Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 59. Rumor


__ADS_3

Gosip itu merebak dengan cepat seperti wabah penyakit. Tentang bagaimana kedekatan Darren dan Tyona ketika mereka berdua pulang dan makan malam bersama, dilanjutkan dengan keberangkatan keduanya ke rumah sakit yang mana terlihat janggal mengingat tempat tinggal mereka yang berlawanan arah. Jika bukan karena ada hubungan spesial, mengapa Darren harus rela putar arah untuk menjemput Tyona, sementara wanita itu punya kendaraan sendiri, atau setidaknya bisa memesan taksi.


Rumor bertambah pelik ketika beberapa pasang mata melihat pose dua dokter spesialis di dalam mobil yang menurut mereka cukup intim jika dikatakan sebagai sepasang sahabat. Dan bagaimana satu rumor digabung dengan rumor lain, menyebar dari satu mulut ke mulut lain, tentu ada bumbu penyedap yang ditambahkan untuk membuat gosip semakin hangat. Ada yang mengatakan mereka sudah bermain api cukup lama di belakang Jeffrey, ada pula yang mengatakan mereka bersumpah pernah melihat Darren dan Tyona pergi bersama.


Ketika perpecahan rumah tangga pasangan impian rumah sakit telah menjadi gosip paling terdepan, nyaris seluruh pihak mengasihani Jeffrey, melihatnya sebagai suami sempurna yang dikhianati istri dan sahabatnya. Sementara sisanya memandang Tyona sebagai istri yang tidak tahu diri, dan Darren sebagai pengkhianat yang menjadi duri dalam daging.


“Kukira mereka sempurna, tapi ternyata luarnya saja. Sekarang aku kasihan pada dokter Jeffrey”




“Iya. Aku bertemu dengannya di kafetaria tadi, sendirian. Wajahnya nampak murung dan dia makan sambil melamun. Pasti sakit sekali mengetahui telah dikhianati oleh istri dan sahabatnya”*



“Padahal apa kurangnya dokter Jeff. Dia kaya, tampan, baik dan ramah pula. Dokter Darren juga tampan, tapi kalau aku sudah memiliki dokter Jeffrey sebagai pasanganku, aku tidak akan punya waktu untuk melihat pria lain”*



“Jangan-jangan alasan mereka belum memiliki anak karena ada keretakan rumah tangga”*



Kirana, atau yang akrab orang menyebutnya dokter Kiran, menyimpan ponselnya usai membalas pesan dari sang suami ketika telinganya menangkap para perawat tengah bergosip. Sesibuk apapun Kiran di poli obgyn, gosip itu sampai padanya. Ia tak percaya, tentu saja. Tapi bukan ranahnya untuk berkata apapun karena itu sudah menyangkut rumah tangga orang lain.


“Apa kalian tidak ada pekerjaan?”


Para perawat itu lantas menghentikan obrolannya melihat dokter Kiran yang secara ajaib berdiri di depan meja mereka, tengah memandang datar tidak suka. Seketika mereka yang awalnya duduk melingkar, kini berpindah mencoba mencari kesibukan.


“Jangan berasumsi apapun mengenai rumah tangga orang lain. Dan lagi ini masih jam kerja, aku tidak mau kita mendapat komplain karena tenaga medis yang tidak kompeten, lebih memilih bergosip dibanding kepentingan pasien”


Mereka yang ditegur hanya mengangguk sembari menunduk, tak berani membalas tatapan Kiran. Wanita itu membuang nafas kesal sambil berlalu menuju ruangannya.


*

__ADS_1


Usai menghabiskan dua hari berlibur, Jeanno harus merelakan waktunya kembali ke dunia nyata, yakni pekerjaan. Aera yang semula merengek tak ingin pulang, pada akhirnya mau masuk mobil setelah diberi pengertian oleh Judith dan dijanjikan liburan lain waktu oleh Jeanno.


Dan disinilah mereka, sampai ke rumah dengan selamat. Judith menggendong Aera yang terlelap damai untuk dipindahkan ke kasurnya. Kemudian mengecek jadwal sekolah si kecil besok. Untunglah tugas dan PR sudah dikerjakan jumat sore sebelum mereka berlibur.


“Judith”


Yang dipanggil refleks menoleh ke sumber suara, mendapati kepala Jeanno muncul dari pintu yang menghubungkan kamar Aera dengan kamar pria itu.


“Oh, ya tuan?”


“Kita pesan makanan online saja ya untuk makan malam”


“Aku bisa memasak, tuan”


Jeanno mengangguk. “Aku tau. Tapi ini sudah malam dan kau mungkin kelelahan. Tidak apa, untuk malam ini kita pesan saja”


Judith tak ada sanggahan lain selain menyetujui perintah Jeanno. “Tuan mau makan apa? Biar kupesankan”


“Terserah. Ikut saja denganmu. Aku mandi dulu, kalau makanannya sudah datang, ketuk saja kamarku”


Judith meraih ponselnya untuk membuka aplikasi pengantar makanan secara online. Sejak kemarin dirinya ingin makan makanan china. Apa Jeanno suka? Tapi pria itu tidak pernah komplain perkara makanan sejauh ini, tidak ada perkataan tentang alergi juga. Dan lagi masakan chinese tidak membutuhkan waktu lama untuk penyajian, jadi Judith pikir itu pilihan yang tepat. Usai memilih menu apa yang ia pesan, dan menyiapkan keperluan Aera sekolah besok pagi, wanita itu menutup pintu kamar Aera dan kembali ke kamarnya untuk mandi.


“Hmm baunya enak sekali”


Semula niatannya hanya makan sedikit, namun aroma menggoda dari bungkusan di tangannya membuat cacing di perutnya bergejolak minta diisi. Judith menuju dapur, menata makanannya dengan tak sabar. Setelah itu dirinya naik lagi untuk memanggil Jeanno.


“Tuan, makanannya sudah siap”


Tak ada jawaban pada ketukan pertama. Apa pria itu masih mandi? Atau sudah tidur? Judith mengetok lagi, masih tak ada jawaban. Sebetulnya ia bisa saja membuka handle itu, tapi dirinya tak ingin mengulang kecerobohan seperti dulu yang mengakibatkan Jeanno marah.


“Tuan Jeanno?” Judith mengetuk lebih keras, beruntung terdengar sautan dari dalam. “Ya”


Pintu terbuka pada detik berikutnya, menampakkan Jeanno dengan celana training abu-abu. Yang membuat pipi Judith merona adalah bagaimana pria yang nampak habis mandi itu, berdiri di hadapannya dengan hanya memakai celana training. Ia tak memakai apapun diatasnya, menampakkan postur tegap berototnya yang sungguh sempurna. Belum lagi tetesan air dari rambutnya yang sepertinya habis dicuci.


“Makanannya sudah datang?”

__ADS_1


Dalam keterpesonaannya, Judith sempat bertanya, ketika Tuhan menciptakan Jeanno, sepertinya Dia lupa memberikan cela pada fisiknya. Karena setiap jengkal tubuh Jeanno yang pernah ia lihat, benar-benar sempurna. Tak ada celah untuk melihat kurangnya. Well, siapa yang tidak terpana melihat makhluk Tuhan seindah ini?


“Judith?”


Wanita itu seakan dibawa paksa oleh kesadaran, menggeleng cepat. “Y-ya, tuan?”


“Makanannya sudah siap?”


Judith mengangguk seperti orang bodoh. “Ya. Sudah aku siapkan di meja”


Pria itu tersenyum, yang menurut Judith sama sekali tak membantu meredam dadanya yang begitu ramai seperti genderang. “Baiklah. Kau makan duluan saja, aku mau mengeringkan rambutku dulu”


“Tidak”


“Tidak?”


“Kita…ma-makan bersama saja”


“Baiklah kalau begitu. Kau tunggu aku, ya? lima menit lagi aku turun” Judith mengangguk, kemudian berbalik menuju ruang makan. Dalam langkahnya menuruni anak tangga, ia sibuk menampari bibirnya sendiri yang dengan kurangajar menyeplos kalimat terakhir. Untunglah Jeanno berkenan makan malam dengannya. Jika tidak? Judith akan malu seumur hidup.


“Astaga, ada apa denganmu, Judith. Kau mendadak terlihat seperti orang tolol”


**


“Mark, apa kau tidak apa-apa menjemputku? Maksudku, jam pulang kerjaku dini hari sementara paginya kau harus bekerja. Aku tidak mau kau kelelahan”


Mark tersenyum. “Dan kau pikir aku bisa tidur nyenyak mengetahui kekasihku pulang dengan kendaraan umum pada jam selarut itu?”


“Jangan khawatirkan masalah seperti itu, sayang. Aku dengan senang hati mengantar dan menjemputmu”


Hannah mengangguk, kemudian melepas seatbeltnya. “Tapi jangan dipaksakan ya. Kalau kau sedang tidak berkenan, langsung katakan padaku. Nanti biar aku pulang bersama penari yang lain ke apartemenku. Ada yang tinggal di gedung yang sama, kok. Jadi kau tidak usah cemas karena aku tidak sepenuhnya sendirian”


Mark yang sudah tidak memakai sabuk pengaman, memajukan tubuhnya mengecup kening, kedua mata, hidung dan bibir Hannah. “Aku tau”


“Aku masuk dulu, ya?”

__ADS_1


Pria itu mengangguk. “Ya. Hati-hati, sayang”


Hannah dengan berat hati keluar dari kursi kemudi dan memasuki area tempat kerjanya yang memuakkan. Ah, andai saja ia bisa tetap berada di mobil Mark selama yang ia mau tanpa harus kembali ke Victoire. Hannah menoleh, melihat Mark yang masih memandanginya sebelum ia masuk kedalam. Wanita ayu itu memberikan lambaian terakhir yang dibalas oleh sang terkasih.


__ADS_2