Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 157. Nasehat Dari Kawan


__ADS_3

Terlambat untuk menyesali keputusannya ‘kembali’, pasalnya ketika mendengar berita sakitnya Aera dari Hannah, akal sehat Judith tidak mampu berpikir dengan jernih. Yang ia inginkan hanya berada didekat si kecil secepatnya. Mengenai hal lain, sama sekali tak berbesit dalam benaknya.


Hal lain yang dimaksud adalah… Jeanno Alexander.


Bukan hal mustahil akan terjadi pertemuan dengan pria itu mengingat putri tunggalnya sedang sakit. Jeanno tidak mungkin tidak menjaga Aera terlepas dari traumanya akan rumah sakit. Terlambat untuk lari ketika sosok itu saat ini tengah berhadapan dengannya. Membatu, dengan ekspresi datar seperti biasa. Jika saja Judith lebih teliti, ia bisa melihat kesenduan mendalam pada binar mata tuannya.


Jeanno maju selangkah, membawa reaksi berlawanan bagi Judith yang bergerak mundur, terkesan menghindar. Pria itu berhenti, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ada percikan perih melihat lawannya terlihat takut. Jeanno tidak menyalahkan Judith, wajar saja jika perempuan itu enggan berada didekatnya lagi.


“Panasnya sudah turun. Tapi dia masih belum mau makan”


Dua orang dewasa itu mulai mengesampingkan apapun rasa didada, kini beralih kearah ranjang dimana terdapat tubuh mungil Aera disana.


“Dia terus mengigau namamu dalam tidurnya. Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengganggumu lagi, Judith. Aera tidak mau makan walau sudah kubujuk berkali-kali. Satu-satunya harapanku adalah.. kau”


Judith mengangguk perlahan, mengerti keputusasaan Jeanno yang membuatnya menginginkan Judith berada disini, bukan rasa rindu di ulu hati. Berusaha kembali pada kenyataan, sekali lagi, Judith harus menekan kepahitan bahwa ia bukanlah siapa-siapa dimata Jeanno selain ibu pengganti putrinya.


“Tuan tidak mengganggu. Aku sendiri yang memutuskan untuk kemari”


Jeanno tidak merespon apapun selain mempersilakan Judith untuk duduk ditempatnya semula yaitu disamping ranjang Aera. Tak ada yang bersua, hanya hening menyelimuti. Judith yang nafasnya sesak melihat anak yang biasanya ceria, kini terbaring pucat dan kurus. Memang sudah terhitung tiga hari ia tidak video call dengan Aera. Alasannya karena tokonya yang ramai dan ia kesulitan mencuri waktu. Jangankan video call, untuk makan siang saja ia kesulitan jika bukan karena Owen yang mengantarkannya makanan.


Ada rasa bersalah disana, karena semula Judith berpikir mungkin jika membatasasi komunikasinya dengan Aera, gadis cilik itu bisa dengan perlahan melupakan eksistensinya. Jika Aera melupakannya, maka mungkin akan lebih mudah baginya terlepas dari bayang Jeanno Alexander. Sebersit rencana egois yang malah ‘menumbalkan’ jiwa suci yang hanya menginginkan kasih sayang dari seorang ibu.


“Bagaimana kabarmu…?”


Gerakan jemari yang tengah merapikan selimut Aera itu terhenti. Tanpa menoleh, hanya melihat dari ekor mata saja, Judith mengangguk kaku. “Baik, tuan”


“Aku dengar dari Mark kalau kau sudah meresmikan toko kuemu. Selamat, Judith”


Ia mengulas senyum tipis. “Terimakasih”


Begitu saja, kecanggungan yang menebal menjadi atmosfir ruang rawat tersebut. Jeanno pamit, ingin mencari kopi di kantin rumah sakit. Entah hanya sekedar alasan, atau karena ia sendiri tak tahan dengan jarak yang meninggi. Jauh berbeda dari interaksi mereka dulu, ya mau bagaimana lagi. Salahkan ia sendiri, Jeanno sendirilah yang menciptakan mengibarkan bendera perang. Walau saat ini mereka telah berdamai, namun kondisi tak akan pernah kembali sama.


Jeanno mengusap wajahnya kasar. Ada berbagai rasa berkecamuk didadanya sekarang. Senang bertemu dengan Judith, namun pedih melihat betapa perempuan itu menjaga jarak. Bahkan untuk memandang tepat pada matanya pun enggan. Judith tidak tahu, betapa besar keinginan Jeanno untuk mendekapnya. Membaui aroma tubuh yang selama ini hanya bisa ia sesap dalam kamar yang telah ditinggali berbulan-bulan.

__ADS_1


“Sepertinya aku memang butuh banyak kopi” gumamnya penuh frustasi.


**


Jeanno kembali dini hari, ketika ia telah selesai memaksa egonya untuk tidak menarik Judith kepelukannya. Ruang rawat itu hening, ia bisa melihat dari kaca bening yang terselip di pintu. Putri kecilnya masih terlelap dengan telapak tangan berada pada genggaman ibu angkatnya. Sementara Judith, meletakkan kepalanya dipinggiran ranjang Aera, nampak terlelap dalam posisi tidur.


Jeanno hendak memutar knop, bersamaan dengan rengekan Aera dalam tidurnya. Dahinya berkerut dan bibirnya menggumamkan sesuatu yang telah terucap dalam beberapa hari ia sakit.


Mama Judith.


Rengekan yang refleks membuat Judith tersadar. Perempuan itu langsung mengusap kepala Aera sayang, membisikkan sesuatu sembari menciumi dahinya lembut. Tak berapa lama, kerutan dalam dahi Aera menghilang, isakannya mereda. Gadis kecilnya kembali pulas bergelut dalam mimpi.


Jeanno ada disana, dimalam-malam kesepian ketika Aera mengigaukan nama yang disayang. Sosok yang saat ini berada sangat jauh darinya. Ironis, ketika Jeanno yang kali pertama membawa Judith padanya. Menawarkan keindahan akan keutuhan keluarga yang belum banyak Aera rasakan ketika mendiang Nayara masih hidup. Disaat sayangnya sudah tumbuh dan berlipat ganda, justru Jeanno pula yang menyeret Judith pergi. Merampas paksa kehangatan itu, hingga menyisakan tak lain dan tak bukan dingin yang menusuk.


Judith tidak kembali tidur. Tak tahu apa yang dibicarakan, karena posisi Judith membelakangi pintu. Tapi yang Jeanno lihat, perempuan itu menegakkan duduknya. Jemari yang masih mengusap punggung tangan Aera sementara tangan lainnya membelai surainya lembut.


Malam itu, Jeanno putuskan untuk tertidur di bangku tunggu luar ruang rawat.


**


Jeanno hanya meringis mendengar cibiran Tyona. Perempuan cantik itu mengusapi perutnya yang buncit, membuat gerakannya tidak segesit dulu. “Prediksinya kapan?”


“Dua minggu lagi”


Pria Alexander itu tersenyum kecut. Sekian banyak pergolakan masalah yang terjadi membuat Jeanno melupakan teman baiknya ini. Bahkan melewatkan berita bahagia sekaligus berita menyedihkan dari sang kawan dekat. Baru setelah Aera sakit, Jeanno kembali menyambung komunikasi dengan Tyona.


“Kau belum menjawab pertanyaanku” Dahi Jeanno berkerut. “Yang mana?”


“Apa yang terjadi antara kau dan Judith? Kau menghilang beberapa bulan, Jean. Kupikir kau sudah bahagia bersamanya dan memutuskan untuk melupakan perjanjian kalian” Tyona meringis, bayinya baru saja menendang cukup keras. Ia mengangguk ketika Jeanno bertanya ‘kau oke?’.


“Terlalu panjang. Mungkin aku akan menceritakannya ketika kau sudah melahirkan saja. Aku takut kau akan emosi dan berdampak tidak baik untuk bayimu”


Tyona memicingkan mata. “Jika ceritamu membuatku emosi, sudah pasti ada kesalahan disana. Dan kupastikan kau yang membuat kesalahan. Benar, kan?”

__ADS_1


Tak menyanggah, Jeanno hanya mengangkat bahu.


“Tadi sewaktu aku visit, Aera sedang duduk dan disisiri rambutnya oleh Judith sembari bercengkrama. Putrimu terlihat ceria dan sangat vokal. Semua ceritanya juga ditanggapi bagus oleh Judith. Aku harus mengatakan ini, Jean.. bahwa Aera pagi ini sangat berbeda dengan Aera sebelum Judith datang. Kau sungguh payah”


“Ketika kau memutuskan untuk berpisah dengan Jeffrey disaat bayi kalian akan lahir, apa yang membuatmu pada akhirnya mengambil pilihan yang berat ini? Apa yang meyakinkanmu?”


Tyona terkekeh. “Jeanno Alexander berkelit dengan cara mengalihkan topik obrolan, huh? Sungguh pengecut”


“Ayolah, Anna. Aku hanya ingin mendengar sudut pandangmu. Walau Judith bukan ibu kandungnya, tapi aku merasa bersalah karena menjadi penyebab putriku tidak bisa bersama dengan Judith. Aku ingin mendengar ceritamu, karena nantinya bayimu akan tumbuh tanpa figur seorang ayah yang tinggal satu atap dengannya. Cerita kita berbeda tapi serupa. Kau tau maksudku, kan?”


Masih tersenyum, Tyona menyandarkan punggung pegalnya dibantalan sofa. “Memutuskan berpisah bukan hal yang mudah, Jean. Terutama ketika aku telah menghabiskan banyak tahun-tahun bersama Jeff. Tapi jika harus meneruskan pernikahan yang pondasinya sudah retak, itu akan jauh lebih sulit”


“Setelah menghabiskan liburan bersama, aku berpikir.. apa aku harus memaafkan suamiku, dan memulai semua dari awal bersama anak kami, seakan-akan prahara itu tak pernah terjadi? terlebih Jeffrey begitu perhatian padaku, memperlakukanku selayaknya ratu. Tapi aku teringat, bukan hanya aku yang pernah ia ratukan. Ada perempuan lain yang juga sedang mengandung”


“Jika bicara hak, tentu posisiku jauh lebih menguntungkan dibanding selingkuhannya. Aku pernah berpikir, untuk mengambil kembali apa yang menjadi hakku. Tidak apa jika wanita itu merana ditinggal Jeffrey, karena sejak awal dia merebut apa yang bukan menjadi miliknya. Tapi disisi lain, jika aku mengambil keputusan untuk tetap bersama Jeff, itu artinya aku tidak menghargai diriku sendiri. Bukan aku yang menodai pernikahan kami. Bukan aku yang berkhianat. Jika kami tetap bersama, bukan tidak mungkin ‘api’ lain akan muncul dimasa depan. Menimbulkan pertengkaran demi pertengkaran yang tidak baik didengar ataupun dilihat oleh anakku”


“Jadi usai pemikiran yang panjang dan matang, aku putuskan untuk melepaskan Jeffrey. Aku putuskan untuk bebas, Jean”


Jeanno meraih punggung tangan Tyona, mengusapnya bermaksud memberikan support sebagai seorang sahabat. “Proses perceraianmu baru berlangsung setelah kau melahirkan. Bagaimana jika kau berubah pikiran?”


Tyona menggeleng. “Aku tidak bisa menjamin aku tidak akan berubah pikiran. Tapi untuk saat ini, keinginan kembali belum ada sama sekali. Mengenai nantinya bayiku tidak memiliki dua orangtuanya dalam satu atap, adalah harga mahal yang harus kubayar untuk kebebasan kami. Lebih baik tidak tinggal bersama, tapi dia mengenal ayahnya sebagai sosok penyayang dan penuh kasih. Dibanding bersama dan mengetahui borok-borok ayahnya”


“Kau melakukan kesalahan besar yang membuat Aera kehilangan sosok ibunya lagi. Tapi disisi lain kau ingin Judith tetap tinggal disaat kaulah yang salah disini. Sementara tidak ada ikatan yang jelas. Jeanno, dengarkan aku…”


Jeanno mendongak. Memandang lurus wanita yang sudah ia anggap seperti kakak perempuannya.


“Judith juga perempuan biasa. Kalian tinggal bersama selama enam bulan. Mungkin bagimu itu singkat dan tidak berarti apapun, tapi bagi Judith, hati orang siapa yang tahu? Diperjanjian kalian mengatakan tidak boleh saling jatuh cinta. Tapi banyak hal bisa terjadi dalam kurun waktu enam bulan, Jean. Hati kecilmu menginginkan Judith untuk tinggal, demi Aera.. atau demi dirimu sendiri?”


“Tidak ada perempuan yang ingin digantung tanpa adanya kejelasan. Apalagi harus hidup dalam bayang-bayang wanita lain. Jika aku ada diposisi Judith, aku mungkin akan melakukan hal yang jauh lebih ekstrim, yaitu pergi sejauh mungkin. Memutus segala bentuk komunikasi termasuk dengan Aera. Tapi alih-alih seperti itu, Judith tetap menganggap Aera seperti anaknya sendiri. Bahkan rela keluar dari pelariannya untuk menemui si kecil yang sedang sakit”


“Judith pasti bingung, posisinya sekarang itu apa dimatamu? Pengganti Nayarakah? Jika memang pengganti Nayara, maka harus lebih spesifik. Pengganti Nayara dimata Aera, atau pengganti Nayara dimatamu? Jeanno, mereka mungkin sedarah tapi tetap saja Judith dan Nayara.. adalah dua orang yang berbeda”


“Menurutku kau harus menurunkan egomu, mulailah kenali perasaanmu sendiri. Apa yang kau rasakan pada Judith. Jika kau mencintainya, tunjukkan, perjuangkan. Tapi jika kau melihatnya sebagai bayangan dari Nayara, maka lepaskanlah”

__ADS_1


“Mengenai Aera, sudah saatnya kau jujur bahwa mendiang ibunya sudah tiada. Bicarakan pelan-pelan bahwa Judith memiliki kehidupan sendiri, yang mana tidak akan selalu ada untuk Aera”


**


__ADS_2