Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 70. Burn The Bed


__ADS_3

Ciuman itu awalnya bersifat biasa. Hanya ingin merasakan manisnya satu sama lain. Tanpa tuntutan, tanpa ada yang mendominasi. Jeanno lebih dulu menarik wajahnya yang membuat dahi Judith berkerut tak suka dan ia membuka matanya, melayangkan tatapan protes mengapa keintiman itu hanya berlangsung sebentar. Jeanno tersenyum, sebelum menyatukan kembali tautan yang sempat terputus. Kali ini, tanpa ada jeda. Bibirnya bergerak liar hingga kepala Judith terdorong kebelakang. Jeanno mendominasi, mengecap, menggigit, menggoda hingga lawannya melenguh. Judith yang tak ingin kalah, membalas dengan sama liarnya. Suara kecapan itu bersautan dengan derasnya hujan. Berbanding dengan suhu diluar yang dingin akibat guyuran hujan, ruang tengah itu justru memanas. Permintaan untuk merasakan lembutnya kulit mereka satu sama lain semakin besar.


Jeanno menggeram, tangannya yang besar mengangkat tubuh ramping Judith ke pangkuannya tanpa memutus cumbuan mereka. Dengan posisi Judith yang lebih tinggi dari Jeanno, memudahkan gadis itu untuk menguasai permainan, kebetulan Jeanno mengalah. Seperti ingin melihat bagaimana, atau seberapa besarnya Judith menginginkannya.


Tangannya naik turun mengusap punggung Judith, sementara tangan gadis itu sibuk mengoyak rambut Jeanno. Di sekitar dagu mereka sudah basah akan saliva, entah milik siapa. Siapa juga yang peduli?


Judith memutus ranum mereka karena kebutuhannya akan oksigen. Ditatapnya Jeanno yang pandangannya berkabut akan gairah. Judith tau, jika ia memutuskan untuk melanjutkan, maka tidak akan ada jalan baginya untuk mundur.


Tapi, dirinya juga tak ingin mundur.


Jeanno mendekatkan wajahnya ke cerukan leher Judith. Membiarkan bibirnya aktif disana, sementara tangannya yang semula bertengger di pinggang, kini mengusap, memijit, meremat paha dalam gadis itu. Membuatnya mendengar lenguhan yang serasa minyak yang dituangkan dalam kobaran api. Kobaran semakin besar yang mengikis akal sehat dua anak manusia itu.


Jeanno ingin berhenti, namun respon tubuhnya berkata yang sebaliknya. Ia tak ingin, dan tak bisa berhenti! Judith begitu manis, seperti candu baru baginya.


Usai membuat beberapa tanda, pemuda itu mengangkat wajahnya. Bertemu dengan tatapan sayu dari sang lawan. Tak ada lisan yang terucap, namun keduanya memahami apa yang mereka inginkan. Judith mengangguk perlahan. Cukup untuk memberi ijin bagi Jeanno melakukan lebih jauh.


Dan itu ditangkap Jeanno dengan baik. Pemuda itu bangkit dengan masih menggendong tubuh Judith. Keduanya kembali mempertemukan ranum mereka, kali ini tanpa tekanan karena mereka harus menjaga keseimbangan untuk menaiki tangga menuju kamar Judith.


Ya, bukan kamar Jeanno.


Jika dalam situasi normal, hati Judith pasti akan sakit. Mengetahui fakta bahwa Jeanno masih menghormati Nayara untuk tidak bercinta diatas ranjangnya. Tapi dalam situasi seperti sekarang, tak ada yang Judith inginkan selain berbagi kehangatan dengan Jeanno. Dimanapun itu.


Tubuhnya dibaringkan dengan hati-hati. Berbeda dengan pagutan mereka yang saling mendominasi, kali ini jauh lebih lembut dan dalam. Judith memutar tubuhnya yang semula dibawah, menjadi diatas Jeanno. Untuk memudahkan tangan pria itu meraih resleting gaunnya. Dan benar saja, usai perubahan posisi, tangan itu mencari-cari ke belakang tempat resleting pengait itu berada. Begitu menemukannya, tanpa membuang waktu Jeanno menurunkannya. Pria itu memutus ikatan bibir mereka, untuk memandangi tubuh elok itu. Membuatnya tak sabar untuk menanggalkan setiap benang yang melekat pada tubuh Judith.


Begitu saja, ketika dua manusia dengan kebutuhan masing-masing bertemu, tak ada yang mereka inginkan selain memenuhi kebutuhan itu. Tak peduli ada rasa diatasnya, tak peduli ada perjanjian yang terlibat. Mengabaikan segala yang ada, keduanya saling berbagi kehangatan. Menihilkan jarak yang ada hanya untuk mengecap manisnya satu sama lain. Hentakan demi hentakan yang dibarengi dengan lenguhan seindah dawai, menjadi candu yang membuat akal sehat mereka mengikis. Jangan berhenti, beristirahat sejenak saja mereka tak ingin. Yang mereka tau, mereka hanya ingin menjemput putih bersama.


Tubuh kokoh itu menggeram ketika melalui masa pelepasannya. Ia menunduk, mengecupi pundak perempuan dibawahnya yang masih mengatur nafas.


“Nayara…”


Satu nama yang lolos begitu saja. Nama yang diucapkan lirih sebagai bentuk kepuasan usai melepaskan putihnya. Nama yang berhasil menyayat luka baru dalam hati Judith.


Perempuan yang baru saja diajak terbang, kini serasa dijatuhkan kembali. Tapi Judith teringat akan penawarannya tempo hari, yang mengatakan bahwa Jeanno bisa menggunakan dirinya jika pria itu merindukan Nayara. Well, sekarang Jeanno melakukannya, dan ia tidak berhak marah, bukan?


Judith memeluk tengkuk Jeanno. Biarlah, biarlah jika percintaan panas mereka dilalui dengan anggapan dirinya adalah Nayara. Tak apa, tak apa asal Judith bisa merasakan perlakuan lembut yang ia berikan kepada Nayara.

__ADS_1


Walau sekali lagi, ia bukanlah Nayara. Hanya bayangan yang tak akan pernah mampu Jeanno sentuh.


Judith tak sempat memikirkan perasaannya kembali karena Jeanno lebih dulu memutar tubuhnya. Menyadari permainan panas mereka belum usai.


**


Hannah sedikit heran mengapa Mark tak menyapanya dengan hangat seperti biasa. Pemuda itu memang menjemputnya, tapi tak ada senyuman atau pelukan lembut. Ekspresi pemuda itu tegang dan seperti menahan marah.


Begitu sampai di rumahpun, Mark langsung menuju dapur. Membiarkan Hannah untuk membersihkan dirinya lebih dulu di kamar mandi.


“Mark..”


“Sudah selesai mandinya?” Hannah mengangguk. “Duduk, Hannah. Ada yang ingin kutanyakan padamu”


Hannah menurut. Mengambil tempat di kursi pantry yang tepat berada di hadapan Mark.


“Apa kau masih menari?”


Dahi Hannah mengerut. “Apa maksudmu? Tentu saja aku masih menari, Mark. Kau mengantar dan menjemputku setiap waktu”


Deg.


Wajah Hannah memucat. Pasti ada yang memicu Mark sehingga ia bertanya seperti itu. “Aku.. tidak mengerti maksudmu”


“Oh ya, kau mengerti dengan jelas maksud pertanyaanku, Hannah. Aku tidak pernah mengusik pekerjaanmu. Aku hanya ingin kejujuranmu disini. Aku sudah lelah dengan kelihaianmu menutupi semuanya dariku. Hannah…”


Gadis itu memandang tatapan sendu Mark. “Ya?”


“Apa kau masih menghargaiku sebagai kekasihmu?”


“Kau bicara apa, Mark? Tentu saja aku menganggapmu demikian”


“Lalu kenapa kau menyembunyikan banyak hal dariku?” suara Mark yang meninggi membuat Hannah beringsut, takut. Ia tak pernah melihat amarah menguasai Mark. Dan ternyata memang benar marahnya orang diam berkali lipat lebih mengerikan.


“Aku.. kau bilang kau mau menunggu”

__ADS_1


Mark menyandarkan pungggungnya di kepala kursi. “Aku memang bersedia menunggu. Tapi tidak selama ini, Hannah. Kita tinggal satu atap, berbagi selimut bersama. Tapi aku seperti tidak mengenalmu. Kau berbeda, sangat berbeda dari Hannah yang kukenal dulu”


Hannah menunduk, memilin jemarinya. “Aku memang berhenti menari di panggung utama”


“Kenapa?”


“Ada tamu VIP yang menginginkanku menari hanya untuknya. Jadi itulah yang kulakukan setiap berangkat bekerja”


Satu alis Mark terangkat. Tak menyukai fakta bahwa Hannah meliukkan tubuhnya untuk satu pria khusus. “Siapa?”


“Kau tak mengenalnya”


“Apa ada hubungannya dengan penolakan Johnny yang melarangku masuk?”


“Kalau itu.. aku tidak tau Mark”


Mark membuang muka. “Kau butuh berapa?”


“Ya?”


“Berapa uang yang kau butuhkan untuk membuatmu berhenti dari pekerjaan itu”


Hannah menggeleng. “Aku tidak bisa berhenti sekarang, Mark”


“Kenapa?”


“Ada satu dan lain hal yang membuatku harus tetap disana. Kumohon, beri aku waktu sebentar”


Mark memijat pangkal hidungnya. Sepertinya obrolan mereka memasuki jalan buntu karena sekeras apapun Mark memaksa, Hannah masih enggan membuka mulut. Pria itu berdiri dari kursinya.


“Akhir pekan ini aku pulang ke rumah. Senin aku akan mengantarmu lagi ke kafe seperti biasa”


Final. Keputusan yang diambil Mark sudah bulat, tanpa menunggu respon Hannah, pria itu melangkah menuju kamar mereka untuk tidur lebih dulu. Tanpa pelukan, tanpa kecupan di kening, tanpa ucapan selamat malam.


Dan semua adalah salah Hannah sendiri.

__ADS_1


**


__ADS_2