
“Jadi, kapan kau berangkat?”
Jeanno menatap aliran champagne yang dituangkan Mark kedalam gelasnya. “Minggu depan. Kemudian minggu berikutnya aku akan pergi ke Jepang”
“Untuk?”
“Mengambil alih proyek yang sedang dikerjakan papa. Papa mempercayakanku untuk mewakilinya”
Takjub, Mark menggelengkan kepalanya. “Kau belum bertemu dengan Paman Thomas, tapi sudah merencanakan banyak hal”
“Lalu Aera.. bagaimana? Kau pikir satu minggu akan cukup baginya beradaptasi dengan orangtuamu?”
“Tidak” Jeanno menggeleng. “Mama akan ikut denganku ke Jepang”
Mark menghirup dalam champagnenya sebelum menyesap tandas. “Aku masih sulit percaya, kau akan meninggalkanku pergi”
“Ck, jangan berlebihan” Jeanno memalingkan wajah, sedikit geli akan ucapan Mark. “Kau bisa pergi ke Jepang kapan saja. Mungkin setelah anakmu lahir dan lumayan besar”
“Kau jahat sekali memisahkan Aera dari adiknya”
“Lalu Judith. Bagaimana? Maksudku.. apa kau akan tetap menyuruh orang-orangku untuk menjaganya?”
Jeanno mengangguk, tanpa perlu berpikir lama. “Ya. Memang ada Mikha yang melaporkan setiap saat, tapi dia hanyalah gadis biasa. Aku tetap butuh penjaga yang bisa melindungi Judith dari bahaya”
Mark meraih ponselnya yang menunjukkan adanya pemberitahuan pesan masuk yang rupanya berasal dari sang ayah. Tak ada ucapan apapun, hanya link berisi headlines ke sebuah portal berita. Sesaat kemudian Mark melempar layar ponselnya kehadapan Jeanno, sembari mencibir.
“Dasar bajingan”
‘Telah ditemukannya penyelewengan dana hingga menyentuh angka triliunan rupiah. Para investor ramai-ramai menarik saham dari Mahendera Group, perusahaan Robert Mahendera terancam bangkrut’
**
Jeanno tidak bermain ketika ia berkata ingin membuat Arman dan seluruh keluarganya hancur. Usai drama perselingkuhan yang epik sehingga karir Paula kemungkinan besar akan redup, pihak kepolisian dan detektif swasta mulai mendatangi kantor utama Mahendera group untuk melakukan penyelidikan mengenai penggelapan dana. Tidak butuh waktu lama untuk membuktikan Robert bersalah, karena nyatanya para penyidik telah mengantongi bukti konkrit yang entah darimana mereka dapatkan.
Badai itu membuat angka Mahendera dipasaran menurun drastis, tak ada lagi rekan kerja yang berniat menanam sahamnya, dengan kata lain.. ini adalah ‘kiamat’ bagi Robert Mahendera.
Oh, tak hanya itu. Esok harinya, polisi mendatangi kediaman Arman dan Paula. Menangkap Arman Mahendera atas tuduhan penyalahgunaan obat terlarang. Dan benar saja, begitu ditest, hasil menunjukkan positif. Arman telah menggunakan sabu tiga tahun terakhir.
Berita kehancuran Mahendera menjadi trending diberbagai portal berita. Publik dibuat terheran-heran bagaimana bisa keluarga yang terlihat baik-baik saja dan sempurna dari luar, ternyata memiliki borok yang menjijikkan.
Jeanno tak bisa berhenti tersenyum hari itu. Dua hari sebelum ia meninggalkan Indonesia, semua berjalan sesuai rencananya. Diluar ekspektasi malah. Dengan masuknya Arman kedalam penjara, setidaknya ia bisa pergi dengan tenang. Mengetahui lelaki gila itu tidak akan menyentuh Judith. Sang tuan muda juga sudah memastikan bahwa Arman tidak menyuruh orangnya untuk mencari Judith.
__ADS_1
“Dua hari lagi. Apa kau tidak ingin bertemu dengannya?”
Jeanno melonggarkan dasinya, kemudian bersandar pada badan sofa. “Jika aku bertemu dengannya, yang ada akan semakin berat langkahku untuk pergi”
“Bagaimana dengan Aera?”
“Aku sudah memberinya pengertian bahwa Judith punya kehidupan sendiri, walau tak bisa dipungkiri wajahnya terlihat sedih, tapi Aera mencoba mengerti”
“Kau.. sudah jujur padanya mengenai Nayara?”
Jeanno mengangguk lirih. “Sore kemarin aku mengajaknya mengunjungi Nayara. Begitu kami sampai di pemakaman, Aera seperti langsung mengerti kemana perginya Nayara selama ini. Tapi putriku hanya meneteskan airmata satu kali, kemudian dia bersimpuh dan mengajak bicara ibunya. Aku bangga sekali pada putriku, Mark”
“Dia lebih dewasa dari umurnya” disambut anggukan tanda setuju oleh Jeanno. “Mark”
“Hm?”
“Aku titip perusahaan ini, ya? hanya kau orang yang kupercaya untuk mengambil alih disini selama aku berada di Jepang”
Sebetulnya sudah sejak tiga hari lalu Jeanno menawarkan Mark untuk menggantikan posisinya disini selama dirinya pergi, namun itu hanya ditanggapi gurauan semata oleh Mark. Tak menyangka bahwa penawaran itu kembali diucapkan dengan nada memohon.
“Bukankah ini terlalu mendadak, Jean?”
“Tidak. Aku sudah mengadakan rapat direksi, dan disana aku menunjukmu sebagai wakilku”
“Kurasa aku tidak bisa menolaknya, huh?”
**
Tiga minggu berlalu tanpa kabar apapun dari Jeanno maupun Aera. Seusai Judith dipulangkan secara paksa oleh Jeanno dan juga Mark, sesungguhnya masih banyak pertanyaan menggantung dalam benak. Dimulai dari kekacauan di rumah Jeanno, pria itu yang terlihat rapuh dan lega disaat bersamaan ketika melihatnya. Sampai ucapan selamat tinggal serta pemutusan hubungan dengan Aera. Judith tidak mengerti apa yang terjadi sesungguhnya, sekeras apapun otaknya mencoba menghubungkan untaian benang itu tidak juga mendapatkan titik terang.
Lamunannya buyar ponsel yang berdering. Panggilan video dari Hannah.
“Hai, sayang. Bagaimana kabarmu?”
“Baik, tapi aku harus bedrest karena kemarin sempat pendarahan” jawab Hannah, menampilkan wajah pucatnya yang berlatarbelakang ranjang. “Astaga, tapi sekarang kau sudah baik-baik saja, kan? Kenapa tidak mengatakannya padaku”
“Aku tidak mau membuatmu cemas. Lagipula aku baik-baik saja kok”*
__ADS_1
“Syukurlah. Lain waktu kalau kau butuh bantuan, segera hubungi aku. Aku tidak ingin mendengar direpotkan olehmu atau hal semacamnya. Aku sahabatmu, kau ingat?”
Hannah terkekeh. “Aku merindukanmu, Judith. Rasanya tidak sabar menunggu bayiku lahir dan cukup besar untuk dibawa menemuimu”
“Aku juga merindukanmu”
Hannah bisa melihat Judith yang ekspresi wajahnya menunjukkan bimbang seakan ingin bertanya sesuatu. Mengerti apa yang ada dalam benak karibnya, Hannah tersenyum. “Aera baik-baik saja. Kudengar Jeanno sudah berkata jujur mengenai Nayara, malah keduanya sudah berkunjung ke pemakaman. Kau tau? reaksi Aera sangat dewasa.. setelah tahu ibunya sudah bersama Tuhan, ia berdoa setiap malam sebelum tidur”
Judith tak mampu menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Alana pasti bangga memiliki putri sekuat Aera. “Dia sangat hebat..”
“Ya.. eum, Judith”
“Aku tidak tahu apa aku diijinkan untuk bicara denganmu mengenai hal ini, tapi…”*
Senyum haru pada wajah Judith pupus, tergantikan oleh gugup akibat pernyataan Hannah yang menggantung. “Ada apa, Hannah?”
“Jeanno dan Aera akan pindah ke Jepang. Ia sudah berdamai dengan orangtuanya, dibuktikan dengan perusahaan Jeanno yang merger dengan perusahaan milik tuan Thomas”
Mata Judith membulat, tak mengira akan berita yang baru saja didengarnya.
“Kemungkinan Jeanno akan menetap disana, karena masalah pekerjaan atau semacamnya. Mark tidak mengatakan padaku untuk jangka waktunya, tapi kita tahu bagaimana ambisiusnya seorang Jeanno Alexander. Jika sudah diberi kepercayaan oleh papanya untuk mengurus proyek besar, dia pasti akan mengerjakannya sesempurna mungkin. Dan tidak akan kembali sebelum berhasil”
“Oh.. begitu” dari sekian banyak kecamuk dalam batinnya, hanya itu yang mampu dilirihkan oleh birai Judith.
“Mereka sudah berangkat dua hari yang lalu, sayang. Maaf aku baru memberitahumu mengenai hal ini”
Judith mencoba mengulas senyum walau terkesan dipaksakan. “Tidak apa, eh ada pengunjung. Aku telpon lagi nanti, oke? Bye, sayang”
Judith memutus sambungan usai Hannah mengucapkan balik salamnya. Ia berdusta, dihadapannya kosong tak ada pengunjung. Satu-satunya alasan ia mengakhiri panggilannya adalah karena dirinya tak kuasa menahan tangis. Tentang kepergian Jeanno dan Aera ke negeri yang jauh tanpa berpamitan, membuatnya sesak. Membuatnya mulai sadar bahwa eksistensi dirinya tidaklah membawa dampak besar bagi kehidupan mereka. Sebelumnya Judith menerima dengan lapang jika tidak diijinkan menelpon Aera lagi, yang penting ia masih bisa mendengar bagaimana kabar anak itu melalui Hannah.
Namun sekarang, anak cantik itu berada di tanah yang jauhnya ribuan kilometer darinya. Ia tidak tahu kabarnya, bagaimana harinya, bagaimana teman-temannya. Dan Jeanno, Judith tidak menyangka pada akhirnya akan ada waktu dimana ia benar-benar kehilangan pria itu..
Kehilangan pria yang sejak awal tak pernah dimilikinya.
__ADS_1
**