
Satu tahun kemudian
Putra pertama Mark dan Hannah genap berusia tujuh bulan. Balita menggemaskan itu mewarisi rambut tebal dan coklat milik ibunya, netra tajam dan raut tampan ayahnya, serta bibir penuh milik sang ibu. Membuat siapapun yang melihatnya akan langsung jatuh hati. Hazel Joen Sebastian, dengan mudah menempati tahta tertinggi dalam keluarga Sebastian. Bahkan diusianya yang belum genap setahun, sang opa sudah menghadiahinya satu unit apartemen mewah. Hannah tak hentinya bersyukur putra kecilnya tumbuh dalam lingkup keluarga utuh dan saling menyayangi seperti keluarga Mark.
Siapapun yang mengenal darah Alexander tentu tidak akan berani meremehkannya. Terbukti dengan bersatunya pasangan ayah dan anak itu, kesuksesan yang diraihpun tidak main-main. Menempatkan sepasang ayah dan anak Alexander itu menjadi top pengusaha versi berbagai sumber. Jeanno yang baru satu tahun tinggal di Jepang, membuktikan kecerdasannya dengan membuat cabang milik sang ayah berkembang pesat. Jauh dari sebelumnya. Thomas Alexander tentu bangga, memiliki putra dan cucu cantik, juga kekuasaan yang semakin melebar. Ia, berada dalam kesuksesan yang diimpikan banyak orang.
Arman divonis hukuman penjara 18 bulan. Segala aspek dalam hidupnya hancur. Usaha dan juga pernikahan. Arman dan keluarganya memang tidak serta merta jatuh miskin, hanya saja kerugian besar yang dialami, membuat Mahendera harus berhemat. Ia sudah resmi bercerai dengan Paula Winona tiga bulan sejak vonis hukumannya turun. Ironisnya, terdengar kabar wanita itu telah menikah secara diam-diam dengan seorang pengusaha batu bara asal pulau Kalimantan. Meninggalkan Arman dalam keterpurukan yang dalam. Ia hancur, masih tak menyangka apa yang dimilikinya lenyap dalam jangka waktu secepat ini.
Lantas bagaimana dengan Judith?
Oh, tentu saja tidak mudah bagi wanita itu untuk kembali menata hatinya usai benar-benar ditinggalkan oleh Jeanno dan Aera. Setidaknya hampir setiap hari Mikha menangkap basah atasannya menangis diam-diam. Ketika ditanya mengapa, Judith hanya mengatakan dirinya sedang menyimpan rindu. Memang tidak secara gamblang Judith berkata siapa, namun Mikha sudah bisa menerka bahwa kerinduan itu tersimpan untuk bosnya yang sudah berada dinegeri tirai bambu.
Mengenai hubungannya dengan Owen, Judith masih belum bisa membuka hatinya. Pemuda itu masih belum menyerah, terlebih usai Judith menjelaskan bahwa putri yang ia maksud adalah anak mendiang kakaknya, bukan anaknya sendiri. Disitu Owen memastikan bahwa Judith masih sendiri, dan dari sanalah jiwa juangnya berkali lipat membara. Begitu ingin memiliki Judith.
“Kak, ini ada titipan dari kak Owen sewaktu kakak sedang di toilet”
Mikha menyerahkan kotak berisi makan siang dan makan malam untuknya. Dibubuhi notes ucapan selamat makan dengan emoticon yang lucu. Judith lantas tersenyum tipis, ada bersitan rasa bersalah setiap menerima perlakuan baik Owen.
“Kak, boleh aku bicara sesuatu?”
Judith mengangkat wajahnya. “Ya, tentu. Ada apa, Mikha?”
“Eum.. sebelumnya aku minta maaf jika aku lancang. Tapi bagaimana perasaan Kak Judith terhadap Kak Owen? Dia masih belum menyerah sampai sekarang”
__ADS_1
Bukan hal baru bagi Judith maupun Mikha untuk saling curhat satu sama lain. Walau tidak semua diceritakan, tapi mengenai Owen.. Judith memilih untuk membaginya dengan Mikha.
“Entahlah, Mikha. Sejujurnya aku merasa bersalah tidak bisa membalas perasaannya. Tapi kenyataannya aku memang belum bisa membuka hatiku. Aku masih mencintai orang lain”
“Bagaimana dengan orang itu?”
Dahi Judith mengerut. “Ya?”
“Pria yang kak Judith maksud. Apa dia membalas cintamu? Kak, menunggu itu tidak salah, tapi jika penantian kita sia-sia, dan membuat orang yang menyayangi kita pergi, bukankah itu jauh lebih buruk?”
Judith melempar pandangannya menuju notes yang ditulis tangan oleh Owen.
“Kak Owen kulihat baik, tampan, pintar, dan lucu. Aku yakin dia akan menjaga kakak sepenuh hati. Memang jahat jika menerima pernyataan cinta disaat hati masih mencintai pria lain. Tapi kak, setidaknya.. terima ajakan kencannya barang sekali-dua kali. Barangkali perlahan hatimu mulai tersentuh.. siapa yang tau, kan?”
Mikha bangkit dari duduknya ketika beberapa ibu-ibu paruh baya memasuki toko. Disambutnya dengan senyum ramah. Mengabaikan Judith yang termenung memikirkan kata-kata karyawannya barusan.
Mau sampai kapan ia menunggu Jeanno? Lagipula terakhir bertemu, pria itu mengucapkan selamat tinggal, kan? Tidak ada kepastian yang Jeanno janjikan dalam hubungan mereka. Mereka, hanyalah dua jiwa yang dipertemukan takdir melalui Nayara aka Alana. Dua insan yang sejatinya tengah tersesat, bertemu pada waktu yang salah. Yang dampaknya bukan main-main. Satunya menarik diri, memilih hidup tenang dalam pelariannya. Sementara satunya, sibuk pada ambisinya menaklukan dunia bisnis.
Baik Jeanno maupun Judith, masih tetap keras pada egonya akan pendapat populer orang-orang, bahwa cinta tak harus memiliki.
Kehadiran Owen, bak angin segar bagi perempuan seperti Judith. Seumur hidupnya ia hanya mengenal lelaki mata keranjang yang memandang lapar tubuhnya. Berharap bisa menandai setiap inci kulitnya dengan gairah. Jeanno, yang ia kira berbeda saja bahkan menyakitinya lebih parah. Mark adalah pria pertama yang menurutnya berhati tulus, namun tentu saja berbeda jika dibandingkan dengan Owen. Karena Mark suami sahabatnya, sementara Owen yang jelas-jelas pria yang menaruh hati untuknya.
Selama ini Owen memperlakukannya luar biasa baik. Mengiriminya makanan siang dan malam.
__ADS_1
“Bisakah kau berhenti mengirimiku makanan? Aku tidak enak hati jika terus merepotkanmu, Owen”
*
“Aku tidak merasa direpotkan. Lagipula kau selalu sibuk pada jam makan siang dan makan malam. Ingat terakhir kali kau meringkuk dibawah meja kasir karena maagmu kambuh? Aku tidak mau itu kembali terulang. Lagipula tidak merepotkan sama sekali, kok”
*
Begitu jawaban Owen ketika Judith memintanya untuk berhenti. Tak bisa menangkis, Judith memilih untuk menerima kebaikan pria itu. Tak jarang juga Judith membalasnya dengan mengirimkan pastry kesukaan ibu Owen. Yang tentu saja disambut dengan luar biasa hangat oleh pasangan ibu dan anak itu.
Mikha benar, menyia-nyiakan pria sebaik Owen pasti akan merugikan baginya. Judith pernah kehilangan ketika mencintai. Namun bukan berarti mencintai itu adalah hal yang buruk. Penolakan bertubi-tubi, agaknya akan membuat Owen lelah berjuang. Jika suatu saat nanti tiba saatnya Owen memilih pergi, akankah Judith akan menyesali keputusannya?
Hidup dalam penyesalan merupakan pil pahit yang enggan ia rasakan kembali. Melalui hari-harinya dalam kubangan sesal yang tak bisa diperbaiki, Judith tak ingin mengecapnya lagi. Penyesalan terbesarnya cukup menjadi perempuan malam. Tidak perlu ditambah hal lain.
“Haruskah aku mulai belajar membuka hati..?” gumamnya lirih. Jika demikian, maka hal pertama yang Judith sampaikan adalah mengenai masa lalu kelamnya. Jika Owen tidak berkenan dan memilih pergi, Judith akan menerima dengan kelapangan hati. Jika pria itu tetap tinggal, maka Judith juga akan belajar membuka hati.
__ADS_1
Diraihnya ponsel yang teronggok disamping mesin kasir. “Hei, Owen? Nanti malam.. kau ada waktu?”
**