
Baik Renatta maupun Hannah sama-sama terkejut melihat satu sama lain. Hannah yang baru saja dari dapur sementara Renatta yang baru pulang. Untuk sesaat kecanggungan nampak begitu kentara menjadi atmosfir disekitar mereka, mengingat saking jarang keduanya berinteraksi seperti dulu. Namun Hannah menampiknya dengan tersenyum lembut seperti biasa.
“Ren, astaga.. akhirnya aku bertemu denganmu. Kau kemana saja selama ini? Kita tinggal satu atap tapi rasanya sulit sekali menemuimu”
Renatta tak membalas senyuman Hannah. “Itu… aku hanya kelelahan saja akhir-akhir ini”
“Judith bilang kau ada masalah. Mau membaginya denganku? Barangkali akan lebih baik”
Renatta melangkah ke ruang tengah, diikuti Hannah. “Judith tidak cerita apa masalahku?”
“Tidak” Hannah menggeleng. “Dia bilang bahwa bukan ranahnya untuk bercerita. Dia mau kau sendiri yang menceritakannya kepadaku”
“Apa kalau aku bercerita, lantas kau tidak akan membenciku?”
“Maksudmu?”
Lawan bicaranya menghela nafas. “Aku yakin kau sudah tau. Terlebih kau melihat ada susu ibu hamil di dapur yang jelas-jelas bukan milikmu, juga bukan punya Judith. Jadi yah, punya siapa lagi?”
Benar, Hannah memang sudah menduga kawan cantiknya ini tengah berbadan dua. Tapi ia ingin Renatta yang mengaku sendiri. “Dengan kekasihmu?”
Rena menganggguk kaku.
“Kalau begitu mintalah pertanggungjawaban. Bukankah kalian saling mencintai? Jika seperti itu pernikahan bukanlah hal yang sulit, kan?”
Renatta tersenyum sinis. “Aku sudah memintanya. Tapi tidak semudah itu, Hannah. Ah, Judith belum cerita ya kalau aku hanyalah selingkuhan?”
“Apa?”
__ADS_1
“Ya, aku hanyalah orang ketiga dalam rumah tangga kekasihku. Dia pria beristri, aku sudah tau sejak awal kami menjalin hubungan. Dan saat ini fakta bahwa aku mengandung anaknya, bukankah itu hal yang rumit? Dia mengabaikanku berhari-hari, Hannah. Membuatku rasanya ingin mati saja”
“Jangan bicara sembarangan, Rena”
Renatta menyandarkan kepalanya di sofa, pening melanda setiap mengingat kemungkinan-kemungkinan terburuk hubungannya dengan Jeffrey.
“Aku tidak bisa jika dia pergi, Hannah. Aku sangat mencintainya. Dia adalah hidupku. Kalau dia memilih istrinya dan mencampakkanku, aku bersumpah akan mengakhiri hidupku dan bayi ini”
Hannah terdiam. Menyadari bahwa dalam situasi seperti ini, sesalah apapun posisi Renatta, tak ada gunanya menyalahkan, menasehati, apalagi memarahi kawannya. Memberikan support pun tak guna jika yang Renatta butuhkan satu-satunya hanyalah kepastian yang datangnya dari si pria. Jadi tak banyak yang Hannah lakukan selain diam, menjadi pendengar.
“Kenapa hidupku seperti ini, Hannah? Kenapa pula aku harus terjerat cinta dengan pria beristri. Semua akan lebih mudah jika bukan dia orangnya. Dan kau tau? istrinya sangat cantik, anggun dan pintar. Satu profesi dengannya, sama-sama dokter spesialis. Mereka memilki reputasi bagus sebagai pasangan sempurna di rumah sakit. Sementara aku? aku hanyalah ****** yang berprofesi sebagai penari erotis. Jelas tidak ada apa-apanya jika disandingkan dengan istrinya”
“Ren, jangan merendahkan dirimu sendiri”
“Aku bodoh sekali ya, tetap bermain api walau tau akan ada waktunya dimana aku akan terbakar. Tapi mau berhenti rasanya sulit sekali. Sampai bom waktu itu benar-benar meledak, aku sendiri yang kelimpungan mencari jalan keluar”
Hannah mengangguk. “Maaf meninggalkanmu disaat seperti ini”
“Tidak sayang, jangan minta maaf. Kau berhak menjemput kebahagiaanmu sendiri. Aku tidak apa, hanya butuh dukungan untuk memperjuangkan kepastian dari kekasihku”
“Hannah”
“Ya?”
Tangan Renatta mengusap perutnya yang mulai berbentuk. “Apa kau membenciku?”
“Tentu saja tidak, sayang. Kau mungkin memang salah. Tapi aku tidak membencimu, sama sekali. Kau tetap Renatta sahabatku yang telah melalui waktu bersama-sama sejak lima tahun terakhir ini”
__ADS_1
“Terimakasih Hannah. Kata-katamu sangat berarti untukku. Jika aku butuh teman untuk pergi ke dokter kandungan, apa kau mau menemani?”
Hannah tersenyum, senyum yang konon katanya mampu menenangkan lawan bicaranya. “Tentu saja. Kau bisa menghubungiku kapanpun kau membutuhkan. Bahkan jika kau ingin aku menemanimu setiap malam, aku akan berhenti menginap di tempat Mark”
“Eh, tidak perlu. Aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Mark. Jalani saja apa yang kau dan hatimu inginkan. Tapi tetaplah jadi sahabatku, oke?”
Tangan Hannah menarik Renatta kedalam pelukannya. Kedua sahabat itu saling berbagi dekapan, tanpa kata namun sudah cukup menunjukkan kepedulian satu sama lain. Jika saja Judith ada disini, pasti akan semakin lengkap.
**
“Ini mustahil Johnny, bagaimana bisa aku selalu terlambat dalam pembelian tiket? Padahal aku sudah membooking jauh-jauh jam seperti sebelumnya”
Mark tidak begitu mendengarkan penjelasan Johnny diseberang sana. Moodnya sudah terlanjur memburuk akibat berkali-kali gagal mendapatkan kursi untuk pertunjukkan tari erotis. Sedikit tak masuk akal karena biasanya tak sesulit ini membeli tiket. Sementara satu demi lain alasan dilontarkan Johnny dengan permintaan maaf yang diucapkan dengan nada datar khasnya.
“Usahakan untukku dilain waktu. Kuharap kerjasamanya, Johnny”
Mark menutup sambungan telponnya secara sepihak tanpa perlu mendengar respon sang manajer Victoire. Minggu yang menggila karena pekerjaan yang berat, untunglah setiap malam ia berbagi selimut dengan Hannah. Hal sederhana yang mampu mengangkat lelahnya, menjadikannya alasan ia bekerja cepat karena ingin cepat pulang supaya segera bertemu dengan sang pujaan hati.
Jeanno sendiri sedang berlibur bersama keluarganya, menikmati waktu luang akibat minggu yang padat. Pria itu awalnya mengajaknya, tapi Mark menolak karena Hannah tidak libur. Jika saja kekasihnya mendapat jatah libur, mungkin lebih baik ia menyetujui ajakan Jeanno.
Kembali lagi kepada Johnny dan Victoire. Mark merasa ada yang janggal. Biasanya Johnny selalu menyambutnya dengan tangan terbuka, sekalipun nada bicara dan ekspresi wajahnya datar, namun ia selalu diperlakukan baik. Namun akhir-akhir ini jelas berbeda. Johnny seakan melihat Mark seperti pria yang harus dihindari karena tidak punya uang. Pria yang harus dijauhkan dari Victoire karena dikhawatirkan akan mengacau. Dirinya tau mungkin ini hanya prasangka, tapi hey, perubahan sikap Johnny terlalu kentara. Apa jangan-jangan ia memang masuk kedalam tamu yang diblacklist? Tapi untuk apa? Seingat Mark, dirinya tak pernah membuat kekacauan seperti melecehkan penari atau bertengkar dengan tamu lain.
Kemudian Mark teringat ekspresi aneh Hannah setiap ia menjemputnya. Gadis itu selalu memeluknya erat seakan mencari perlindungan. Lalu jika dulu ia selalu bercerita seperti apa pria-pria yang membooking private dancenya, kali ini tak ada selipan cerita itu. Hannah hanya cerita sedikit mengenai jalannya pertunjukkan umum, kadang menceritakan rekan sesama penari.
Mark memang sudah berjanji akan menunggu Hannah membuka diri. Tapi pria itu tak memungkiri jika ia penasaran. Penasaran akan apa yang disembunyikan kekasihnya. Apa seserius itu? apa ada ‘permainan’ dibalik Victoire yang berhubungan dengan tidak diijinkannya ia masuk sebagai tamu?
Apa ada yang ingin menjauhkannya dari Hannah?
__ADS_1
*