Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 169. Never Goodbye


__ADS_3

Mobil Owen berhenti didepan gedung apartemen sederhana Judith. Dua jiwa yang entah mengapa merasa lebih ringan usai berbagi kisah berat. Benar apa kata Owen, berterimakasih pada diri sendiri mampu membuat langkahnya menjadi lebih ringan. Selama ini Judith lebih sering mengeluh, mengasihini dirinya sendiri atas segala kesialan yang menimpa.


“Terimakasih, Owen. Aku sangat menikmati kencan kita hari ini”


Owen terkekeh. “Kau sudah berterimakasih padaku berapa kali hari ini? Sudah cukup, Aleta. Akulah yang harusnya mengatakan hal seperti itu, karena kau sudah mau terbuka. Itu artinya kau percaya padaku untuk mengetahui kisah hidupmu”


“Ya. Eum.. mengenai pertanyaanku yang tadi, kau belum menjawabnya”


Sesaat wajah Owen terlihat kebingungan. “Pertanyaan yang mana?”


“Setelah tau kisahku, apa kau tetap memilih untuk tinggal? Aku membuka diriku bukan hanya karena aku percaya padamu, tapi karena aku ingin kau tau seperti apa perempuan yang sedang kau kejar. Jika kau ingin mundur, ini saat yang tepat, Owen”


Pemuda itu tersenyum, raut wajahnya nampak tulus diiringi senyuman indah. “Ceritamu tidak mengubah perasaanku, Aleta. Justru aku semakin kagum padamu. Sekelam apapun masa lalumu, kau berhak bahagia. Kau berhak dicintai. Kau memiliki hak yang sama dengan manusia lain. Lagipula sekarang kau berhasil membuktikan bahwa kau mampu berdiri sendiri tanpa penghasilan dari pekerjaan lamamu”


Seperti di taman tadi, Owen kembali meraih tangan Judith. “Aleta, aku tidak berharap apapun dari kencan kita hari ini.. Faktanya kau mengajakku, aku sangat bersyukur dengan hal itu. Bonusnya kau yang mulai terbuka. Aku mungkin bukan pria yang sempurna. Aku bukan pria yang kau cari. Namaku tidak ada dalam hatimu. Aku tidak bisa menjanjikkan indahnya surga, tapi aku bisa memastikan kehadiranku selalu disisimu. Menemanimu ketika kau luka, ikut tertawa ketika kau suka. Aku bisa menjadi pendengar yang baik ketika kau butuh meluapkan harimu yang sengsara. Aku ingin menjadi orang yang kau cari ketika kau ingin berbagi uneg-uneg. Ijinkan aku mendapatkan peran penting itu, Aleta”


“Aku tidak memaksamu untuk membalas perasaanku. Tapi.. bisakah kita mencoba bersama?”


Owen ada dihadapannya, mengetuk pintu hati Judith yang tertutup rapat berkali-kali tanpa henti sekalipun lelah berdiri dan tangannya memerah. Owen menerimanya dengan tangan terbuka, mendengarkan kisah gelapnya tanpa menghakimi. Owen yang mengajarkannya akan rasa syukur dan pentingnya menghargai diri sendiri.


Hal yang tidak pernah, Judith ulangi, tidak pernah siapapun orang lain lakukan padanya.


Bohong jika Judith mengatakan tidak merasakan apa-apa. Pertahanannya mulai melemah. Malam itu, ia putuskan untuk membuka pintu hatinya sedikit, membiarkan Owen masuk untuk mengukir namanya sendiri.


Judith membuang sekian sekon untuk berpikir, sebelum membalas tatapan Owen yang meneduhkan. “Ya, aku mau, Owen”


Malam yang mulai sunyi itu, ditutup dengan dua jiwa yang saling berpelukan. Owen yang nyaris berteriak akibat terlalu kegirangan, dan Judith yang menutupi wajah meronanya.


Tanpa keduanya tahu, ada jiwa lain dinegeri nun jauh disana yang tengah bergelut dalam gundah.


Kali pertama dalam hidupnya, Jeanno Alexander harus menjemput kekalahan.


**

__ADS_1


Waktu berlalu dengan cepat. Memasuki bulan ketiga sejak Judith meresmikan hubungannya dengan Owen. Tidak ada hari berlalu tanpa adanya perhatian Owen yang menghujaninya tanpa henti. Pria itu benar-benar memanjakannya, memperlakukannya dengan manis dan hati-hati bak porselen yang mahal. Judith tidak bisa berdusta, bahwa ia mulai menyukai kekasihnya. Walau belum bisa meyakinkan bahwa akan adanya rasa cinta yang timbul, Owen selalu mengatakan untuk membawa hubungan mereka dengan santai. Tanpa perlu terburu-buru. Ia ingin Judith terbiasa akan kehadirannya. Tak masalah jika membutuhkan waktu yang lama.


Sementara di negeri orang, Jeanno kembali pada rutinitasnya. Kali ini ia bekerja berkali lipat. Jauh lebih keras, bahkan Yvone dan Thomas sering menegur Jeanno untuk tidak terlalu memaksakan tubuhnya, dibanding harus berakhir di rumah sakit. Tapi pria itu nampak tidak peduli, menurutnya bekerja adalah pilihan terbaik untuk mengalihkan patah hatinya.


Ya, patah hati.


Mikha sudah keluar dari pekerjaannya satu bulan lalu, usai Jeanno meyakinkan bahwa gadis itu tidak perlu lagi melaporkan kegiatan harian Judith. Toh sekarang Judith sudah memiliki seseorang yang menjaganya dengan baik—jauh lebih baik darinya. Terakhir Michelle juga melaporkan bahwa Judith sudah mempekerjakan pegawai lain penggantinya. Seorang perempuan berusia 18 tahun bernama Alya yang lumayan rajin. Membuat Jeanno harus bernafas lega karena Judith tidak mungkin kelelahan karena harus kehilangan Mikha sebagai karyawan.


Patah hati terbesarnya adalah ketika Nayara meninggal. Jeanno tidak pernah menyangka ia akan merasakan hal serupa lagi, dengan perempuan lain. Butuh pertahanan diri yang luar biasa bagi Jeanno untuk tidak menggunakan ‘kekuasaannya’ untuk merusak hubungan Judith dengan Owen. Tidak ketika ia mendengar dari orang-orang Mark bahwa Judith terlihat bahagia.


Oh, Jeanno juga sudah tidak lagi mempekerjakan orang lain untuk menjaga Judith dari jauh. 15 bulan berlalu tanpa adanya ancaman berarti, membuat Jeanno berpikir untuk benar-benar melepaskan Judith menjalani harinya sendiri, tanpa ada campur tangan Jeanno didalamnya.


“Jeanno, kau sudah membaca agenda yang papa kirimkan?”


Suara dominan sang ayah membuat Jeanno kembali pada kenyataan. Pria itu berdehem, mencoba mengembalikan fokusnya supaya tidak dikritik oleh Thomas. “Sudah, Pa”


“Papa tidak bisa pergi ke Jakarta, karena ada kendala di kantor Osaka. Jadi Papa meminta kau yang pergi”


“Baik. Papa bisa mengandalkanku”


**


Kepulangan Jeanno disambut Mark dengan menjemput sepupunya langsung ke bandara. Kedua pria tampan itu saling berpelukan, melepas rindu usai berbulan-bulan tidak berjumpa secara langsung.


“Bagaimana Hazel?”


Mark melengos. “Tidak dirumah, tidak denganmu. Semuanya lebih dulu menanyakan Hazel”


“Tentu saja. Hazel jauh lebih menggemaskan dibanding kau, Mark. Oh iya, aku membawa banyak oleh-oleh untuk keponakan tercintaku. Ada beberapa yang dipilihkan oleh Aera langsung”


Lawan bicaranya menghela nafas. “Sayang sekali Aera sedang ujian. Kalau tidak pasti dia sudah ikut pulang. Liburan sekolah kau harus membawanya kemari. Janji?”


“Ya, aku janji. Ibuku juga ingin pulang ke Jakarta nanti kalau libur sekolah Aera”

__ADS_1


Mark manggut-manggut, tak sabar ingin menunjukkan hadiah-hadiah dari Jeanno kepada putranya. “Kita pulang ke rumahmu atau kemana?”


“Ke apartemen saja, Mark. Aku tidak nyaman jika harus tinggal di rumah sebesar itu seorang diri”


Agaknya dusta yang terucap terdengar menggelikan ditelinga Mark. Sehingga pria itu memandangnya jahil. “Tidak nyaman karena sendirian, atau tidak nyaman karena kenangannya?”


“Ck, diam”


Mark tertawa renyah hingga matanya menyipit. Ia sudah mengetahui bahwa sepupunya masih dalam tahap galau akibat Judith yang sudah memiliki kekasih. Namun dirinya lebih memilih untuk tidak membahasnya, sebelum Jeanno sendiri yang membawa nama Judith dalam topik obrolan mereka.


“Mark, mampir ke rumah dulu. Ada beberapa barang yang kuperlukan” Mark mengangguk. Dibawanya sedan mewah miliknya menembus keramaian jalanan.


**


Bangunan kokoh itu masih sama seperti terakhir ditinggalkan. Jeanno memang tetap mempekerjakan pegawai untuk merawat dan membersihkan rumahnya agar tidak terlihat seperti bangunan yang terabaikan. Ia melangkah masuk usai mobil Mark yang pergi untuk pergi ke POM bensin.


Tak ada yang berubah, hanya vas bunga kesayangan Nayara yang sudah tidak ada pada tempatnya. Jeanno tersenyum simpul, rumah itu memang masih sama rupa dan tata letaknya. Akan tetapi hawanya dingin, tak ada kehangatan yang berkedok keluarga disana. Karena kenyataannya, rumah megah itu hanya diselimuti kehangatan keluarga ketika Judith berada disana.


“Ck, fokus, Jeanno”


Tak ingin membuang waktu, Jeanno melangkahkan kakinya memasuki kamar. Meraih beberapa barang yang ia butuhkan, memastikan tidak ada yang tertinggal supaya dirinya tidak repot kembali lagi. Setelah selesai, pria itu keluar. Hanya untuk bersitatap dengan pintu kamar Judith.


Jeanno tahu dirinya harus berhenti. Namun hatinya menyangkal akal sehatnya, kaki jenjangnya melangkah masuk. Menyapa setiap furniture yang tertata rapi dan ditutupi kain putih. Mata Jeanno menyelidik, ingin memastikan bahwa tidak ada lagi barang milik Judith yang tersisa.


Tangannya terulur, membuka satu demi satu laci dan lemari. Jangan salah sangka, ia hanya tidak mau ada secuilpun barang milik Judith yang tertinggal, yang nantinya hanya akan mempersulit situasinya untuk belajar melepaskan.


Setiap laci dan lemari kosong. Tinggal satu tempat, yakni laci bawah pada nakas samping ranjang. Tak ada barang berharga. Hanya ada selembar amplop yang mulai berlapis debu. Penasaran, Jeanno meraihnya. Netranya membulat ketika melihat nama rumah sakit pada amplop tersebut.


Apa selama ini Judith sakit?


Dengan bermacam prasangka, Jeanno membuka amplop itu. Membaca kalimat demi kalimat disana. Jantungnya berdetak semakin cepat menyadari bahwa amplop itu memang teruntuk Ananta Judith. Detaknya semakin cepat ketika ia membaca kalimat lain dibawahnya.


Positif hamil.

__ADS_1


__ADS_2