
Jeanno tidak buta untuk melihat adanya sinar yang hilang dari airmuka putrinya. Dulu, Aera selalu bersemangat luar biasa jika menghabiskan waktu bersamanya. Mengajaknya kesana kemari, membujuk Jeanno untuk membelikannya makanan manis, tertawa akan banyolan garing ayahnya. Bahkan merengek ketika Jeanno mengajaknya pulang. Dulu, Aera adalah putri kecilnya. Seorang putri yang selalu menjadikan ayahnya sebagai cinta pertama, pahlawannya.
Sekarang, Aera memang terlihat bahagia, namun senyumnya tidak selebar dulu. Binar matanya tak secerah dulu, justru terdapat kosong dan sendu disana. Aera tidak minta dibelikan mainan atau es krim, ia hanya mengangguk ketika Jeanno menawarkannya cake coklat kesukaannya. Aera tetap tertawa akan candaan Jeanno, namun ada kalanya tawa itu datang terlambat. Seakan pikiran gadis kecilnya tengah berkelana entah kemana, sampai ia sadar harus merespon candaan sang ayah. Ketika telah sampai waktunya pulang, Aera hanya mengangguk patuh. Tanpa adanya drama rengekan manja, seperti terdahulu.
Apakah ini karena ia telah beranjak dewasa? Rasanya tidak mungkin. Putrinya Aera baru menginjak usia 7 tahun. Masih panjang perjalanannya untuk berada di tahap ‘dewasa’, atau remaja.
“Aera? Aera tidak suka ya pergi bersama papa?”
Jauh di lubuk hatinya, Jeanno sudah tahu jawabannya. Tapi ia ingin putrinya jujur dan terbiasa mengungkapkan perasaannya kepada ia selaku ayahnya. Sejahat apapun pribadinya, Jeanno tetap ingin menjadi orang terdekat dan orang pertama yang Aera cari ketika gundah melanda.
“Aera suka kok”
Jeanno tersenyum, mengusap surai si kecil lembut. Sedikit kecewa akan jawaban Aera yang masih sedikit menyelipkan dusta. “Sebelum kita pulang, apa Aera mau mampir ke suatu tempat?”
Penawaran yang agaknya menarik, karena Jeanno bisa melihat binar khas itu kembali menghiasi bola mata kelinci anaknya. “Bolehkah?”
“Tentu. Aera mau kemana?”
“Eum.. rumah paman Mark”
**
Judith melangkah tergesa dari dapur ketika ia mendengar bel pintu berbunyi. Mark dan ayahnya belum pulang dari kantor, sementara Maria sedang menemani Hannah ke dokter kandungan karena sahabatnya itu merasa mual-mual sejak pagi. Sejujurnya ia ingin ikut menemani, tapi Judith merasa Maria lebih tepat bagi Hannah untuk menjadi saksi momen bahagia, jika memang Hannah positif hamil. Jadilah Judith lebih memilih untuk tinggal, sekaligus menyiapkan makan malam untuk keluarga berhati luar biasa baik yang selama ini membantunya.
“Iya sebentar”
Menyesal. Judith selalu menyesalkan dirinya yang terburu-buru hampir dalam segala hal. Termasuk sesederhana membuka pintu. Maria sudah mewanti-wantinya untuk berhati-hati pada setiap orang yang datang memencet bel. Judith bisa melihat lebih dulu siapa orangnya, jika tidak dikenal, jangan kasih masuk, kata Maria.
Seharusnya Judith menuruti nasihat Maria, untuk berikutnya. Karena pintu yang ia buka kali ini adalah untuk sosok yang ia hindari, sekaligus ia rindukan.
Jeanno Alexander.
Belum sempat ia bereaksi apapun, tubuhnya terhuyung ke belakang oleh gerakan mendadak Aera yang memeluk pinggangnya erat. Judith sontak saja mendongak, memastikan reaksi Jeanno. Namun pria itu menyunggingkan senyum, bukan kearahnya namun tertuju pada Aera.
__ADS_1
Jeanno tidak marah dan malah mengantar Aera menemuinya, apa itu berarti.. ia telah termaafkan?
**
“Mama tahu tidak? tadi Aera beli sebungkus biji-bijian untuk makanan merpati”
“Oh ya? Aera takut tidak?”
Si kecil menggeleng. “Tidak. Malah papa yang takut. Tapi papa iseng sekali menaruh beberapa biji diatas kepala Aera, jadi burung-burung itu datang untuk mengambilnya”
Judith terkekeh, dirapihkannya puncak kepala Aera untuk memastikan tak ada remahan makanan disana. “Aera hebat, Aera sudah berani memberi makan burung. Mama saja belum tentu berani”
Mata si kecil memandang Judith lamat-lamat. Mendengar pujian yang diucapkan Judith membuat dadanya berbunga-bunga dan rasanya ingin mendengarnya lagi dan lagi.
“Mama, tadi Aera membeli balon sendiri. Walaupun papa melihat dari jauh”
“Wah, Aera hebat. Itu artinya Aera anak yang pemberani dan mandiri. Karena seumuran Aera saja mama belum berani untuk berinteraksi dengan orang asing. Tapi Aera sudah melakukan apa yang tidak bisa mama lakukan dulu. Aera hebat sekali! Tapi ingat, tetap harus hati-hati dan jangan mau diajak pergi oleh orang yang tidak Aera kenal, mengerti?”
Interaksi antar sepasang perempuan berbeda generasi itu didengar samar oleh Jeanno yang memilih duduk jauh dari mereka. Sesekali ada tawa yang terselip, satu waktu tawa Judith, detik berikutnya tawa Aera. Keduanya berbagi suka tanpa beban, seperti eksistensi satu sama lain membuat segala sendu dan gundah yang sebelumnya dirasa, menguap entah kemana.
Jeanno membuang muka. Melihat Aera yang duduk di pangkuan Judith sembari serius mendengarkan cerita Aera hari ini, adegan sederhana yang seakan tamparan baginya. Bagaimana ia membuat wanita yang tengah memuji Aera, menangis tanpa jeda. Bagaimana ia menyakitinya, memperkosanya dan memerasnya. Jeanno mengeraskan rahang. Betapa jahatnya ia. Apa kesalahan Judith begitu fatalnya hingga ia mendorongnya ke jurang penyiksaan tanpa jeda?
Tapi, bukankah Judith pantas menerimanya? Ah bukan, benarkah Judith pantas menerimanya?
Begitu khidmatnya lamunan Jeanno hingga ia tak menyadari kehadiran Judith dan Aera di hadapannya. Entah sejak kapan obrolan mereka sudah terhenti.
“Tuan, makan malamnya sudah matang. Mau kusiapkan sekarang?”
Setelah merendahkan, melecehkan, memperlakukannya dengan sangat kejam, bahkan Judith masih memiliki kemurahan dihatinya untuk menawari Jeanno makan malam? Ah, mungkin karena ada Aera, begitu pikir Jeanno.
“Papa, ayo makan. Aera rindu masakan mama”
Benar, dirinya pun rindu masakan Judith. Terlebih ketika uap masakan yang berada di dapur dengan kurangajarnya menyentuh indera penciumannya, membuat perutnya yang belum terisi berbunyi, membuatnya harus mengubur malu.
__ADS_1
“Ya”
Hanya jawaban singkat itu yang keluar. Singkat, namun mampu mengembalikan Aeranya yang ‘dulu’. Perjalanan dari ruang tamu ke dapur yang tidak seberapa jauh, dilalu dengan jalan beriringan. Menjadikan Aera sebagai penghubung yang berjalan di tengah, dengan tangan menggandeng jemari papa dan ‘mama’nya.
**
Hannah terlonjak kaget melihat penampakan Jeanno di ruang tamu rumah Mark. Begitu pula dengan Maria, walau wanita itu jauh lebih bisa mengontrol raut wajahnya. Belum sempat ia bertanya, sudah disambut dengan langkah kaki Aera yang memeluknya dan Hannah. Kemunculan Aera, yang menjadi jawaban mengapa Jeanno berada disini.
Hannah melengos, berpamitan dengan Maria yang tengah berbincang ringan dengan Jeanno, sekedar bertanya sejak kapan datang dan sudah makan belum. Hannah, jangan tanya. Dirinya sangat enggan untuk berlama-lama berhadapan dengan lelaki yang membuat sahabatnya menderita. Dan lagi, mengumpat tidak baik untuk ibu hamil, bukan?
**
“Kau, katakan jujur padaku. Apa yang dia lakukan padamu?”
Judith meringis ketika Hannah menarik lengannya. Membuat wanita berparas manis itu sontak menggumamkan kata ‘maaf’ dan mengangkat kuku-kukunya dari kulit lengan Judith.
“Aera kemari sehabis jalan-jalan bersa—“
“Bukan Aera, kau tau siapa yang kumaksud, Judith” Hannah memutar bola mata jengah. Enggan sekali menyebutkan nama Jeanno secara langsung. Seakan jerih payah lelaki itu dalam membantunya menggoyahkan Victoire tak pernah terjadi.
“Oh.. tuan tidak melakukan apa-apa. Dia hanya mengantarkan Aera untuk bertemu denganku, kemudian kita makan malam bersama”
“Makan malam?” netra Hannah membulat sempurna. “Bagaimana bisa kau mengajaknya makan malam?”
“Eum.. mungkin karena makanannya sudah matang? Dan tidak mungkin aku makan berdua dengan Aera tanpa menawarinya, sayang”
Hannah membuang muka kesal. Ia ingin menyalahkan Judith akan keputusannya, tapi sekali lagi, mengumpat tidak baik untuk ibu hamil.
“Kita bicara besok, ketika emosiku lebih stabil”
Judith hanya menggelengkan kepala melihat bagaimana seorang Hannah, kali pertamanya terlihat kehilangan kontrol emosi.
**
__ADS_1