
“Apakah benar anda menutupi kematian istri anda demi image publik?”
“Apakah benar anda menyewa perempuan lain yang mirip dengan sang mendiang untuk berpura-pura sebagai istri anda?*
“Menurut rumor yang berkembang, apakah benar jika perempuan itu bekerja sebagai wanita malam?”*
“Berdasakan berita yang sudah menyebar menjelaskan bahwa anda membayar perempuan sewaan itu seharga satu miliar. Tolong konfirmasikan berita tersebut, tuan”*
“Jika benar adanya, berarti anda telah membohongi publik dan melakukan pemalsuan identitas. Anda adalah orang berpendidikan, tuan Alexander. Tentu anda tahu bahwa hal tersebut adalah ilegal dan bisa diproses secara hukum”*
“Kami mendapatkan foto berupa bukti kontrak kerja sebagai ibu pengganti. Disini tertulis poin-poin yang berat dan terkesan memberatkan pihak kedua. Dan jika diitilik dari sisi hukum, perjanjian kerja seperti ini termasuk ilegal. Bagaimana pembenaran anda, tuan Jeanno?”*
“Bukankah hal yang kurang bijaksana ketika anda membiarkan seorang perempuan malam berperan sebagai ibu untuk anak anda? Apa anda tidak berpikir jauh? Bagaimana jika perempuan itu tidak mendidik anak anda dengan benar?”*
__ADS_1
“Saham anda turun drastis sejak beredarnya berita tak mengenakkan ini. Kepercayaan publik juga sudah menurun. Perusahaan anda diambang kehancuran. Bagaimana anda akan keluar dari situasi seperti ini, Tuan?”*
Jeanno masih memasang ekspresi yang sama. Diam tanpa menunjukkan ketakutan sedikitpun. Karisma dan wibawanya masih melekat pada wajah tampan yang dibalut postur tegap. Pertanyaan demi pertanyaan yang menusuk dan membuat telinga panas ia tangkap dengan baik. Menyiapkan jawaban yang memang sudah ada diujung lidahnya.
Tanpa banyak pasang mata yang tahu, bahwa tangannya mengepal erat dari balik podium. Kegugupan yang semula menyelimuti, hilang bergantikan oleh amarah ketika mulut pedas wartawan yang merendahkan Judith. Daun telinganya nampak memerah, memang efek tubuhnya yang ia terima ketika dirinya menahan marah. Jika saja tidak melihat situasi, Jeanno pasti akan menyerbu mulut wartawan itu. Meninjunya hingga ia kehilangan beberapa gigi.
Terdengar menyenangkan.
“Menyewa pelacur untuk mendidik anak kandung anda. Apakah anda patut disebut sebagai ayah yang baik?”
Hening.
Jepretan flash kamera yang semula berebut menangkap segala gerak-gerik Jeanno, kini sunyi karena semua mata menoleh kearah wartawan bertopi merah yang baru saja menyampaikan pertanyaan lumayan pedas.
Situasi hening itu, justru pecah akibat tawa sarkas yang lolos dari bibir Jeanno yang sedari tadi diam. Ia sudah terlalu lama menahan emosi, hingga tawalah yang pada akhirnya keluar. Dengan raut wajah tanpa ekspresi, ia memandang lurus kearah wartawan bertopi merah.
“Apa anda sudah berkeluarga?”
Si topi merah mengangguk dengan ekspresi congkak. Tak terlihat sedikitpun rasa bersalah karena telah merendahkan seseorang dalam pertanyaannya barusan. “Sudah”
“Apa anda memiliki anak?”
“Ya, aku memiliki dua anak yang sehat dan pintar. Karena dididik oleh perempuan yang cerdas dan bersih”
Jeanno menyunggingkan senyum. Kini senyum sinis. Senyum yang justru terlihat lebih menyeramkan dibanding ekspresi Jeanno yang datar beberapa sekon lalu.
“Saya sedikit prihatin dengan anak-anak anda yang memiliki ayah dengan lisan kasar seperti anda. Apa anda tidak kasihan dengan istri yang sudah lelah mendidik anak-anak supaya berkelakuan sopan? Jika anda mampu melontarkan perkataan sekasar itu kepada orang asing, bisa dibayangkan sekasar apa cara berkomunikasi anda di rumah? Saya harap anak-anak anda meniru kelakuan ibunya, agar tidak menjadi sampah seperti ayahnya”
__ADS_1
Netra Jeanno meninggalkan si topi merah yang kini wajahnya berubah padam seperti warna topinya. Atensinya memandangi ballroom, menatapi rekan media lain. “Jika masih ada pertanyaan yang belum terucap, ucapkan sekarang. Saya akan menjawab semuanya dengan jujur. Akan tetapi jangan anda rendahkan siapapun disini. Terlebih perempuan yang berperan sebagai ibu pengganti, dan juga anak saya”
Satu helaan nafas dalam. Saatnya mengakhiri apa yang ia mulai.
“Mengenai kematian istri saya, ya. Memang benar Nayara Alexander telah berpulang. Saya tidak bermaksud menutupi kematiannya. Saya hanya ingin melindungi anak saya. Jika berita kematiannya menyebar ke ranah publik, tentu akan menyakitinya melebihi apapun. Mengapa saya tidak jujur saja kepada anak saya? Jawabannya karena saya belum siap. Saya sangat hancur ketika Nayara meninggal. Pada masa itu yang saya pikirkan hanyalah bagaimana agar saya tidak melihat anak saya menangis mengetahui ibunya sudah pergi”
“Lalu mengenai kontrak kerja. Ya, saya memang membayar seorang wanita yang memiliki fisik nyaris sama dengan mendiang, untuk berperan sebagai ibu pengganti. Perjanjian itu dibuat atas dasar persetujuan kedua belah pihak. Jika memang apa yang saya lakukan adalah ilegal, saya bersedia menerima konsekuensinya sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku”
“Tentang pekerjaan si ibu pengganti… saya rasa tidak bisa dikaitkan dengan bagaimana cara mendidik anak saya. Selama terikat kontrak, ibu pengganti melakukan tugasnya dengan sangat baik. Anak saya juga menyayanginya layaknya ibu kandung. Bahkan mengigaukan namanya ketika ia tak lagi bersama kami”
“Saya tidak membenarkan bahwa pekerja malam adalah hal yang baik. Tapi saya percaya semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Hati perempuan ini begitu lembut, hingga ia mampu membuka mata saya untuk melihat dirinya sebagaimana adanya. Hingga menyentuh poin dimana saya sudah tidak peduli lagi akan pekerjaan masa lalunya. Ya, masa lalu. Karena sejak terikat kontrak hingga saat ini… ia sudah berhenti. Tak lagi menyelami masa lalunya yang kelam”
“Dan saya akan sangat berterimakasih kepada rekan media jika anda tidak mencoba untuk mencari identitas wanita ini. Isu yang berkembang sekarang, sumbernya adalah saya sendiri. Jadi tolong, berhentilah mencari siapa ibu pengganti dan anak saya”
“Saya, Jeanno Alexander pada hari ini menyatakan pengunduran diri dari perusahaan dan segala hal yang mengasosiasikan nama saya dalam hal bisnis. Saya atas nama diri sendiri menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya akibat kekacauan yang saya lakukan akibat dari tindakan yang tanpa pikir panjang. Semua bentuk kerugian, baik materi maupun hukum, akan saya hadapi dengan tanggungjawab penuh sesuai prosedur yang berlaku”
“Saya undur diri”
Jeanno menundukkan kepala beberapa sekon sebagai bentuk penghormatan terakhir, mengabaikan ricuh pers mengenai berita pensiunnya yang mendadak. Ia lantas undur diri dari podium tanpa melihat kearah ballroom.
Ah, andai saja kala itu matanya memandang ballroom barang sedetik saja. Ia akan menyadari bahwa ada tamu tak diundang yang membawa dendam yang masih berkobar. Yang belum terpuaskan oleh hancurnya image dan pengunduran diri Jeanno dari perusahaan yang ia bangun dari nol.
Disaat awak media yang lain bersiap melangkah meninggalkan venue, sosok yang berlindung dari balik masker itu masih diam ditempat. Memandangi penuh minat pintu yang ‘menelan’ Jeanno beberapa detik lalu. Salah satu tanyannya menyelinap kedalam tas, menyentuh benda yang sedari tadi ia bawa. Benda yang seharusnya ia gunakan ketika targetnya berada diatas podium tadi.
“Saatnya mengakhiri semuanya, Jeanno. Tunggu aku”
Usai berkata demikian, ia mulai bangkit. Berjalan dengan awak media lain, membaur layaknya wartawan yang tak memiliki masalah personal dengan Jeanno.
**
__ADS_1