
“Selamat siang, nyonya Alexander”
Dari beberapa skenario buruk yang membayangi benak Judith akhir-akhir ini, tak ada satupun nama Arman disana. Ia bahkan nyaris lupa akan eksistensi pria itu karena terakhir kali Arman memang tidak banyak bertingkah. Jadi Judith pikir Arman sudah melupakannya, atau setidaknya menyerah pada rasa penasaran akan identitas Nayara Alexander. Siapa sangka jika diamnya Arman karena memang pria itu sudah menyerah, atau karena ia sedang mengatur siasat buruk?
Berdehem, Judith berusaha untuk tidak terpengaruh. Ia harus terlihat kuat dan tidak boleh panik. “Tuan Mahendera, apa yang anda lakukan disini?”
Dari sekian kemungkinan Arman datang mengganggu, mengapa harus pada saat tidak ada Jeanno? Apa Arman sengaja menemuinya ketika sedang sendiri? Apa Arman selama ini masih menyelidikinya diam-diam?
“Saya mendengar bahwa putri tuan Alexander sedang sakit. Kebetulan saya kemari untuk menjenguk teman, jadi mungkin tidak ada salahnya untuk sekalian kemari”
Judith menerima buah tangan yang dibawa oleh Arman. Memasang tubuhnya di depan pintu kamar rawat yang ia tutup rapat. Tak akan ia biarkan datangnya Arman mengganggu tidur Aera.
“Saya sangat berterimakasih kepada anda, tuan. Tapi maaf, sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk berkunjung karena ini jam tidur putri kami”
Arman mengangguk tanda mengerti, kemudian menaruh dua tangannya pada saku celana. Gestur yang Judith pahami ketika pria itu sedang percaya diri.
“Jika putri anda sedang tidur, tidak apa. Aku bisa menitipkan salam”
Kalimat yang menggantung, terkesan Arman hendak meninggalkan tempatnya akan tetapi pria itu tidak bergerak sama sekali. “Akan saya sampaikan salam dari tuan. Sekarang.. bisakah saya minta tuan untuk pergi? Saya tidak bisa menerima tamu ketika tidak ada suami saya disini”
“Potongan rambut baru anda bagus. Berbeda dengan yang terakhir kali saya lihat, tapi tetap cocok untuk nyonya Alex” Tanpa mengindahkan usiran halus Judith, Arman masih tetap ditempat. Memandang lurus, menyelami setiap gestur kecil yang dibuat oleh wanita dihadapannya.
Sedikit banyak Judith sadari, bahwa lelaki yang tengah menjadi lawan bicaranya adalah pria dengan obsesi gila yang telah menjadi ‘pelanggan’nya selama bertahun-tahun. Arman yang pengamat, seringkali memperhatikan kebiasaan-kebiasaan dari yang besar hingga kecil yang dilakukan Judith ketika bersamanya dulu. Apa yang Judith sukai, apa yang ia benci. Arman masih merapalkannya hingga saat ini, mencoba mencocokkan yang tersimpan dalam memori, dengan gestur yang dibuat istri Jeanno.
Arman ingat, Judith akan langsung memegang rambutnya jika ada yang menyinggung mengenai mahkota itu. Dan benar saja, jemari Judith terangkat, menyentuh sisian rambutnya yang tergerai apik.
“Terimakasih atas pujiannya”
“Aku selalu berpikir warna hitam tidak cocok untuk anda. Tapi ternyata saya salah, warna gelap justru semakin menambah… karisma?”
Judith tidak mewarnai rambutnya hitam legam. Ada aksen biru yang akan terlihat jika terkena matahari. Warna yang tak pernah ia sentuh ketika menjadi Judith yang lama. Dulu, dirinya cenderung memakai warna terang. Blonde, ash grey, mint, pink. Semua warna cerah yang membuatnya semakin menonjol ketika sedang menari.
__ADS_1
Disisi Arman, pria itu semakin semangat untuk mendapatkan gestur spontan dari lawan bicaranya. Ia mencari-cari topik lain mengenai rambut.
“Istriku pernah mencoba mewarnai rambut menjadi blonde karena tuntutan peran. Tapi ternyata berefek buruk, tidak cocok dan rambutnya rontok parah. Oleh karena itu sutradara memutuskan untuk memakaikannya rambut palsu”
“Kurasa warna cerah bukan untuk semua orang. Istriku cantik, tapi harus kuakui kalau blonde bukan warna yang pas untuknya”
Judith hanya terdiam, entah mengapa malah justru mendengarkan bualan Arman mengenai Paula Winona. Blonde… ia teringat Arman pernah menceritakan hal yang sama. Arman bahkan membandingkan Paula dengannya, Paula tidak cocok warna blonde. Berbeda denganmu. Begitulah gombalan Arman dulu usai mereka selesai bercinta.
Padahal menurut Judith, Paula Winona tetaplah cantik bahkan jika botak sekalipun. Dasar Arman tidak pernah bersyukur, gerutunya. Judith mengusap rambutnya, koridor yang panas membuatnya sedikit gerah dengan rambut yang tidak diikat. Maka dari itu ia selipkan sejumput anak rambut dibelakang telinga. Membiarkan telinganya terlihat.
‘Bingo’
Arman mengucapkannya lirih sekali hingga tak mampu ditangkap oleh pendengaran Judith.
**
Progres kesehatan Aera meningkat sejak Judith datang menjaganya. Si kecil yang tidak mau menyentuh makanannya, kini bahkan sudah siap untuk menerima suapan demi suapan dari tangan sang ibu angkat. Obat yang semula susah payah untuk kesaluran pencernaannya, kini mampu ia telan tanpa kesulitan berarti. Aera yang selalu mengigau penuh risau, kini terlelap bak bayi dalam dekapan Judith.
Mengesampingkan apa yang terjadi antara dirinya dengan Judith, Jeanno merasa sangat berhutang budi pada wanita itu. Jika bukan karena dirinya, Jeanno tidak tahu lagi bagaimana harus merawat Aera.
Yang dipanggil menoleh, melihat Jeanno yang masuk ke balkon untuk bergabung dengannya. Ia lantas menoleh kearah Aera yang sudah terlelap sedari jam sembilan malam.
“Besok Aera diperbolehkan untuk pulang”
Judith mengangguk. “Aku tau. Dokter Tyona tadi mengatakannya padaku sewaktu visit”
“Dengar, mengenai kedatanganmu kemari… aku sangat berterimakasih padamu”
Perempuan itu menoleh, melihat gurat ketulusan dalam airmuka Jeanno. Ia tahu yang barusan diucapkan adalah murni perasaan seorang ayah yang terlalu putus asa. Sedikit menyentuh empati Judith, maka ia respon dengan anggukan dan seulas senyum ringan.
“Sama-sama, tuan. Sebetulnya aku senang bisa kemari lagi, bertemu dengan Aera. Walau bukan pertemuan seperti ini yang kuharapkan. Tapi jika kedatanganku membantumu dan Aera dalam hal baik, maka aku bersyukur. Berarti kehadiranku tidak sia-sia”
__ADS_1
Hening. Keduanya memilih untuk memandang gedung pencakar langit yang sebagian besar masih menampakkan tanda kehidupan. Semilir angin menegakkan bulu kuduk, wajar saja karena kamar Aera berada pada lantai yang cukup tinggi. Judith bergidik, sweater yang ia kenakan sama sekali tidak membantu.
“Kau kedinginan?”
Judith terkekeh. “Tidak, aku sama sekali tidak keding—“
Ucapan itu terhenti ketika Jeanno sudah lebih dulu menyampirkan jaket tebalnya pada pundak Judith. Membuat jarak keduanya dekat, untuk sesaat sebelum pria itu menarik tubuhnya menjauh.
“Bibirmu bergetar. Bagaimana bisa kau masih berbohong?”
Judith menggeleng, bangkit dari duduknya sembari melepaskan jaket Jeanno. “Jika seperti itu maka aku lebih memilih untuk masuk kedalam, menghangatkan diriku dengan memeluk Aera. Dibanding harus disini, berdua dengan tuan yang banyak memberiku luka, tapi detik berikutnya berlaku seolah pria paling sempurna”
Jeanno mematung, mendengar setiap kata yang merajam. Bibir Judith kembali bergetar, bukan karena kedinginan, akan tetapi karena luapan rasa yang bergejolak, yang kini berebut untuk keluar dari bibirnya.
“Tuan mungkin hanya memberikan jaket padaku, ah bukan, meminjamkan jaket padaku. Sederhana, bagi orang lain. Tapi tidak padaku, perhatian sekecil apapun berimbas sangat dahsyat bagiku, tuan. Aku tidak sanggup jika harus mengulang kesakitan yang sama”
“Judith, aku minta maaf”
Senyum sendu. Judith hanya mampu memberikan itu atas permintaan maaf yang telah lama ia tunggu-tunggu. “Aku sudah memaafkan jauh sebelum tuan minta maaf”
“Aku menyadari apa yang kulakukan dulu sangat jahat dan tidak bisa dilupakan. Aku berhak dihukum dengan cara yang menyakitkan. Bahkan mungkin tetap tidak sebanding dengan apa yang kau rasakan. Aku sungguh, sungguh minta maaf”
Jeanno melangkah mendekat, kembali memakaikan jaketnya kepada tubuh kurus itu perlahan. Beruntung balkon yang tidak terlalu luas, ditambah posisi berdiri yang menempel pintu membuat Judith tidak bisa kemana-mana selain pasrah akan apa yang Jeanno lakukan.
“Akan sangat kurangajar jika aku meminta untuk kembali, memulai dari awal. Iya, kan?”
Judith mengangguk lirih. Usaha kerasnya melupakan Jeanno seakan runtuh ketika ia berhadapan dengan pria yang masih menduduki tahta tertinggi hatinya.
“Jika kau tidak menginginkanku, aku akan pergi. Aku akan menjaga jarak. Akan kulakukan apapun yang kau mau. Seperti pesan terakhir yang kukirimkan empat bulan lalu… Aku melepasmu, Judith. Kau berhak mengejar bahagiamu sendiri”
“Kau berhak bahagia…”
__ADS_1
Satu usakan sayang mendarat di puncak kepala Judith. Jeanno tersenyum tipis, membuat mata sabitnya terlihat sebelum ia kembali masuk ke kamar, lalu keluar entah kemana.
Satu usakan sederhana yang sekali lagi, mampu memporak-porandakan seorang Ananta Judith.