
Jemari Judith terulur, mengusap airmata yang nampaknya masih belum juga surut. Ia tak pernah melihat Jeanno sehancur ini. Kehancuran yang turut mengiris hatinya. Sekali lagi, ia kesampingkan ego. Dikecupnya ujung mata Jeanno beberapa kali. Pria itu tak bereaksi. Ia masih terpejam dan menangis dalam diam. Membuat Judith cemas bukan main. Ia rasanya ia menelpon Mark, tapi dekapan Jeanno begitu kuat. Seakan takut jika ia lepaskan, Judith akan menghilang selamanya. Tak ada yang bisa Judith lakukan selain turut membalas memeluk Jeanno sama eratnya.
“Aku membebaskan tuan dari segala rasa bersalah..”
Malam itu dihabiskan dengan derai penyesalan serta kesenduan yang tak terucap lisan oleh dua anak manusia yang berbagi peluk. Satunya merasa tak pantas, sementara satunya merasa takut. Jauh dalam lubuk hati, masih tersisa cinta yang begitu besar satu sama lain. Berharap menyatu dan bahagia, seperti kisah cinta orang normal pada umumnya.
**
Tempat itu luas tak berujung. berupa hamparan rumput hijau yang permukaannya terdapat sentuhan embun segar. Jeanno mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan pandangannya yang terbatas akibat kabut yang sedikit tebal. Ia menoleh segala penjuru, tak ada tanda-tanda keberadaan Judith disampingnya.
Ia sendirian.*
“Jeanno?”*
Suara Judith. Pria itu kembali memutar tubuhnya, mencoba mencari sosok itu. Tapi hasilnya nihil, karena tak ada setitikpun tanda-tanda keberadaan Judith.*
“Judith? Kau dimana?”*
“Jeanno…”*
Sekelebat siluet seorang perempuan berdiri tak jauh dari tempatnya. Jeanno mulai berlari menghampiri. Jaraknya terasa dekat, namun anehnya ia tak juga menggapai sosok tersebut.
“Jeanno, kemarilah..”*
Kabut yang semula tak seberapa, kini turun begitu tebal. Membuat jarak pandang semakin terbatas. Suara Judith terus memanggilnya, menyuruhnya untuk datang menjemput.*
“Jeanno, ikuti suaraku”*
Jeanno yang nafasnya tersengal akibat berlari, kini berusaha menenangkan adrenalinenya. Seperti yang Judith instruksikan, ia ikuti suara itu. Hingga perlahan kabut tebal yang ia lihat mulai menipis, membawanya kepada sosok perempuan yang duduk membelakanginya.*
“Judith?”*
Sang pemanggil berdiri, kemudian menoleh sembari tersenyum lembut.*
“Nayara”*
***
Dengan langkah kaku, Jeanno mendekat kearah Nayara. Wanita itu mengulurkan tangannya untuk disambut. Hanya tinggal beberapa inch sebelum jemari mereka saling bersentuhan, Nayara menarik tangannya.*
__ADS_1
“Kau terlihat.. berantakan, sayang”*
Jeanno masih membisu. Kenyataan bahwa ia ‘bertemu’ dengan Nayara sekarang sungguh diluar dugaan. Ia mengira yang memanggilnya adalah Judith, tanpa pernah terbesit sedikitpun bahwa justru Nayaralah pemilik suara yang menuntunnya.*
“Maafkan aku yang pergi lebih dulu. Meninggalkanmu dalam kesedihan yang tak berujung. Meninggalkan anak kita”*
‘Nayara’ terlihat baik-baik saja. Tidak seperti momen terakhir hidupnya yang bergelut pada ganasnya kanker. Tak ada rambut rontok, tak ada pipi cekung, tak ada bibir pucat apalagi kantung mata. Nayara yang berdiri dihadapannya begitu sehat dan cantik. Wajahnya bercahaya, ditambah senyumnya yang begitu meneduhkan.*
“Nayara… aku gagal”*
“Ya, kau memang gagal, Jeanno”*
Jeanno menunduk, seakan malu harus bertatapan dengan Nayara usai apa yang ia perbuat selama ini.*
“Kegagalan adalah hal yang wajar, Jeanno. Begitu juga dengan kesalahan. Kau hanyalah manusia biasa. Hukuman dan karma sudah kau dapat, sudah cukup kau mendera dirimu dalam kubangan rasa bersalah. Bebaskan dirimu, Jeanno. Hiduplah seperti Jeanno Alexander yang kukenal dulu”*
“Kau dan adikku saling mencintai. Serahkan semuanya kepada takdir, jika kalian memang semestinya bersatu, maka waktu yang indah itu akan datang. Takdir tidak akan pernah tertukar, Jeanno. Kau hanya perlu bersabar”*
Jeanno yang masih menunduk, menggeleng samar. “Apa aku masih pantas?”*
“Jeanno, angkat wajahmu, sayang”*
Berselang beberapa detik dari perintah Nayara, Jeanno mengangkat wajahnya. Mendapati Nayara kini tengah menggendong seorang bayi laki-laki yang gembul dan sehat.*
“Na…”*
“Aku sudah tidak lagi kesepian disini, Jean. Jika dulu Judith membantuku menjaga putriku, sekarang giliranku menjaga putranya disini”*
Jeanno mendekat, mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi mendiang putranya. Ia begitu tampan. Dengan pipi yang kemerahan dan bola mata yang bulat penuh binar.*
“Tidak ada yang perlu kau cemaskan lagi, Jeanno. Segala skenario buruk sudah terjadi. Sekarang giliranmu bangkit, lanjutkan hidupmu”*
“Kau berhak bahagia”*
*
Sekon berikutnya, semua gelap. Jeanno terbangun dari tidurnya. Bukan tanah lapang yang berada dihadapannya, melainkan atap kamar yang ia tiduri semalam.
*
__ADS_1
Selama bertahun-tahun, Jeanno sudah tak pernah lagi memimpikan Nayara. Kini tiba-tiba mendiang istrinya menyambangi mimpinya, bahkan menyampaikan pesan khusus untuknya. Tidak lupa jaminan bahwa ia dan mendiang anaknya baik-baik saja.
“Tuan sakit? kalau sakit sebaiknya tidak usah mengantarku ke stasiun. Aku bisa memesan taksi online”
Pagi tadi Jeanno memang bangun sendirian. Judith sudah terbangun dua jam sebelumnya, guna menyiapkan sarapan sekaligus bersiap pulang. Keretanya jam 9 dan ia harus berada di stasiun paling tidak setengah jam sebelumnya.
Berharap Jeanno baik-baik saja usai melepas tangisnya semalam, pagi itu Judith justru dibuat terkejut oleh Jeanno yang semakin pucat. Wajahnya terlihat lelah seperti kurang tidur. Ia berpikiran untuk menelpon dokter, yang dicegah pria itu dengan alasan ia ingin mengantar Judith ke stasiun.
“Aku yang akan mengantarmu. Seperti yang kubilang tadi”
“Jarak stasiun jauh, tuan. Akan sangat menyiksa jika tuan ikut mengantar dalam keadaan kurang sehat”
“Aku antar, Judith”
Keras kepala. Sifat alamiah dari Jeanno Alexander yang sepertinya sulit dihilangkan. Judith memilih mengalah, dibanding harus merusak mood keduanya. Moodnya sudah sedikit terusik akibat Owen yang tak henti membombardirnya pesan mengenai kepulangannya hari ini.
“Baik, tapi dengan catatan tuan harus sarapan dan minum vitamin sebelum kita pergi”
Syarat yang murah menurut Jeanno. Pria itu lantas mengangguk dan tersenyum tipis. Ia habiskan waktunya untuk sarapan bersama Judith.
Mungkin untuk yang terakhir kalinya?
**
Segala perhitungan sudah matang. Termasuk dengan resiko yang akan didapat, Arman tidak peduli. Keinginannya untuk mengakhiri penderitaan Jeanno sungguh kuat. Ia bahkan tidak bisa tidur semalaman saking tak sabarnya menunggu detik eksekusi. Sengaja Arman tidak menceritakan rencananya kepada siapapun. Ia tak ingin kesenangannya dirusak.
Berdasarkan informasi dari suruhannya, Judith akan pergi ke stasiun pagi itu. Yang kemungkinan diantar oleh Jeanno. Dewi fortuna rupanya berpihak kepada Arman, terimakasih atas pengunduran diri Jeanno yang mendadak, membuat Marco Sebastian tenggelam dalam kesibukan berkali lipat sehingga tak bisa menemani sepupunya mengantar Judith.
Meninggalkan Jeanno sendirian untuk dieksekusi, seperti tikus kecil tak berdaya di tabung eksperimen. Arman tak berhenti tersenyum sejak fajar menjemput. Sungguh tak sabar rasanya. Oleh karena itu ia sudah berada dalam mobil jeep bekas yang ia beli sebagai penyamaran. Jeep yang ia parkirkan didepan minimarket dekat gedung apartemen Jeanno.
Dan benar saja, sekitar pukul 7:20, mobil Jeanno keluar. Arman menyeringai, menyalakan mesinnya sembari bersenandung.
**
Empat puluh menit yang singkat. Tibalah saatnya perpisahan yang berat. Judith sudah memegang tas pakaian disampingnya, menunggu salam perpisahan yang belum terucap.
“Jaga dirimu baik-baik”
Judith tersenyum tipis, meskipun matanya tergenang oleh airmata yang tak sanggup ditahan. Begitu menderitanya dua anak manusia yang saling mencintai namun sulit bersatu. Setiap detik yang mereka habiskan begitu berarti.
“Jangan menangis. Kau membuatku semakin berat melepasmu”
Judith menunduk, mengusap airmatanya sebelum jatuh semakin tak beraturan.
“Sebentar lagi kau menikah. Tidurlah yang cukup, makan makanan yang sehat, kau harus terlihat bugar dan cantik di hari pernikahanmu”
Diberikan wejangan seperti itu, tangis yang susah payah Judith tahan pada akhirnya pecah. Ia sungguh tak ingin pulang sekarang. Ia ingin tetap disini, disisi Jeanno Alexander.
Pandangan Judith masih kabur ketika ia merasakan tubuhnya didekap oleh Jeanno. Tak tahu apakah pria itu juga turut menangis bersamanya, namun dekapannya erat sekali, nyaris sama seperti semalam.
“Jika diberi kesempatan, aku dan Aera akan datang ke pernikahanmu. Kau berhak bahagia, Judith”
“Sekarang mungkin kita tidak bisa bersatu, tapi dikehidupan berikutnya, aku berjanji akan datang menemuimu dan menjadikanmu milikku satu-satunya”
“Aku mencintaimu, Judith. Dan akan tetap seperti itu sampai sisa umurku”
Tak memberi kesempatan bagi Judith untuk membalas apapun, Jeanno melepas pelukan, mengusap pipi Judith lembut sebelum memberikan senyuman tipis yang terkesan menyakitkan bagi Judith.
“Masuklah, keretamu sebentar lagi”
Baru akan merespon, panggilan penumpang untuk kereta jurusan yang dituju Judith berkumandang. Dilihatnya Jeanno melambaikan tangan, sebagai bentuk perpisahan. Detik itu Judith menyadari, bahwa ini memang akhir dari kisah cintanya dengan pria yang memang tak ditakdirkan bersama. Judith menyadari jika ia harus belajar melepas, ikhlas bahwa memang jodohnya bukanlah Jeanno.
“Selamat tinggal”
Membalas lambaian tangan Jeanno, Judith berbalik dengan langkah berat.
DOR!
Tepat selangkah Judith berbalik, sebuah suara menggelegar diiringi oleh teriakan panik menggema. Seakan waktu disekelilingnya melambat disaat Judith menoleh kebelakang. Ia harap dirinya bisa memutar waktu untuk mencegah Jeanno mengantarnya. Ia harap dirinya masih memeluk Jeanno, sehingga Judith bisa melihat siapa orang bejat yang tega menembakkan pistol kearah Jeanno.
Namun terlambat, karena Jeannonya.. sudah terkabar bersimbah darah.
**
__ADS_1