Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 71. Rumah


__ADS_3

Jeanno membuka matanya, menyadari bahwa mentari sudah tinggi. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mengumpulkan kesadaran. Menyadari bahwa ia masih tertidur di ranjang yang sama. Ranjang yang keadaanya sudah rapi, tak seperti semalam yang mirip kapal pecah. Jeanno dalam ketelanjangannya yang berbalut selimut, bangkit, menyadari Judith tak ada lagi disampingnya.


Kepala pria itu berdenyut. Ia sadar sepenuhnya ketika bercinta semalam. Harus ia akui memang dirinya terbawa suasana, tapi Jeanno tak menyesal. Setiap jengkal tubuh Judith seperti hal baru baginya. Seperti zat adiktif yang menjadi candu, dan menaikkan adrenalinnya.


Ketika bau masakan menyapa indera penciumannya, Jeanno berjalan menuju kamar mandi. Perutnya bergejolak minta diisi, dan ia harus membersihkan diri terlebih dahulu sebelum turun kebawah.


Di dapur, Judith yang bangun lebih awal menghabiskan waktunya untuk memandangi wajah pulas Jeanno sepuasnya. Membiarkan dirinya terjatuh dalam kesemuan sebelum direnggut paksa tiga bulan lagi. Jika memang dengan cara itu ia bisa lebih dekat dengan Jeanno, tak apa, Judith terima sekalipun ia rasakan perih di hatinya. Sekarang biarlah ia menikmati waktu yang tersisa, sembari mengenakan topeng seorang Anantha Judith yang tak pernah jatuh cinta.


“Hey..”


Judith tersentak dari lamunannya, ia menoleh, melihat wajah segar sang tuan muda yang menghampirinya. Bau sabun bercampur aroma maskulin mengingatkannya akan malam panas yang mereka bagi berdua. Sontak saja wajah Judith memerah.


“Kenapa tidak membangunkanku?”


“Tuan terlihat pulas sekali seperti bayi. Mana tega aku membangunkannya. Lagipula hari ini tuan libur, jadi tak ada salahnya kubiarkan tuan tidur sampai siang”


Judith memberikan piring yang sudah ia isi dengan nasi goreng di meja Jeanno. Kemudian gadis itu mengambil tempatnya yang biasa untuk sarapan bersama.


“Judith..”


“Ya?”


Jeanno berdehem. “Mengenai semalam, aku minta ma—“


“Tidak apa, tuan. Kan sudah kubilang tuan bisa menggunakan kehadiranku jika tuan merindukan Nayara”


“Tapi waktu itu kau bilang hanya sekedar pelukan”


Judith mengangkat bahunya. “Kurasa tuan cukup dewasa untuk mengetahui maksud dari penawaranku”


Jeanno mengangguk mengerti. Melihat Judith yang seperti tak ada beban, membuat perasaannya lega. Setidaknya tindakannya semalam tidak melewati batas kenyamanan Judith. Lagipula, apa yang ia harapkan dari penari erotis yang biasa melempar dirinya di ranjang untuk ditiduri pria yang membayarnya mahal? Judith pasti melihatnya sama seperti pria-pria itu. Jadi anggaplah, apa yang terjadi diantara mereka semalam… hubungan yang saling menguntungkan?


**


“Tumben sekali kau pulang, Mark. Biasanya seperti sudah lupa kalau punya rumah” sindir seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Jose Sebastian, ayah Mark.

__ADS_1


Mark yang tengah bermain dengan Aera, lantas menoleh ke ayahnya yang tengah berkutat dengan koran. Ayahnya begitu tradisional, disaat sudah menjamur portal berita online, sang ayah lebih memilih membaca surat kabar itu setiap pagi, ditemani segelas kopi pahit dan biskuit kelapa.


“Aku merindukan ayah dan ibuku, apa itu salah?”


Maria Sebastian, Ibunda Mark yang duduk berhadapan dengan Jose, terkekeh. “Tentu saja tidak salah, sayang. Hanya sedikit mengherankan saja. Katakan pada ibu, apa kau ada masalah?”


“Ibu membuatku terdengar seperti rumah ini hanya tempat pelarian ketika aku ada masalah”


“Tapi memang benar, kan?” celetuk Jose. Membuat Aera yang semula fokus kepada legonya kini memandangi para orang dewasa yang mengelilinginya. “Paman ada masalah dengan aunty Hannah?”


“Hannah? Siapa dia?”


Mark menghela nafas. Mau mengelakpun sudah sulit. Karena pasti orangtuanya tak akan menyerah menekannya sampai Mark memberikan penjelasan siapa nama perempuan yang disebut Aera.


“Teman dekatku”


“Biasanya orang yang dibilang seperti itu nyatanya adalah kekasih. Tapi terlalu pengecut untuk mengakui di depan orangtuanya”


“Ayah”


“Ya, bisa dibilang dia kekasihku”


“Kan, benar kataku!”


“Jose, diam dulu sayang” Maria beralih kepada putranya. “Ada masalah apa, nak? Dan lagi, kenapa kau tidak pernah bercerita kalau kau sudah memiliki kekasih? Ibumu ini sudah ingin melihatmu menikah dan meminang cucu”


Mark tersenyum tipis. “Masih jauh untuk ke tahap itu, Ibu. Lagipula hubungan kami belum lama. Jadi kupikir kami masih dalam tahap saling mengenal lebih jauh sebelum membawanya kemari”


“Bagaimana latar belakangnya?”


Baik Maria maupun Mark memandang Jose dengan tatapan tak bisa diartikan. Membuat yang ditatap berdehem canggung sembari menenggelamkan wajahnya pada surat kabar. “Maksudku, bagaimana orangnya, lalu berasal dari mana, dan apa kesibukannya?”


Mark ingin mengelak dari pertanyaan itu. Tapi menyadari itu adalah sebuah pertanyaan wajar yang ditanyakan oleh orangtua manapun kepada kekasih anaknya, Mark pada akhirnya menyerah.


“Dia cantik, lembut, dan memperlakukanku dengan baik. Pekerjaannya.. bukan pekerjaan kantoran” Mark meminuskan bagian tempat tinggal Hannah, menyadari bahwa sedikit sekali yang ia tahu mengenai kekasihnya. Yang bahkan rumah asalnya pun ia tak tau.

__ADS_1


“Jadi dia bukan rekan kerjamu? Dimana kalian bertemu?”


Mark menggeleng. “Bukan, ibu. Kami bertemu ketika liburan di Bali. Dia lupa membawa dompet, jadi aku membayar belanjaannya”


“Terdengar seperti adegan FTV”


“Jose”


Jose melipat korannya. Kemudian mengajak Aera untuk menonton kartun Sabtu pagi. Mark menghela nafas lega, setidaknya Aera tidak mendengar terlalu banyak dan ayahnya tak lagi melontarkan kalimat sarkas padanya.


“Jangan dengarkan ayahmu. Sekarang, ceritakan tentang Hannah pada Ibu, sayang”


Mark memandang wajah ayu ibunya yang mulai termakan usia. Ia percaya sang ibunda tak akan menghakimi seseorang sebelum ia mengenal lebih jauh. Itulah mengapa Mark tanpa ragu, mulai bercerita secara rinci mengenai awal pertemuannya dengan Hannah hingga pertengkaran kecilnya semalam. Wanita itu mengangguk sesekali, sebagai respon dari cerita putranya. Namun ia tak bersuara, sampai Mark menyelesaikan ceritanya.


“Menurut ibu, bagaimana? Apa tindakanku salah?”


Maria mengusap surai putranya penuh sayang. “Anak ibu sudah dewasa”


“Well, aku 29 tahun jika ibu lupa”


Maria tersenyum. “Mendengar ceritamu tentang Hannah, perasaan ibu campur aduk. Tapi ibu bangga, karena putraku tidak melihat orang lain dari tampilan luarnya. Mengenai pekerjaan Hannah, memang itu bukan pekerjaan yang baik. Tapi apa hak ibu untuk menilai? Ibu hanya orang luar yang tidak tau latar belakang yang membuat Hannah mengambil jalan itu. Jika kau bilang Hannah baik, maka ibu yakin penilaianmu benar”


“Lalu bagaimana dengan kejujurannya, Bu?”


“Sayang, terkadang satu kejujuran lebih sulit diucapkan dibanding seribu kebohongan. Fakta yang tengah ia simpan, pasti sebegitu dalam hingga butuh waktu baginya untuk membuka diri. Antara takut kau akan marah, kecewa, atau yang lebih parah, kau akan meninggalkannya. Kejujuran yang kau nantikan, belum tentu buruk. Tapi dari sisi Hannah, bisa saja ia tengah berperang melawan rasa takutnya. Hanya saja untuk saat ini, ketakutannya memenangkan segalanya. Membuatnya memilih untuk tetap diam sampai waktu yang belum dipastikan”


“Rencananya aku akan membawanya kemari untuk berkenalan dengan ayah dan ibu. Tapi moodku berantakan sejak mengetahui dia berbohong”


Dahi Maria mengerut. “Berbohong? Mark, apa sebelumnya dia pernah bercerita kalau dia tampil di panggung utama? Tidak kan? Hannah tidak berbohong, Mark. Dia hanya diam. Salahnya, kau tau dari orang lain lebih dulu dibanding darinya. Dan itu membuatmu beranggapan hubungan kalian sudah salah karena tidak dilandasi dengan kejujuran”


“Lalu menurut ibu, aku harus bagaimana?”


Maria tersenyum. Senyuman teduh khas seorang Ibu yang membuat Mark tenang. “Pulang. Bicaralah empat mata, tapi tanpa melibatkan emosi di dalamnya. Dekati ia, dari hati ke hati”


**

__ADS_1


__ADS_2