Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
muak


__ADS_3

malam kembali menyingsing, udara begitu dingin menusuk tulang, Alesha berdiri di depan jendelanya, tidak ia lihat lagi Nathan di sana, pikirnya mungkin Nathan sudah pulang.


sejak tadi Alayya berusaha tidur, tapi pikirannya terus saja berfokus pada Nathan, ia kembali lagi memastikan dari jauh jika nathan benar-benar sudah pulang, tapi ternyata dugaannya salah, pria itu ternyata masih ada di sana, ia duduk bersandar di depan Pagar


"batu banget sih jadi orang" beberapa hari ini memang selalu turun hujan saat malam, dan malam ini pun sama, hujan deras kembali mengguyur kota Bandung. Alayya tidak tahan lagi, ia keluar dari kamar, dengan emosinya.


"Al, mau kemana nak" suara Farah menghentikan langkahnya


"mau temuin Nathan"


"nak..." Farah tidak mengerti maksud anaknya itu


"Al mau ngusir Nathan, Al muak liat dia terus berdiri di depan rumah kita, orang-orang bakalan menganggap kita nggak punya hati Bu, karena tingkah Nathan" setelahnya Alayya kembali melanjutkan jalan, Farah hanya bisa menghembuskan nafas, ia juga tidak bisa melarang anaknya, Farah paham betul watak keras Alayya turunan dari ayahnya.


"Nathan" kaget bukan main Nathan mendengar suara itu, suara yang begitu ia rindukan. meskipun sedikit kesulitan Nathan berdiri dengan menopang tangan di pagar.


"Alayya" sorot mata memohon nathan tergambar begitu jelas


"Lo mau apa sih sebenernya, Lo mau buat keluarga gue di cibir karena tingkah Lo yang kekanak-kanakan kaya gini, Lo mau buat orang tua gue malu, Lo mau buat orang tua gue dianggap kejam karena biarin Lo berhari-hari di depan rumah gue" sarkas Alayya sedikit membentak. sungguh ia emosi dengan tingkah Nathan.


"Al, bukan itu yang aku mau, aku mau ngejelasin semuanya, aku mau Kita selesaikan semuanya"


"Apa, apa yang mau Lo jelasin, semuanya sudah jelas, dan semuanya sudah selesai, hubungan kita selesai"


"aku nggak mau Pisah" mendengar itu Alayya tersenyum miring


"Aku nggak mau kita bercerai, kita masih bisa perbaiki semuanya, aku minta maaf, aku mohon Al"


"terlambat, semuanya sudah terjadi Nat, nggak ada yang perlu di perbaiki, nggak ada yang perlu di selesaikan " tegas Alayya


"Al, kamu tega biarin Alayya kehilangan ibunya lagi?"


"aku tega liat dia menangis lagi?" Alayya membuang muka.


"aku mohon Al, kembali lah kita mulai dari awal, kita bangun dari awal keluarga kecil kita"

__ADS_1


"DIAAAM" nafas Alayya memburu


"gue muak mendengar kata yang sama secara berulang, berapa kali Lo bujuk gue dengan kalimat yang sama, membangun rumah tangga kita, memulai kembali keluarga Kita, basi Nat, basi"


"Nat, Lo tau betapa bahagianya gue saat tau di dalam sini" Alayya menunduk ia usap perutnya, sesak di dada mengingat janin yang telah tiada.


"di dalam sini ada anak kita, buat hati kita, Lo tau betapa antusiasnya gue nungguin Lo pulang malam itu, Lo tau betapa tidak sabar nya gue nungguin Lo balik malam itu, gue mau kasih kejutan buat lo, gue mau ngabarin kalo gue hamil, gue hamil anak Lo, anak yang kita tunggu selama ini" jerit Alayya tak tertahan, nathan diluar pagar, hanya bisa menangis ia begitu rapuh.


"tapi apa yang Lo lakuin Nat, apa" suara Alayya memelan.


"Lo justru dengan mudahnya melenyapkan kebahagiaan gue, Lo tega narik gue sampai gue jatuh hanya karena gue nggak sengaja pecahin bingkai foto Alesha, bingkai foto istri tersayang lo, sumpah Nat" Alayya menunjuk wajah Nathan.


"sumpah demi apapun, gue nggak sengaja, gue nggak bermaksud pecahin bingkai itu"


Alayya dengan cepat menghapus kasar air matanya


"Yang gue harapkan, yang gue bayangin Lo pulang, meluk gue, Lo ciuman kening gue, Lo peluk gue, dan Lo usap punggung gue, TAPI APA NATHAN, APAA..."


"justru amarah Lo yang gue dapat, Lo hina gue, Lo bandingin gue dengan Alesha, dan LO BUNUH ANAK LO SENDIRI, NATHAAAAN" Alayya berteriak sekencang-kencangnya, ia luapkan semua yang tertahan


"Kalo memang Lo nggak bisa hidup dengan gue, Lo bilang Nathan, Lo bilang, jangan kaya gini"


"enggak Al, aku nggak pernah berpikir seperti itu, aku menyayangi kamu, Al"


"bulshit, omong kosong, pembohong" Alayya menyunggingkan senyum penuh luka. ia tatap remeh Nathan di luar sana


"Al, aku mohon dengerin aku dulu, aku nggak mau kita kaya gini, aku cemburu aku cemburu liat kamu pelukan sama Aksa, aku cemburu Al" Ok Alayya tau satu fakta pria itu cemburu


"aku terluka liat kamu masih saja dekat dengan Aksa, aku sakit liat kamu dekat dengan Aksa, aku nggak Suka wanita ku dekat dengan pria lain selain aku, dan aku akui cemburu ku itu justru menjadi Mala petaka untuk rumah tangga kita, aku menyesal"


"aku menyesal, Alya" lirih nathan pilu, pria itu bersimpuh, kakinya terasa tidak lagi sanggup berdiri, Alayya berusaha menahan air matanya, ia menoleh ke sembarang arah, tidak ingin ia lihat wajah nathan.


"besok ayah akan ke pengadilan buat ngambil surat perceraian kita, gue harap Lo segera tandatangani surat nya, agar tanggal sidang perceraian kita segera di tentukan" Alayya membalik badan, air mata yang sejak tadi di ia tahan, tumpah sudah, Dadanya sesak.


Alayya sudah menghubungi mertuanya, ia ceritakan semua yang terjadi di rumah tangganya, mulai dari kabar kehamilan nya sampai kabar perceraiannya, tidak ada yang ditutup-tutupi, tidak ada yang di tambah tidak ada yang dikurangi, Alayya ceritakan semuanya apa adanya, ana... ibunya Nathan hanya bisa menutup mulutnya tidak percaya.

__ADS_1


"mah, jemput Nathan, sudah berhari-hari dia di depan rumah, Al minta maaf, karena sudah tidak mengijinkan Nathan masuk, itu semua demi kewarasan Al, jemput Nathan mah, Nathan terlalu keras kepala, Al takut dia jatuh sakit, bagaimana pun Raisa masih membutuhkan ayahnya"


"sudah dulu ya mah, Al matiin telponnya assalamualaikum"


"waalaikumsallam"


tiitt.


....


besok paginya ana dan Anton sudah ada di ruang tamu keluarga Alayya, Ali menyerahkan surat perceraian yang sebelumnya sudah di tandatangani Alayya, ana dan Anton sudah berusaha menengahi masalah mereka, tapi Alayya tetap pada pendiriannya untuk bercerai dari nathan.


"ya udah nak, mama papa pulang dulu, kamu yang tabah ya" ana memeluk menantunya, ia pun begitu terluka mendengar kabar keguguran yang Alayya alami dan itu semua karena ulah anaknya.


Alayya dan orang tuanya mengantar ana dan Anton hingga pintu gerbang, sudah tidak ada Nathan di sana, Nathan berada di dalam mobil orang tuanya,pria itu termenung dengan pandangan kosong, sakit hati ana melihat kondisi putra yang ia banggakan.


"hati hati mah, pah"


keduanya hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil, ana duduk di samping Nathan.


"Nat"


Nathan tidak menghiraukan panggilan Ana, pandangannya masih kosong, ana kawatir melihat kondisi nathan, baju putih tidak lagi terlihat bersih, noda di mana-mana begitu juga dengan celananya, wajah putranya sembab, kantung Matanya terlihat begitu jelas.


Ana merapikan rambut Nathan yang tidak lagi terbentuk.


"pah, kita mampir ke rumah sakit dulu, Nathan demam" langsung saja Nathan menggeleng.


"kita langsung pulang Aja Nathan nggak mau"


"tapi nak, kamu demam"


"mah, please"


mereka mengalah dan memilih langsung pulang.

__ADS_1


__ADS_2