Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 99. Pleasure


__ADS_3

Hannah berada di luar. Tepatnya duduk termenung di kursi depan ruang rawat Mark. Sejak hari dimana Mark memutuskan untuk tidak ingin melihatnya, sejak itulah Hannah hanya bisa menungguinya dari luar. Karena menurut Maria, Mark masih belum mau menemuinya. Tidak apa, Hannah memahami apa yang Mark rasakan. Pria itu memiliki hak untuk mendiamkannya, atau bahkan.. meninggalkannya.


Maria selesai dengan suapan terakhirnya. Kemudian membantu sang putra untuk meminum obat. Wanita itu menghela nafas, sambil sesekali menoleh kearah pintu. “Hannah masih diluar”


Mark hanya menoleh sekilas, dingin. Tak bicara apapun.


“Kau tidak kasihan padanya? Hannah menghabiskan sepanjang hari hanya berdiam disana. Siang hari bergelut dengan panas, sementara malamnya harus berperang dengan dingin dan nyamuk. Semua hanya untuk memastikan kau tau bahwa dia selalu ada untukmu”


Mark turut menghela nafas. Sesungguhnya rasa kecewa itu masih ada, dan menjadi bahan bakar utama yang menyulut amarahnya sehingga ia tak ingin melihat Hannah. Dibanding emosinya meledak-ledak, mendiamkan Hannah menurutnya jauh lebih baik.


“Jika jarak yang kau ciptakan adalah buah dari kejujuran menyakitkan yang ia katakan, Ibu paham. Ibu memahami bahwa kau kecewa. Itu reaksi yang sangat normal. Tapi sayang, bukankah lebih baik jika kalian bicara berdua? Mencari tahu bersama solusi untuk hubungan kalian kedepan. Apakah akan tetap bersama, atau berpisah?”


“Ibu tidak ingin memberimu saran mana yang lebih baik, karena pada dasarnya semua tetap kalian yang menjalani. Bahagianya tetap kalian yang merasakan. Tapi dari yang Ibu lihat, Hannah benar-benar mencintaimu. Sewaktu kau koma, dia rutin menjengukmu sembari mengajakmu bicara. Kondisimu berkembang pesat dengan adanya Hannah disisimu. Dan Ibu yakin kau juga mencintainya”


Mark menunduk. “Cintaku padanya tidak pernah surut, Ibu. Tapi aku kecewa”


Maria tersenyum, tangannya terulur membersihkan noda makanan yang tersisa samar di bibir putranya. “Kan kau sendiri yang menginginkan Hannah untuk jujur. Ketika ia sudah membuka diri, kau malah mengacuhkannya. Kan sudah Ibu bilang, satu kejujuran memang menyakitkan. Tapi bukankah itu lebih baik dibanding seribu kebohongan? Kau harus menghargai keberanian Hannah untuk jujur, Mark. Ibu yakin ia berpikir berkali-kali untuk memutuskan menceritakan hal yang menurutnya tak mudah untuk dibagi padamu”


“Tapi Ibu, dia sudah… dia secara tak langsung mengkhianati. Meminta bantuan pria lain disaat akulah yang seharusnya ia mintai bantuan. Kenapa dia menganggapku seolah-olah aku kekasih yang tidak berguna? Aku tidak suka fakta akan hal itu, Ibu”


Maria mengusap kepala Mark lembut. “Mungkin Hannah memiliki pertimbangan mengapa ia memilih untuk meminta bantuan orang lain dibanding kau. Mungkin Hannah tidak mau kau menganggapnya perempuan matrealistis. Kau mendengar cerita Hannah, tapi kau tidak mau mengerti sudut pandang Hannah. Pikirkan, Mark. Jika Hannah tidak mencintaimu, mana mungkin ia dengan telaten dan sabar menungguimu di rumah sakit selama ini? Bahkan ketika kau tidak merespon ceritanya. Bahkan ketika kau belum mampu bicara dengan jelas. Bahkan ketika kau belum bisa duduk. Bahkan ketika kau mengacuhkannya”


Mark mengangkat pandangannya, mengarah ke pintu yang diluar sana terdapat sang kekasih yang tengah terduduk menunggu ia menerima dengan pintu terbuka. Namun haruskah ia memaafkan?


“Sayang, Ayah dan Ibu tidak pernah mengajarkanmu untuk membalas dendam kepada siapapun yang menyakitimu. Kami mengajarkanmu untuk belajar memaafkan, sekalipun itu sulit. Tapi tanyakan pada hati kecilmu, apa yang kau inginkan”


Maria meninggalkannya sendiri. Mungkin keluar menemui Hannah, memberitahu kondisi Mark sekarang. Atau mungkin tengah mendekap gadisnya yang tenggelam dalam penyesalan akibat kejujurannya yang menyakitkan.

__ADS_1


Mark merebahkan tubuhnya. Menatapi langit-langit rumah sakit seakan disana ada jawaban mengenai apa yang harus ia lakukan untuk hubungannya dengan Hannah.


**


Jeanno memandang ranjangnya tanpa minat. Tempatnya melepas penat yang biasanya nyaman, kini terlihat dingin. Padahal spreinya baru diganti. Sprei dengan bahan lembut yang harusnya mampu membantu mengantar Jeanno kealam mimpi. Ditambah hasil dari penatnya pekerjaan, seharusnya ia bisa terlelap dengan cepat. Tapi entah mengapa malam ini ia seperti tidak ingin tidur di kasurnya. Ranjang milik Judith jauh lebih nyaman, menurutnya. Entahlah, mungkin karena ia terbiasa dengan afeksi kecil yang perempuan itu berikan?


Usai membersihkan diri dan berganti dengan pakaian tidur, Jeanno mengetuk pintu kamar Judith sekali, hanya sebagai isyarat untuk memberitahunya bahwa pria itu akan masuk. Terdengar ucapan ‘masuk’ dari dalam. Tanpa perlu menunggu lagi, Jeanno membuka knop untuk masuk.


Kamar itu masih terang lampunya, terlihat sang pemilik tengah duduk di kursi rias, sedang memakai serangkaian skincare yang Jeanno sendiri tak mengerti apa gunanya.


“Aku tidak mengganggumu, kan?”


Judith tersenyum dari arah cermin. Jeanno nampak mempesona dengan celana piyama satin biru dan kaos putih polos. “Tidak sama sekali, lagipula aku belum tidur”


Seperti orang bodoh, Jeanno hanya mengangguk-angguk dan berdiri dengan posisi canggung di tengah kamar Judith. Membuat Judith menoleh untuk melihatnya secara langsung, bukan dari pantulan cermin. “Tuan kenapa? Kalau mau tidur, tidur saja”


Judith menunjuk dirinya. “Aku? Aku mau mengeringkan rambut dulu” ia lantas menunjuk kepalanya yang terlilit handuk. Menandakan ia baru selesai mencuci rambut.


“Mau kubantu keringkan?”


“Eh? Tidak usah tuan” Seperti tak mengindahkan ucapan Judith, Jeanno melangkah maju. Memutar posisi tubuh Judith untuk kembali menghadap kaca. Kemudian meraih pengering rambut yang sudah terhubung dengan aliran listrik, lalu membuka handuk di kepala perempuan itu.


Pemandangan Jeanno mengeringkan helaian rambutnya membawa sensasi aneh dan baru yang Judith rasakan. Melihat pantulannya dari cermin, merasakan bagaimana lembut Jeanno memperlakukan rambutnya hingga kering sempurna. Menambah lagi kesan positif yang seakan memasung Judith untuk tidak akan kabur dari pesona Jeanno.


Selama beberapa menit keduanya hanya terdiam. Judith berharap Jeanno tetap diam. Karena ia tak ingin pria itu membuka percakapan yang biasanya berisi memorinya dengan Nayara. Dulu Nayara ini, dulu Nayara itu. Judith menghormati Nayara sebagai mendiang istri Jeanno. Tapi mendengar Jeanno masih mengungkitnya bukanlah hal yang menyenangkan untuk didengar. Bukan juga ia cukup berani untuk memutus cerita Jeanno. Jika saja Judith bisa menulikan telinga, akan ia lakukan setiap Jeanno membawa Nayara ketika tengah bercakap dengannya.


“Sudah selesai”

__ADS_1


Jeanno meletakkan hairdryer pada tempatnya. Kemudian menyisir rambut Judith dengan jemarinya. Jemari yang awalnya menyisir itu kini beralih ke pundaknya. Dipijatnya perlahan. Keduanya tak saling bicara, hanya bertukar pandang melalui pantulan cermin. Jeanno melihat Judith memejamkan mata, menikmati pijatan ringan pada pundaknya. Ekspresi itu sedikit banyak mengingatkan Jeanno ketika Judith telah sampai menjemput nikmatnya. Ditambah lenguhan lirih yang lolos, sama sekali tak membantu mengenyahkan gairah yang perlahan naik membakar tubuh Jeanno.


Judith yang tak sengaja mundur menubruk tubuh Jeanno, menyadari adanya perubahan pada tubuh pria tegap itu. Ia lantas membuka mata. Benar saja, Jeanno memberinya pandangan yang tak asing baginya. Yang bisa ia tangkap maksudnya.


“Maaf tuan, tapi aku sedang haid”


Jeanno tersenyum. “Tidak apa- apa. Aku akan menyelesaikannya sendiri. Sana tidur”


Judith menggigit bibir, tak ingin membiarkan Jeanno ‘bermain’ sendiri. Ia lantas memutar tubuhnya menghadap Jeanno. Kepalanya sejajar dengan perut bidang pria itu. Kepalanya menengadah, seakan memberi informasi sekaligus ijin untuk melakukan hal lebih jauh. Jeanno yang tak bisa menolak, hanya mengangguk. Membiarkan Judith ‘membantunya’.


Jeanno bersumpah, pemandangan Judith membantunya dengan melepaskan sesak itu adalah salah satu pemandangan paling indah yang pernah ia lihat seumur hidup. Ia menggeram rendah, belum lagi pantulan mereka dari arah cermin, menaikkan adrenalinnya hingga ia tanpa sadar menjambak rambut Judith untuk semakin tenggelam dalam pusara gairahnya. Ketika putih datang, Judith membiarkan indera perasanya mengecap manisnya. Jeanno menunduk, menyatukan ranum merah muda mereka. Membersihkan sisa gairahnya sekaligus berbagi manis. Setelah mereka ingat bahwa oksigen tetap menjadi kebutuhan utama, Jeanno memutus pagutan. Membetulkan pakaiannya lalu menghela Judith untuk merebahkan tubuh. Bergelung dalam pelukan dan hangatnya selimut.


“Selamat malam, tuan”


Jeanno terdiam beberapa saat. “Panggil aku Jeanno”


Judith menoleh. Memastikan tuannya belum mengigau ketika bicara seperti itu. “Ya?”


“Panggil aku Jeanno”


Judith tersenyum, kemudian mengangguk menuruti. “Selamat tidur, Jeanno”


Seperti malam yang pernah mereka bagi sebelumnya, Judith mengusap lembut lengan Jeanno. Hingga terdengar nafas teratur dan dengkuran halus. Menandakan pria itu sudah terbawa kedalam pulasnya. Sementara Judith, terlalu sibuk untuk mengatur degup jantungnya. Sekali lagi, ia tertidur dalam mimpi dimana ia bisa bahagia bersama Jeanno, dan Aera.


Tanpa Nayara.


Tanpa perjanjian mereka.

__ADS_1


**


__ADS_2