Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 179. Bimbang


__ADS_3

Satu hari berlalu begitu panjang. Judith tidak pernah merasa seberat ini ketika menjaga toko. Pasalnya sejak semalam Owen tidak berhenti membombardir ponselnya dengan pesan singkat dan telpon. Yang mana satupun tak dirinya acuhkan. Beruntung hari ini coffeshop milik Owen sangat ramai, sehingga tidak memungkinkan bagi pria itu untuk mencuri waktu guna menyambangi toko kue milik Judith.


“Kakak sedang bertengkar ya?”


Judith menghela nafas. Meneruskan kesibukannya mengelap kaca display untuk kelima kalinya hari ini. “Begitulah. Terlihat ya?”


“Sangat” Alya mengangguk. “Kalau suasana hati kakak sedang tidak baik, kakak pulang lebih dulu saja.Aku akan menjaga toko ini sepenuh hati”


Judith lantas terkekeh, gadis muda yang menjadi karyawannya ini memang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. “Terimakasih, Alya. Nanti kupikirkan”


Suasana toko yang sepi membuat Alya meraih remote untuk menyalakan televisi. Bersamaan dengan acara yang menampilkan profile sukses pengusaha negeri, yang mana kebetulan Jeanno Alexander menjadi salah satu bintangnya.


“Wah, itu tuan Alexander, kan?”


Sama seperti Alya, Judithpun memakukan pandangannya lurus kearah layar kaca. Melihat bagaimana sosok rupawan bak dewa itu begitu mempesona dalam balutan pakaian formal. Yang menjawab pertanyaan dengan lugas dan penuh karisma.


“Selama 17 tahun aku hidup, sepertinya tuan Alexander adalah pria tertampan yang pernah kulihat. Kalau menurut kak Judith bagaimana?”


Hanya mengangguk seadanya, karena sesungguhnya atensi Judith masih terfokus pada Jeanno. Dan perkataan pria itu tempo hari, bahwa dirinya akan pulang hari Rabu esok. Membuat Judith harus mengerucutkan keputusan secepatnya. Apakah ia harus kembali kepada Jeanno dan Aera, atau melangkah kepada masa baru bersama Owen dan ibunya yang hangat?


Tak ingin berlama-lama pening dalam mengambil keputusan yang pelik, Judith memilih untuk angkat kaki. Membiarkan Alya yang masih terkesima dengan karisma Jeanno Alexander.


**


“Kurasa aku akan kembali besok”


Mark mengangkat wajahnya. “Kenapa? Bukankah kau masih ada pertemuan dihari Rabu?”


“Semakin lama aku disini, semakin pikiranku tidak fokus” Jeanno mengusak wajahnya kasar. Dilonggarkannya dasi yang membelit, seakan mampu menyegarkan pikirannya.

__ADS_1


“Karena Judith?”


Pria yang ditanya, memilih bungkam selama sekian sekon. “Sejak terakhir bertemu sampai detik ini, dia belum menghubungiku”


“Kau takut tidak dipilih?”


Mulanya Jeanno enggan menjawab, hingga pada akhirnya ia mengangguk samar. “Aku takut jika harus kehilangan lagi. Aku tau ini terdengar egois, tapi aku tidak bisa melepaskannya. Tidak bisa memilikinya untuk diriku sendiri membuatku gila, Mark”


“Tapi jika Judith tidak mau, apa kau akan memaksa?”


Pria itu menoleh, memandang sang sepupu dengan tatapan menerawang. Oh, Mark paham tatapan itu. “Jeanno, jangan bilang otakmu sedang merencanakan sesuatu”


Jeanno terkekeh. “Tidak, Mark. Aku sudah berhenti untuk memanipulasinya. Aku ingin dia memilihku karena mutlak dari dirinya sendiri”


Mark tak lagi menanggapi. Sejujurnya ia masih tak percaya jika sepupunya ini tak memiliki rencana ‘licik’ untuk menggamit Judith kembali ke sisinya.


**


Judith tidak menjawab sampai ia selesai mengunci pintu toko, kemudian berbalik hingga berhadapan dengan Owen. “Aku butuh waktu”


“Aleta, aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf jika kelakuanku kemarin membuatmu marah”


Perempuan itu menghembuskan nafas lirih, sembari memandang ‘kekasihnya’ datar. “Kau mendorongku ke tahap hubungan yang terlalu cepat, Owen. Disaat sedari awal kau mengatakan padaku untuk berjalan pelan-pelan”


“Kupikir kau akan senang jika aku membawa hubungan ini ke tahap yang lebih serius”


Owen meraih tangan Judith, mendekapnya erat. “Aku mengerti luka yang kau alami sebelum bertemu denganku. Kau mungkin masih trauma, kau mungkin menganggap aku sama seperti pria brengsek dari masa lalumu. Kupikir dengan aku mengungkapkan niatku untuk menikahimu, itu bisa membuatmu berpikir bahwa aku tidak main-main. Walau pada akhirnya pemikiranku salah. Sekali lagi, aku minta maaf”


Ketulusan yang tersirat pada gestur dan nada bicara Owen mau tak mau membuat ego Judith luruh. Netranya turun, memandang tangannya. “Berhentilah meminta maaf, Owen”

__ADS_1


“Tidak sampai kau memaafkanku dan tidak menghindar dariku”


Judith membuang nafas. Mengembalikan arah pandangnya pada sang lawan bicara. “Baik, aku memaafkanmu” kemudian tersenyum. Senyuman yang dibalas lebih lebar oleh si pria.


“Ibu menanyakan makanan kesukaanmu. Apa kau mau makan malam di rumah?”


Tanpa menimbang, Judith mengangguk. Karena pada dasarnya, sekali lagi, ia rindu kehangatan seorang ibu. Ajakan Owen yang tak akan bisa ia tolak.


**


Jarum jam yang berputar, membawa hari berganti hingga tiba pada hari Rabu. Hari kepulangan Jeanno kembali ke Jepang, sekaligus penentuan apakah Judith akan datang atau tidak.


Tuan tampan itu tak bisa menyembunyikan gelisahnya sejak semalam. Tidak bisa tidur nyenyak, tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Ponselnya memang ramai, tapi tak ada satupun notifikasi yang berasal dari seseorang yang diharapkan. Ingin rasanya Jeanno menelpon Judith, membombardirnya dengan pertanyaan mengapa Judith masih tidak nampak batang hidungnya. Tapi disisi lain ia enggan dicap sebagai pemaksa. Ia tak ingin mendesak Judith untuk memilihnya. Ia ingin gadis itu kembali padanya atas kemauan sendiri.


“Jika Judith tidak datang. Apa yang akan kau lakukan?”


Jeanno memandang nyalang kearah Mark. Tak suka dengan ucapan Mark yang menyiratkan kekalahan yang semakin nampak di depan mata. “Jaga bicaramu”


Jika orang lain akan menciut akan respon Jeanno, maka sebaliknya, Mark justru terkekeh. “Aku hanya bicara kemungkinan. Kita sama-sama tau sebagaimana brengseknya kau memperlakukan Judith. Mungkin dia mencintaimu, tapi antara cinta dan luka, mana yang lebih besar?”


“Aku mengenalmu seumur hidup. Kau sulit menerima kekalahan. Itulah mengapa aku menanyakan pertanyaan seperti tadi. Jika kau kalah, apa yang akan kau lakukan?”


“Kau pernah kalah mendapatkan restu ketika bersama Nayara dulu, maaf aku mengungkitnya lagi. Tapi kau memenangkan hatinya, bahkan menikah dan memiliki anak. Nayara tidak memiliki trauma akibat perlakuanmu, berbeda dengan Judith”


“Dia mungkin masih memiliki cinta untukmu, dan Aera. Tapi jika kalian bersama, rintangan yang dihadapi juga banyak. Bagaimana jika publik mengetahui bahwa dia bukan Nayara? Bahwa Nayara yang asli sudah meninggal dan dia hanyalah mantan penari erotis yang bisa dibeli? Bukan hanya Judith yang hancur. Tapi juga kau, perusahaanmu, citra dan kerja keras yang kau bangun selama ini. Kau akan dianggap menipu publik, memalsukan identitas, dan banyak lagi”


“Kemudian orangtuamu. Dengar, Jeanno. Nayara saja yang mahasiswi berprestasi tidak diterima oleh mereka, apa yang membuatmu berpikir mereka akan menerima Judith dengan latar belakangnya?”


Jeanno bungkam. Semua yang dipaparkan oleh Mark memang masuk akal. Ia mencintai Judith, Judith mungkin masih memiliki sisa cinta untuknya. Tapi untuk keduanya bersatu, yang akan terjadi kedepannya tidak akan muda. Akan banyak yang dikorbankan.

__ADS_1


Pria itu membuang nafas kasar sembari menyugar rambutnya. Apa sudah saatnya ia belajar merelakan kepergian perempuan yang dicintainya, lagi?


**


__ADS_2