
“Judith pernah diperkosa di bulan-bulan awal dia bekerja di Victoire. Sewaktu dia mau bersiap untuk pergi bekerja, yang seharusnya ia lalui dengan baik seperti hari sebelumnya, tapi sekumpulan orang asing menariknya paksa untuk masuk ke mobil. Aku dan Renatta, yang juga sudah bekerja di Victoire kala itu kelimpungan mencarinya. Karena shift sudah selesai, kami memutuskan untuk mencari. Walaupun dini hari, tapi tekad kami untuk menemukan dan memastikan Judith baik-baik saja sangat besar. Kami mencari ke tempat yang sekiranya didatangi oleh Judith, tapi hasilnya nihil. Sampai matahari terbit, aku dan Rena memutuskan untuk pulang ke kos dulu, sekedar bersih-bersih dan istirahat sejenak. Jika sampai siang Judith tak kembali, kami sudah bertekad untuk lapor polisi”
“Tapi ketika kami sampai di kos, pintu kamar Judith terbuka. Aku dan Rena masuk perlahan, memastikan bahwa yang ada di dalam sana bukan pencuri, melainkan Judith. Dan memang, Judithlah yang ada disana. Tapi aku tidak tahu, harus beruntung atau merasa sial mendapati Judith saat itu. Aku bersumpah, Mark. Hatiku hancur melihat bagaimana berantakannya Judith ketika kami menemukannya”
“Dia tidak berhenti menangis. Isakannya sungguh menyayat hati. Dia tidak bicara banyak, tapi dari penampilan dan rupa pakaiannya yang robek dimana-mana, aku dan Rena mendapatkan satu pemikiran buruk. Pemikiran yang kami harap tidak pernah terjadi pada sahabat kami. Walau kenyataannya berbanding terbalik dengan harapan”
Mata Mark terbelalak sempurna. “Kalian lapor polisi, kan? Tolong katakan bahwa kalian lakukan itu!”
Hannah, sayangnya menggeleng. Airmatanya turun menetesi pakaian yang ia pakai. Mengabaikan tatapan lalu lalang orang di kantin rumah sakit.
“Kenapa tidak lapor?”
“Kita tidak memiliki cukup bukti, Mark. Dan lagi sangat susah untuk mengajak Judith keluar dari kamar. Jangankan keluar, untuk berkomunikasi saja kami kesulitan. Judith hanya berbaring dengan tatapan kosong, persis seperti ketika dia baru kehilangan janinnya tempo hari”
“Aku dan Rena juga tidak tahu persis dimana lokasi kejadian itu. Judith tidak banyak bicara, karena ketika kami bertanya, ia kembali histeris. Akhirnya aku dan Rena mengumpulkan uang untuk membawa Judith ke dokter, memastikan sahabat kami tidak tertular penyakit berbahaya selama berhubungan dengan pria asing. Untunglah tidak ada indikasi penyakit menular, walaupun aku tidak tahu apa masih pantas jika disebut ‘untung’?
“Kemudian kami pergi ke psikiater. Disana dia bertemu dengan dokter spesialis, menjalani terapi dengan ditopang obat-obatan. Karena sebelumnya Judith selalu berteriak histeris layaknya orang kesetanan. Tidak mudah perjuangan kami, Mark. Aku ingat bagaimana Judith tidak sengaja mencakar Renatta dan menjambak rambutku ketika kami sedang mencegahnya untuk tidak melukai dirinya sendiri. Berakhir kami menangis bersama”
__ADS_1
Hannah mengusap airmatanya.
“Kami hanya memiliki satu sama lain, sejak awal kami bertiga berjanji untuk saling menjaga. Adalah pukulan menyakitkan bagiku dan Rena karena kami gagal menjaga Judith. Tawa Judith yang hilang, juga berpengaruh kepada tawa kami berdua. Judith jatuh, kamipun juga jatuh bersamanya”
“Butuh waktu dan perjuangan panjang bagi Judith untuk meredakan histerianya. Berkat terapi dari psikiater, mimpi itu tak lagi mendatangi tidurnya. Sewaktu kondisinya sudah lumayan stabil, aku pernah bertanya padanya, apa yang ia rasakan ketika histeris? Dan Judith bilang.. dia mendengar suara-suara yang mencemoohnya, mengatakan ia tidak berharga dan hanyalah perempuan bekas. Itulah mengapa Judith berteriak, berharap teriakannya mampu menandingi ricuh suara tak nyata yang ada di kepalanya”
“Judith sudah menderita sejak kecil. Ketika aku mengetahui dia diperlakukan istimewa oleh Jeanno, aku sangat bahagia, Mark. Karena kupikir, pada akhirnya kebahagiaan berada disisi Judith. Tapi kenyataannya.. ternyata Jeanno sama saja dengan pria bajingan yang hanya memandangnya rendah”
“Ssh, sayang, jangan bicara kotor seperti itu”
“Kau tau, Mark? Hari dimana Judith kehilangan kegadisannya, adalah peristiwa besar yang membawa perubahan drastis bagi Judith. Dulu, tujuannya hanyalah hidup tenang tanpa bayang-bayang keluarganya yang tidak harmonis. Tapi sejak hari itu, hatinya membeku. Menurutnya bahagia adalah hal semu yang bisa diraih hanya dengan uang. Ketika teman kos kami, yang merupakan penari Victoire, mengatakan bahwa ia mendapatkan banyak upah dalam sekali menari, Judith tidak mengambil banyak waktu untuk berpikir sebelum mendatangi Johnny untuk menawarkan diri sebagai penari”
“Kemudian tak lama Rena bergabung, terakhir aku. Sewaktu Judith memutuskan menerima tawaran lain selain menari, akulah orang pertama yang menentangnya keras-keras. Tapi dia justru mengatakan ‘Aku sudah tidak ada harganya, Hannah. Jika mereka tidur denganku, mereka sama saja tidur dengan wanita bekasan. Mereka mengeluarkan uang untuk perempuan sisa sepertiku. Bukannya aku yang rugi, tapi malah justru mereka’. Aku sempat menjauhinya selama dua bulan waktu itu. Sampai pada akhirnya aku menyadari dunia yang kami geluti memang akrab dengan hal-hal seperti itu. Sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa baik buruknya Judith dan Rena, mereka tetap sahabatmu. Bahwa kami hanya memiliki satu sama lain diperantauan yang keras ini”
Hannah menyudahi ceritanya. Meninggalkan Mark dalam ketersimaan yang panjang. Pemuda itu menghela nafas, tak menyangka bahwa serumit itu kisah hidup seorang Ananta Judith alias Aleta. Menjadi anak broken home sejak kecil, kabur ke Ibukota, putus sekolah, dilecehkan pria brengsek, dan.. berakhir di dunia malam yang kelam.
“Sayang, mengenai pria yang melecehkan Judith.. apa kau tahu siapa orangnya?”
__ADS_1
Hannah mengedikkan bahu. “Aku tidak tahu namanya, Mark. Yang kuingat, Judith pernah mengatakan bahwa pria itu selalu menyebutnya dengan nama lain. May, Nay siapa ya aku lupa. Seakan-akan ia menyimpan obsesi kepada perempuan pemilik nama itu, tapi entah mengapa justru melampiaskannya kepada Judith”
Saat ini, didalam kepala Mark telah bergelut banyak skenario. Memang kejadiannya sudah lama, tapi ia merasa harus menyelidiki siapa pemerkosa Judith. Setidaknya proses hukum bisa diproses, masalah bukti, bisa dipikirkan nanti.
**
Jeffrey hanya mampu menghembuskan nafas ketika melihat ada nama Judith dalam daftar pasiennya hari itu. Tak pernah ia mengira akan bertemu kembali dengan wanita itu. Wanita yang pernah menjadi pasien tetap di poli kejiwaan ketika ia masih berstatus sebagai residen ilmu kejiwaan. Jeffrey, menjadi salah satu saksi bagaimana hancurnya Judith kala itu. Dan suatu kebanggaan baginya pula yang menjadi saksi ‘kebangkitan’ Judith dari keterpurukan.
“Rasanya aku ingin mati saja”
“Dunia begitu kejam padaku. Aku selalu berpikir, apa kesalahan yang pernah kuperbuat di kehidupan masa lalu? Mengapa takdir merajamku begitu hebat kali ini, seperti.. tidak ada kebahagiaan yang tersisa. Kupikir dulu bahagiaku ketika aku memiliki uang banyak, tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa itu hanyalah kesemuan belaka. Bukan itu yang aku cari”
Jeffrey menyodorkan sekotak tissue, mengira bahwa Judith akan menangis seperti dulu. Tapi sosok di hadapannya tak terlihat sama sekali akan airmata yang menggenang. Ia nampak tegar, namun suaranya bergetar. Ia nampak kuat, namun nafasnya tersengal.
Satu yang Jeffrey pahami, Judith kembali hancur.
**
__ADS_1