlakuan mereka semalam. Mark, aku yang menyebabkan dia kehilangan beasiswanya. Aku yang menyebabkan dirinya kehilangan tempat tinggal. Tapi dia masih mau menerimaku, memaafkanku dan keluargaku. Yang bahkan aku saja tidak yakin apa bisa memberi maaf untuk kedua orangtuaku”*
Mark mengulurkan tangan, menepuk pundak Jeanno. “Kurasa keputusanmu sudah benar. Kapan tanggalnya? Aku akan membantumu semampu yang aku bisa untuk menyiapkan pernikahan kalian”*
***
Mood Jeanno berantakan. Aura mengerikan menguar dari radius jauh, bahkan Nora hanya berani bercakap dengan Jeanno melalui telpon. Malangnya gadis itu, usai selesai healing, bukannya melepas penat malah dihadapkan oleh bosnya yang nampak tengah emosi.
Sementara di ruangannya, dada pria itu naik turun dengan gemuruh emosi. Gejolak amarah itu tak kunjung hilang sejak semalam. Bahkan setelah ia menenggak alkohol, usai melampiaskan kekesalannya kepada perempuan malam itu. Faktanya Jeanno semakin murka karena keesokan harinya ia terbangun seorang diri, hanya ditemani oleh notes penuh omong kosong.
“Berani-beraninya perempuan rendahan sepertinya menipuku” geramnya.
Mata elang itu beralih kepada map yang ia temukan disalah satu laci kerja milik Mark. Yang ia lihat secara tak sengaja ketika Jeanno hendak mencari berkas yang ia cari tempo hari. Map berisi file mengenai Judith, dengan rincian yang jauh lebih lengkap dari apa yang Mark sampaikan padanya dulu. Bodohnya Jeanno yang tidak menyelidikinya, karena ia sudah terlanjur percaya pada Mark.
“Ananta Judith, merupakan nama yang ia ganti ketika dirinya menginjak usia 20 tahun. Judith mengganti namanya secara legal karena tidak ingin ada bayang-bayang nama ayah dan ibunya yang terselip pada namanya. Nama lahirnya, Aleta Maharani Johan. Aleta, putri dari Johan yang merupakan mucikari. Dan putri dari Maharani, mantan wanita malam ‘asuhan’ Johan”
Rahang Jeanno mengeras. Jadi informasi yang papanya serukan dulu mengenai keluarga Nayara, sebenarnya adalah latar belakang keluarga Judith? Sebegitu bodohkah orang suruhan papanya sehingga mereka salah menyelidiki oranglain hanya karena mereka berdua mirip? Karena latar belakang orangtua Judith, Nayaranya harus menanggung malu di hadapan banyak orang. Mendapatkan julukan ‘anak haram’ yang tersemat hingga menimbulkan slentingan yang mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. ‘Mungkin itu sebabnya Nayara mampu menggaet bujang impian seperti Jeanno, ya karena menggunakan tubuhnya untuk memikat’. Kata mereka.
Lambat laun Jeanno setuju dengan ungkapan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Karena nyatanya Judith sama seperti ibu kandungnya. Sama-sama wanita rendahan yang memakai tubuh mereka sebagai ‘senjata’ andalan untuk menggaet para pria.
Cih, memikirkannya kembali membuat Jeanno jijik. Jika saja keluarga Judith tidak ada, sudah pasti nama Nayara tidak sekotor itu. Sudah pasti Nayara masih memiliki image yang baik sampai ia meninggal. Sudah pasti tak ada perkataan menyakitkan di pesta malam dulu.
Judith, gadis itu sudah menghancurkan wanita yang ia cintai. Dan sekarang Jeanno akan balas menghancurkan hidupnya.
“Jangan kabur dariku, Aleta. Jangan sebelum kau merasakan hidup seperti di neraka”
__ADS_1
*