
2 bulan kemudian...
tak terasa waktu telah berlalu dengan cepat, usia kehamilan ku bertambah dan semakin besar.
hari-hari aku lalui seperti biasa,hanya saja sekarang alisya sudah masuk sekolah Taman kanak-kanak dan waktu ku bersamanya tidak banyak seperti biasanya.
"bunda cepetan, nanti alisya terlambat". teriak alisya.
"sebentar sayang, bunda lagi siapkan bekal makan siangnya". aku cepat-cepat memasukkan ke dalam tas alisya.
"sayang, dimana tas kerja ku". teriak mas bram.
"di rak buku ruang kerja mas, cari saja".
begitulah setiap pagi, suasana rumah selalu di penuhi oleh teriakkan alisya dan mas bram.
"bunda.... ". alisya tidak sabaran.
"iya iya sayang". aku segera menghampirinya.
"ini tas dan bekal makan siangnya sayang, harus habiskan ya sayang".
"iya bunda".alisya mencium tangan dan pipiku.
aku mengantar alisya sampai masuk ke dalam mobil.
"hati-hati di jalan ya pak".
"iya non". jawab pak Ahmad.
"bunda, bye bye".alisya melambaikan tangannya dari dalam mobil.
"bye sayang". aku juga membalas lambaian tangan alisya.
"sayang, aku berangkat juga ya". mas bram mencium keningku.
"iya mas, hati-hati di jalan ya".
"iya sayang". mas bram masuk ke dalam mobilnya.
"bye sayang". mas bram melajukan mobilnya dengan perlahan.
setelah mengantar mas bram dan alisya, aku kembali masuk ke dalam rumah dan istirahat sejenak di ruang keluarga.
"kakiku jadi kram". aku memijit kedua kakiku yang terasa lelah.
bi nina datang menghampiriku dan membawakan secangkir teh hangat.
"non, di minum dulu tehnya".
"terima kasih bi". tanpa tunggu lama aku langsung menyeruput teh yang di berikan oleh bi nina.
"ahh sedikit menyegarkan". aku duduk bersandar di sofa.
mataku terus memandangi sekeliling rumah yang begitu terasa sunyi.
"biasanya alisya selalu bermain di sini". aku tersenyum setiap kali mengingat sebelum alisya sekolah.
"non, mau sarapan?". tanya bi nina.
"nanti saja bi, biar aku ambil sendiri". jawabku
"baiklah non, kalau butuh apapun panggil aja bibi di belakang non".
"iya bi".
rasanya aku ingin membantu bi nina untuk membereskan rumah, tapi semenjak usia kehamilanku semakin besar, mas bram melarang ku untuk melakukan kegiatan apapun. dia ingin aku hanya diam saja dan istirahat, tapi itu membuatku sangat bosan.
aku mengecek handphone ku dan mencari kontak telpon siapa yang ingin aku ajak bicara.
"sepertinya aku harus menelpon indri, sudah lama aku tidak berkomunikasi denganya". aku langsung menelpon indri.
ttut... ttut... ttut...
"hallo".
"hallo indri, apa kabar?".
"karin!! kabar baik. kamu sendiri gimana? aku merindukan kamu". sahut indri.
"aku baik kok, aku juga rindu sama kamu. sudah lebih dari 3 tahun kita gak ketemu ya. kamu dimana sekarang?".
"aku sekarang lagi di Jepang".
"woww hebat banget kamu ya selalu pindah-pindah negara. aku aja belum pernah ke luar negeri".
"ya ampun, kasihan banget ya orang kaya satu ini. banyak uang tapi gak pernah keluar negeri, apa perlu aku yang bayari". indri terlihat senang mengejekku.
"hahaha gitu banget kamu ya, gak pernah berubah selalu saja suka menggoda ku".
"gimana kabar bram, apa dia masih gak peduli sama kamu".
"mas bram baik-baik saja. itu kan dulu, tapi sekarang mas bram jauh lebih perhatian padaku, kalau tidak bagaimana bisa aku hamil".
"apa? kamu hamil. wahh selamat karin, akhirnya setelah 3 tahun kamu hamil juga. aku sangat bahagia mendengar berita kehamilan kamu". indri terdengar sangat senang.
"terima kasih indri, aku berharap saat aku melahirkan nanti kamu bisa datang menjenguk ku".
"kamu jangan khawatir, aku pasti akan datang kalau kamu sudah melahirkan". indri langsung menyetujuinya.
"tapi aku mau kamu datang bersama calon suami kamu ya". aku tertawa saat mengucapkan itu.
"ohh maaf ya karin, kayaknya aku gak bisa datang kalau permintaan kamu seperti itu".
"yaaaaa sampai kapan kamu akan sendiri terus. teman-teman kita yang lain udah pada nikah, sisakan waktu untuk mencari pasangan jangan terus bekerja".
"kamu ya karin udah sama kayak ibu aku. oke oke aku akan bawa calon suami saat kamu lahiran. udah puas!! ".
"hahahahaha aku tunggu loh. jaga kesehatan kamu ya, baik-baik di negara orang".
"hahhaha sok perhatian lu, kamu baik-baik juga ya. semoga sehat sampai melahirkan nanti. bye". indri langsung mematikan telponnya.
sedikit terhibur setelah berbicara dengan indri walaupun hanya lewat telpon, setidaknya aku bisa mengobati rasa rinduku padanya.
"mau ngapain lagi ya?". karena terlalu bosan hanya sekedar duduk atau tiduran, aku pergi ke dapur.
__ADS_1
"bi, kita ada buah-buahan segar gak?".
"ada non, non mau buat apa?". tanya bi nina.
"tiba-tiba aku pingin makan salad buah bi". aku mengambil buah-buahan dari dalam kulkas.
"biar bibi aja yang buat non".
"gak usah bi, aku bisa sendiri". aku menyiapkan bahan-bahannya.
"apa aja ya? kok aku jadi lupa". segera aku mencari resepnya di internet.
bi nina yang melihatku kerepotan saat membuat salad, ia pun langsung cekatan membantu ku.
"biar bibi yang kupas buahnya non".
"terima kasih ya bi". aku tersenyum manis pada bi nina.
aku sangat bersyukur memiliki bi nina yang selalu membantuku, dia sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri. kapan pun dan apapun dia selalu sigap menolongku. tapi entah sampai kapan aku akan terus bergantung kepadanya.
"bi parutan kejunya dimana?".
"di laci dekat wastafel non, tarik saja lacinya". ucap bi nina sambil mencuci buah.
"iyaa bi, sudah dapat". aku langsung memarut kejunya.
berkat bantuan ni nina, akhirnya aku selesai membuat salad buah segar yang aku inginkan.
"bi, kemarilah. cobain deh saladnya".
bi nina datang dan mencobanya
"hmm enak non".
"beneran bi?". aku masih tidak yakin.
"iya non, enak banget". jawab bi nina.
"ya udah, bibi duduk sini kita makan bareng-bareng". ucapku.
"iya non".
aku melihat bi nina begitu menikmati salad buah buatanku dan itu membuatku senang.
"bi,kenapa bibi betah banget kerja dengan kami?"tanyaku tiba-tiba.
"keluarga tuan brata sudah baik banget sama bibi non. sudah anggap bibi seperti keluarga sendiri, bibi gak tega buat pergi dari sini ". jawab bi nina.
yang aku lihat dari bibi nina, ia terlihat sangat tulus membantu kami. tidak ada keluhan apapun darinya, bahkan ia sangat penting bagi mas bram.
"terus kenapa bibi bisa ikut dengan mas bram?".
"bibi mengenal tuan bram dari tuan usia 6 tahun non dan saat tuan menikah, tuan brata ingin bibi ikut dengan tuan bram, karena bibi sudah sangat mengenal karakter tuan dengan baik". ucap bi nina sambil memakan salad buatan ku.
aku meraih tangan bi nina dan menggengamnya
"terima kasih ya bi, sudah menjaga mas bram dengan baik".
"tidak apa-apa non, sudah kewajiban bibi juga". jawab bi nina dengan senyumnya.
"gak usah non, bibi udah kenyang. ternyata non pintar masak juga". ucap bi nina.
"semuakan karena bantuan bibi, aku jadi lebih pintar masak". aku dan bi nina melanjutkan obrolan kami.
tting... ttong... tting... tong...
terdengar suara bel berbunyi.
"biar bibi aja yang lihat non". bi nina beranjak dari duduknya.
"iya bi".
bi nina kembali ke dapur dengan membawa sebuah kotak besar.
"apa itu bi?".
"ini non, tadi ada kurir yang datang mengantarkan kotak ini". bi nina mencoba untuk membukanya.
"siapa yang kirim bi?". karena aku merasa tidak membeli apapun.
"dari orang tua non". jawab ni nina.
"ibu? apa isinya bi". aku menghampiri bi nina.
"wahh banyak banget non sayur dan buah-buahannya". nina mengeluarkannya satu persatu.
"ini bisa stok untuk satu bulan bi". aku terkejut melihat kiriman dari ibu.
"keluarkan semuanya, bersihkan dan masukkan ke dalam kulkas saja bi".
"iya non".
aku berjalan ke ruang keluarga untuk menelepon ibu.
"tapi kenapa ibu tidak memberitahukan aku ya".
ttuut... ttut... tut....
"hallo".
"ibu lagi dimana?".
"ibu lagi di rumah, oh iya sudah sampai kiriman ibu?".
"sudah bu, kenapa ibu gak bilang kalau kirim paket sebanyak itu".
"sengaja ibu gak bilang, kalau ibu bilang kamu pasti gak mau terimakan".
bukannya aku tidak ingin menerimanya tapi aku tidak ingin merepotkan ibu dan ayah.
"bukan begitu ibu, tapi terima kasih ibu kirimannya aku bakal makan semuanya. agar cucu ibu ini sehat saat lahiran nanti". ucapku denga tawa kecil.
"itu yang ayah dan ibu harapkan sayang, jaga kesehatan kamu ya, jangan terlalu capek. semakin besar usia kehamilan kamu, semakin banyak hal yang tidak bisa kamu lakukan dengan sembarangan".
"iya ibu, terima kasih banyak ibu. I Love You ". aku mengakhiri teleponnya.
__ADS_1
memang benar, bahwa kasih ibu sepanjang masa tak akan pernah lekang oleh apapun. begitu perhatiannya ibu dan ayah padaku tidak berkurang sedikitpun, walaupun aku sudah mempunyai keluarga sendiri ,ibu dan ayah masih saja memperdulikan aku.
"bi, biar aku bantu bersihkanya".
"iya non".
aku dan bi nina membersihkan semua buah dan sayuran kiriman ibu.
"lihat non, apel dan jeruknya masih segar-segar semuanya". ucap bi nina.
"iya bi, ayah dan ibu punya kebun kecil di belakang rumah. mereka itu hobi banget bercocok tanam bi". jawab ku.
"jadi ini hasil kebun sendiri non? wahh pantas masih segar semuanya". bi nina terpukau mendengar ceritaku.
"ayah ibu suka makan sayur dan buah-buahan, jadi mereka berinisiatif untuk membuat kebun kecil di belakang rumah, tapi gak taunya hasil kebunnya banyak banget bi,sampai harus di bagi ke tetangga dan keluarga".
"dulu sebelum suami bibi meninggal, beliaupun suka banget non nanam sayuran di perkarangan rumah. bahkan hasilnya sempat kami jual ke pasar". cerita bi nina.
"wahh untung banget dong bi sampai bisa di jual gitu. entar kalau aku pulang kerumah ibu ,bibi ikut ya biar aku kenalkan sama ayah dan ibu". ucapku.
"iya non". bi nina tersenyum.
"bunda.... ". terdengar teriakan alisya.
"udah pulang anak bunda". alisya memelukku.
"bunda itu apa?". alisya menunjuk ke keranjang buah.
"alisya mau apel? tapi harus ganti baju dulu ya". ucapku.
"iya bunda". alisya pergi ke kamarnya.
selagi menunggu alisya mengganti pakaiannya, aku mengupaskan apel untuknya.
"non, yang ini mau di rebus?". bi nina menunjukkan wortelnya.
"iya bi, yang lainnya di simpan aja ke dalam kulkas".
"iya non". jawab bi nina.
aku membawa potongan apel ke ruang keluarga.
"alisya, ini apelnya sayang".
"iya bunda". alisya duduk di sampingku.
alisya mengambil potongan apel dan memakannya dengan lahap.
"enak bunda".
"ini apel, kakek dan nenek yang kirimkan. kalau alisya mau lagi biar bunda ambilkan".
alisya tidak bisa menjawab karena mulutnya penuh dengan apel.
"pelan-pelan makannya sayang". aku mengusap kepalanya.
melihat alisya makan begitu lahapnya membuat ku senang,karena kebanyakan anak seusia alisya sangat susah buat makan, tapi alisya malah sebaliknya dia selalu makan dengan lahapnya.
"aku pulang sayang". ucap mas bram.
aku melihat jam masih pukul 2 siang tapi mas bran sudah pulang.
"kok udah pulang mas".
"gak ada kerjaan lagi sayang, semua udah di handle sama Ryo". mas bram mencium keningku.
"ini papa".alisya menunjukkan keningnya juga.
"ohh anak papa mau di cium juga". mas bram juga mencium alisya.
"baik banget Ryo mau handle kerjaan kamu mas".
mas bram mengambil potongan apel dan memakannya.
"dia itu takut aku kirim ke perusahaan yang di amerika, jadi dia nurut aja apa yang aku bilang".
"jahat banget kamu mas, kasihan Ryo kamu kerjain gitu".
"hahaha biar aja sayang, sesekali ngerjain dia kan gak apa-apa". mas bram terus memakan apelnya.
"sayang, gimana sekolahnya hari ini". tanya mas bram pada alisya.
"alisya tadi main sama teman-teman pa, alisya punya banyak teman". jawab alisya yang begitu antusiasnya bercerita tentang teman sekolahnya.
"kapan-kapan ajak temannya main kerumah".
"emang boleh pa?". tanya alisya.
"Coba tanya bunda".
alisya menatap ku dengan penuh harapan bahwa aku akan berkata iya.
"boleh dong sayang, ajak temannya nanti biar bunda buatkan makanannya".
"hore... hore.... ". alisya langsung berdiri loncat-loncat kegirangan.
"udah sayang, jangan loncat-loncat nanti jatuh". ucapku.
"udah biarin aja sayang". mas bram lagi-lagi merebahkan kepalanya di pangkuanku.
"mas, kenapa gak ganti pakaian dulu sih".
"aku udah terlanjur posisi enak sayang". mas bram memejamkan matanya.
"iya mas, tapi kaki ku udah gak sanggup untuk menahan kepala mas yang berat ini". aku mengusap kepala mas bram.
"5 menit aja sayang, rasanya itu udah nyaman banget sayang".
kebiasaan mas bram, dia selalu merebahkan kepalanya di pangkuanku. setiap kali mas bram mengalami masalah pada kerjaannya atau dia mengalami susah tidur. mas bran selalu meletakkan kepalanya di pangkuanku, dan itu membuatnya sedikit rileks.
"apa ada masalah sama perusahaan mas?". tanyaku.
"gak ada sayang, perusahaan baik-baik saja. aku hanya merasa senang seperti ini di pangkuan kamu". mas bram mencium perutku.
aku merasakan apa yang mas bram rasakan, aku juga selalu merasa nyaman saat dekat dengan mas bram. rasa nyaman yang tidak aku dapatkan dimanapun selain dengan suamiku.
__ADS_1