Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 172. ‘Ours’


__ADS_3

“Nah sudah sampai”


Judith bersiap-siap dengan barang bawaannya ketika Owen telah sampai di samping pintunya. Seperti biasa, pria itu membukakan pintu untuknya. “Silakan tuan putri”


Perempuan itu tertawa kecil. “Aku bisa membuka pintu sendiri, Owen”


“Aku tahu. Tapi aku suka melakukannya untukmu”


Judith melangkah keluar, kini berhadapan dengan tubuh Owen yang masih memegangi pinggiran pintu. Tangannya berpindah, menyentuh wajah ayu yang selalu dikaguminya. “Aku menyayangimu, Aleta”


Lawan bicaranya tersenyum. “Aku tahu. Kau mengatakannya setiap hari”


“Dan akan terus kukatakan sampai kau membalasnya”


Tiga bulan berlalu, tidak ada yang berubah usai peresmian hubungan mereka. Owen yang perhatian dan tidak menyerah, dan Judith yang terbiasa menerima hal tersebut. Owen sudah berjanji untuk menunggu Judith menerimanya lebih dari teman, walau gadis itu masih belum tergerak hatinya untuk mengijinkan Owen mengukir nama disana.


“Owen.. kau lelah ya?”


Sejujurnya, rasa lelah itu terkadang ada. Hanya Owen yang terlalu pintar untuk memainkan topengnya. Ia yang mengajak Judith untuk mencoba, maka dari itu ia harus menerima segala konsekuensinya. Termasuk jika harus menunggu.


“Boleh aku jujur?”


Judith mengangguk.


“Rasa lelah itu pasti ada, sesekali muncul. Tapi setiap kita bertemu, aku tidak pernah berhenti bersyukur bisa ada ditahap kita sekarang. Kau butuh waktu, dan aku memutuskan untuk memberimu waktu. Kita tidak akan tahu hasilnya jika tidak mencoba, kan?”


Lagi, Judith mengangguk. Dirinya menghambur memeluk Owen. Pelukan biasa yang jauh dari kata intim. Pelukan pertemanan yang sesungguhnya Judith lakukan itu karena ia takut. Takut jika hatinya goyah kembali, terutama ketika ia bertemu lagi dengan Jeanno.


**


Judith menahan pekikan ketika ia melihat luka di jemari Jeanno bukannya bertambah baik malah justru semakin melebar. Membuat jemari jenjang itu kini rusak bentuknya. Seperti kemarin, Jeanno datang lagi ke toko menjelang petang ketika toko sudah sepi. Tanpa membuang waktu, Judith lantas menarik lengan pria itu untuk duduk, sementara dirinya mengambil kotak obat. Alya yang tidak sempat bertemu dengan Jeanno kemarin, hanya bisa menganga melihat rupa manusia yang sungguh tampan dihadapannya.


“Sebenarnya apa yang tuan lakukan sampai bisa separah ini? Bukannya sembuh malah lukanya semakin parah. Tuan tidak sayang ya dengan tubuh tuan sendiri?”


Jeanno meringis, ocehan Judith yang penuh semangat itu mendorongnya untuk mengusapkan salep dengan sedikit kasar pada luka yang masih segar.


“Pelan-pelan, Judith”


“Biar. Biar tuan rasakan sendiri. Kalau diobati salep bisa membuat tuan kesakitan seharusnya itu bisa membuat tuan berpikir untuk tidak melakukan apapun yang sekiranya membuat tuan semakin terluka”


Alya yang melihat dari meja kasir ikut meringis, tidak bisa membayangkan bagaimana perihnya luka segar itu ditekan dengan salep oleh atasannya. Jika dia ada diposisi Judith, dirinya pasti tidak akan tega membuat pria setampan Jeanno menyernyit kesakitan menahan perih.


“Kalau sampai besok tuan kemari dengan luka yang tidak lebih baik, aku akan menyiapkan obat merah China yang terkenal menyakitkan. 10x lebih perih dari salep ini” ancam Judith setelah selesai mengobati. Dilemparnya salep kedalam kotak dan ditutupnya asal. Ia sungguh tidak habis pikir bagaimana bisa Jeanno memperparah lukanya.


Dari sisi Jeanno, pria itu justru menahan senyum melihat dan mendengar kebawelan Judith yang sudah lama tak didengarnya. Setidaknya ia merasa tidak ada kecanggungan seperti awal pertemuan kemarin. Yang mana menjadi petanda baik kedepannya.


“Tuan sudah makan?”


“Ya?”


Judith mendengus. “Tuan sudah makan? Aku mau memesan makanan online. Jika tuan belum makan, kupesankan sekalian”


“Oh.. ya, boleh”

__ADS_1


Judith meraih ponsel, memesan kwitiaw goreng untuk mereka bertiga. “Memang kekasihmu tidak mengantarkan makanan?”


Sang lawan bicara meletakkan ponsel usai menyelesaikan pesanan. “Owen sedang ada pertemuan di Ibukota. Coffe shopnya kan usaha waralaba, jadi beberapa kali ia harus datang ke Jakarta untuk pertemuan sejenisnya”


“Oh.. berapa lama?”


“Biasanya satu minggu” Jeanno hanya mengangggukan kepala. Menahan sorakan karena dalam satu minggu kedepan, tidak ada sosok pengganggu dalam usahanya mendekati Judith kembali.


**


Hari ketiga


Jeanno mendatangi tokonya seperti biasa. Kali ini tak lagi datang dengan jemari yang terluka, Jeanno justru memborong sisa kue yang masih tersedia. Katanya akan dibagikan pada rekan-rekannya di kantor. Judith dan Alya dengan senang hati melayani pesanan Jeanno, walau Judith harus menolak keras ketika pria itu mau membayar 3x lipat dari total pesanannya.


“Wah, tuan Jeanno tidak hanya tampan tapi juga sangat baik..”


Judith hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Alya yang sedari tadi memandangi tempat parkir mobil Jeanno. Perempuan itu menyadari bagaimana karyawannya memandang penuh kagum pada Jeanno hingga nyaris kehilangan kata-kata ketika pria itu mengajaknya berinteraksi. Judith tidak cemburu, justru ia tertawa kecil melihat Alya yang gugup. Karena biasanya gadis muda itu selalu penuh percaya diri.


“Ya, dia memang sangat baik”


“Kakak sangat beruntung bisa mengenal tuan Jeanno. Kalau aku punya kenalan orang sepertinya, aku sudah pasti akan memanfaatkan dengan baik. Seperti memintanya pekerjaan”


“Eh, bukan maksudku bekerja disini bukan hal buruk. Tidak kok. Maksudnya.. kalau tuan Jeanno bisa memberikan posisi yang bagus diperusahaannya untuk Kakak, kan Kakak tidak perlu lelah bekerja seperti ini”


Judith terkekeh, diacaknya surai Alya gemas. “Alya, dengar Kakak. Kakak memutuskan untuk membuka toko kue ini karena itu memang keinginan kakak sejak dulu. Lagipula mau bekerja dimanapun juga pasti ada lelahnya. Bekerja dibalik komputer bukanlah kesukaanku, aku lebih suka seperti ini. Mengatur semuanya sendiri, termasuk memarahi karyawan kakak yang tidak disiplin”


Mendengar kalimat terakhir sontak saja Alya bangkit dari duduk santainya untuk meraih lap dan membersihkan etalase yang sudah kosong. Membuat Judith tertawa dibuatnya.


Hari keempat


Pukul delapan malam. Jalanan sudah sepi akibat guyuran hujan sejak dua jam yang lalu.Membuat orang-orang enggan untuk keluar dan lebih memilih untuk bergelung dibalik selimut.


“Kau sudah tutup?”


Judith menggeleng. “Belum. Mungkin setengah jam lagi, biasanya detik-detik terakhir akan ada yang datang. Aku malas harus membuka kunci pintu”


Owen yang sedang terhubung video call, tersenyum diseberang sana. “Yang terpenting jangan sampai kelelahan. Kalau memang sudah sepi lebih baik tutup saja. Supaya kau bisa istirahat lebih awal”


“Siap, tuan Owen\~”


“Ei, aku serius”


Judith tertawa kecil. “Kau sendiri bagaimana disana?”


“Kau menanyakannya karena ingin tahu, atau karena kau merindukanku?”


“Eum.. aku bertanya hanya untuk basa-basi” ledeknya jahil. Membuat sang lawan bicara diseberang sana memutar bolamatanya jengah. “Jahat sekali”


“Aku pulang lusa. Membosankan sekali disini.. “ Owen memandang Judith lamat-lamat. “Aku merindukanmu, Aleta. Nanti sepulang dari sini, kita harus pergi kencan”


Sebelum Judith menjawab, dirinya melihat mobil yang tak asing berhenti didepan tokonya. Detak jantung yang semula normal, kini berdegup kencang. Terlebih ketika Jeanno dengan setelan hitamnya keluar dari kursi kemudi dan berjalan menuju pintu.


“Aleta?”

__ADS_1


“Ya? maaf, Owen. Ada pengunjung. Nanti kutelpon lagi, ya? selamat beristirahat”


Tanpa menunggu balasan Owen, Judith sudah lebih dulu memutus sambungan videocall mereka. Diletakkannya ponsel asal, gadis itu beranjak dari kursinya untuk menyambut Jeanno. Ada sedikit kerinduan yang terobati usai seharian tidak melihat tuannya.


“Sudah tutup ya?”


Jeanno menyugar rambutnya kebelakang ketika tetesan gerimis membasahi dahi dan matanya. Gestur sederhana yang sukses membuat Judith berdecak kagum. “Oh? Be-belum kok”


“Syukurlah. Aku kemari untuk memesan beberapa jenis kue, karena besok aku ada rapat penting. Jadi aku ingin rekan bisnisku mencicipi kue buatanmu”


“T-tentu bisa” Judith lantas meraih buku khusus pesanan, bersiap mencatat. “Tuan mau pesan apa? Lalu untuk berapa pax?”


“Eum.. 25 pax. Isinya terserah kau saja. Aku percayakan padamu”


Judith mengangguk. “Tuan jangan mencemaskan itu, aku pastikan rekan-rekan bisnis tuan tidak akan kecewa”


Jeanno terkekeh. Sesaat keduanya kembali terdiam karena canggung. Bersamaan dengan hujan yang turun semakin deras.


“Ah, sepertinya aku harus tutup. Tidak mungkin ada oranglain yang datang jam segini. Tuan mau pulang atau disini dulu?”


“Disini dulu saja”


Judith hanya mengangguk, membiarkan Jeanno duduk dikursi yang dipilihnya sementara ia pergi mengunci pintu depan dan menutup tirai di tokonya yang berbalut kaca bening. Menyisakan pintu kaca yang tirainya ia biarkan masih terbuka.


“Tuan mau minum apa?”


“Seperti biasa saja”


Judith kembali dengan coklat panas yang beberapa hari terakhir menjadi kesukaan Jeanno. Judith kembali ke meja kasir, bingung akan lakukan aktivitas apa karena rekapan harian sudah diselesaikan sebelum video call dengan Owen tadi. Meja dan etalasepun sudah bersih.


“Judith”


“Ya?”


“Duduklah disini”


Jeanno menunjuk kursi kosong dihadapannya. Judith,yang tak ada alasan untuk menolak memilih mengikuti permintaan Jeanno.


“Aku punya sesuatu untukmu” Jeanno meraih ponselnya, memutar sebuah file video yang kemudian diserahkan kepada Judith.


“Hai mama Judith, bagaimana kabar mama? Aera sudah delapan tahun sekarang. Aera sudah jauuuh lebih tinggi. Kata Papa, Mama sedang sibuk karena punya toko kue. Aera boleh kesana? Kata papa kalau nilai Aera bagus, papa akan mengajak Aera bertemu mama. Mama, Aera rindu sekali masakan mama. Oma tidak bisa memasak, jadi Aera tidak punya teman memasak seperti mama. Aera juga rindu dibacakan dongeng oleh mama. Oma kalau membacakan dongeng tidak asik, selalu tidur lebih dulu. Oia, Aera selalu berdoa sebelum tidur, supaya mama Nayara bahagia di surga, dan mama Judith selalu dalam lindungan Tuhan. Aera bahagia sekali punya dua mama yang menyayangi Aera. Aera berharap akan segera bertemu mama Judith. Eh, Oma sudah memanggil. Aera belajar dulu, ya? Bye, Mama. Aera sayaaaang sekali dengan mama Judith”


Video terhenti pada menit terakhir. Bersamaan dengan semakin derasnya airmata Judith yang mengalir. Kerinduan yang terpendam lama meledak begitu ia melihat Aera walau dalam bentuk video. Ia sungguh rindu si kecil, ia rindu mendekapnya. Rindu memasakkannya, rindu membacakan dongeng. Kerinduan yang tak bisa terobati dengan mudah karena sang putri berada di negeri orang.


Jeanno mengulurkan tangannya, membantu menyeka airmata Judith. “Aku kirimkan videonya ke ponselmu, ya?”


Judith mengangguk. Kemudian mengetikkan nomor ponselnya sendiri di ponsel milik Jeanno. Tak lama kemudian, benda pipih miliknya berbunyi, menandakan videonya sudah dikirim oleh Jeanno.


“Aera sedang ujian. Itulah mengapa dia tidak ikut aku kemari. Sewaktu aku mengatakan padanya bahwa aku disini bersamamu, Aera langsung mengirimiku video. Aku tidak memintanya sama sekali. Judith.. putriku merindukanmu”


Sepasang manik mata itu saling beradu dengan legam elang milik Jeanno.


“…. Putri kita merindukanmu”

__ADS_1


**


__ADS_2